dari Palestina sampai Indonesia

Aung San Suu Kyi, pemenang pemilu 1990, sedang kritis dalam tahanan ketat yunta militer Myanmar.

Posted in internasional by nurray on 12/05/2009
Aung San Suu Kyi, pejuang demokrasi dari Myanmar

Aung San Suu Kyi, pejuang demokrasi dari Myanmar

Di Indonesia, Antasari Azhar, pejuang anti korupsi sedang tersudut. Di Myanmar, pejuang demokrasi, Aung San Suu Kyi sedang kritis didera sakit. Di Amerika, Barack Obama yang sedang pusing memikirkan ekonomi, perbankan, mata uang USD yang rusak akibat ulah spekulan uang, bankir Yahudi dan ambisi perang Bush. Ada 4 orang di dunia ini yang sedang melakukan pekerjaan raksasa. Satu lagi, saya lupa. Pak Ishadi dari Trans TV mungkin ingat.

Ketika itu di acara “Kumpulan Perkara Korupsi”, Ishadi menyatakan kekagumannya dan menyelamati Antasari atas pencapaiannya itu. Berbeda dengan Aa Gym yang sumringah melihat dirinya di majalah Time dan sesumbar pada ribuan jemaahnya di masjid Istiqlal, Pak Antasari hanya menunduk, merasakan beban tanggungjawabnya dirasakan lebih berat karena kini ia makin diperhatikan publik. Ia memilih bicara hal lain. Terkesan tak ingin mengupas tulisan di majalah luar negeri itu, apalagi menggembar- gemborkannya.

Tentang Antasari, saya sudah cerita di posting lalu, kini saya ingin menengok kabar pejuang dari Myanmar. Di PR, 11/5/2009, diberitakan partai oposisi Myanmar, Minggu ( 10/5/2009 ), mendesak pemerintah yunta militer agar memeriksa kesehatan pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi, yang kurang sehat karena tak bisa makan selama 4 hari serta mengalami tekanan darah rendah serta dehidrasi.

Juru bicara Partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Suu Kyi, Nyan Win, mengatakan Suu Kyi membutuhkan infus dan perawatan medis untuk memulihkan kesehatannya. Seorang dokter berusia 63 tahun pada Jumat ( 8/5/2009 ) diizinkan memeriksa Suu Kyi, tapi permohonan untuk melanjutkan pemeriksaan pada Sabtu ( 9/5/2009 ) tidak diizinkan oleh pemerintah. Bahkan sejumlah tamu yang hendak menjenguk pun ada yang dilarang untuk menemui Suu Kyi.

Suu Kyi adalah pemimpin oposisi yang memenangi pemilu pada 1990 lalu, namun pemerintah yunta militer yang sudah berkuasa sejak 1962 menghalanginya untuk mengambil alih kekuasaan. Wanita tegar ini telah menjalani 19 tahun tahanan rumah, yang terletak di tepi danau Yangon. Suu Kyi memperjuangkan demokrasi tanpa kekerasan di Myanmar. Ia memenangi penghargaan Nobel Perdamaian, sebagai salah seorang tokoh tahanan politik di dunia yang paling konsisten dengan perjuangan mewujudkan demokrasi dengan jalan damai.

Sejumlah negara Barat dan PBB sudah meminta kebebasannya sejak lama, namun yunta tak menggubrisnya. Di PR, Selasa ( 12/5/2009 ), rezim militer Myanmar akhirnya mengizinkan seorang asisten dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan Suu Kyi ( 63 th ) yang menurun, meski tetap melarang dokter pribadi Suu Kyi, Tin Myo Win untuk mengecek kesehatannya, Senin ( 11/5/2009 ).

Saksi mata mengatakan, setelah asisten dokter memeriksa, ia tidak memberi komentar apapun. ( cek apa ia tenaga medis betulan, apa bukan ? Mungkin cuma akal bulus yunta untuk meredakan protes masyarakat ). Penjagaan di rumah Suu Kyi dan sekitarnya semakin diperketat setelah seorang pria asal AS mencoba masuk tanpa izin ke rumahnya ( hati2 juga, jangan2 pengetatan penjagaan ini cuma siasat yunta agar Suu Kyi bisa dibunuh perlahan-lahan tanpa ada yang tahu dan bisa mencegahnya_nurray )

Menurut Kang JJ dari “Ride for Peace” yang sudah mengelilingi 3 benua ( Asia, Afrika dan Eropa ), dibanding negara2 yang dilewatinya, Indonesia ibarat surga. Ia heran kenapa banyak orang kita tidak mensyukuri alam Indonesia dan bangga menjadi warga negara Indonesia ? Bule2 aja betah tinggal di sudut2 Indonesia. Jangan percaya media2 Barat yang mendiskreditkan Indonesia. Mereka takut negeri ini kuat dan berdaulat penuh.

Salah seorang desainer terbaik Asia, putra Indonesia, mengakui orang Indonesia lebih kreatif dari rata2 orang luar. Beragam suku, budaya dan konflik yang ada di Indonesia menempanya, menjadikannya lebih kreatif menyiasati hidup.

Dalam kaitannya dengan Aung San Suu Kyi, belum ada pemenang pemilu di Indonesia yang ditahan selama itu dengan perlakuan tak manusiawi. Singapura dan Malaysia juga ketinggalan banyak dalam hal politik dengan kita, meski mereka terlihat lebih makmur. Siapa tahu apa yang ada di dalam hati mereka ? Sejak krisis global, pertumbuhan ekonomi di 2 negara tsb juga mulai negatif. Lalu apa yang tersisa ?

Dari sebuah riset, warga Singapura dan Malaysia ternyata yang paling tak punya empati jika mendapati orang/ asing celaka di jalan atau butuh pertolongan, dibanding seluruh bangsa2 di dunia, kecuali zionis Israel. Lihat, kasus tewasnya David, di Singapura. Ketika diminta bersaksi, orang Singapura memilih tutup mulut daripada beasiswa atau status mahasiswanya di NTU dicabut. Mereka memikirkan diri sendiri. Apa tak terpikir jika pelakunya dibiarkan, mereka akan jadi korban berikutnya ?

Jadi, masih ada harapan untuk Indonesia, juga Antasari. Masih banyak yang peduli dan memperjuangkan keadilan untuknya, dengan usaha dan caranya masing2. Semoga, di Myanmar, Aung San Suu Kyi juga segera memperoleh hak, keadilan dan kebebasannya. Makin banyak dan makin gigih memperjuangkannya. ( Nurray, 11/5/2009 ).

Iklan
Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: