dari Palestina sampai Indonesia

Bibit perpecahan di ruang audio visual kita

Posted in indonesia by nurray on 10/04/2009

Halim Setio

Januari 10, 2009 pukul 12:44 am

Berita teraktual perang Israel-HAMAS bisa kita simak setiap hari di TV-one yang merelay TV Al-Jazirah, kita bisa liat tayangan bagaimana HAMAS menembakkan rudal ke Israel tanpa membidik sasaran,asal tembak saja terserah rudal mau jatuh di mana….kita juga bisa liat tayangan korban rakyat sipil Palestina oleh rudal Israel…kita bisa liat tayangan bagaimana Israel mengejar HAMAS yang lari masuk ke pasar yang ramai,HAMAS yang lari masuk ke Mesjid, HAMAS yang lari masuk ke rumah-sakit dan Israel ga mau peduli tetap menembak saja makanya korban rakyat sipil Palestina begitu tinggi….( Kita jadi teringat kesulitan TNI mengejar GAM yang berbaur dengan rakyat sipil Aceh )…Sekarang Mesir maju sebagai pihak penengah, kita doakan semoga berhasil tercipta gencatan senjata abadi…amin.

sd :

Januari 10, 2009 pukul 11:14 am

@Halim: Anda tahu, TV One ternyata milik salah satu anak perusahaan Rupert Murdoch? Siapa dia..? silahkan browsing! Kasihan sekali, Anda mendasarkan penilaian hanya berdasarkan laporan media pro Barat. Kalau mau cerdas sedikit, baca berbagai analisis yg intelek, supaya ngerti apa yg sesungguhnya terjadi.

Komen Nurray :

TV One punya acara rutin tiap Minggu malam jam 21.00-23.00 yaitu “World Frame” dan “Forreign Current Affairs”. Di situ, Amerika terlihat bak pahlawan. Di Irak, mereka tampil sebagai tentara pembebasan dan ahli hukum yang menuntut kekejaman rezim Saddam ( serigala yang dulu mereka pelihara ). Kuburan2 masal etnis Kurdi dibongkar dan diperlihatkan. Di Turki, mereka datang sebagai ahli gempa yang menolong remaja putri yang tertimbun reruntuhan puing di Turki. Sebelumnya, sekuriti bayaran pengawal kargo AS menjalani profesinya, seolah tak ada pilihan hidup lain, demi menafkahi anak istrinya, selain menghindari tembakan gelap militan Irak.

Di “World Frame” dipamerkan kecanggihan teknologi Barat dalam mengantisipasi terorisme juga bencana alam. Penemuan bom, robot terbaru, satelit ruang angkasa untuk mengendus keberadaan teroris dan melumpuhkannya, tak ketinggalan dipaparkan di sini. Ringkasnya, Barat top, muslim/ pejuang terkebelakang.

Yang punya pengalaman berurusan dengan psikopat atau penyiksa, akan kenal dengan pola ini. Si penyiksa biasa mengecilkan lawannya dulu, sedikit demi sedikit, sebelum melakukan serangan akhir yang mematikan. Memamerkan kekayaan yang dimiliki ( over acting/pamer/riya ), lalu menghimpun massa ke dalam pengaruhnya ( dengan intimidasi, iming2 dsb. Orang2 masa bodo dan pengecut/ cari aman masuk dalam jerat ini ). Setelah itu si penyiksa bikin kerusakan dan isu negatif yang menjatuhkan anda/ pejuang dan mengupayakan tak ada seorang pun yang mau/ berani menolong anda. ( Saya jadi bisa berempati apa yang dialami Hamas, Palestina, Hizbullah dan Iran hari ini ).

Dalam bingkai lebih besar, beragam masalah dan anarki yang ditimbulkan zionis di berbagai penjuru dunia akan menyita waktu dan tenaga si pejuang ( 10 % dari populasi ). Sehingga si pejuang tidak sempat meng-up grade dirinya. Saat tersudut nanti, mata dunia baru terbuka akan watak asli zionis sesungguhnya dengan beragam instrumen yang selama ini digunakan. Menyeringai di depan pintu rumah anda seperti yang dihadapi warga Palestina selama puluhan tahun sampai hari ini. Tapi itu sudah terlambat. Si penyiksa/ zionis melakukan pukulan terakhir pada si baik, juga siapapun yang menentang/ baru menyadarinya.

Saat itu, Israel bisa leluasa memakan habis Palestina, tanpa bantuan memadai dari dunia muslim dan komunitas internasional yang sibuk dicekam masalah dalam negeri mereka sendiri. Lihatlah konflik, kekacauan dan perang saudara terjadi di banyak negara tahun ini. Pakistan, Afganistan, Somalia, Kongo, Rwanda, Thailand, Srilangka, Filipina, Madagaskar dsb. Zionis sudah melakukan ekonomi hit man, menguasai media besar dunia, merampas tanah Palestina, mengangkangi Timur Tengah, lalu apa lagi ?

Dalam “Birth of Israel” di slot “Forreign Current Affairs”, pembuat film seperti berusaha cover both side dengan mewawancarai kedua belah pihak, Israel dan Palestina. Namun di akhir tayangan, penonton seolah digiring bahwa pembantaian yang dilakukan pihak Israel ( Shimon Perez ) wajar untuk mendirikan negara Israel. Dibuat percaya bahwa seperti perang2 lainnya, yang terjadi di Palestina adalah sebuah seleksi alam. Tak lupa menyalahkan Palestina yang lemah dan para pemimpin Arab yang tidak kompak, berebut ingin menonjol sendiri. Sebagian menyesal ( mantan serdadu Israel, anggota Irgun ) melakukan genosida ( tapi tak melakukan apapun untuk menebus dosa2 masa lalu mereka ).

Ibu & anaknya, korban serangan Israel di Gaza

Ibu & anaknya, korban serangan Israel di Gaza

Pejabat teras zionis, David Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel, sang penggagas, di tayangan ini digambarkan sebagai sesepuh, orang besar yang sangat dihormati di Israel. Hasilnya ? Seperti komen di awal tulisan ini, penonton naif menjadi pembela gigih kaum zionis, memerangi saudara muslimnya. Kalau saja Halim Setio membaca sumber lain, misalnya situs Harun Yahya, ia akan tahu bahwa tahun 1948, zionis berpakaian tentara Arab ketika menembaki warga Palestina di Naser al-Din. Juga, ketika Januari lalu faksi Fatah pimpinan Mahmoud Abbas ditengarai memberi info pada Israel, lokasi terowongan2 di perbatasan Rafah-Gaza untuk suplai makanan, hingga urat kehidupan warga Gaza itu luluh lantak dibomi pasukan Israel dan menewaskan banyak korban. Jika kritis, Halim tentu akan bicara lebih hati-hati. Tapi masalahnya, apa ia mau berusaha membaca lebih banyak dari pelbagai sumber secara proporsional ? Jangan2 kemalasan penyebabnya, seperti sebagian besar umumnya orang kita yang malas membaca. Jika sudah malas, sombong dan boros itu sudah ranah setan. Butuh effort luar biasa untuk menyingkirkan musuh abadi manusia ini.

Logo TVOne

Logo TVOne

Saya kira bukan Halim saja yang pro-Barat. Semalam ( 9/4/2009 ) saya amati host “Kabar Sepekan” dan “Pemilu 2009” di TV One juga melakukan hal serupa. Ia lebih intelek memang, tapi entah niat dan sponsornya. Rektor UI bicara soal persatuan dan kebangsaan dalam menanggapi hasil pemilu dari Quick Count LSI ( Lingkaran Survei Indonesia. Entah kenapa singkatan ini dibikin mirip dengan Lembaga Survey Indonesia-Metro TV. Entah ada niatan mengadudomba/ membingungkan rakyat Indonesia ke depannya ? Mem-Pakistan-kan Indonesia, maybe ? ), tiba2 si host pria menyela, bertanya ke nara sumber lain. Pertanyaan yang menurut saya kurang penting ketimbang informasi yang tengah disampaikan Rektor UI tsb. ( Apa si host ini bukan muslim/ tidak cinta tanah air ? Kok, sepertinya demen menghindari kalimat persatuan, kebangsaan atau kekuatan muslim ).

Deddy Mizwar beberapa waktu lalu juga disela ketika bicara soal kekhalifan untuk menyelesaikan kemelut di berbagai negara. Untung Bang Deddy bertahan hingga kalimatnya selesai meski ditimpali omongan si host. Saya teringat PM Turki walk out dari sebuah acara forum ekonomi Eropa setelah pembelaannya terhadap rakyat Palestina dihentikan moderator yang ternyata anak pemilik Washington Post. Dalam kesempatan yang sama, Shimon Perez, presiden Israel, diberi jatah waktu lebih banyak ketika menjelaskan dalih tentaranya menyerang Gaza.

Pembelaan Erdogan, PM Turki sebelum walk out.

Pembelaan Erdogan, PM Turki sebelum walk out.

Beberapa waktu sebelumnya si host Indonesia ( entah kemana hatinya ) ini mencecar imam besar masjid Istiqlal, apakah beliau menonton sendiri “Perempuan Berkalung Sorban”? Saya hampir terjungkal dari kursi saking kerasnya jawaban yang dilontarkan. Studio geger. Situasinya cukup membuat penonton non muslim jadi Islam phobia. Entah apa yang terjadi di belakang studio sebelumnya, sehingga emosi itu meledak tak tertahankan. Si host wanita juga kelihatan senang memanas-manasi nara sumber yang diundang, seperti tadi malam. Apa dalang di belakang peristiwa ini sedang tertawa ? Adakah pemirsa lain yang berpikir sejauh ini dan mengantisipasi semua kemungkinannya ?

Januari 2009, 2 kru TV One masuk Gaza, menemui anggota Hamas dan Brigade Qassam. Apa itu sesederhana kelihatannya ? Mungkinkah ada peran kontak2 zionis di dalamnya ? Atau memang semata tangan2 terlihat dari Sang Pencipta, hingga keduanya bisa keluar Gaza dengan selamat ? PM Palestina terpilih, Ismail Haniyah dari Hamas masih bersembunyi. Saya harap kemanusiaan kita tidak dimanfaatkan zionis untuk mencari posisi persembunyian pentolan Hamas. Rakyat Indonesia masih diterima oleh para pejuang muslim. Kita bersimpati dengan perjuangan Palestina, tapi jangan sampai ketidaktahuan kita ( pada muslihat zionis ) mencelakakan mereka. Akses kita jangan dipakai untuk menciduk anggota Hamas.

Mungkin kita mesti lebih selektif menolong orang. Dari pengalaman saya, sebagian dari mereka ternyata menghabiskan tenaga dan umur saya tanpa sesal dan tahu diri. Banyak orang sekarang pintar memanipulasi orang agar ditolong lalu menjadi beban/ parasit. Tidak ada orang pintar atau bodoh. Yang ada orang malas atau akses terbatas. Si baik, masa ini, menarik ‘gerbong’ lebih berat. Sementara si jahat terus dan makin mudah menciptakan masalah. Begitu banyak isu dan hal negatif yang masuk ke mata dan kuping kita. Orang menjadi lebih percaya pada isu negatif, termasuk propaganda Barat yang getol menyudutkan muslim. Media besar dunia dikuasai kaum zionis. Banyak ‘sampah’ sudah mereka hasilkan.

Saya sampai pada pemikiran, tolonglah orang yang bisa timbal balik. Sedemikan rupa agar ia punya empati, dan menolong orang lain sebagai balasan. Saat bencana, empati lebih mudah tercipta. Situasi terdesak. Anda tak menolong, anda pun takkan ditolong. Dari pengalaman, orang yang saya bantu tidak lantas membantu orang lain yang kesusahan, malah ia datang lagi ke saya minta dibantu hal lainnya, padahal kondisi dia sudah lebih baik dari saya. Jika begini terus, bagaimana saya sempat mengembangkan diri dan menyempatkan diri membantu muslim Palestina ? Saya bandingkan kondisi mengenaskan anak yatim piatu Gaza, tidur beratapkan langit dengan perut lapar dengan incaran peluru/ rudal setiap saat, dengan anak orang yang minta tolong pada saya. Saya katakan tidak. Saat ini anda tidak urgen dalam pandangan saya.

Benar kata Mario Teguh dalam “Golden Ways”. Kualitas terbaik adalah ketegasan, kondisi terbaik adalah keterdesakan. Saya terapkan dalam hal ini. Orang yang minta tolong itu sebaiknya dibiarkan dalam keadaan terdesak, agar ia bisa menolong dirinya sendiri, memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Dan saya, dalam ketegasan ini, punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan diri dan berkontribusi informatif menambah wawasan pembaca blog ini. Agar suara ‘crying for help’ di Palestina dan negeri2 muslim teraniaya bisa saya ketengahkan lebih jelas di ruang sadar anda, dan kemudian mendapat tindak lanjut semestinya dari kita. Sebuah siasat agar tidak kehilangan fokus, seperti dicobakan mesin propanda Barat di seluruh penjuru dunia tahun 2009 ini. Mungkin juga pada anda.

( Nurray, 10/4/2009 ).

Iklan
Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: