dari Palestina sampai Indonesia

YAMAN : Tempat Ratu Balqis, Raja Abrahah, Raja Zu Nawas, Osama bin Laden, Abu Bakar Baasyir dan guru besar ulama Indonesia.

Posted in dunia muslim by nurray on 28/03/2009
suasana Sana'a, ibukota Yaman

suasana Sana'a, ibukota Yaman

Ratu Balqis, ratu penyembah matahari, sejaman dengan Nabi Sulaiman as, tinggal di Ma’rib, ibukota negeri Saba, tak jauh dari Sana’a, ibukota Yaman sekarang. Raja Abrahah dari kerajaan Habasyah, berada di Yaman. Sebelumnya, raja Zu Nawas, berdarah Yahudi, membantai kaum Kristen, juga di Yaman. Osama bin Laden dan Abu Bakar Baasyir berasal dari Yaman. Rakyat Yaman berasal dari etnis Sam dan Arab Qahthan ( 86 %). Di wilayah selatan hidup warga keturunan India ( 3 % ), Pakistan, Somalia ( 1 % ) dan India. Sistim kesukuan masih berjalan, terbesar sukur Hasyed dan Bukail.

Yaman berpenduduk 22 juta jiwa, dengan jumlah muslim 20,5 juta jiwa ( 94 % ), terbesar ( urutan 18 ) di atas China dan Syria. Penduduk Yaman memeluk Islam ketika Imam Ali ra. ditugaskan Nabi ke sana. Mereka merasa bagian dari kaum Anshar, yang bersaudara dengan kaum muhajirin dari Mekah. 44 % warga Yaman menganut mazhab Syiah, Zaidi sedang sisanya mazhab Syafi’i. 60 ribu jiwa menganut Kristen Katolik. Ada penganut Anglikan dan Hindu di Yaman.

Mayoritas wanita Yaman mengenakan niqaab ( hijab hitam berlubang di bagian mata ). Para lelaki memakai baju dan pedang khas Arab, terkadang dilengkapi senapan tempur AK-47. Yaman merdeka 22 Mei 1990, diperintah presiden Ali Abdullah Saleh dan perdana menteri Ali Mohammed Mojawar. Sana’a kota indah di ketinggian 2.300 meter dpl yang sejuk.

Kota ini bermula dari masa Hulk Amir bin Karb, raja Saba dan Zu Rayan yang memerintah awal abad 1 Masehi. Raja Aryad membangun Sana’a sebagai pusat administratif penguasa militer. Abrahah membangun katedral al-Qullais, di komplek Babul Yaman, agar bangsa Arab berhaji ke Sana’a, bukan ke Mekah. Gara2 seorang Quraisy membuang hajat dan mengotori dinding gereja tsb, Abrahah memerintahkan pasukan plus 13 gajah, menyerang Mekah, menghancurkan Kabah. Di Sana’a banyak ilmuwan, pakar fikih, sastrawan, penyair, mujtahid, sastrawan, penyair, juga para pelajar yang mencari inspirasi dan ilmu.

Ubaid bin Syariah menulis sejarah di sini, Wahb bin Munabbih meninggal di sini, Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani menulis kitab Subulus Salam di sini. Hadramaut, kampung halaman para Habib yang banyak bermukim dan berdakwah di Indonesia. Di lembah Tarim, rumah2 dari tanah liat, abu kemerahan, sesekali dicat putih. Tanpa sarana modern seperti teve, DVD, karena dikuatirkan para ulama di sana, mudah merusak akhlak. Sekolah pemerintah ; Ma’had Darul Musthofa, diasuh Habib Umar al Hafidz. Sekolah swasta : Ma’had Rubath Tarim, Fakultas Syari’ah al Ahqaff. Santri lulusan Tarim, umumnya jadi ulama, pemimpin umat yang tangguh. Santri dari Indonesia sekitar 700 orang. Bersama pelajar dari Malaysia, Singapura, India, Pakistan, negara2 Barat, mereka belajar di ruang sederhana, perpustakaan, tinggal di asrama, sholat di masjid pesantren.

Menurut Alwi Shahab, sejarawan Betawi, sejak awal Islam, orang Arab Hadramaut sudah ke Indonesia. Buktinya, 3000 tulisan Arab di batu dan logam di temukan di Indonesia. Sebagian besar bahasa di Nusantara menggunakan huruf Arab, sebelum Belanda memasukkan bahasa latin. Uang gulden Hindia Belanda menggunakan sebagian huruf Arab.

Keturunan Hadramaut mendirikan madrasah pertama Jamiatul Kheir di kampung Arab, Pekojan, Batavia tahun 1901. Di antara mereka menjadi guru ulama besar Betawi, seperti Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi ( Kwitang ) dan Habib Ali bin Husin Alatas ( Bungur ). Aktivitas dakwah dan pengajian sejak abad 18, dilakukan diantaranya oleh Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. KH Abdullah Syafi’i ( pendiri perguruan Asy-syafiiyah ), KH Tohir Rohili ( pendiri At-Tohiriyah ), KH Abdul Ma’ruf ( pendiri Darul Najah ), KH Abdul Razak Makmun, KH Syafiie, pemilik puluhan majelis taklim di Jakarta, adalah murid ulama Hadramaut. Guru Marzuki ( Rawa Bunga ), Mughni ( Kuningan ), Alwi Shahab berijazah Thariqah Al-Alawiyah dari Sayid Muhammad Syatta. ( Hidayah, Maret 2009 )

Iklan
Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: