dari Palestina sampai Indonesia

Tim MER-C masuk jalur Gaza & Rumah Sakit Indonesia di Palestina

Posted in indonesia, palestina, pejuang by nurray on 15/04/2009
Gaza mencekam

Gaza mencekam

MER-C adalah yayasan yang bergerak membantu korban bencana alam, perang dll. Salah satu anggotanya, Ir.TF, menyukai kegiatan sosial sejak muda karena didikan orang tuanya untuk berempati pada sesama manusia. TF menanamkan hal yang sama pada istri dan kedua anaknya. Pengusaha ini menyalurkan hobi balap mobil dan jalan2 bersama keluarga. Hatinya cepat trenyuh jika ada orang kesusahan. Ketika ada musibah di televisi, ia bersama keluarga biasa menangis bersama-sama. Hati TF terpanggil jika ada musibah peperangan di muka bumi. Ia lalu bergabung dengan MER-C. Dari semua perjalanannya ke berbagai wilayah, Jalur Gaza-lah yang paling mengerikan, meruntuhkan bulu kuduk.

Logo MER-C

Logo MER-C

TF, juga anggota MER-C lainnya sebelum masuk Gaza “menandatangani kontrak” siap kembali ke Maha Kuasa, di bawah lelehan air mata anak istri. Kamis, 1 Januari 2009, dr.SJ dan SM berangkat ke Palestina lewat Yordania, bersama rombongan pemerintah RI untuk mengawal bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Indonesia untuk Pemerintah Palestina. Sabtu, 3 Januari, TF menyusul bersama dr.BS dan dr.DI. Minggu, 4 Januari tiba di Kairo, Mesir setelah 6 jam transit di Doha. Senin, 5 Januari bertemu dengan SJ, SM dan pejabat KBRI di Kairo. Kamis, 8 Januari mereka membeli obat-obatan dan 2 unit ambulan difasilitasi AMU ( Arab Medical Union ) setelah koordinasi dengan dubes RI di Mesir. Telah disiapkan obat-obatan senilai 100 juta rupiah dari pemerintah Indonesia dan antibiotik senilai 100 juta rupiah dari MER-C.

Logo MER-C, Indonesia

Logo Bulan Sabit Merah, Indonesia

Bus rombongan tsb menempuh 10 jam perjalanan melalui 10 poin di Terusan Suez, jembatan Sinai, Al Arish sampai ke perbatasan Raffah. Terjadi perdebatan panjang dengan otoritas Mesir yang tak mengijinkan mereka masuk perbatasan, meski untuk misi kemanusiaan. Dengan diplomasi Kedubes RI, mereka diperbolehkan masuk Al Arish. TF, SM kembali ke Kairo untuk membeli mobil dan bantuan lainnya. Yang lain memilih bertahan di perbatasan setelah tak bisa masuk Gaza. Saat itu korban sipil sudah mencapai 800 orang, mereka sangat ingin menolong.

Pemerintah Mesir tak mengijinkan mereka masuk perbatasan. Hanya beberapa dokter dari AMU dan 4 orang Norwegia yang boleh masuk. Selama berhari-hari menunggu di perbatasan, SJ mendengar suara pesawat tanpa awak meraung di atas kepala tanpa bisa dilihat mata telanjang, diikuti 2 jet tempur yang meninggalkan suara menggelegar, asap mengepul, hitam bergulung-gulung tak jauh di perbatasan. Disusul ambulan Mesir melaju kencang menuju perbatasan.

Jumat, 16 Januari, SJ berangkat lebih pagi ke perbatasan. Hari itu lebih sepi dari biasanya. SJ berkata pada petugas pintu gerbang,”We want to enter Gaza ! We are duktuur !!” ( dokter ). Seorang perwira berbahasa Inggris menjelaskan bahwa mereka bisa masuk jika membuat pernyataan ‘anda masuk Gaza at your own risk’ ( resiko ditanggung sendiri ). SJ cs menyewa taksi menempuh jarak 500 km ke KBRI untuk mengejar waktu. Dengan surat izin dari KBRI dan surat at your own risk, Sabtu 17 Januari, tim MER-C masuk Gaza jam 17.10 ( 22.10 WIB ), sampai di RS.Asy Syifa di Gaza City. Satu-satunya rumah sakit yang tersisa.

Akhirnya, doa terkabul, tim medis bisa masuk.

Akhirnya, doa terkabul, tim medis bisa masuk.

TF sibuk mengurus pembelian 2 unit ambulan dan 1 unit kendaraan operasional yang harus diambil sendiri. Demi amanat banyak orang, TF rela dari Kairo melewati berkilo-kilo meter ke Alexandria. TF mendapat 3 unit mobil seharga 30.500 USD ditemani sopir pengantar yang hanya bisa berbahasa Arab. Setiap 2,5 km mobil berhenti untuk ganti oli, sebentar2 berhenti. Si sopir mandi, makan dan tidur lama sekali. Udara sangat dingin menusuk tulang. TF kena flu berat meski sudah berjaket dan berselimut. Air wudhu terasa sedingin es.

Bantuan Indonesia untuk Gaza

Bantuan Indonesia untuk Gaza

MER-C, dalam pengabdiannya.

MER-C, dalam pengabdiannya.

Ketika masuk Gaza, bulu kuduk TF merinding. Mayat bertumpuk- tumpuk, hancur, patah-patah. Darah dan korban luka di mana-mana. Kota porak poranda. Rumah, flat 5 lantai, gedung 7 lantai, gedung pemerintahan, semuanya berantakan. Sejauh mata memandang hanya puing bangunan. Warga Gaza mengais, barangkali ada baju atau makanan sisa untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Sesampai di rumah sakit, TF melihat peluru di batang tenggorok anak 9 tahun yang ditembak saat bermain di halaman rumah di hari ke-6 gencatan senjata. Kondisi fasilitas medis hancur, hingga MER-C dengan donasi masyarakat Indonesia, membangun rumah sakit di Gaza. ( Dinamai Rumah Sakit Indonesia. Jika dibom Israel, setidaknya kita punya kenangan bahwa rakyat Indonesia punya hubungan baik dengan rakyat Palestina, kata SJ yang siap mati syahid jika itu terjadi._nurray ). Rumah sakit itu dibangun di atas tanah wakaf Pemerintah Palestina di Gaza.

Banyak yang bilang, bukankah di negeri sendiri banyak yang susah ? TF menjawab, di negeri sendiri, kita mudah menolong. ( Sedangkan warga Gaza sudah di ujung tanduk. Otoritas Palestina versi Barat, Mahmoud Abbas, pemerintah Mesir, Yordania, Saudi Arabia lebih banyak berdiam diri/ pro-Barat menghadapi pembantaian di Gaza. 3 negeri di perbatasan Palestina ini tak ingin ikut sengsara. Memilih tutup mata, tutup telinga dan mematikan nurani. Memilih menerima kunjungan menlu Israel dan menghindari ( bicara Gaza dengan ) ketua MPR, HN. Ini soal waktu saja. Kalau kejahatan dibiarkan merajalela tanpa hukuman setimpal, tak lama lagi sampai juga di depan pintu para pemimpin ‘moderat’ itu. Saya baca ; Kabah, Masjidil Haram di Mekah diacak-acak jika itu terjadi _nurray )

Tiap hari TF menolong korban, menggendong mereka yang berdarah-darah. Bau amis sudah biasa. Bau mayat busuk menyengat menyamarkan bau baju TF yang penuh peluh dan belum dicuci. Tiap detik adalah kengerian, rentetan peluru dan dentuman bom. Tangis dan air mata. Histeria orang2 yang kehilangan yang dikasihinya. Setiap hembusan nafas adalah zikir dan doa. Kematian begitu dekat. Setiap saat tubuh bisa terburai oleh bom atau rentetan peluru. Beberapa helikopter merentetkan peluru ke bumi seperti hujan. Bom karpet namanya, terkenal di Gaza. Seorang gadis kecil menatap ke langit di atas reruntuhan puing rumahnya dan berkata,”Peluru yang ditembakkan seperti hujan air yang deras.” ( Akankah ia korban berikutnya ? )

( WI, 13-19/4/2009 )

Balita Gaza mencari orang tuanya.

Balita Gaza mencari orang tuanya.

Ket : Nama2 di tulisan ini sengaja disamarkan untuk keamanan relawan/ pejuang.

Sebelum serangan Israel 27 Desember 2008 ke Gaza, menurut Statistik Amnesti Internasional sekitar 1,1 juta orang ( 80% warga Gaza ) hidup dari bantuan makanan dan 40 % penduduknya pengangguran. Rumah sakit terbengkalai akibat pemadaman listrik 12 jam sehari. Sistem saluran air dan limbah tak berfungsi sehingga 40-50 juta liter limbah dibuang ke dalam laut tiap harinya. Gaza bak penjara raksasa. Warga dilarang keluar, sekalipun untuk berobat.

Ledakan di Gaza

Ledakan di Gaza

Iklan
Tagged with:

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. islamarket.net said, on 15/04/2009 at 12:41

    astaghfirulloh, gak tega lihat balita mencari orang tuanya. sedangkan kita di sini bisa santai….

  2. nurray said, on 15/04/2009 at 13:13

    @ Islamarket :
    Emang ngeri kondisi di Gaza. Kalo Israel ngga dihentikan dari sekarang, kejahatan kaum biadab & serakah ini niscaya meluas ke negara sekitarnya. Kayak Frodo Baggins di film/novel “The Lord of the Rings”, kita mesti jemput bola, keluar dari zona nyaman kita, menghentikan kejahatan Sauron ( Amerika ) dan kacungnya ( Israel )di negeri Mordor ( Timur Tengah ). Sebelum kegelapan itu sampai ke Shire ( Indonesia, kampung halaman kita tercinta ). Thanks komennya.

  3. Hidayat said, on 01/06/2010 at 10:15

    tapi kok PBB ga bisa berkutik ya? padahal ini merupakan konflik yang sudah bertahun-tahun berlangsung dan sudah memakan korban jiwa yang tidak bisa dihitung lagi.
    PBB kayaknya sudah tidak bisa lagi menjadi lembaga dunia! mending bubar aja tuh!

  4. YF said, on 03/06/2010 at 11:34

    dasar negri biadap( israel ),(AMERIKA)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: