dari Palestina sampai Indonesia

Kesimpulan TPF : bukti Polri tidak cukup.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 11/11/2009

Adnan-Buyung1

Adnan Buyung memimpin Tim 8 untuk memverifikasi fakta dan proses hukum kasus Chandra dan Bibit.

Tim 8 yang terdiri : Adnan Buyung Nasution ( ketua ), Anies Baswedan, Koesparmono Irsan, Denny Indrayana, Amir Syamsuddin, Hikmahanto Juwana, Todung Mulya Lubis, Komaruddin Hidayat, pada Senin ( 9/11/2009 ) memberitahu kesimpulan sementara TPF ( Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum ) kasus Chandra dan Bibit, sbb :

  1. Polri tidak memiliki bukti yang cukup untuk mendakwa Bibit dan Chandra ke pengadilan
  2. Andai kata ada tindak pidana, aliran dana dari Anggodo Widjoyo ke Ary Muladi terputus. Tidak ada bukti yang menyatakan uang tsb sampai ke tangan pimpinan KPK
  3. Andai kata dipaksakan dengan dakwaan penyalahgunaan wewenang, juga lemah karena menggunakan pasal karet
  4. Apa yang dilakukan Chandra terkait dengan pencekalan Anggoro sudah lazim di KPK sehingga tidak perlu dipersoalkan.

Antasari dan KPK, idola kaum muda & masyarakat. How are you ?

pakantasari

Antasari menghadiri sidang di PN Jaksel. We miss you, Sir ..

Minggu siang ( 8/11/2009 ) pukul 12.15, Antasari sudah tiba di Gedung Wantimpres, Jl.Veteran, Jakarta Pusat, dengan mengenakan batik warna biru. Janjian ketemu dengan Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum ( Tim 8 ), jam 13.00, menyambung pertemuan sehari sebelumnya yang berlangsung 2 jam. Masih kurang. Saya juga masih kangen. How are you, Sir ? Are you allright ?

Antasari menyapa wartawan, ketika diberi kesempatan oleh Anies Baswedan ( anggota Tim 8 ) untuk memberi pernyataan pers usai menjalani verifikasi secara tertutup dengan Tim 8.”Sudah lama kita tidak ketemuan, ya ?” ujar Antasari kalem. Saya tercenung dengan segenap perasaan, campur aduk. Para wartawan berseri-seri penuh rindu. Ingat ketika beliau masih aktif sebagai Ketua KPK berdialog akrab dengan para mahasiswa di kampus2, juga para wartawan di mana saja setiap KPK melakukan gebrakan baru, meringkus para koruptor dan pejabat kotor. Ingat pernah sama2 tegang ketika KPK beraksi. Rakyat, LSM dan KPK berkomunikasi intens dalam kasus korupsi yang tengah disorot. Bahu membahu memberantas korupsi. Bersama membangun KPK menjadi lembaga yang membanggakan. Nostalgia. Antasari dan KPK menjadi idola kaum muda dan masyarakat luas.

Antasari punya nilai dengar. O.C Kaligis, Bonaran tidak, apalagi Anggodo.

kaligis

Pengacara O.C.Kaligis bersama kliennya, Artalita. Karena kalah di kasus tsb melawan KPK, Kaligis jadi berbusa-busa mencari-cari kesalahan KPK di depan khalayak. Sudah bau tanah. Ingat akhirat, pak.

Ketika itu Antasari punya nilai dengar. Saat ini, ketika berstatus terdakwa, ia pun masih bernilai dengar. Why ? We know he’s not guilty. Ucapannya dinanti, dari dulu hingga sekarang, karena bernilai. Bandingkan dengan ocehan O.C Kaligis yang teriak2 mempertanyakan orang2 yang mengganggap Antasari pahlawan anti korupsi ( including me ). Atau ketika Kaligis dengan tangan terkepal, mata mendelik, nyerocos menutupi perkataan Gayus Lumbuun ( anggota Komisi III ) yang giliran bicara. Kalau di luar sudah aku pukul kamu, bentak Kaligis, mengintimidasi. Setua itu bisa lepas kendali, maunya benar sendiri, maksa lagi. Bayi emosional. Padahal, rambutnya sudah ubanan, bergelar profesor pula. Tak berarti apa2. Hanya penyewa sealiran atau orang kepepet, yang mau dengannya. Semacam pengusaha hitam, pejabat hitam atau mereka yang tertipu oleh penampilan sepuhnya. Itupun tidak semua. Second choise, third or tenth. Bukan pilihan pertama. Di rekaman itu, Anggodo bernegosiasi dengan Bonaran,”O.C.Kaligis minta 1 milyar saja Anggoro nggak mau”. Kaligis, Anggodo dan Bonaran, sama dan sebangun. Tak punya nilai dengar. Baru 5 menit, kita sudah pegal mendengarnya. Saya heran, sudah dekat liang kubur masih begitu. Tua bukan jaminan bijak. Tua juga bisa jahat, dilaknat di liang lahat.

Antasari tegar, Susno cengeng.

susno_duadji1

Susno Duadji komitmennya tinggi sama Anggodo. Ia berurai air mata di RDP Komisi III DPR - Kapolri. Berlebihan.

Mario Teguh mengatakan, tak sembarang orang memiliki kelebihan itu. Manusia berkualitas tinggi, bermanfaat bagi masyarakat, terbukti integritasnya dalam rentang waktu panjang, yang memiliki nilai dengar. Kata2-nya disimak. Ketika dilecehkan jaksa Cirus Sinaga dalam ‘novel picisan’ di PN Jaksel, Antasari membacakan eksepsinya setebal 100 halaman, mendapat applaus dari wartawan yang memenuhi ruangan. Ada ikatan emosi yang terjalin.

Ketika JPU meminta hakim menolak eksepsi Antasari dan berteriak menuduh Antasari pura2 tidak mengerti dakwaan jaksa, Antasari balik bertanya,’saya ini jaksa atau mantan jaksa ?’. Jaksa2 ( para yuniornya ) bungkam seribu kata. “Kalau begitu, kalian harus minta maaf sama saya,”tambah Antasari. Insiden ini pula yang diceritakannya pada para wartawan yang langsung mengerubuninya sekeluar ruang sidang. Nadanya, agak kesal. But, that’s all. Ia tidak cengeng seperti Susno, berurai air mata di RDP Komisi III DPR. Padahal baru dituduh menerima suap. Apalagi kalau dituduh membunuh seperti Antasari yang direka-reka gerombolan Susno cs. Kabareskrim Mabes Polri non aktif ini mencatut-catut nama Tuhan, minta Tuhan mencabut nyawanya jika ia bohong ( semoga Allah mengabulkannya ), berkeluh kesah istri dan anak cucunya menderita, dengan harapan anggota Komisi III tidak ganas menyerangnya dalam kasus Bibit dan Chandra. Berlebihan. Manipulatif sekali.

Putusan sela hakim yang menolak eksepsi Antasari dan pengacaranya. Penuh semangat mereka bertekad melakukan perlawanan terhadap putusan sela tsb. Inspiring, isn’t it ? Ketika di gedung Wantimpres, para wartawan menanyakan perkembangan kasusnya ( pembunuhan Nasrudin ), Antasari berkata tak ingin membebani mereka. Jika bersimpati datanglah ke sidang PN Jaksel, katanya. Ada yang menarik di sana, lanjutnya diplomatis sekaligus elegan. Ketika Antasari tak mengatakan tanggal2 peristiwa, ia berseloroh,”Maklum lama di tahanan jadi lupa.” Langsung disambut gelak wartawan. Dituduh jadi dalang pembunuhan sekalipun, Antasari tetap cool. That’s my man.

Testimoni Antasari berasal dari testimoni Anggoro.

anggoro-widjojo

Anggoro kerja sama dengan Anggodo mengecoh kita samua. Uang fiktif, asumsi & bukti sumir. Menjungkirbalikkan lembaga2 penegakan hukum kita. Awas, ya..

Ceritanya di ruang Wantimpres itu, Tim 8 ingin tahu, bisik2 apa yang menyebabkan Antasari mengeluarkan testimoni yang menyeret Chandra dan Bibit. Antasari ingin keterangannya terbuka, diliput media dan didengar seluruh masyarakat Indonesia. Namun, aturan main yang diterapkan Tim 8 pada pihak2 sebelumnya tidak terbuka. Jadi, permintaan Antasari tidak dikabulkan. Sebagai gantinya, Tim 8 memberi kesempatan pada Antasari untuk melakukan konferensi pers setelah rapat tertutup itu.

Antasari berkata, ia mendengar kabar penyuapan terhadap oknum pimpinan KPK. Saat penggeledahan di PT.Masaro, ia menemukan berkas yang sebetulnya tidak sedang dicarinya. Ia lalu mencari tahu kebenaran suap itu ke Singapura, bertemu Anggoro yang saat itu belum menjadi tersangka. Dikenai status cegah, sela Anies Baswedan. Karena belum percaya dan ingin menjaga wibawa KPK, Antasari mencoba konfirmasi dulu ke Ary Muladi di Malang. Antasari belum mendengar nama Yulianto waktu itu. Anggoro hanya tahu nama Anggoro dan Toni ( yang ternyata Anggodo menurut rekaman itu ). Tapi belum sempat mencari tahu lebih jauh, Antasari sudah ditangkap polisi untuk kasus Nasrudin. Pengusutan kasus PT. Masaro pun ikut terhenti ( perusahaan yang dikomisarisi Anggoro dan didirekturi Putra Nefo ini sudah menjadi rekanan pemerintah sejak 1986 dengan nilai proyek trilyunan rupiah ).

Ketika ditanya ( penjelasan tentang testimoni Antasari berasal dari testimoni Anggoro di Singapura ), kok, baru sekarang diungkapkan ke publik ? Antasari menjawab, ia tak bebas di dalam tahanan. Ketika mengatakan hal itu, saya melihat Antasari sangat memilih kata2nya hingga tak menyinggung Polri. Kemarin Chandra dan Bibit juga melakukan hal serupa. Saya mengerti apa yang dimaksudkan Antasari dengan tak bebas. Mungkinkah seorang tahanan, di saat begitu sedikit orang yang tahu ada rekayasa tentang penahanannya, sangat sedikit orang yang membela, melindunginya, dengan segera karena ia di balik jeruji yang dijaga ketat, mengatakan ‘saya menolak testimoni’ atau ‘saya dipaksa penyidik’? Seorang Anggodo saja berani berikrar ‘tak pateni’ ( saya bunuh ) jika Chandra masuk tahanan. Seorang Nasrudin bisa diberondong peluru hingga tewas oleh oknum Polri. Apa istimewanya seorang Antasari bisa menjadi perkecualiannya ? Untuk semua kemungkinan itu, saya mengerti maksud kata2 Antasari bahwa ia tidak bebas di tahanan. ( terbukti dari pengakuan Williardi kemarin, bahwa yang merekayasa kasus Nasrudin adalah M.Iriawan, Direktur Reserse Polda Metro, tempat Antasari ditahan )

Bukan Antasari yang melaporkan Chandra-Bibit, tapi penyidik Polri yang memaksa testimoni.

aniesbaswedan

Anies Baswedan, cendikiawan muda, anggota Tim 8, rektor Universitas Paramadina. Kok, anda pintar sekali, ya, ujar Andy F. Noya di "Kick Andy".

Kita melihat di teve, penyidik2 Polri membongkar isi laptop Antasari. Rupanya, saat itulah testimoni Antasari yang dihebohkan muncul. Rekaman percakapan Antasari dengan Anggoro itu tersimpan di laptop Antasari. Para2 penyidik yang giat mencari ‘amunisi’ kesalahan KPK ( juga O.C. Kaligis dan Bonaran Situmeang, para pengacara hitam ) meminta laptop Antasari. Mereka mengulak ulik dan menemukan rekaman percakapan Antasari di Singapura. Penyidik memaksa penjelasan dari Antasari, membuat transkrip dan mengkondisikan Antasari agar menandatanganinya, untuk kelengkapan administrasi. Rupanya di luar, penyidik2 tsb, Susno, Kapolri Bambang, dengan kompak mengatakan versi mereka : Antasari secara sadar melapor ke polisi ( Polda Metro ) bahwa ada oknum pimpinan KPK yang menerima suap. Baru sekarang2 mereka ubah menjadi pemerasan, setelah ditanya wartawan, kalau suap kenapa Anggodo yang memberi suap tak dijadikan tersangka suap ? Para2 penyidik itu lalu menyesuaikan, o, ya bener juga. Telmi / telat mikir ? Terlihat rekayasanya, guys ?

Penyiar Metro TV sepikiran dengan kita, kenapa Antasari ingin melaporkan koleganya sendiri ke polisi ? It doesn’t make sense. Mendzalimi teman sendiri ? Susno yang kepojok, cuma berkilah ‘ya tanya Antasari dong, dia kan yang melapor !’. Lho, siapa yang melapor ? Penyidik Polri yang bilang Antasari melapor. Mereka yang mengobok-obok laptop Antasari dan memaksanya membuat transkrip/ testimoni itulah yang bilang Antasari melapor. Mereka tak punya jawaban. Terlihat mereka memplintir fakta, guys ?

Yang pernah menyimak cara mengetahui orang sedang berbohong ( dari Mario Teguh, salah satunya dengan arah lirikan mata ), pasti tahu sepanjang wawancara Susno banyak berbohong. Ia jadi banyak tersenyum, tersipu-sipu, tak banyak mengancam atau merendahkan orang lain seperti biasanya. Lebih halus, meski tetap dengan keterangan memfitnah atau memanipulasi orang. Ketika Susno diberitahu bahwa di TV One, ada orang kedubes mengatakan di KBRI Singapura ( tempat Susno mengaku menjembatani Anggoro dengan penyidik Polri ), bahwa tidak ada pertemuan yang dimaksudkan, Susno mati kutu, lalu ngeloyor cepat2 pergi. Terlihat bohongnya si Susno ini, guys ?

TPF memberantas markus dianggap preseden buruk oleh Susno.

Susno mengatakan, TPF menjadi preseden buruk bagi masa depan peradilan kita. Karena setiap orang yang tidak puas bisa menuntut dibentuknya TPF. Nanti, polisi sampai level penyidik akan kehilangan pekerjaan. Ini sudut pandang para konspirator. Memplintir kebenaran agar urusan mereka yang menyimpang tidak terusik. Uang haram tetap menggelontor ke sakunya tanpa kendala dan hukuman. Saya menghimbau agar stasiun teve jangan memberi ‘panggung’ untuk Susno menyangkal keterlibatannya dalam kasus Antasari, Bibit dan Chandra. Orang ini master disquise. Manipulatif. Jangan diwawancara lagi. Saya pernah berurusan dengan orang yang menangis, bercucuran air mata seolah tak bersalah. Kemudian terbukti ia meracun orang. Kita lihat gaya Susno di RDP dengan air mata buaya, cabut nyawa, lillahi ta’ala, bla, bla, bla… mencari simpati. Saya nonton dari jam 19.00 sampai 03.00 pagi ( 8 jam ), melihat Komisi III DPR kurang tajam ( kurang pro rakyat yang diwakilinya ) saat menanggapi penjelasan Kapolri. Ruhut Sitompul menyindir kegombalan Susno. Anggota lain mengaku menjadi sungkan gara2 ‘drama’ Susno ini.

Saya juga bertanya-tanya kenapa Kapolri begitu gamang menghentikan penyidikan Bibit dan Chandra yang sudah begitu terang benderang tak cukup bukti ? Sementara Williardi Wizar yang hanya mengikuti perintah atasan begitu cepat dijorokkan ke tahanan, diberhentikan dan diadili sebagai terdakwa. Pengakuan Anggodo bahwa rekaman di MK itu benar suaranya ( Edi Sumarsono dan I Ketut Sudiharsa juga membenarkan ), dikalahkan tiket parkir, rekaman CCTV atas mobil KPK yang masuk Pasar Festival, yang direkayasa penyidik. Pengakuan Ary Muladi bahwa ia dipaksa mengikuti BAP rekayasa penyidik dikalahkan oleh lie detector versi penyidik yang tidak kita lihat hasil sebenarnya dan proses pendeteksiannya. Pengakuan mengejutkan Williardi Wizar yang berprestasi di divisi narkoba di PN Jaksel kemarin ( 10/11/2009 ), bahwa Antasari adalah sasaran utama konspirasi ini, dikalahkan oleh rekaman handycam penyidik dan rekaman CCTV di rumah Sigid Haryo Wibisono ( ketika Antasari bertemu dengan Williard, Sigid dan Chairul Anwar ( Kepala Kepolisian Resort Jakarta Selatan ) untuk menindaklanjuti hasil penyelidikan tim Kapolri tentang teror dan pemerasan oleh Nasrudin terhadap Antasari ).

Tiket parkir, CCTV, foto, rekayasa penyidik mengalahkan kejujuran pejabat berdedikasi ? Apa kata dunia ?

Kenapa kejujuran orang2 yang selama ini berprestasi dan berdedikasi tinggi bisa dikalahkan dengan bukti2 rekayasa yang sudah diset sebelumnya oleh penyidik2 Polri ? ( menjawab kejanggalan saya ; Antasari dikenai 3 status dalam/ sekitar 8 jam ). Saya sulit menerima jawaban lain, kecuali para markus sudah pada taraf akut di lembaga penegakan hukum kita. Mereka sudah terlatih melacurkan diri, menggadaikan kehormatan lembaga dan sumpah jabatan, demi uang haram dan kebebasan koruptor. Saking terbiasanya, mereka sudah menganggapnya sebuah kewajaran. Markus dan kaki tangannya sudah terlalu banyak, Sehingga orang benar yang diproses. Orang salah dibebaskan. Seperti Anggoro dan Anggodo.

Saya lihat Jaksa Agung masih ngotot/ keukeuh memproses kasus ini dengan bukti2 rekayasa penyidik tsa. Nanan Sukarna juga berkata dengan nada sama. Kesimpulan TPF tak berpengaruh bagi mereka. Nurani mereka sudah terlalu kebas untuk bisa membedakan mana orang yang salah dan mana yang benar. Insting mereka tak jalan. Bukti2 rekayasa itulah yang mereka dewa-dewakan sampai hari ini. Tidak berinistiatif melihat alternatif dan sudut pandang lain. Mereka terlalu gengsi untuk mengakui kekeliruan, untuk selanjutnya memperbaiki instansinya.

Sementara waktu terus berjalan, negara2 lain terus melaju ke depan. Kita masih stagnan di sini, mau2-nya meladeni tipu muslihat para markus. Entah sampai kapan. Hampir 7 bulan, saya mengalokasikan waktu khusus menyimak berita2 yang menimpa KPK, Polri dan Kejaksaan sehubungan kasus ini. Beberapa kegiatan saya yang lain jadi terkendala. Masyarakat menjadi kontraproduktif, gara2 kasus penggembosan KPK oleh banyak oknum. Saya dengar pagi ini di Yogyakarta, nyaris terjadi bentrok antara pendukung KPK dan pendukung Polri. Saya sangat menyayangkan jika ini semua terjadi, karena SBY tidak mengganti Kapolri dan Jaksa Agung pada KIB II. Itu momen aman dan wajar diterima semua pihak ; presiden mengganti mayoritas pembantunya di kabinet. As usual. But, he didn’t do it at that time. Why ???

Kebobrokan instansi ditelanjangi, kepercayaan publik ke titik nadir. Reformasi yg sungguh2.

Di tayangan “Secret Operation” MetroTV ( 10/11/2009 ) saya mendengar ucapan Mulyo Wibisono ( mantan Kepala BAIS ) dan Pitut Soeharto ( mantan Kepala Direktorat Opsus ) soal tindak penyadapan. Pada 18/10/2008, KPK bekerja sama dengan FBI untuk memasang sistim penyadapan. Disebutkan, biayanya Rp.28,07 milyar dan Rp.17,31 milyar. Namun, kini alat penyadap bisa diperoleh dengan harga 2 sampai 5 milyar saja. Bahkan Susno pernah sesumbar ; alat yang dimiliki Polri lebih canggih dari yang dipunyai KPK, karena bisa mendeteksi jika ia sedang disadap. Dengan alat ini pula, Susno mencoba meralat ucapannya bahwa perbandingan alat ini seperti cicak ( milik KPK ) dan buaya ( milik Polri ). ( sedang kalimat ‘saya cuma kesal kenapa KPK masih bodoh saja’ yang menyambung dalam kalimat buaya dan cicak itu, tidak disinggung Susno. Artinya, Susno tetap tidak mengaku bahwa ia dulu membandingkan instansinya dengan buaya, bukan alat sadap. Satu kebohongan lagi ).

Disebutkan Mulyo, teknologi sadap ini ada yang dari Amerika, Inggris, Swedia, Cina dan Israel. Penyadapan yang dilakukan badan intelijen ( dulu BAIS/ masa Soeharto, kini BIN ) untuk mencari informasi keadaan, hakekat ancaman bagi negara. Pengamanan, perlindungan dan penggalangan. Intelijen dari Polri, dulu ( sebelum lepas dari TNI/ ABRI ) untuk preventif. Sekarang untuk pro yustisia. Pihak intelijen tahu semua kebobrokan di Polri, Kejagung dan instansi2 lain. Mereka juga tahu, pihak2 yang sedang resisten sekarang ini juga tahu kalau ada masalah besar di instansinya. Cuma saja, mereka tak ingin kebobrokan instansinya terungkap. Badan intelijen merasa ini bukan bagian mereka, jadi tidak ikut campur. Mulyo cuma kuatir, jika persoalan sadap menyadap ini tidak diatur dengan baik, jika setiap lembaga penegakan hukum diperbolehkan menyadap, jika setiap instansi bisa melihat kebobrokan instansi lain, maka timbul ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga negara. Setiap aksi penyadapan terungkap/ menelanjangi pejabat negara, kepercayaan publik akan menuju titik nadir. Masyarakat mudah terprovokasi.

Miss-trust, distrust, demo karena semua instansi boleh menyadap. Celah amandemen. Danger !

Mendengar paparan Mulya, saya baru ngeh tentang koreksi/ celah UU KPK dan Pengadilan Tipikor akhir September 2009 lalu, yang dilakukan Komisi III DPR 2004-2009 di masa akhir tugasnya. Feeling saya mengatakan waktu itu akan ada yang salah ( ‘bom waktu’ ) dengan ini ( DPR tergesa-gesa mengesahkan UU, mengejar target, dan timbul celah di amandemen ). Saya menulisnya di blog ini. Cuma saya tak tahu bentuknya seperti apa. Wewenang penyadapan tidak lagi diberikan pada KPK saja, tapi juga intansi penegak hukum yang lain, seperti Polri. Mungkinkah Amerika bermain lagi di DPR sehingga muncul celah ini ? Buahnya baru terasa sekarang : mistrust dan distrust kepada lembaga negara. Memicu demo di mana2, yang membahayakan kestabilan negara jika tak diselesaikan dengan baik.

Akibat distrust ini pula muncul buah simalakama untuk SBY, ketika merespon rekomendasi TPF. Setiap benturan, jika sudah terjadi, akan ada yang rusak, meski hal yang lebih besar telah diselamatkan. Seperti mobil tabrakan tapi penumpang selamat. Meski mobil sudah didempul, ketok magic, dicat kembali, bekas tabrakan itu masih ada di bawah lapisan penutup. Pembeli akan tahu dengan caranya sendiri, lalu menawar dengan harga rendah. Itu sebabnya saya memilih mencegah daripada mengobati. Sebelum biaya yang dikeluarkan terlalu mahal. Saya dulu menyarankan SBY mengganti Kapolri Bambang dan Jaksa Agung Hendarman sebelum bola salju menggulung SBY, begitu saya mencium gelagat tak beres. Insting saya masih jalan, dan terus diasah.

Buah simalakama untuk SBY karena terlambat bertindak tegas.

hikmayanto230909

Hikmahanto Juwana, anggota Tim 8 : kesimpulan sementara TPF untuk meredakan ketegangan di masyarakat. Progress yang berprinsip cooling down, seperti yang dipesankan pak SBY.

Taslim, anggota Komisi III dalam wawancaranya di TV One pada 10/11/2009 ( menghadirkan pula Halius Hosen, anggota Pokja Reformasi Kejaksaan di studio dan Hikmahanto Juwana, anggota Tim 8 di ujung telpon ) mengatakan, pihaknya menyayangkan diungkapkannya kesimpulan Tim 8 ke publik, sebelum disampaikan ke presiden. Polri, Kejagung dan mungkin SBY jadi serba salah jika tidak menindaklanjuti kesimpulan tsb.( Mungkin Taslim kuatir jika rakyat sudah kadung mendengar, akan kecewa jika hasil TPF tak dilaksanakan, maka people power sudah stand by di luar sana_nurray ). Jika rekomendasi dilaksanakan, rakyat gembira, tapi Polri dan Kejagung kesal, merasa tugas penegakan hukum mereka diintervensi ( meski untuk hasil yang adil, bukan rekayasa seperti sekarang ). Jika rekomendasi tidak dilaksanakan, rakyat makin marah, negara tidak stabil, tapi Polri dan Kejagung senang, kerjaan mereka tak dicampuri ( meski merugikan para penuntut keadilan dan penegak kebenaran sejati ). Ada ongkos politik untuk kedua pilihan ini.

Saya pikir, karena semuanya sudah terjadi sampai sejauh ini, SBY harus segera memilih ( tidak bisa zero enemy lagi ). Sooner, better. Tetapkan pilihan dengan mantap, berpihak pada rakyat yang memilihnya. Bukan pada Polri dan Kejagung, yang pimpinannya dipilih SBY. SBY juga mesti sportif, keputusannya memilih mereka dahulu, juga bisa salah. Hikmahanto, malam itu, sudah menjelaskan pada Taslim, bahwa SBY sudah berpesan pada Tim 8, bahwa setelah seminggu TPF melakukan verifikasi, diharapkan bisa menyampaikan progress, dengan prinsip meredakan ketegangan di masyarakat. Rakyat lebih penting. Jika konteksnya ini, saya rasa Tim 8 tidak melakukan kesalahan. Mereka orang pilihan, punya integritas tinggi. Berpihak pada rakyat dan melakukan cooling down terlebih dahulu, adalah keputusan bijaksana. Antara benar dan bijaksana, bijaksana lebih tinggi nilainya, karena itu sudah menjangkau segala yang tak terukur, intuisi dan rasa keadilan di masyarakat. Bahkan, ada yang mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan.

Susno, is he the one ?

Saya jadi ingat bullshit-nya Susno di RDP. Ia mengatakan, di forum anggota dewan yang terhormat ini, sudah terbukti pada malam ini, bahwa suara masyarakat yang banyak itu tidak benar, dan suara satu orang ini adalah yang benar. Saya heran, dia makan apa sebelum datang ke Senayan ? Saya sering terheran-heran melihat cara berpikir orang2 macam ini. Bagaimana ia membangun mindset-nya. Apa saja yang dimasukkan ke kepalanya selama ini. Habis itu, Susno bercucuran air mata. Berlebihan sekali. Well, kita lihat nanti bagaimana akhir kisahmu, Susno. Kita lihat ending kasus Antasari, Bibit dan Chandra yang menyeret keterlibatanmu. Permainan belum usai.

Polri, Kejagung : hidup & bertahan dengan asumsi dari bukti sumir. Where’s rasionality ?

Saya juga geli mendengar Bonaran Situmeang, pengacara Anggodo, mengatakan, tak heran terhadap hasil verifikasi TPF dan keberpihakan Tim 8 pada KPK. Karena ini itu.  Asumsi lagi, asumsi lagi. Kayaknya orang2 ini, juga Kapolri, Jaksa Agung, para penyidik Polri, peneliti Kejagung dan JPU di PN Jaksel, hidup dari asumsi. Menjorokkan Antasari, Bibit dan Chandra ke tahanan, cukup berbekal asumsi dari bukti yang diset oknum penyidik. Mereka bertahan dalam asumsi2 dan bukti2 sumir sampai hari ini. Shame on you. Kemana perginya rasio dan nurani mereka ? Apa ikut2 lenyap seperti Yulianto ? Polri akan mencari Yulianto, tapi tidak melindungi keselamatannya, rilis mereka. Yah, kenapa tidak bilang sekalian, kalian tembak saja ? Supaya saksi mahkota kriminalisasi pimpinan KPK tidak bernyanyi seperti Nasrudin, memberitahu kebobrokan kalian ( para konspirator. Ada tambahan baru dari Williardi kemarin ; yang merekayasa kasus Nasrudin adalah Kombes M.Iriawan/ Direktur Reserse Polda Metro tempat Antasari ditahan, dan Irjen Hadiatmoko/ Wakabareskrim Mabes Polri waktu itu ).

Kalau TPF dan SBY berpihak pada kebenaran, keadilan rakyat, juga KPK, jika ternyata pimpinan KPK di pihak yang benar. What’s wrong with that ? Bonaran Situmeang kan juga berpihak pada markus, kejahatan korupsi, juga fulus ( minta 2 milyar ke Anggodo ). Ajaib cara berpikir mereka, ya ?

Kenapa rakyat marah ?

Orang2 seperti Susno, Anggodo, Anggoro, O.C. Kaligis, Bonaran Situmeang bebas berkeliaran di luar rumah tanpa hukuman. Apa sih jasa mereka pada negara ? Sementara, Chandra Hamzah, Bibit Samad Rianto dan Antasari yang berjasa mengembalikan uang negara trilyunan rupiah, tanpa bukti cukup dan proses hukum yang benar, mendadak menjadi tersangka dan terdakwa dalam hitungan jam. Harus wajib lapor, jadi tahanan kota atau tahanan Polda Metro Jaya, sampai hari ini. Ketidakadilan ini yang membuat rakyat marah. Di mana supremasi hukum yang digembar gemborkan saat kampanye ? Bapak presiden, anggota dewan terhormat, polisi dan jaksa yang kami andalkan, tidakkah keganjilan ini mengganggu hati kalian juga ? Bagaimana mungkin orang jahat di luar penjara, orang baik di dalam penjara ? As simple as that. You know why we angry ??

Kalau mobil Kejagung masuk Pasar Festival, Jaksa Agung terbukti memeras Anggodo ??

General News

Jaksa Agung Hendarman Supandji. Pinjam mobilnya, pak. Saya mau bawa ke Pasar Festival supaya saya punya bukti bahwa anda pun bisa memeras Anggodo.

Tentang penggembosan KPK ini, saya melihatnya seperti ini. Anggoro merugikan negara 180 milyar rupiah. Ia lari ke Singapura ketika KPK hendak memeriksanya. Anggoro dan Anggodo membuat rencana untuk lepas dari penyidikan KPK. Anggoro menyuruh Ary Muladi mengantarkan surat tidak bisa hadir dalam pemeriksaan KPK. Ary datang ke gedung KPK, menandatangani buku tamu di lantai satu ( bukan lantai 3 di mana kantor Chandra dan Bibit berada ), wajah Ary difoto, CCTV menangkap wajahnya. Setelah menunggu di ruang tunggu, tak ditemui Chandra, Ary naik ke atas dan menyerahkan surat Anggoro itu ke petugas lift. Buku tamu, foto dan rekaman CCTV ini kemudian diaku penyidik Bareskrim Polri sebagai bukti Ary Muladi bertemu dengan Chandra dan Bibit. Sumir ? ( Tergesa-gesa ? Atau kejar setoran ? ) Padahal Chandra dan Bibit tak kenal Ary Muladi. Juga Ade Rahardja. Begitu pula sebaliknya. Jaksa Agung di RDP Komisi III, begitu yakin mengatakan Ary Muladi menelpon Ade Rahardja 64 kali. Padahal pihak operator telpon melalui Depkominfo mengatakan sudah clear tidak ada komunikasi telpon antara Ary dan Ade. Hendarman Supandji menelan mentah2 penjelasan anak buahnya dan Polri.

Hendarman pun berasumsi jika pria wanita bukan muhrim masuk ke hotel maka sudah cukup bukti bahwa mereka berselingkuh/ berzina. Maka, jika mobil KPK masuk ke halaman parkir Pasar Festival dan Bellagio maka sudah cukup bukti Chandra dan Bibit menerima aliran dana dari Anggodo. Dengan bukti CCTV dan tiket parkir, tanpa seorang pun melihat kehadiran Chandra dan Bibit di lokasi tsb pada waktu2 yang diaku penyidik Polri. Kok, gampangnya mereka menuduh, memvonis, menfitnah, mengganggapnya bukti ? Kalau sedangkal ini, anak kecil juga bisa. Digaji 3 juta untuk kerjaan seceroboh ini ? Masih minta lagi 10 trilyun ke DPR ? Wah, kebangetan .. Negara bisa kebobolan membayar mereka.

Pasar Festival dekat dengan lokasi Gedung KPK, tempat pegawai bisa makan di situ, kata Alexander Lay, pengacara Bibit-Chandra. Mobil pegawai KPK banyak yang keluar masuk di Pasar Festival. Pemikiran saya, mungkinkah ada oknum yang memakai salah satu mobil KPK, disuruh mengambil tiket parkir dan memfoto mobil tsb untuk dijadikan bukti penyidik ? Saya ingin tahu, jika ada orang yang diam2 meminjam mobil Jaksa Agung Hendarman, lalu ke Pasar Festival, ambil tiket parkir, foto atau rekaman CCTV, mencatut nomor2 telpon, lalu menjorokkan Hendarman ke tahanan dengan alasan memeras Anggoro, apa Jaksa Agung mau ? Jangan mau dikadalin anak buah. Cobalah berempati, sekali-kali berpikir di pihak korban.

Jika skenario itu yang terjadi, mungkin benar ada kriminalisasi. Benar ada rekayasa, minimal mengada-adakan perkara supaya dapat ‘setoran/ bonus’ di pengadilan ( kalau pikirannya ngga nyampe ; pihak asing tak senang Indonesia besar dan kuat, atau koruptor sedang melakukan serangan balik melalui aparat kotor ). Orang tak bersalah dianggap melakukan pidana. Hendarman, jangan cuma bisa ketus jika ditanya wartawan. Jangan cuma cemberut jika disudutkan anggota Komisi III, yang mulai kritis kepadanya beserta jajarannya. Turun ke bawah, ke lapangan, meneliti sendiri kasus berskala nasional ini. Pakai insting dan kreativitasnya untuk menyidik. Kerahkah otak untuk berpikir keras. Benarkah, semua bukti dan tuduhannya ? Daripada nama instansi tercoreng moreng, kan lebih baik dobel check. Right, guys ?

Brain wash di Bareskrim. LPSK anggota konspirasi ?

Lalu soal Yulianto, yang disebut Ary Muladi belakangan, dengan cirri badan tinggi 185 cm, beralis seperti orang Cina, berkulit sawo matang bersih, bertubuh atletis dan tinggal di Surabaya. Bonaran mentertawainya sebagai hantu, sosok fiktif. Di lokasi yang disebut Ary, tetangga mengatakan Yulianto sudah pindah 15 tahun lalu. Ary juga mengatakan di buku tamu hotel, nama Yulianto itu ada. Melihat gestur, mimik Yulianto juga penyesalannya, saya rasa ia lebih jujur dari Susno atau Dikdik. Artinya, lie detector penyidik Polri yang menyatakan Yulianto bohong, bisa jadi tak benar. Alias penyidiklah yang bohong. Tim 8 mesti menyaksikan sama2 ketika Yulianto di deteksi dengan alat tsb ( coba gunakan juga pada Susno, Anggodo juga Rani ).

Pada BAP pertama, Ary diperiksa seharian sampai ia letih dan mengiyakan pernah bertemu dengan Ade Rahardja. Agar ia bisa cepat pulang ke rumah. Saya tahu teknik semacam ini di penjara Amerika. Orang diberi pujian, makanan enak, dsb supaya mengikuti semua kemauan penyidik. Diintimidasi, disiksa secara psikologis atau fisik, sampai si korban menyerah, ingin secepatnya keluar dari kondisi menyiksa tsb. Pada kasus Ary. Perkataan ‘bertemu Ade Rahardja’ diulang-ulang seperti mendoktrin ( mencuci otaknya/ hipnosis ) Ary. Para penyidik berharap ‘fakta’ yang dicangkokkan itu masuk ke alam bawah sadar Ary. Ary yang tak tahan terus berbohong lantas mencabut kesaksiannya di BAP pertama. Edi Sumarsono belum mencabutnya. Ary diimingi-imingi penyidik, jika ia mau kembali ke BAP pertama, maka ia akan dibebaskan, tidak menjadi tersangka seperti sekarang. Ary menolak membohongi nuraninya.

Ary menghadap Tim 8 dan meminta perlindungan saksi serta ditemani pengacara saat memenuhi panggilan penyidik Polri pada Senin ( 9/11/2009 ). Ary takut ia dikondisikan penyidik seperti saat pemaksaan BAP pertama. Ia tak ingin berbohong lagi. Tim 8 tidak bisa memenuhi permintaan tsb. Mereka mengusulkan Ary meminta penundaan pemeriksaannya sekitar seminggu sampai LPSK siap melindunginya. ( dari pengakuan Williardi, LPSK terlibat dalam rekayasa kasus Antasari ) LPSK masih rapat mempertimbangkan hal itu ketika Ary datang, menunggu di kantor LPSK. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban ( LPSK ) beralasan status Ary tersangka sehingga mereka ragu melindunginya. Apa maksudnya ?

Janji penyidik Polri, jika kembali ke BAP pertama, Ary bisa bebas.

Para penyidik bisa merubah status Ary sesuka hati. Ary dijanjikan penyidik bisa kembali jadi saksi kalau ia mau kembali ke BAP pertama. Dengan gonjang ganjing konspirasi dan mafia kasus yang terkuak di sidang MK, apa para pengurus LPSK masih belum mengendus juga kejanggalan dan gentingnya perlindungan Ary yang ditersangkakan penyidik Polri sesuka hati. Pahami situasi dan subtansinya. Lakukan terobosan. Lindungi Ary, supaya kasus Bibit dan Chandra yang bikin puyeng kita semua segera clear. Segera dicokok penjahat sesungguhnya. Markus2 itu segera diberantas habis. Program pemerintahan 100 hari SBY bisa segera terlaksana. Kalian kan digaji negara untuk menyukseskan program tsb. Do something !

Heroisme Williardi Wizar di PN Jaksel. Sasaran konspirasi hanya Antasari ?

williardi

Williardi Wizar. Hanya Antasari sasaran kita ( konspirasi ), kata atasannya.

Williardi Wizar ( kombes polisi, terdakwa pembunuhan Nasrudin ) siang kemarin ( 10/11/2009 ) secara tak terduga mencabut kesaksiannya di BAP di PN Jaksel. Ia mengaku tak didampingi kuasa hukum saat dipaksa penyidik pada 30 April 2009 untuk menerima BAP kasus Nasrudin . Wizar mengatakan dengan heroik, bahwa sasaran pembunuhan Nasrudin adalah menjatuhkan Antasari. Ia diiming-imingi hanya dijadikan saksi/ tak dipecat, jika berhasil membunuh Nasrudin. Si petinggi mengatakan Nasrudin adalah orang jahat yang membahayakan negara ( tugas negara ). Nyatanya, Wizar tetap ditahan dan didakwa dengan ancaman hukuman mati.

Merasa ditipu, Wizar berontak dan mengatakan yang sebenarnya. Mungkinkah, karena prestasinya dalam pemberantasan narkoba, ada gembong narkoba yang dendam pada Wizar ? Atau ada oknum Polri yang merasa penghasilan sampingannya terhenti gara2 kiprah Wizar memberantas kejahatan sindikat narkoba ? Mereka bermufakat jahat menjorokkan Wizar ke penjara, berharap ia dihukum mati, sekaligus Antasari. Dua musuh bebuyutan mereka bisa dilenyapkan dalam sekali gepuk ? Bisa jadi, mengingat beberapa peristiwa penemuan pabrik2 narkoba berskala internasional di tanah air. Mereka tentu geram melihat bisnisnya dihalangi Wizar. Feeling saya lagi2 benar, Wizar orang yang dikorbankan karena tak sehaluan dengan Susno cs.

Ary dan Wizar senasib, dikondisikan penyidik mengikuti BAP pertama. Uang dari Anggodo fiktif ?

Bisa jadi Ary Muladi berada di kondisi sama. Dipaksa mengikuti BAP rekayasa penyidik. Kalau Ary dituduh penipu oleh Susno. Kalau Wizar dituduh pembunuh. Kalau Wizar bisa bersikap patriot mengatakan sebenarnya dan kita bisa menerimanya. Kenapa kita tak bersikap sama pada Ary ? Bahwa, niat Ary semula ingin membantu Anggoro, kenalannya, untuk mengantar uang ke pimpinan KPK agar urusannya tak jadi perkara. Niat baik Ary malah disalahgunakan Anggoro ( dengan ide dari oknum Polri ) untuk menjebak pimpinan KPK. Uang milyaran yang ditaruh dalam 2 kantong itu diserahkan Ary ke Yulianto. Agar tak mencari Ary dicegah keluar dari Jakarta dengan cara dijadikan sebagai tersangka oleh penyidik. Ary tak menerima uang sepeser pun.

Uang ( memang direncanakan ) tak pernah sampai ke Chandra, Bibit atau pun Ade Rahardja. Sayang duitnya. Tapi dengan rekayasa seolah-olah ini itu dengan bukti sumir tsa, Chandra dan Bibit tetap bisa dijatuhkan. Uang kembali ke Anggoro melalui Anggodo, lalu dibagikan ke oknum Polri dan oknum Kejaksaan Agung yang merekayasa ini semua. Anggodo di rekaman itu membicarakan duren ( narkoba ) dengan Ong Yuliana, pecandu narkoba yang pernah 3 kali kena garuk oleh polisi. Salah satunya dengan Roy Marten. Bedanya, meski divonis setahun penjara, Yuliana tak pernah ditahan. Roy di penjara. Bahkan sampai 2 kali. Mungkinkah saat itu Ong sudah digunakan oknum polisi untuk kasus2 rekayasa seperti yang menimpa para pemimpin KPK ?

Yulianto : sosok fiktif Bonaran atau saksi mahkota ‘hard target’ polisi ?

Mungkinkah Yulianto disuruh penyidik membawa kembali uang dari Ary Muladi lalu kabur, menghilang sementara sampai situasi aman ? Sampai masyarakat mulai lupa dengan kasus ini ? Penyidik tentu menyuruhnya bungkam. Atau dibungkam. Bayangkan jika anda di posisi Yulianto, membantu oknum polisi lalu dikejar-kejar seperti buronan. Kayak nonton film action spy di bioskop. Si tokoh cerita mesti sabung nyawa, menyamar, menghindar dari polisi. Banyak film dibuat dengan tema2 seperti ini. Film “Fugitive”, “Hard Target”, “Bourne Supremacy” dsb. Saya baru tahu ada realitasnya di tanah air. Di kasus Bibit dan Chandra ini.

Antasari terharu Williardi mau berkata jujur

Antasari ketika mendengar pengakuan Williardi terkesima. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Terharu ( menangis ). Tim pengacara mengelus-elus bahunya, men-support-nya. Mereka mengaku tak melakukan komunikasi sebelumnya dengan Wizar, karena Wizar diajukan sebagai saksi oleh JPU. Cirus Sinaga ketika mendengar pengakuan Wizar, berkilah ia masih punya jurus baru, bukti baru yang belum bisa diungkapkan pada reporter teve. Ia enggan mengatakan, meski sudah dibilang oleh wartawan jika bukti kuat kenapa harus takut. Seperti bosnya, Hendarman Supandji, dengan pede, berkeras meneruskan kasus para pimpinan KPK ini. Bebal sekali. Otaknya tak sedikit pun memproses kejanggalan yang ada. Egonya menutupi fakta2 yang sudah sangat terang benderang ini. Nuraninya tidak menangkap keadilan dan kemanusiaan.

Hendarman mengatakan di depan Komisi III, pihaknya takkan terpengaruh dengan rekomendasi TPF kepada presiden. Maju terus pantang mundur membela yang bayar. Saya tak mengerti mengapa SBY belum memerintahkan mundur Jaksa Agung ngotot ini ? Berapa lama lagi waktu kita terkuras meladeni orang2 tak kompeten ini ? Menunggu hasil final TPF. Let’s see. ( Mereka harus dibersihkan karena memperlambat kerja pemerintah. Yang bermufakat jahat dijebloskan ke penjara, dihukum setimpal. Yang tak terlibat konspirasi diturunkan jabatannya, ditraining kembali. Kalau bebal, dan kualifikasinya masih di bawah standar, diberhentikan. Memboroskan uang negara saja ).

Waktu tak bisa kembali. Cabut inang beserta parasit2-nya.

Yahya B.Sunaryo mengatakan, bisnis itu ketinggalan sebulan saja sudah banyak merugi. Seorang ekspatriat menerapkan konsepnya pada sebuah perusahaan besar di Indonesia. Setahun belum ada kemajuan. 2 tahun, 3, 4 sampai 5 tahun, perusahaan malah meredup. Si ekspatriat tak paham konteks budaya yang ada di Indonesia. Tapi karena si bos tergiur celoteh si ekspatriat dan tampilan made in luar maka konsultan bule terus dipakai. Setelah 5 tahun gagal, baru di depaknya. Tapi, selama 5 tahun, banyak peluang bisnis, kesempatan memperbaiki perusahaan dan meningkatkan kinerja karyawan terlewat. Hilang. Waktu tak bisa kembali. Menganalogi Indonesia sebagai holding company raksasa, ketidakkompetenan Jaksa Agung dan Kapolri yang memberi ruang bagi suburnya para markus ini persis ketaklayakan ekspatriat tsb.

Dalam kasus Antasari, Bibit dan Chandra ini berefek ganda, karena KPK jadi tersita waktunya. Sulit fokus dengan tugas pemberantasan korupsi yang mereka emban dan dibayar mahal untuk itu. Jika saudara atau sahabat anda akan dihukum mati atau masuk penjara, apakah anda bisa konsentrasi bekerja ? Apalagi dengan resiko sewaktu2 diri sendiri bisa dikriminalkan, meski kita sudah melaksanakan tugas sesuatu aturan. Karena kehadiran markus dan pejabat kotor, semua norma kebenaran jadi jungkir balik. Anda bisa berempati di posisi Antasari, Chandra dan Bibit sekarang ini ? Bayangkan anda jadi salah satu dari mereka dengan semua fakta tsa. Kita tak punya waktu seumur hidup untuk meluruskan, menyadarkan para markus yang nuraninya sudah di titik nadir. Believe me. Saya pernah mencobanya. Tahun demi tahun berlalu sia2. Jadi, saatnya memangkas dan ‘membuang’ mereka. Jika mereka sudah tak di posisinya, para penjilat di sekitarnya, parasit2 yang membusukkan instansi yang selama ini diberi angin oleh kelemahan mereka, juga lenyap, tak mendapat inangnya.

Rani Juliani bekerja sama dengan pembunuh suaminya. Sadarlah.

rani-juliani-590x442

Rani Juliani, istri ke 3 alm Nasrudin Zulkarnaen. Akankah ia mengikuti jejak Williardi Wizar mencari ketenangan batin, dunia akhirat ?

Saya melihat Rani tersenyum melambaikan tangan seperti Miss Universe. Tak bicara ( penyidik menyuruhnya diam ? ). Beberapa kali tampil seperti itu di hadapan publik. Tapi beberapa hari lalu, saya melihatnya sebagai sosok yang lain. Rani berteriak lantang,” SAYA KORBAN ! SAYA KEHILANGAN SUAMI SAYA KARENA TERBUNUH. MEREKA TIDAK PERNAH MERASAKAN APA YANG SAYA RASAKAN !! Kurang lebih seperti itu. Wajahnya tidak tersipu, tapi garang penuh amarah. Ini watak yang asli, Ran ?

Kenapa Rani mau jadi istri ke-3 Nasrudin ? Seperti tidak ada pria lain saja. Kenapa ia tak bisa seperti Ary Muladi, mencabut kesaksiannya. Nurani bisa tentram karena berkata jujur. Lebih menenangkan anggota keluarga, disupport masyarakat dan diselamatkan Allah Swt. Jika tidak di dunia, ya di akhirat. Kebenaran akan terkuak, cepat atau lambat. Pikirkan anak cucu kelak, jika terus dalam kebohongan, mendukung konspirasi yang selama ini sudah menyengsarakan hidupmu.

Kita lihat setelah Williardi Wizar mencabut BAP dan membongkar konpirasi oknum Polri yang merenggut nyawa Nasrudin, sampai di mana keberanian Rani ? Apakah benar ia berteriak-teriak minta keadilan untuk arwah suaminya ? Pembunuhnya, ya orang2 yang memintanya berbohong dan memanipulasinya selama ini. Oknum Polri ; Kombes M.Iriawan dan Irjen Hadiatmoko, dua diantaranya. Rani sedang bekerja sama dengan pembunuh suaminya. Ironis ?

Caddy dengan ide intelijen. Siapakah Rani ?

Rani Juliani tampil lagi di depan publik dalam sebuah konferensi pers ( 12/11/2 ). Kania Sutisnawinata ( MetroTV ) dan Tina ( TVOne ) diberi kesempatan mewawancarai Rani secara eksklusif sebelumnya. Siang ini ( 13/11/2009 ), Andi Syamsuddin, adik mendiang Nasrudin, diwawancara MetroTV untuk mengecek pernyataan Rani petang kemarin. Saya lihat juga Chandra dan Bibit diwawancara Karni Ilyas ( pemred TVOne ) semalam, dengar Trijaya FM dan baca koran PR. Analisa saya seperti ini :

Nasrudin punya masalah di kantornya. Ada kerugian sekian milyar di PT.RNI. Sebenarnya pelakunya adalah GM, atasannya, tapi kesalahan itu dilemparkan ke Nasrudin. Nasrudin berkeluh kesah pada adiknya, Andi Syamsuddin tentang masalah di kantornya ini. Ia juga mengeluh soal pengangkatannya sebagai salah satu direktur di sana. SK-nya sudah turun, tapi Nasrudin tak kunjung dilantik. Direktur lainnya sudah. Mungkinkah karena Nasrudin melaporkan korupsi di kantornya pada Antasari sehingga ia dipersulit ? Andi mengatakan, jika Nasrudin kenal Antasari, kenapa ia tidak minta bantuan Antasari ? Antasari menjawab ketika itu, mungkin bisa saya bantu jika Nasrudin bersih. Andi mengatakan, tidak benar Antasari pernah membantu Nasrudin tahun 2005 pada kasus pabrik gula. Waktu itu Nasrudin posisinya baru staf ahli. ( penyidik Polri bohong lagi ? )

Awal Januari, Polres Kendari menahan Nasrudin dan Rani Juliani. Keduanya lalu meminta surat kawin mereka difaks ke Kendari agar mereka bisa bebas. ( cek waktu penggerebekan di Kendari dengan tanggal kawin mereka. Mungkinkah Nasrudin tertangkap basah sedang/ seolah selingkuh. Mungkin peristiwa memalukan ini digunakan oknum polisi untuk memeras Nasrudin agar ikut konspirasi menjatuhkan Antasari ). Andi tidak diberitahu Nasrudin soal Rani yang akan menjadi istri ke 3 kakaknya. Berbeda dengan istri ke 2 Nasrudin, yang dikenalkan pada Andi lebih dahulu. Siapa sih Rani ini, tanya Andi keheranan hingga siang ini. ( Nasrudin dan Rani diberitakan kawin tahun 2007 ). Andi heran, kok, caddy bisa punya ide meng-on/ rekam/ hubungkan percakapannya dengan Antasari pada Nasrudin lewat ponselnya ? ( Canggih, kayak agen rahasia, pekerjaan intelijen ). Februari, ada sms yang meminta peristiwa ini jangan terblow-up ( penyidik belum siap mengeksekusi rekayasa berikutnya ? )

Nasrudin ada di lobby, menyuruh Rani ke atas, lalu menjebak Antasari.

Rani tahu Antasari lebih dulu daripada Nasrudin. Akhir tahun 2006, Antasari sudah menjadi pelanggan Moderland Golf, Tangerang. Rani berbaur dengan caddy/ kedi lainnya ketika Antasari dan para pejabat di kejaksaan bermain golf. Nasrudin datang memperkenalkan diri sebagai pilot dan bekerja di PT.RNI pada Rani. Mereka lalu menikah siri pada tahun 2007. Rani tetap tinggal di rumah orang tuanya. Tiga kali seminggu Nasrudin mengunjunginya. Di kamar 802 Grand Mahakam, sebagai marketing Rani menawarkan keanggotaan Modernland Golf. Rani minta Antasari jadi anggota kembali. Grand Mahakam adalah tempat Antasari melakukan pekerjaannya luar kantornya, menemui orang2 tertentu terkait pekerjaannya.

Pertemuan kedua, Rani disuruh Nasrudin untuk bertemu Antasari di kamar 803 Grand Mahakam. Rani bilang ia datang dengan taksi bersama Nasrudin, lalu berpisah. Suparmin, supir Nasrudin, mengatakan 2 majikannya itu ia antar dengan mobil pribadi. Hotma Sitompul, pengacara Antasari, mengatakan, Nasrudin menunggu di lobby. Keduanya janjian ketemu Antasari, dengan urusan yang berbeda, dengan selisih 5-10 menit. Antasari bertemu Rani dulu, baru kemudian Nasrudin. Saat itu, Antasari belum tahu kalau Rani itu istri ke-3 Nasrudin ( kok, Nasrudin merahasiakannya ? Juga Rani ? Apa keduanya sudah digarap oknum polisi saat itu ? ). Rani dipesan Nasrudin untuk meng-on ponselnya, sehingga ia bisa memantau. ( apa Nasrudin juga menyuruh Rani merayu Antasari ? Agar Nasrudin bisa memeras Antasari seperti kemauan sang sutradara konspirasi yang juga sedang memeras Nasrudin ? ).

Nasrudin naik ke atas. Rani bilang, ia berjalan menuju pintu. Selangkah dari pintu, Nasrudin mendorongnya masuk kembali ke kamar, dan terjadilah keributan. Rani menolak memberitahu apa yang terjadi. Di persidangan saja, kilahnya. ( Rani mengungkapkan sebagian fakta menurut yang ia alami dan rasakan. Bisa jadi sebagian benar. Sebagian fakta yang tak ia ungkapkan ke pers menjadi ruang bagi konspirator mencangkokkan kejadian rekayasa/ asumsi/ kebohongan untuk membangun ‘cerita’ versi mereka. Biar majelis hakim yang memutuskan, saya sudah sampaikan di persidangan, dsb, adalah cara Rani mengakomodir keinginan konspirator, tanpa dirinya terlalu banyak berbohong. Sehingga kita seperti melihat kejujuran di sana. Yang terpaksa dan tercekam. Orang tuanya mungkin dalam bahaya.

Rani dijaga sepasukan polisi, lebih ketat dari menteri.

“Mereka tidak pernah merasakan, apa yang saya rasakan !”, teriak Rani. Saya artikan, Rani tidak bebas berkata-kata. Ia dijaga sepasukan polisi. Jauh lebih ketat dari seorang menteri. Yang mungkin dijaga seorang ajudan dan seorang polisi saja, kata Andi. Andi pernah minta bertemu dengan Rani, tapi barisan penjaga itu mengatakan harus izin Kapolda dulu. Lho, Rani bukan tersangka, kok harus minta izin. Rani, sudah jadi bagian keluarga saya. Masak, bertemu sekalipun, nggak boleh, protes adik Nasrudin itu. Andi juga pernah minta izin ke M.Iriawan ( anggota konspirasi ), tapi tak diperbolehkan. Andi baru bertemu dengan Rani setelah masuk masa persidangan di pengadilan, di antara barisan pengacara dan polisi penjaga. Makin pekat aroma konspirasinya, ya ?

Setelah berhenti jadi kedi, Rani tinggal di rumah saja bersama orang tuanya. Ia hidup dari tabungan dan bantuan polisi ( ada ketergantungan hidup juga kondisi2 yang menyulitkan Rani berkata sejujurnya, tingkat keberanian dan daya pikirnya juga tidak istimewa. Ia bilang diawasi, tak selalu dikawal. Betulkah ? ). Sesekali Rani ke mal, pakai kerudung, dikawal. Wanita kelahiran 1986 ini juga dibawa ke Hotel Ancol, apartemen, Sawah Kuring, dll, tempat ia dimintai keterangan untuk BAP oleh penyidik. Namun, penyidik bilang BAP dibuat di kantor polisi ( penyidik bohong lagi ). Setelah Antasari dijebloskan ke tahanan ( 4/5/2009 ), Rani baru muncul ke publik bulan Juni 2009 ( adegan melambaikan tangan ). Rani selama ini berada di Jakarta. Bobotnya naik 6 kg karena makan enak dan kegiatan berkurang.

Nasrudin dibunuh karena konspirator kuatir ia “bernyanyi”

“Astagfirullah, saya takkan melakukan hal serendah itu,”sms Antasari ke ponsel Nasrudin. Nasrudin lalu memberitahu mertuanya, bahwa ia dan Rani sering diteror Antasari. Nasrudin menunjukkan sms2 teror itu ke Rani. Pengirimnya, Antasari, kata Nasrudin. ( tapi teror sebatas sms, tidak pernah suara langsung ). Nasrudin juga mewanti-wanti kalau ia mati, dalang pembunuhnya adalah Antasari. Saya heran, peneror kok memakai nomor ponselnya sendiri. Kalau anda berada di posisi peneror, apakah anda akan memberitahu nomor telpon anda sehingga anda mudah ditemukan dan dihajar ? Anda pernah mengedit ucapan selamat lebaran dari kawan untuk dikirim ke kawan anda yang lain ? Nasrudin atau konspirator juga bisa melakukan hal demikian. Bedanya, kata2 teror, ancaman, hinaan yang ia gunakan. Sebelum ia kirim balik ke Antasari, ia tunjukkan dulu ke Rani. Nih, Antasari neror lagi. Sms Antasari yang sudah ia ubah itu ia kirim kembali ke Antasari. Alhasil, Antasari dan keluarganya mendapat teror dan ancaman dari Nasrudin.

Hotma Sitompul mengatakan, pintu kamar 803 terbuka ketika Rani menemui Antasari. Dalam 10 menit, apa mungkin Antasari melakukan hal2 yang dituduhkan ? ( pelecehan seksual ). Ia tahu sudah janjian dengan 2 orang. Nasrudin akan menemuinya sebentar lagi. Berbulan-bulan setelah peristiwa itu, Antasari dan Nasrudin berhubungan dengan baik. Menjadi aneh, ketika kemudian Antasari dituduh mendalangi pembunuhan terhadap Nasrudin dengan latar belakang kejadian di kamar 803 ( cinta segitiga ).

( yang benar, konpirator kuatir Nasrudin “bernyanyi” menceritakan skenario mereka menjatuhkan Antasari. Sebelum mereka masuk bui, Nasrudin dibunuh untuk menghilangkan jejak persekongkolan jahat mereka. Dengan melemparkan kesalahan itu pada Antasari, hingga ia ditahan, konspirator mengira bisa lepas dari kejahatannya. Susno, M.Iriawan, dkk, bisa, menikmati uang haramnya dari para markus. Sebagian mungkin nasabah besar Bank Century yang menggaruk 6,7 trilyun uang LPS/ uang rakyat/ negara. Mereka tak lagi terusik oleh komisioner KPK yang tak pandang bulu ini. Uang Budi Sampoerna di Bank Century sekitar 2 trilyun. Ia mestinya dapat pengganti 2 milyar saja sesuai aturan batas penjaminan. Ia mungkin tak rela uangnya hilang. Juga tak rela ditahan karena melanggar aturan batas LPS. Begitu juga debitur besar lainnya, sehingga terjadilah skandal heboh tahun ini. Antasari, Bibit dan Chandra dikorbankan, dengan mengerahkan oknum polisi, kejaksaan, pengadilan. Sepasukan ? Kapolri terlibat ? )

Laksmiwati & Novarina : istri tabah pendukung suami setia

Ida Laksmiwati, istri Antasari, yakin suaminya tak mungkin melakukan hal serendah itu. Tipe suaminya tak seperti itu. Novarina, istri Williardi Wizar, mengatakan suaminya mengatakan hal sebenar-benarnya di persidangan kemarin. Bahwa Antasari menjadi sasaran utama skenario konspirasi. Karena perkataannya pada wartawan, Novarina dipanggil Propam Mabes Polri hari Rabu kemarin. Ditanyai selama 7 jam. Setelah itu ia sesenggukan, minta bapak2 itu menggunakan nuraninya. Williardi sudah mengatakan hal sebenarnya di BAP 29 April 2009. Tapi 30 April 2009, ia diminta untuk menyamakan keterangannya dengan saksi2 setingan penyidik. Di ruangan itu, ada Direktur, Wadir, Kabag dan 3 Kasat. Mereka bilang, hanya Antasari sasaran kita. Wizar dijanjikan takkan dipecat. Hanya jadi saksi.

Rekaman handycam yang ditunjukkan penyidik sebenarnya diambil setelah tanggal 30 April. Bukan saat pembuatan BAP. Tak ada tanggal dan konteksnya, di rekaman tsb. Williardi terlihat merokok di sana ( buat sebagian orang, tiba2 mengambil rokok adalah tanda ia ingin menenangkan diri/ dalam tekanan/ stress ). Tapi pihak penyidik Polri berkeras adegan itu diambil saat pembuatan BAP. Supaya orang percaya, bahwa Williardi saat membuat BAP tidak dalam tekanan.

Hal mirip juga dilakukan pada perkataan Antasari, yang dikatakan Nanan Sukarna pada pers : siapa bilang Polri yang ingin mengecilkan KPK ? ( Antasari mengatakan, jika kepolisian dan kejaksaan sudah berfungsi baik maka KPK tidak diperlukan lagi. Tapi oleh penyidik, diambil hanya frasa ‘KPK tidak diperlukan lagi’. Kelihatan kan, busuknya penyidik memplintir fakta ? ). Pengacara Antasari mengatakan, kami tidak menyerang institusi Polri, kami mempermasalahkan oknum2-nya. Saya pikir, jika tindakan oknum2 selama ini terus dibela institusi, mungkinkah tindakan oknum2 ini sebetulnya diback-up penuh oleh institusi Polri ? Bahwa memang ada instruksi dari atas untuk melakukan rekayasa ini. Melihat begitu banyaknya yang terlibat. Melihat hampir tak tersentuhnya mereka sampai hari ini. Sepasukan ?

Komisi III saatnya ‘menguliti hidup2’  Marwan & Hendarman ( Kejagung )

Dimyati Natakusumah, anggota Komisi III, kemarin ( Senin 9/11/2009 : RDP DPR-Jaksa Agung ) mengeluhkan gelar perkara yang dialaminya seraya memegang bukti cakram rekaman kasusnya. Masalah pribadi jangan dibawa ke sini, sentak Marwan Effendi ketus. Jampidsus itu malah mengatakan kasus Dimyati sudah P21 ( lengkap ). Mantan bupati Pandeglang itu dijadikan tersangka dalam kasus pinjaman uang oleh pemkab Pandeglang pada Bank Jabar Banten cabang Pandeglang sebesar Rp.200 milyar pada tahun 2006. Mendadak ia diperiksa Rabu ( 11/11/2009 ) pukul 16.00. Pukul 19.00 WIB Dimyati sudah dibawa ke LP kelas II Serang untuk ditahan. Gesit banget Kejagung kalau urusan beginian. Pendekatan kekuasaan, ya ?

Komisi III, saya rasa, kini saatnya kalian benar2 full power, full speed untuk ‘menguliti hidup2’ Kejagung dan Polri. Kalau basa basi lagi, keburu kalah cepat dengan oknum2 yang ternyata sudah mengendalikan penuh 2 lembaga penegak hukum ini. Sekarang kalian bisa merasakan, apa yang selama ini dirasakan oleh kami, juga rekan2 di KPK. Bukan kebenaran dan keadilan yang dijunjung oleh Kejagung dan Polri masa ini. Tapi citra dan fulus. Gunakan seluruh pengaruh, wewenang dan kemampuan untuk ‘menghajar’ Marwan Effendi, Hendarman Supandji, Ritonga, Cirrus Sinaga, dkk, agar mereka tak punya pilihan lain selain berubah, memperbaiki diri dan membersihkan Kejagung dan Polri.

Angket Bank Century & TV-nya serigala

Angket untuk mengusut Bank Century bisa jadi awal baik berpihak pada rakyat. Saya juga merasa ada keterkaitan erat antara kasus komisioner KPK dengan bank milik Robert Tantular dan 2 buronan yang belum dicari Polri ( mungkin Susno cs karena kecipratan duit jadi males ngejar 2 DPO ini ). Bola panasnya sekarang ada di mana ? Audit BPK katanya baru selesai Desember 2009. Partai Demokrat menunggu audit ini. PPATK juga menunggu. Ribuan nasabah sudah menunggu uang mereka kembali hampir setahun. Everybody’s waiting now.

Saya melihat TVOne kebalikan Metro TV yang pro KPK. TV One memberi ‘panggung’ yang leluasa untuk Anggodo, O.C. Kaligis, dkk, bahkan ketika pengacara gaek itu menjelek-jelekkan KPK. Tapi ketika Chandra dan Bibit menjelaskan ( meng-counter ocehan Kaligis ) menurut sudut pandangnya dan aturan di KPK, Karni Ilyas sering memotong dan meragukan. Tak heran Kino dan Tina, yuniornya, punya gaya yang mirip. Tak heran, acara2 propaganda barat titipan deplu dan dephan Amerika bertebaran di stasiun ini. Tak heran, teve ini milik Rupert Murdoch, raja media, zionis Yahudi. Herannya, ada Karni, Kino dan Tina yang mau jadi penyambung lidah bangsa imperialis ini. Mereka orang Indonesia atau bukan, sih ? ( jelasnya mereka bukan Cicak = Cinta Indonesia Cinta KPK. Juga bukan buaya. Mungkin serigala, seperti majikannya. Whatever. Yang jelas mereka cenderung memecah belah bangsa ini. Watch out, guys ).

Bagaimana kelanjutan kisah KPK, Bibit, Chandra dan Antasari ? ( to be continued )

 

Tagged with: ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: