dari Palestina sampai Indonesia

Antasari Azhar, pahlawan anti korupsi dikeroyok dari 8 penjuru angin hingga masuk tahanan.

Posted in indonesia by nurray on 08/05/2009
Antasari Azhar

Antasari Azhar

Antasari Azhar. Sebuah nama yang dijagokan oleh saya ( meski saya mencontreng PKS ), juga ibu dan tetangga saya ketika kota saya memenangkan partai Demokrat. Lho ? Bukankah Demokrat partainya pak SBY ? Iya, betul. Namun, ‘jualan’ SBY adalah ‘tidak’ untuk korupsi. Bicara soal anti korupsi, kita sangat kenal figur Antasari Azhar yang memimpin KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ). Bapak 2 anak ini bersama timnya yang gesit, sudah menyelamatkan uang negara trilyunan rupiah. Tak kurang pejabat di Kejaksaan Agung, DPR, Bank Indonesia, Pemda, PLN, institusi lain dan pengusaha2 hitam merasakan sepak terjangnya yang berani. Buah kinerja dan prestasinya bersama tim membuat nama KPK dan Antasari mewangi. SBY dan Demokrat pun mendulang suara fenomenal, mengalahkan partai Golkar yang berjaya selama puluhan tahun ke belakang.

Namun, siang itu, di sela tayangan “Kick Andy”, muncul Antasari dengan istrinya, di depan kerumunan wartawan yang ingin tahu. Di depan rumahnya di Jl. Merbabu blok A.no.13, Giri Loka 2 Kompleks Bumi Serpong Damai ( BSD ), kota Tangerang, Antasari mengatakan, semua yang dikatakan media tentangnya akhir2 ini tidak benar, dan ia akan datang ke Gedung Polda Metro Jaya, Jakarta, sebagai saksi. Setelah mengecup kening istri tercinta, Antasari menyudahi keterangan pers-nya dan masuk ruangan, diikuti tim penasihat hukum/ pembela Antasari. Tim 6 kemudian terbentuk, terdiri ; Juniver Girsang, Mohamad Asegaf, Hotma Sitompul, Ari Yusuf Amir Faisal, Makdir Ismail dan Denny Kailimang.

Itikad baik Antasari untuk bergegas memenuhi panggilan, malah menjerumuskannya ke lubang yang lebih dalam. Antasari ditahan atas dasar keterangan tersangka Sigid Haryo Wibisono. Antasari dituduh memberi perintah pada Wiliardi untuk menghabisi Nasrudin. Menurut keterangan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji di Mabes Polri, Selasa ( 5/5/2009 ), Wiliardi bukan perancang operasi. Ia bagian cari orang/ eksekutor dan berunding. Wiliardi diperintah orang lain, bukan atasannya yang polisi. Menurut mantan Kapolda Jabar ini, Wiliardi ingin naik pangkat, mengincar jabatan Direktur Penuntutan di KPK, jika dalam waktu 2 bulan posisinya di Mabes Polri tanpa jabatan.

Menurut juru bicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, Williardi berhubungan langsung dengan tersangka Sigid. Kombes Williardi bisa dapat 500 juta rupiah dari Sigid. Williardi mencari eksekutor untuk membunuh Nasrudin. Lalu Williardi bertemu dengan J, yang mengenalkan dengan Eduardus Mbete. Ketiga orang itu lalu bertemu di Hailai Bolling, Ancol. Williardi menyerahkan uang 500 juta rupiah di lapangan parkir di Cilandak.

Namun demikian, Abubakar mengatakan tidak masuk akal jika operasi ini menjadi sarana bagi tersangka untuk naik pangkat dari komisaris besar menjadi brigadier jenderal. Kalau polisi ingin naik pangkat, ia harus melalui proses penilaian Wanjakti ( Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi ). Kepastian motif Williardi mau membantu, masih dalam pemeriksaan, ungkapnya. Komisaris Besar Wiliardi Wizar dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Sub Direktorat Pariwisata Direktorat Pengamanan Objek Khusus Badan Pembinaan dan Keamanan Polri. Mantan Kapolres Jakarta Selatan ini ditangkap setelah polisi menangkap para eksekutor.

Antasari ditetapkan sebagai tersangka dan diancam pasal 340 KUHP. Penyidik Polda Metro Jaya menahan tersangka sejak Senin ( 4/5/2009 ). Antasari disangka sebagai bagian dari 9 pelaku konspirasi pembunuhan berencana Nasrudin.

Saya bersandar lemas di kursi. Ada apa dengan Indonesia ? Mengapa orang yang berusaha menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran, malah diseret masuk bui sebagai tersangka, lalu buru2 akan ditingkatkan sebagai terdakwa, dengan ancaman maksimun hukuman mati ? Karena rebutan cewek ? Come on, people … Nurani kalian ke mana ? Suara kalian di mana ? Keberanian kalian mana ?

KEJANGGALAN DEMI KEJANGGALAN DIABAIKAN POLISI. BAGIAN KONSPIRASI ??

Kejanggalan demi kejanggalan terjadi. Yang saya perhatikan :

1. Tak biasanya, istri kedua Nasrudin Zulkarnaen, minta Dirut Putra Rajawali Banjaran ini cepat pulang untuk makan malam, Sabtu ( 14/3/2009 ). Nasrudin dengan alasan tak enak badan meninggalkan permainan golf-nya, masuk mobil dan duduk di jok belakang. Dalam perjalanan, 2 pengendara motor yang sudah menguntit dan mematai-matainya lalu menembak Nasrudin hingga tewas. Harus diusut, apakah istri kedua Nasrudin bukan bagian dari konspirasi ? Mengapa ia ingin Nasrudin cepat pulang ?

2. Baru satu hari, status saksi Antasari sudah ditingkatkan jadi tersangka, dan Kejagung sudah mengeluarkan surat pencekalan bagi Antasari. Padahal pemeriksaan belum selesai. Sepertinya semuanya sudah ada di skenario. Setiap orang di skenario itu menjalankan perannya masing2. Bahkan saking semangatnya, jadi terlihat tidak wajar.

KPK perlu waktu berbulan-bulan untuk menyeret pejabat menjadi tersangka. Ini dalam sehari sudah tersangka, hanya karena nyanyian tersangka lain yang sudah direkayasa. Entah dibayar berapa. Ck,ck,ck … Kejagung juga ‘gesit’ menanggapi permintaan polisi. Gayung bersambut. ( Takut kalian yang dibui duluan oleh Antasari ? Sehingga menekankan kata tersangka daripada saksi, juga pencekalan Antasari. Yang dimaksud Pak Hendarman prihatin itu bukan Antasari tidak menjaga ‘rumah lamanya’ tapi bos kalian prihatin atas ulah sebagian jaksa yang mengotori nama korps ( seperti Urip Gunawan itu ). Got it, Mr.Panjaitan ? Memuakkan. Sungguh ! )

3. Antasari dituduh terlibat cinta segitiga ( Antasari-Rani-Nasrudin ). Ari Yusuf menyatakan, Antasari mengakui pernah ditemui Rani di hotel Grand Mahakam, di Jakarta Selatan, seberang kediaman pribadi wapres Jusuf Kalla, di sebuah kamar resepsi kecil, selama 5 hingga 10 menit. Pertemuan bulan Mei 2008 itu bersifat formal dan kamar terbuka. Rani menawarkan Antasari untuk memperpanjang kartu keanggotaan di Modernland Golf. Apa tidak bisa diurus ketika Antasari sedang bermain golf ? Alasannya, Antasari orang sibuk yang sulit ditemui. ( Atau dijebak alibinya seolah ada kencan dengan Rani ? ) Karena sesudah Rani dan Antasari, juga seseorang yang disegani Antasari, berada di sana, datang Nasrudin mengambil foto secara membabi buta. Kemudian Nasrudin menggunakan foto2 itu untuk menekan Antasari, dan meneror keluarganya, setiap KPK mulai menyidik ketidakberesan di induk perusahaannya, PT.RNI. Dalam kasus impor gula, KPK telah menyeret Direktur Keuangan PT. RNI Ranendra Dangin. Dalam kasus korupsi Rp.3,8 milyar ini, dirut PT.RNI tidak disentuh sehingga menjadi sumber perselisihan Antasari-Nasrudin-Sigid. Namun, persoalan korupsi ini belum juga diungkapkan penyidik.

4. Berbeda dengan para pengusaha, pejabat hitam atau koruptor, yang mendadak sakit ketika akan diperiksa atau segera minta penangguhan penahanan, kemudian menyiasati hukum untuk bebas bahkan kabur. Antasari langsung menyanggupi datang untuk diperiksa bahkan menolak penangguhan penahanan sekarang karena ingin menunggu hingga proses pemeriksaan atas dirinya selesai dilakukan polisi. Antasari ingin memberi teladan, bahwa seorang yang menjalani proses hukum mestinya mempermudah pekerjaan pihak berwajib. Meski dia petinggi negara. Tindakan sejati seorang penegak hukum, bukan ? Perilaku Antasari tidak cocok dengan karakter orang yang mendalangi pembunuhan.

Komisi III DPR membahas kasus penetapan tersangka Antasari. Sebagian mempertanyakan keputusan tsb karena tidak percaya penegak hukum yang bagus kinerjanya itu terlibat pembunuhan. Dalam hal penyidikan, semua sepakat pihak manapun jangan mengintervensi tugas polisi. Sebagian mengusulkan Komisi III DPR menyelenggarakan dengar pendapat dengan Kapolri dan Jaksa Agung.

Nursyahbani, anggota Komisi III DPR, secara pribadi merasa aneh, polisi seperti tergesa-gesa memutuskan soal Antasari. Ketika yang bersangkutan belum diperiksa, Polri telah minta Jaksa Agung mencekal. Saat Antasari masih diperiksa, penyidik langsung meningkatkan status dari saksi menjadi tersangka. Terhadap jaksa sekaliber Antasari, terasa janggal Antasari menjadi tersangka hanya karena berebut caddy golf.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono mengatakan, dari 8 tersangka, Sigid yang diduga mengenal Antasari. Para operator lapangan tidak memiliki hubungan langsung dengan Antasari. Kasus ini mulai terkuak sejak tersangka H, pengendara sepeda motor Yamaha Scorpio yang membonceng D, penembak Nasrudin ‘bernyanyi’. 2 orang tsb memberi petunjuk keterlibatan AM yang memberi senjata dan HW. Kemudian AM dan HW bersama-sama menyurvei kebiasaan dan semua aktivitas calon korban. Keterlibatan keduanya diperkuat dengan penemuan pistol yang digunakan untuk menembak korban di rumah AM. Pistol berisi 6 peluru, 2 di antaranya tidak lagi ada proyektilnya. AM dan HW mendapatkan pistol tsb dari Ed.

Polisi memastikan, operator dan pelaku lapangan berjumlah 5 orang. 5 pelaku yang semuanya sipil mendapat perintah dari perwira menengah di Direktur Reserse dan Kriminal Mabes Polri berinisial Kombes WW. Lulusan sekolah pimpinan perwira polisi itu mendapat order dari J, seorang debt collector yang tinggal di kawasan Gunung Sahari, Jakarta, dan diduga tangan kanan Sigid. J atas perintah Sigid menyerahkan uang 5 milyar rupiah pada WW. Rumor beredar di kalangan wartawan, order aslinya dari Sigid senilai 10 milyar.

Diberitakan koran PR, 12/5/2009 ; Di Jakarta, Senin ( 11/5/2009 ) penasihat hukum Kombes Wiliardi Wizar, Yohanes Jacub menyebutkan, uang Rp 500 juta yang diterima kliennya, bukan dana operasi pembunuhan melainkan pemberian Antasari untuk membantu melacak buronan KPK. Sebagai orang yang baru kenal 2 bulan sebelum kasus Nasrudin, menurut dia, Wiliardi tidak mempertanyakan target buronannya.

Pemberitaan masalah WIL yang mengiringi penetapan tersangka terhadap Antasari merisaukan jajaran penyidik Polri. Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji mengingatkan persoalan kasus pembunuhan berencana jangan bergeser ke masalah asusila ( siapa mencetuskan isu WIL itu sebelumnya ? Kenapa polisi mengatakan di media, sudah mengamankan Rani dan akan membuka setelah saatnya tiba ? Setelah pilpres, maksudnya, pak ? Kalau gagal dengan isu WIL untuk merusak karakter/ citra Antasari, jangan mengeluh, lalu menyalahkan publik dan meminta beralih ke isu/ dugaan pembunuhan. Kalau isu pembunuhan gagal juga, mau pakai isu apa lagi ? Jangan plintat plintut dan kelamaan, pak ! Coba berempati sedikit jika kalian ada di posisi Antasari ).

Susno Duadji di Markas Besar Polri, Jl.Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin ( 11/5/2009 ) menyatakan, pengembangan penyidikan oleh polisi bisa menggunakan media apapun yang mendukung pembuktian, termasuk menyita CCTV di rumah tersangka Sigid. Alat pemantau keamanan ini bagian dari cara penyidik membuktikan perbuatan seseorang dengan melihat rekaman gambar aktivitas orang2 yang diduga terlibat kasus ini. Selain itu, rekaman serupa milik hotel Grand Mahakam, tempat Antasari dan Rani bertemu juga diperiksa.

Diberitakan koran PR, 11/5/2009 ; Kapolri Bambang mengakui kasus Antasari bukan hanya soal WIL ( wanita idaman lain ). Ada motif lain yang perlu pendalaman ( jangan lama2 apalagi nunggu sampai pilpres kelar, pak ). Namun, dia menyanggah Antasari ditangkap tidak berdasarkan alasan hukum tetapi skenario perangkap konspirasi tingkat tinggi. Orang yang menyangkal adanya konspirasi dengan kejanggalan2 yang begitu menyolok dalam kasus ini, patut diwaspadai dirinya bagian dari konspirasi itu.

POLISI TAK BISA MENUNJUKKAN MOTIF, TAPI ANTASARI SUDAH DIJADIKAN TERSANGKA

Polisi tidak bersedia mengurai motif Sigid memerintahkan menghabisi Nasrudin, juga hubungan dan peran Antasari dengan pengendali perintah pembunuhan. Menurut informasi sementara, Sigid disebut-sebut kesal, uangnya sebesar 40 milyar rupiah tidak diserahkan oleh Nasrudin pada Antasari, supaya kasus dugaan korupsi impor sapi yang melibatkan Sigid tidak disidik KPK. Konon nilai kerugian negara 400 milyar rupiah. Nasrudin diduga sebagai makelar kasus yang menghubungkan Sigid dengan Antasari.

Nasrudin menjamin kasus sapi impor sudah beres. Sigid mendengar ada keluhan karena Nasrudin wanprestasi dan menipu. Uang yang diterima 10 % dari total kerugian negara atas kasus sapi impor tidak sampai ke tangan Antasari. Ketika kasus penipuan dan wanprestasi mencuat, Nasrudin menyodorkan istrinya, Rani Juliani, perempuan kelahiran 1 Juli 1986. Konon, Nasrudin mengetahui Antasari kesengsem Rani. Selanjutnya, terjadi pertemuan Antasari dan Rani di Hotel M kawasan Jakarta Selatan. Ada yang menyebut keduanya kencan di Makasar. Rani dijadikan alat menjebak Antasari. Maka, Nasrudin menelpon istri Antasari dan meneror, serta memeras Antasari. Sigid yang mendengar kasus ini, makin geram. Maka dia memutuskan untuk menghabisi Nasrudin melalui tangan orang lain.

Cerita lain yang berkembang, Antasari sendiri yang menyuruh WW mengatur operasi “penghabisan” Nasrudin, sedangkan dana operasi dari Sigid. Namun, menurut sumber di Polda Metro Jaya, dalam pemeriksaan terhadap Antasari, Ketua KPK itu mengakui meminta WW mencarikan eksekutor. ( mesti dicek kredibilitas sumber itu, mungkin juga eksekutor yang dimaksud Antasari bukan membunuh, mungkin perkara atau tanah, misalnya. Kepolisian juga ada oknum2nya_nurray )

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tidak percaya dengan alasan sesederhana itu untuk menghilangkan nyawa seseorang. Di Mabes Polri, Jl.Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu ( 6/5/2009 ) mengemukakan, bahwa sebelum kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen mencuat, Antasari telah melaporkan kasus teror yang menimpa dia dan keluarganya. Namun setelah tewasnya Nasrudin, tim yang sudah dibentuk untuk menindaklanjuti laporan teror itu, untuk sementara disisihkan untuk menghindari bias.

ANTASARI DIJEBAK KARENA GIGIH MEMBONGKAR KASUS PEJABAT2 TINGGI

Juniver Girsang mengatakan, Antasari dijebak dalam pembunuhan itu, karena dia bersikeras hendak membongkar kasus besar yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi. Antasari digiring untuk ( diminta menerima ) mengikuti cerita dari pihak penyidik kepolisian. Cerita yang tidak ia ketahui ujungnya.

SAATNYA MENJADI KING COBRA DAN MENUNTUT KEADILAN DARI LUAR TAHANAN

Dalam lingkungan yang tidak kondusif bagi keadilan dan kebenaran, saya pikir sudah saatnya Antasari keluar dari belenggu. Tahanan dan kewajiban memberi teladan/ harga diri. Nyawa pejuang anti korupsi dan keadilan bagi rakyat ( big picture ; kerugian akibat korupsi, rakyat yang menanggungnya ) saat ini lebih penting. Karena kepolisian juga tidak memenuhi hak2 Antasari. Sampai hari ini polisi belum bisa mengatakan motif Antasari mendalangi pembunuhan sementara Antasari sudah dijadikan tersangka dan ditahan sampai 23 hari. Polisi seolah menyembunyikan saksi kunci ( Rani, jika polisi sudah menetapkan sebagai saksi ). Sesuai Undang-undang mestinya Rani dilindungi oleh LPSK ( Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban ) bukan kepolisian. Ini menyalahi UU karena Rani tidak berada/ melihat/ mengalami peristiwa pembunuhan tapi dianggap saksi dan memperoleh perlindungan dari kepolisian.

Polisi juga tidak memaksimalkan penyidikan ( banyak pihak/hal yang mestinya dicek tapi tak dilakukan ). Jadi, mengapa Antasari yang harus mengorbankan diri dengan mengikuti aturan main pihak yang mempermainkan hukum ? Hukum di tangan manipulator hukum bisa menjadi alat yang mematikan pihak yang benar. Dalam situasi yang tak berpihak pada kebenaran, saatnya orang yang didzalimi melakukan manuver selicik ular. Karena jika ular dihadapi dengan kelinci, makhluk jinak itu hanya akan diuntalnya bulat2. ‘Ular2 kecil, apel busuk dan tikus2’ harus dihadapi dengan bisa king cobra. Saatnya, Antasari meminta penangguhan penahanan, berada di luar rutan, sejauh mungkin dari sarang konspirasi ( sebelum diracun, ditembak, diintimidasi untuk mengikuti skenario dsb ), sehingga beliau bisa melakukan investigasi lebih leluasa/ aman dengan sumber daya yang lebih kompeten dan dipercaya.

Saya lihat di teve, para pengacara Antasari saat ini kualifikasinya masih dibawah skala kasus yang membelit Antasari. Dari cara mereka merespon pertanyaan reporter/ pewancara juga perkembangan keadilan yang diperoleh Antasari juga korban2 lain dalam kasus ini, para penasihat/ pengacara Antasari terlihat belum pas. Mereka bukan tipe yang teve friendly. Mereka tegang, super serius, menyela, emoh disela, tidak tampak smart/ diplomatis, dll. Sulit mendapat simpati publik. Saya kuatir hal ini bisa membahayakan posisi Antasari dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Saya kuatir gigi KPK tak setajam ketika Antasari memimpin lembaga harapan rakyat tsb.

Jika lembaga2 pemerintahan cenderung pasif, pasrah atau bahkan menjorokkan Antasari lebih dalam, Antasari setidaknya bisa meminta dukungan dari publik yang selama ini dibelanya. Tapi itu butuh penggarapan dari segi public relation-nya yang apik. Semacam tim sukses yang memantau/ menangani kasus dari awal hingga akhir. Bisa sebagai pembelajaran bagi rakyat ke depannya nanti, dalam hal memperoleh keadilan hukum, karena polisi terkadang serampangan menyidik perkara.

Entah ini feeling saya saja ; sepertinya semua orang ( keluarga Nasrudin, kerabat Rani, media, pejabat, anggota dewan, artis, warga yang diwawancarai dll ) sepakat menyerahkan kasus ini pada penyidikan polisi dan pengadilan. Bagaimana kalau polisi dan pihak yang terkait dengan pembuktian di pengadilan adalah pemain dalam konspirasi ini ? Indikasinya ke arah sana. Patut direnungkan semua kemungkinan dan antisipasinya, agar Antasari selamat dan dalang pembunuhan sebenarnya terungkap. Ini juga bentuk keadilan bagi Nasrudin, Rani dan semua pihak yang dirugikan dalam kasus ini.

PENGHARGAAN SELAYAKNYA UNTUK ANTASARI DARI SBY

Staf Khusus Kepresidenan Bidang Hukum Denny Indrayana mengatakan, surat pemberhentian sementara Ketua KPK non aktif Antasari Azhar sudah ditandatangani presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( Kamis, 7/5/2009 ), setelah surat dari Polri tentang status hukum Antasari diterima pukul 12 siang ( Rabu, 6/5/2009 ). Implikasi pemberhentian sementara Antasari tidak akan mempengaruhi kinerja KPK, sebab jabatan pimpinan KPK bersifat kolegial.

Jika SBY merasa diuntungkan dengan kesuksesan Antasari dan timnya di KPK dalam memberantas korupsi, mestinya beliau mau bertindak lebih untuk menolong Antasari memperoleh keadilan. Jangan hanya menyerahkan begitu saja, Antasari ke pihak2 yang menjebaknya, tanpa pendampingan memadai/ kapabel dari pihaknya. Menandatangani pemberhentian sementara ketua KPK ( apalagi tetap ) tanpa mengecek keadaan sesungguhnya, bukanlah tindakan bijaksana. Ini bukan kasus biasa, cara melihat dan menanganinya juga harus luar biasa. Antasari jangan jadi martir permainan politik tingkat tinggi.

Sikap ekstra ini bisa dianggap sebagai bentuk penghargaan kepala negara terhadap pahlawannya yang masih hidup, sehingga bisa dicontoh oleh rakyatnya. Sehingga kami juga tidak takut untuk membela kebenaran, karena ada yang menaungi kami, membela kami juga. Antasari jangan disia-siakan, setelah berjasa bagi negara. Tapi apakah Pak SBY berani bertindak tidak populer saat ini ? ( seperti membantu/ memihak Antasari yang telah begitu gigih melawan arus mainstream, yang begitu permisif terhadap perilaku korupsi ). Sejarah yang akan mencatatnya nanti.

TOLAK SELEKSI ULANG PIMPINAN KPK & PENGKERDILAN TIM KPK

Emerson Yuntho, wakil koordinator badan pekerja Indonesia Corruption Watch ( ICW ) menyatakan, pihaknya menolak seleksi ulang pimpinan KPK seperti yang diwacanakan DPR RI. Proses seleksi tsb sangat terburu-buru. Berdasarkan UU 30/2002 tentang KPK, langkah hukum yang dapat dilakukan hanya pemberhentian sementara sebagai pimpinan KPK melalui keputusan presiden dan pemberhentian tetap setelah berstatus terdakwa. DPR seharusnya menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Tidak justru melakukan intervensi pada penegakan hukum yang sedang dilakukan kepolisian.

Kalau anda nonton wakil komisi III di “Democrazy”-Metro TV semalam ( 10/5/2009 ) berbicara meledak-ledak mempertontonkan miskinnya wawasan dan sempitnya cara berpikir, anda akan gemas , sekaligus terheran-heran. Anggota dewan macam ini yang ingin mengganti Antasari dan merasa tak perlu konsultasi dengan pemerintah untuk menyeleksi tim KPK yang baru ? Sepertinya ada yang memilih kucing dalam karung ketika wakil rakyat ini lolos ke Senayan. Menyedihkan.

275 KASUS KORUPSI DI KEJAKSAAN, KEJAKSAAN AGUNG MENGHINDARI KASUS BESAR DAN AKAN MENUNTUT ORANG YANG MENGERJAKAN TUGASNYA ITU ( ANTASARI ) ??

Hasil penelitian Indonesia Corruption Watch ( ICW ) ; ditemukan 275 kasus korupsi di kejaksaan daerah di 9 provinsi sepanjang tahun 2008 dengan potensi kerugian negara Rp.18,72 trilyun. Berdasarkan data kejaksaan, media massa BPK dan laporan masyarakat, 9 provinsi itu adalah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Perkara korupsi terbanyak di sektor pemerintah dengan 111 kasus, infrastruktur 50 kasus dan pendidikan 36 kasus. Dari sisi kelembagaan, eksekutif terbanyak ( 275 kasus ), swasta ( 27 kasus ) dan legislatif ( 17 kasus ). Jumlah koruptor terbanyak di eksektif ( 403 oknum ), legislatif ( 127 oknum ) dan legislatif ( 122 oknum ). Kerugian negara menurut Agus Sunaryanto, koordinator investigasi ICW di Warung Daun, Minggu ( 10/5/2009 ) terbanyak di sektor perbankan ( Rp 9,49 trilyun ), pemerintahan ( 2,9 trilyun ) dan infrastruktur ( Rp 1,1 trilyun ). Kerugian negara terbesar ada di Bank Indonesia ( Rp 9 trilyun ), eksekutif ( Rp 8,5 trilyun ) dan BUMN ( Rp 5,72 trilyun ).

BENAHI KEJAKSAAN AGUNG YANG MELENCENG DARI MISINYA

Menurut Febri Diansyah, peneliti ICW, sukses Komisi Pemberantasan Korupsi dalam mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi tidak bisa diklaim sebagai keberhasilan pemerintah. Status sebagai lembaga independen menjadi alasan KPK bukan bagian dan bekerja di bawah pemerintahan. Pemerintah bisa mengklaim jika kejaksaan sukses dalam pemberantasan korupsi karena lembaga ini bekerja di bawah presiden. Jadi KPK tidak bisa dijadikan jualan politik SBY dan calon presiden lainnya, kata Febri. Sebaliknya presiden terpilih harus memiliki program membenahi Kejaksaan Agung selama 5 tahun ke depan. Lembaga ini telah mengalami salah pikir dalam menjalankan misinya.

Belakangan, Jaksa Agung Hendarman Supandji cenderung menempatkan kejaksaan sebagai lembaga pencegahan. Reposisi demikian tidak benar. Kejaksaan harus menyidik dan menegakkan pemberantasan korupsi. Jangan berlindung di balik upaya pencegahan korupsi sebagai dalih tidak menyidik kasus besar. ( Sudah malas menyidik kasus besar yang merupakan bagian tugasnya, lalu ada pihak yang mampu mengerjakan tugas itu dengan baik, malah dijegal menjadi tersangka pembunuhan. Kalian tidak malu ? Lalu mau mengawal orang kalian jerumuskan itu sampai ke pengadilan ? Lelucon apa ini ??! _nurray )

Sedangkan Emerson F.Yuntho menyayangkan persoalan korupsi tidak menjadi agenda dalam kampanye politik dalam masa persiapan menjelang pilpres. Negosiasi koalisi tidak menggunakan masalah pemberantasan korupsi sebagai bagian pertimbangan kerja sama antar partai atau tokoh-tokohnya.

Diberitakan Jaksa Agung akan mengendalikan dan mengawal perkara ini selama proses pemberkasan hingga ke pengadilan. Menurutnya, kendali perkara penting sekelas kasus Antasari Azhar, langsung dari Kejaksaan Agung, meski penanganannya oleh Polda Metro Jaya. ( Dan publik mesti mengawal Jaksa Agung dan ( barisan sakit hati ) di Kejaksaan Agung dari rekayasa penjerumusan Antasari untuk memuaskan dendam sekelompok oknum tsb_ nurray )

ANTASARI, JAKSA SENIOR YANG MULAI DARI DAERAH TERPENCIL

Pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka 18 Maret 1953 itu, terpilih menjadi komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) dalam Rapat Pleno Komisi III DPR RI, 5 Desember 2007. Dalam pemilihan tertutup, Antasari meraih dukungan 37 suara atau urutan kedua. Urutan pertama diraih pengacara Chandra M. Hamzah ( 44 ), ketiga Bibit Samad Rianto ( 30 ), dan Haryono ( 30 ), serta M.Jasin ( 28 ). Dari 5 komisioner, dia akhirnya dipilih menjadi pucuk pimpinan KPK periode 2007-2011. Sejak itu, namanya harum meskipun banyak pihak meragukan kapabilitas dan integritas moralnya sebagai jaksa senior. Para koruptor terus dicokok dan diseret oleh KPK hingga diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Kasus fenomenal KPK di bawah pimpinan Antasari, ketika menetapkan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menjadi tersangka korupsi dana Yayasan Pengembangan Bank Indonesia ( YPBI ) Rp.100 milyar. Bahkan disusul penetapan tersangka Aulia Pohan, besan Presiden SBY.

Prestasi menggemparkan lainnya, adalah penangkapan koordinator jaksa penyidik Bantuan Likuiditas Bank Indonesia ( BLBI ) di Kejaksaan Agung, Urip Tri Gunawan beserta barang bukti suap 660.000 USD. Sontak, keluarga besar Kejaksaan Agung marah besar dan menjadikan Antasari, jaksa senior sebagai musuh besar mereka. Nama Antasari melambung dan makin harum.

Karir cemerlang diraih Antasari setelah melanglang buana sebagai jaksa. Tugas di daerah2 terpencil, dia jalani sampai ia menanjak menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Namanya terkenal setelah menangani tersangka Hutomo Mandala Putra ( Tommy Soeharto ) dalam kasus korupsi ruilslag dan mengurus negosiasi anak Soeharto tsb sewaktu menjadi buronan.

Prestasi mengantarkannya sebagai Kepala Bidang Hubungan Media, lalu ditingkatkan menjadi juru bicara Kejaksaan Agung. Meningkat lagi menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, kemudian Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara. Ketika kembali ke Jakarta, Antasari sempat diparkir tanpa jabatan strategis akibat konflik dengan Wakil Jaksa Agung. Akhirnya, dia mendapat jabatan lagi sebagai Direktur Penuntutan Jaksa Agung Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung. Saat itu, dia mencalonkan diri sebagai komisioner KPK, bersaing dengan Marwan Effendi, pejabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus saat ini. Karier selama puluhan tahun memberi Antasari kekayaan 3,3 milyar rupiah.

Perjalanan karier Antasari Azhar :

  • BPHN Departemen Kehakiman ( 1981-1985 )
  • Jaksa Fungsional di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat ( 1985-1989 )
  • Jaksa Fungsional di Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang ( 1989 – 1992 )
  • Kasi Penyidikan Korupsi Kejaksaan Tinggi Lampung ( 1992-1994 )
  • Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Lampung ( 1992-1994 )
  • Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jakarta Barat ( 1994-1996 )
  • Kepala Kejaksaan Negeri Baturaja ( 1997-1999 )
  • Kasubdit Upaya Hukum Pidana Khusus Kejaksaan Agung ( 1999-2000 )
  • Kepala bidang hubungan media massa Kejaksaan Agung ( 2000 )
  • Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan ( 2000-2007 )
  • Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan ( 2000-2007 )
  • Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ( 2007- sekarang )

Tidak terbayangkan, Jumat ( 30/4/2009 ), Antasari masih bertemu dengan para komisioner di rumahnya. Minggu ( 3/5/2009 ), Antasari mengumumkan mulai Senin ( 4/5/2009 ) puasa bicara soal kasus yang menjeratnya. Menjadi tahanan, itu peran baru yang harus dijalani Antasari. Tapi percayalah, apapun yang terjadi untuk kebaikan Antasari. Allah takkan menyia-nyiakan hambanya yang telah berjuang keras di jalan-Nya. Semoga kita semua segera menemukan hikmah di belakang peristiwa ini. Juga dalang sesungguhnya kasus Nasrudin.

NASRUDIN, PENGUSAHA RANTAU YANG MULAI DARI ATLET TENIS

Nasrudin, anak Makasar yang pandai mencari simpati dari para pejabat tinggi negara yang hobi main tenis. Latar belakangnya sebagai atlet tenis di Sulawesi Selatan membuat Nasrudin kerap dijadikan sparing partner para pejabat. Aktivis Pelajar Islam Indonesia ( PII ), kelahiran Ujung Pandang 12/12/1968 ini hijrah ke Jakarta. Selain tennis, Nasrudin menggunakan tali primordialisme untuk membuka jaringan ekonomi dan politik di Jakarta.

Dengan bantuan senior2nya di PII yang sudah lebih dulu berada di Jakarta, Nasrudin mendekati pejabat tinggi dari Sulsel seperti Andi Ghalib dan A.A.Baramuli, terlebih masa pemerintahan Habibie. Awal 1999, Nasrudin bekerja sebagai ‘pembantu’ Tanri Abeng yang sedang menjabat Meneg BUMN. Membawakan tas Tanri, mencari simpati ( sepintas seperti pesuruh yang menjilat pantas atasan untuk sebuah posisi. Murah, tak berkualitas. Sayangnya, masih banyak orang melakukan cara rendah ini. Menjilat ke atas, menginjak ke bawah. Bisa runyam negara ini kalau sikap2 begini tidak dikikis habis, dan penganut cara ini tidak segera digudangkan_nurray ).

10 tahun berlalu, karier Nasrudin melaju pesat. Agustus 2008, Nasrudin diangkat menjadi Direktur PT Putra Rajawali Banjaran ( PRB ), anak perusahaan PT Mitra Rajawali Banjaran ( MRB ) atau cucu PT Rajawali Nusantara Indonesia ( RNI ). PT. MRB memproduksi alat2 kesehatan, terutama kondom di pabriknya yang berlokasi di Banjaran, Kab.Bandung.

Makin tinggi jabatan, Nasrudin melirik golf dan bermain bersama para pejabat dan petinggi negara. Sabtu ( 14/3/2009 ) Nasrudin tewas mengenaskan diberondong peluru setelah bermain golf di Modernland. Ia sudah dikuntit 2 orang di sepeda motor Yamaha dan 2 orang lagi di Toyota Avanza, seandainya 2 pelaku di depannya gagal mengeksekusi Nasrudin.

Jenazah Nasrudin dimakamkan di TPU Bontojene, Makasar, persis di samping makam ayahnya, Andi Iskandar pada Senin ( 16/3/2009 ). Demikian akhir kisah pria beristri 3. Yang termuda, Rani, 23 tahun, seorang caddy golf dikawin siri dan tengah hamil 4 bulan. Saksi kunci ini seolah disembunyikan pihak tertentu. Polisi mengatakan sudah menyimpannya. Makin misterius, sekaligus makin tercium bau konspirasinya.

Mengapa tak ada yang membuka ke publik, siapa yang memeras dan meneror Antasari ? Mengapa kesaksian keluarga Antasari tentang teror itu disisihkan dulu ? Kasus teror dan kasus pembunuhan berkaitan erat. Saya pernah berurusan dengan penjilat macam Nasrudin. Ia tak segan2 memeras dan mengintimidasi orang baik. ‘Menginjak’ orang, salah satu ‘ketrampilan’ orang berkarakter manipulatif, remember ? Bisa jadi, Antasari diperas lantaran mau datang ke hotel, setelah Nasrudin memakan uang 40 milyar titipan Sigid. Agar Sigid terbebas dari pemeriksaan KPK soal impor sapi yang merugikan negara 400 milyar. Kalau Sigid berniat menyuap, bukan berarti penegak hukum yang menolak, otomatis dikatakan menerima suap. Kuasa hukum Nasrudin yang memilih meneruskan memukul bola daripada menjawab pertanyaan Metro TV, mengaku melihat tulisan Antasari Azhar, Ketua KPK di ponsel istri kedua Nasrudin, sebelum kematian Nasrudin. Ini wanita yang meminta Nasrudin pulang lebih cepat dari permainan golf-nya, kan ? Wanita ini ikut bermain ( dalam konspirasi ) ! Apa ia gemas dimadu daun muda bernama Rani  lalu ikut menghabisi suaminya. Cek kemungkinan itu.

Anda merasa aneh, nama Antasari Azhar, begitu lengkap ditulis dengan jabatannya Ketua KPK di sms yang dikirim Nasrudin pada istri keduanya ? Agar bisa dicantumkan secara menyakinkan di berita acara polisi ? Kita tak biasa menulis selengkap itu di sms. Ganjil, bukan ? Seperti sudah diset. Pakar telematika, Roy Suryo bisa membantu ? Tapi tolong berhati-hati, feeling saya mengatakan beberapa oknum di kepolisian ikut bermain dalam konspirasi menjatuhkan Antasari dan SBY ini.

Wajah Antasari yang masih cerah ketika datang sebagai saksi, usai pemeriksaan yang meletihkan menjadi muram. Ia baru tahu peristiwa yang dialami jauh lebih besar dari yang diduganya semula. Saat ini, tidak bersalah pun tidak cukup. Ketika tangan2 kekuasaan di atas dirinya ikut bermain, mungkin juga pemain kelas dunia. Tapi sebesar-besarnya mereka, tak ada yang mampu menandingi kebesaran Allah. Tetap berpeganglah pada tali Allah. Mohon perlindungan-Nya. Bersabarlah, Pak Antasari…

Lalu kuasa hukum Nasrudin mengatakan, ‘toh semuanya tak bisa mengembalikan Nasrudin hidup kembali’. Terus terang, saat ini, saya memilih Antasari Azhar dikembalikan pada kami, rakyat Indonesia, untuk melanjutkan pemberantasan korupsi, daripada dihidupkan sejuta Nasrudin yang menghambat penuntasan upaya2 penyelamatan uang rakyat.

PERSAINGAN MENJELANG PILPRES, ULAH ZIONIS ATAU KEDUANYA ?

Jika KPK diibaratkan obat bagi penyakit masyarakat yang sudah berurat akar ( korupsi ), maka selain khasiat tentu ada residu atau efek samping yang diterima. Residu itu adalah barisan sakit hati pihak2 yang merasa kalah. Antasari bisa diserang dalam 4 penjuru ( oknum Kejagung, DPR, pengusaha hitam, partai yang turun ratingnya karena keperkasaan SBY & Antasari/ KPK ). Atau bahkan 8 penjuru angin, jika sindikat narkoba/ miras/ judi ( yang dalam operasinya menyuap para pejabat dari dinas terkait ), anak, istri, kerabat si oknum pesakitan, yang selama ini bisa hidup bergelimang kemewahan, para pengacara hitam yang ‘kalah tarung’ di pengadilan dengan tim KPK, lalu menyusul perusahaan zionis ( Exxon, Chevron, Shell, Freeport, dll ) yang dalam kontrak2 di Indonesia, melalui permainan dengan pejabat hitam, merugikan Indonesia, mau dihitung juga. Para agen kegelapan itu sudah mengantisipasi dari sekarang.

Saya baca koran hari ini ( PR, 7/5/2009 ), Prabowo Subianto ingin jadi capres dari PDIP dan cawapresnya ( sebaiknya, menurut Nehemia Lawalata ) tokoh lain dari PDIP, bukan Megawati. Sampai Megawati kebingungan karena ia sudah dicalonkan di Rakernas PDIP V di Jakarta, untuk jadi capres PDIP. Prabowo, pendatang baru yang berani, taktis atau sradak sruduk, over pede, melangkahi seniornya yang peroleh suaranya jauh lebih besar ( PDIP 14,05 % ) dari partainya, Gerindra ( 4,46 % ) ? Dalam acara Kick Andi, Prabowo pernah bilang, sampai sekarang banyak dari kalangan militer yang mendukung dia. Ia tak mencari pekerjaan atau uang di pemilu 2009. Apa ia mencari nama baik setelah dituduh kudeta masa pemerintahan Habibie ? Bersama Wiranto, Prabowo dianggap bertanggung jawab atas terjadinya kasus kejahatan HAM, kasus penculikan aktivis pro demokrasi 1998, pelanggaran HAM di Timor Timur dan kasus Semanggi, ujar Rusdi Marpaung, Managing Director Imparsial.

Selama dalam pengasingannya sejak tahun 1998 di Yordania ( sebuah negara yang bersama Mesir dan Saudi Arabia mengakui eksistensi negara ilegal Israel ), apakah Prabowo benar2 bersih dari kepentingan zionis, yang jaringan intelejen dan cengkeramannya sudah mendunia ? Bisnis ekstremis Yahudi ini sudah menggurita di Indonesia. Dari minyak sampai makanan bayi. Dari hulu hingga hilir. Dari mana Prabowo mendapat dana begitu besar untuk kampanye dan pendanaan partai Gerindra ? Untuk dana iklan saja Rp 46,7 milyar ( menurut AC Nielsen ). Benarkah dari bisnisnya, thok, ia sudah sekaya itu ? Saya kira ini perlu riset tersendiri untuk menguak kebenaran dari semua penampilan/ perkataan/ perbuatan mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad ini di publik.

Harta Prabowo Subianto 1,57 trilyun

Harta kekayaan cawapres PDIP-Gerindra Prabowo Subianto Rp.1,57 trilyun plus 7,5 juta USD. Aset tanah dan rumah seluas 4 hektar, 90 ekor kuda eropa senilai masing2 50 juta dan 8 kendaraan roda empat. Prabowo memiliki 27 perusahaan.

Dalam kegamangan ini saya melihat mimik Mama Lauren di “Democrazy”-Metro TV ketika diminta menerawang Prabowo dan Wiranto untuk jadi cawapres Megawati. Mama menggeleng,”Dua orang ini tak ingin jadi cawapres.” Dan koran 4 hari berikutnya menegaskan penerawangan Mama. Prabowo berambisi menjadi presiden, meski perolehan suara Gerinda kecil. Ini barang kali nyali anggota pasukan khusus masih bersemayam di dadanya. Super berani.

Yang membangkitkan harapan, di penghujung acara Mama Lauren mengatakan, tahun 2014 presidennya orang muda, dan Indonesia kondisinya lebih baik dari sekarang. Andakah itu ? Anggap saja, penerawangan Mama Lauren itu sugesti untuk menjadi yang terbaik dalam memperbaiki Indonesia. Allah Swt tetap yang memutuskan kata akhir, anda akan menjadi siapa di masa depan. Kita berikhtiar saja. Apa yang kita pikirkan dan usahakan hari ini, akan menjadi masa depan kita. Mungkin segera terlihat dalam 5 tahun ke depan. Semoga Allah mengijinkan.

PENGACARA BEREBUT MEMBELA ANTASARI

Saya lihat di jajaran pembela Antasari ada M.Assegaf dan Hotma Sitompul yang dulu membela keluarga Cendana/ Golkar. Kita tidak jelas bentuk hati mereka sesungguhnya. Lepas dari niat baik yang mereka sampaikan, rasanya Antasari perlu lebih berhati-hati. Dari pengalaman saya masuk di lingkungan yang penuh ‘apel busuk’ dan ‘tikus’, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kemasan awalnya terlihat menarik. Tak tahunya, mereka biasa saling sikut, main ‘politik’, intrik, intimidasi, manipulasi, menusuk dari belakang. Begitu halusnya, hingga baru ketahuan setelah terlambat.

Situasi2 yang tak terpikirkan sebelumnya, tak terbayangkan bisa terjadi. Seolah kita masuk dalam tatanan lain. Dunia dengan norma yang berbeda dengan yang kita anut, bahkan bertolak belakang. Mereka bahkan menggunakan ‘bahasa’ yang tak saya mengerti. Seyogyanya kita tetap smart ( selicik ular dan setulus merpati ). Jangan menyerahkan segalanya pada siapapun. Trust no one ( kecuali hati nurani dan Allah ). Kita perlu berpikir ‘negatif’ ( waspada ). Kita tidak tahu sedalam apa kaum zionis, mafia, sindikat sudah merembes ke dalam institusi pemerintah dan swasta.

Mejeng di belakang Antasari bisa jadi etalase yang mengatrol reputasi dan tarif mereka di kemudian hari. Meski saat ini mereka tidak dibayar, minimal, mereka jadi tahu kelebihan/ kelemahan dan cara kerja Antasari ketika berhubungan dengan hukum. Kelak, saat mereka membela klien bermasalah, Antasari akan rikuh ketika mereka minta balas jasa atas pertolongan mereka dulu, menyulitkannya bertindak tegas ( conflict of interest ). Atau bahkan melakukan hal2 yang bisa menjerumuskan Antasari lebih dalam di kasus Nasrudin, misalnya menjadi mata2 bagi pihak tertentu, yang kemudian berbekal informasi itu bisa mengalahkan Antasari di sidang pengadilan.

Tidak ada lagikah pengacara handal yang lebih jelas bentuk hatinya dan teruji integritasnya ? Kasus Antasari ini pertaruhan besar bagi masa depan bangsa. Orang akan berpikir seribu kali untuk berkiprah menjadi pejuang keadilan, pembela kebenaran jika para pendahulunya bernasib tragis. Seorang Antasari bisa jadi makhluk langka di Indonesia saat ini. Tidakkah mereka ( para pengacara putih ) terpanggil menyelamatkannya, demi generasi pejuang berikutnya ? Please

Ketikaada rumor seorang pengusaha terkenal menjadi cukong dan mendanai pembunuhan Nasrudin, menurut Ari Yusuf, harus dicek polisi. Bila bersedia menyelidiki lebih luas lagi, Ari meyakini motif wanita idaman lain ( WIL ) yang santer dibicarakan bukan motif sebenarnya dari kasus ini. Tapi sekedar mengalihkan. Ada motif yang lebih besar dan lebih hebat sepertinya. Ada indikasi polisi akan mengarahkan penyelidikan kasus Nasrudin kepada tokoh intelektual sebenarnya. Ada indikasi keterlibatan orang di atas tersangka Sigid Haryo Wibisono. Aktor intelektual yang sesungguhnya dibanding Antasari yang selama ini disangka sebagai aktor intelektual kasus tsb.

Kasus Nasrudin yang menjebak Antasari bisa terjadi, jika banyak ‘tikus’ berkeliaran di lembaga yudikatif, legislatif dan eksekutif, sementara lebih banyak lagi orang cari selamat sendiri, tutup mata dan tutup mulut. Pejuang kebenaran jadi ngos-ngosan menarik gerbong kemajuan bangsa, sendirian, atau disertai segelintir orang yang sudah putus urat nyalinya. Berjibaku, tanpa penghargaan yang layak dari rakyat yang dibelanya. Apa itu sudah garis nasib seorang pahlawan di sini ? Saya menolak pasrah ( ia ) diperlakukan demikian.

KEBENARAN TERLIHAT INDAH, APAPUN KONDISINYA

Senin ( 4/5/2009 ) pukul 15.10 WIB, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono mengumumkan status Antasari ditingkatkan dari saksi menjadi tersangka, setelah Antasari sempat menjawab 24 pertanyaan selama pemeriksaan 3 jam. Pukul 16.40 WIB, Direktur Reserse dan Kriminal Umum Komisaris Besar Mohammad Iriawan mengeluarkan surat penahanan Antasari. Pukul 17.45 WIB, Antasari diantar petugas menuju ke Gedung Rutan Narkoba Polda Metro Jaya. Malam pertama mukim di rutan, Antasari diberi kesempatan memakai kaus dan celana panjang. Selasa siang ( 5/5/2009 ) Antasari mulai diperiksa sebagai tersangka. Layaknya tahanan, dia harus membuktikan kepatuhannya mengikuti semua prosedur.

Antasari kini memakai baju oranye tahanan narkoba bernomor 058 di Rutan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. Memakai celana pendek selutut dan sandal jepit putih biru. Ia ditempatkan di lingkungan sel Bandar dan pengedar narkoba di Blok A-10, di kawasan pelaku kasus teroris biasa ditahan sebelum dipindahkan ke LP Cipinang. Pria berkumis yang diluar acara resmi biasa tampil necis dan rapi membuktikan janjinya untuk patuh terhadap semua tahapan proses hukum yang diterapkan penyidik. Apalagi dirinya penegak hukum, katanya, harus memberi contoh kepada masyarakat bagaimana penegak hukum menjalani proses hukum. Termasuk ketentuan tahanan harus berseragam dituangkan dalam Surat Keputusan Deputi Penindakan KPK nomor B-50/10/XI/2008 yang mulai berlaku 1 September 2008. Masa itu, KPK sedang menyidik Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dan mantan Deputi Gubernur BI Aulia Pohan.

Kebenaran terlihat indah, dalam kondisi apapun. Ini berlaku pada Antasari. Baju tahanan berwarna menyolok itu tidak mengurangi respek saya pada beliau. Meski Antasari tidak lagi tegak badannya, kepalanya menunduk, jalannya lebih cepat dari biasanya. ( Seragam tahanan terbukti berpengaruh psikologis terhadap pemakainya ). Saya hanya makin gemas melihat kelakuan orang2 yang keji melakukan itu pada Antasari. Di kepala saya berkelebat beragam siasat untuk memberangus mereka dan sejenisnya, sebelum mereka menjadi besar dan memakan korban.

Seorang pahlawan juga butuh perkuatan dari manusia lain. Pahlawan perlu ditolong. Pahlawan juga manusia, bukan hanya rocker ( seperti Seriues lagukan ). Pahlawan juga perlu akhir yang baik, sehingga bibit2 pahlawan tak ragu2 bermunculan. Seorang pahlawan jika diperlakukan baik, dipandang baik oleh masyarakatnya akan menggairahkan tunas2 muda untuk meniti jalan kebenaran/ perjuangan.

Negeri besar ini butuh banyak pahlawan untuk menjadikannya kuat dan berdaya, menyelamatkan negeri2 muslim yang teraniaya. Seorang Antasari Azhar tak layak diperlakukan demikian. Ditahan sebagai tersangka pembunuhan karena memperebutkan seorang caddy golf, istri ke-3 seorang pemeras ? Siapa yang tega berbuat senista ini ? Tokoh kredibel sekaliber Antasari dijual semurah itu ? Saya marah. Saya, akan ikut bersama dengan banyak orang di sekitar saya, di radio, teve dan media massa untuk kompak bersuara lantang, ”RAKYAT DI BELAKANGMU, ANTASARI !!

kantor Mabes Polri

kantor Mabes Polri

SINDIKAT PEMERAS DI MABES POLRI : YANG JAHAT DI LUAR TAHANAN, YANG BAIK ( ANTASARI ) DALAM TAHANAN ??

Ada setitik cahaya di ujung sana. Semoga cahaya itu membesar hingga menerangi posisi Antasari. Mungkinkah pejuang satu ini lebih semerbak setelah keluar tahanan ? Saya tak pernah berhenti berharap.***

Diberitakan PR, 13/5/2009 ; jaringan kejahatan terorganisir beranggotakan oknum polisi aktif berhasil dibongkar Badan Reserse dan Kriminal ( Bareskrim ) Polri. Para pelakunya dari kesatuan Bareskrim, Badan Pembinaan Intelijen dan Keamanan ( Babinkam ) serta Samapta. Mereka tertangkap usai menggerebek toko onderdil motor di Jakarta Pusat.

Menurut Kepala Bareskrim Polri Kombes Susno Duadji, sindikat itu beraksi sejak 2007, menggunakan ID card asli anggota Polri, surat perintah penangkapan, penggeledahan, sampai surat perintah penghentian penyidikan ( SP3 ). Sindikat kejahatan ini membentuk 2 kelompok dengan personel bergantian dan anggotanya tersebar di wilayah kerja Polda Metro Jaya, yang dikendalikan Mabes Polri.

Kelompok pertama dikendalikan Komisaris Royal Yani dari Babinkam Polri, anak buah Kombes Wiliardi Wizar. Anggotanya, Brigadir Kepala Supriyadi ( anggota Direktorat Samapta Polda Metro Jaya ) dan Khaerul Yahman ( wartawan ). Kelompok kedua dikendalikan Ajun Kombes Andi Susilo ( anggota Pusat Identifikasi Bareskrim ) yang beranggotakan ; Royal Yani, Khaerul Yahman, Ajun Komisaris Sularso ( Polres Jakarta Timur ), Brigadir Kepala Bambang Rumiyadi ( Kepolisian Sektor pulau Seribu ), Barada Pasaribu ( Polsek Cipinang, Jakarta Timur ).

Semua tersangka sudah masuk tahanan sejak 2 hari lalu. Dalam 2 hari berikutnya, kita akan mengungkap berita besar hampir serupa, melibatkan perwira polisi, ujar Susno. Menurutnya, sindikat ini bergerak secara terorganisasi. Target sasaran beragam, semua dirancang dalam buku catatan rencana sasaran. Operasi tsb seolah-olah legal karena dilengkapi kartu identitas serta tanda tangan direktur asli yang dipalsukan ( aspal ).

Para tersangka saat penangkapan kasus ekonomi menggunakan bendera Unit I Industri dan Perdagangan ( Indag ), Ekonomi Khusus ( Eksus ) Bareskrim Polri, surat perintah ( seolah asli ) ditandatangani Wakil Direktur II Eksus.

Jika menangkap kasus perjudian, panti pijat, tempat hiburan, mereka mengaku dari Direktorat I Keamanan Trans Nasional ( Kamtranas ) lengkap dengan surat perintah penggeledahan dan penangkapan.

Dalam operasi narkoba, para sindikat mengatasnamakan Direktur IV Narkoba dilengkapi dengan persyaratan surat perintah. Operasi selalu diawali tindakan intelijen ( survey ) sasaran. Jika sukses menangkap tersangka, mereka “menjual” kasusnya dengan tariff sebesar Rp.40 juta sampai Rp.100 juta.

Ketika dilakukan penggerebekan Toko Ragam Motor, Jl.Batu Ceper IV no.6, Jakarta Pusat, Jum’at ( 8/5/2009 ), Royal Yani dan anggota kesatuannya mengatasnamakan tim Eksus II Bareskrim Polri. Kepada Anton dan istrinya ( pemilik toko ), polisi ini menuduh barang yang dijual palsu maka keduanya digelandang ke Mabes Polri.

Di tengah jalan, tersangka dibawa keliling kota sambil diperas kalau tidak bayar Rp 25 juta, maka keduanya langsung ditahan. Ketika negosiasi belum tuntas, tim Bareskrim Polri mengepung sindikat polisi itu di SPBU Jl.Gedong Panjang, Jakarta Utara. Susno menyatakan kasus ini terungkap bermula karena petugas Bareskrim sering menerima tamu yang membawa surat panggilan penyidik, namun ketika dicek surat panggilan tsb tak teregristrasi.

***

Menyedihkan, kalau Mabes Polri ternyata tidak bisa menjaga kandangnya sendiri dari para pelaku kejahatan. Selama 2 tahun ! Bagaimana kalau sindikat semacam itu tidak hanya ada di Jakarta, tapi juga kota2 dan instansi lain. Sindikat di kepolisian kerjasama dengan sindikat di DPR dan Kejaksaan Agung, menjerat Antasari dan Williardi Wizar karena kuatir hidung tajam mereka mengendus bau korupsi dan kejahatan di lembaga2 tsb. Cek kemungkinan itu.

Dengan munculnya kasus surat2 aspal ini, masyarakat bisa konfirmasi ke tingkat lebih tinggi setiap hak2-nya dilanggar. Jangan takut. Mari kita bersihkan lembaga2 yang mestinya mengayomi masyarakat ini agar lebih kredibel dan diandalkan, dengan pengawasan dan pengaduan yang bertanggungjawab. Agar keadaannya kembali masuk akal ; yang jahat masuk bui, yang baik di luar bui. Tidak kebalikannya.

( Nurray, 14/5/2009 )

PERSETERUAN PENGACARA WILIARDI DENGAN PENGACARA 4 EKSEKUTOR

Antar pengacara yang menjadi kuasa hukum para tersangka kasus Nasrudin mulai bentrok. Sikap proteksi terhadap klien masing2 dan cenderung menyalahkan pelaku lain menjadi pemicunya. Perseteruan antara Yohannes Jacob, penasihat hukum Kombes Wiliardi, dengan B.M.S. Situmorang, kuasa hukum 4 eksekutor Nasrudin.

Yohannes akan mensomasi Situmorang karena pernyataannya yang memposisikan Wiliardi sebagai otak pembunuhan. Situmorang dalam wawancara televisi, menyejajarkan foto Wiliardi dengan 4 eksekutor Nasrudin sebelum menjelaskan bahwa Wiliardi mendoktrin calon eksekutor tentang misi yang direncanakan waktu itu. Calon korban digambarkan sebagai musuh negara yang harus dilenyapkan karena korban akan membocorkan rahasia negara. Tindakan itu seolah Wiliardi sudah pasti bersalah, mengabaikan asas praduga tak bersalah. Yohannes berharap dengan penyikapan seperti ini, akan menjadi pelajaran penasihat hukum tersangka manapun supaya tidak saling menyerang posisi klien lain. ( PR, 14/5/2009 ).

ANTASARI MEMPERSILAKAN REKENINGNYA DIPERIKSA PENYIDIK.

Pengacara Antasari mempersilakan penyidik meneliti rekening dan transaksi keuangan Antasari. Maqdir Ismail menyatakan masalah itu menjadi kewajiban dan tugas Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan ( PPATK ). Jika ada kecurigaan terhadap aliran dana dari Antasari, dia menyilakan diteliti untuk menjadi bagian pembuktian perkara. Antasari sudah menceritakan rekeningnya normal, tidak ada dana dari sumber yang tidak wajar. Rekeningnya tidak ada masalah.

Jenderal polisi, Susno Duadji sebelumnya mengisyaratkan penyidik Polda Metro Jaya telah meminta data transaksi keuangan dari para tersangka kasus ini. Namun, Susno keberatan mengungkapkan hal yang bersifat rahasia ini pada publik. ( PR, 14/5/2009 )

KEJAKSAAN AGUNG MENGHILANGKAN BARANG BUKTI KASUS BESAR & MEMPERPANJANG PENAHANAN 8 TERSANGKA ??

Kejaksaan Agung telah menerima permohonan perpanjangan penahanan 8 tersangka kasus pembunuhan Nasrudin. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Jasman Pandjaitan menyatakan permohonan dilayangkan polisi 5 Mei 2009. Tim jaksa yang ditunjuk Kepala Kejaksaan Tinggi Banten akan segera bertugas, mengadakan koordinasi dengan penyidik Polri.

Sementara itu, di gedung MPR/ DPR, Jakarta, Rabu ( 13/5/2009 ), Jaksa Agung Hendarman Supandji, Jampidsus Marwan Effendy dan Jamdatun Edwin Situmorang tengah dicecar anggota dewan dari PAN, Drajad Wibowo terkait hilangnya dokumen asli kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia ( BLBI ). Oleh karena itu, penegak hukum harus mengusut lagi dokumen penting terkait jatuhnya Indonesia ke dalam krisis ekonomi nasional.

“Dokumen itu sudah jelas karena ada flow of documentation, maka merunutnya bisa dilakukan dari kejaksaan dan BI. Kenapa semuda data yang dipegang hanya fotokopi ? Hilangnya data asli menjadi sejarah kelam kebijakan ekonomi dan dokumentasi di Indonesia,” kata Drajad. Ia mengatakan, kejaksaan mengaku kesulitan dan agak berat melakukan pencarian dokumen karena sebagian pejabatnya meninggal dunia dan pensiun. Drajad mengatakan, secara teori data aslinya bisa ditelusuri. Pelakunya bisa ditelusuri dan pejabatnya ditanya kenapa data bisa hilang. Tindakan penghilangan barang bukti bisa dikategorikan pidana.

Di Amerika Serikat, data baru dihapus setelah 30 tahun. Di Indonesia, baru 10 tahun data sudah hilang. Perlu disusun semacam UU yang memberi sangsi tegas terhadap pejabat negara yang menghilangkan barang bukti penting. Drajad kuatir, kecerobohan ini dijadikan modus operandi oknum untuk menghilangkan barang bukti otentik dari kasus besar lainnya.

Drajad mengatakan, dana BLBI termasuk obligasi rekap dan jaminan totalnya mencakup Rp 700 trilyun dan negara telah mengeluarkan uang membayar bunganya Rp 300 trilyun. Hendarman mengatakan, 8 obligor yang belum membayar adalah Bank Deka, Bank Central Dagang, Bank Centris, Bank Orien, Bank Dewa Rutji, Bank Arya Panduarta, Bank Pelita dan Bank Aken. 8 bank tsb diserahkan ke Menteri Keuangan dan kemudian ditindaklanjuti dengan penyerahan dokumen 11 Agustus 2008 untuk dilakukan penyelesaian di luar pengadilan, supaya tidak buang2 waktu. Kejaksaan akan terus mengejarnya sampai kepada ahli waris para tersangka.

( PR, 14/5/2009 )

Jaksa Agung Hendarman Supandji

Jaksa Agung Hendarman Supandji

Tagged with:

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nur said, on 08/05/2009 at 09:19

    2 kata: konspirasi besar.

  2. nurray said, on 08/05/2009 at 09:39

    Persis ! Mari kita doakan Pak Antasari segera dipulihkan nama baiknya, kembali ke keluarganya, sehat selamat, dan bisa melanjutkan pekerjaan raksasa ; membersihkan korupsi di tanah air hingga ke akar2nya. Pantau dan desak pihak berwajib agar kredibel dan transparan mengungkap kasus ini. Trims komennya.

  3. roni subhan said, on 14/11/2009 at 05:12

    Sermakin Pak Antasari dikeroyok, dengan segala bukti2 versi jaksa dan polisi, kok saya malah semakin yakin kalo justru AA yang benar. Jangan2 cuma AA di jajaran jaksa, polisi, hakim dan kpk yang paling bersih. Saya curiga di kpk sendiri ada ‘markus2’ yang bergerilya, yg selama ini digencet oleh AA, dengan ‘habis’nya AA di kpk, mereka pesta pora lagi. Yang bikin saya bingung, media semua juga ngeroyok AA, apa ini ada hub dg blbi yang diusut AA? saya curiga jngan2 pemilik media semua satu group, dan tersangkut kasus, kok kompak banget ya memberitakan dengan pola dan pikiran yg sama. Kita doakan kebenaran tetap akan terkuak, meski Pak AA jadi martir.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: