dari Palestina sampai Indonesia

Shalahuddin : ksatria pembebas Palestina.

Posted in dunia muslim, pejuang by nurray on 16/06/2009

“Anakku,” pesan Shalahuddin pada az-Zahir, menjelang wafat, “… Jangan tumpahkan darah… sebab darah yang terpercik tak akan tertidur.”

Menggetarkan. Seorang jenderal yang sarat dengan kisah perang menuturkan itu pada putra terkasih. Lebih dari 100 peperangan ia hadapi, dengan sifat ksatria, sesuai ajaran Islam tertinggi, menjadikan beliau teladan apik masa kita. Yang kian mendesak membutuhkan kehadiran sosok sekaliber dirinya. Di tengah duka nestapa berkepanjangan rakyat Palestina, negeri-negeri muslim yang tercabik perang dan kemiskinan.

Shalahuddin & pertempurannya.

Shalahuddin & pertempurannya.

Ia, Salahuddin Al-Ayyubi, Sultan Mesir dan Syria, memerintah 1174 M – 1193 M. Jendral dan pejuang muslim beretnis Kurdi, pendiri Dinasti Ayyubiyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekah Hejaz dan Diyar Bakr. Pendahulunya, Nuruddin Zangi. Penggantinya, Al-Aziz.

Sultan Salahuddin juga seorang ulama. Beliau memberikan catatan kaki dan penjelasan dalam hadis Abu Dawud. Shalahuddin mencetuskan kegiatan peringatan hari lahir Muhammad Saw ( Maulid Nabi ) pada abad 6 H, untuk membangkitkan semangat umat Islam sebagaimana umat Kristen dengan perayaan Natal. Motivasi umat Islam tak boleh kalah dengan motivasi pasukan salib ( Kristen ).

Shalahuddin dikagumi dunia muslim dan kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, sifatnya yang ksatria dan mulia saat menghadapi tentara salib. Shalahuddin atau Saladin mendapat reputasi besar di Eropa. Kisah perang dan kepemimpinannya banyak dituangkan dalam puisi dan sastra Eropa. Salah satunya “The Talisman” ( 1825 M ) karya Walter Scott.

Kapan dunia muslim kembali melahirkan pemimpin dan panglima jempolan yang mampu menyatukan umat ? Menghentikan kedzaliman yang kian merajalela tanpa malu ? Perlukah kita memasang pengumuman ; dicari pemimpin Timur Tengah yang bisa menghentikan kebiadaban di Palestina ? Mungkinkah ia lahir pada masa kita ? Mari kita tengok, bagaimana masa lalu bisa melahirkan seorang Shalahuddin.

SHALAHUDDIN, AYAH DAN PAMANNYA

Ayah Shalahuddin, Najamuddin Ayyub dan pamannya, Asaduddin Syirkuh meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan, pindah ke daerah Tikrit, Irak. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak.

Pahlawan muslim bernama lengkap Salah al-Din Yusuf Ibn Ayyub, lahir di benteng Tikrit, Irak, tahun 532 H/ 1138 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Sejak kecil, Shalahuddin senang membaca, berdiskusi tentang ilmu kalam, fikih, Al-Qur’an dan Al-Hadis. Ayahnya memperkenalkan Shalahuddin dengan Nuruddin Zangki, penguasa Damaskus. Shalahuddin lalu menyertai pamannya, Asaduddin Syirkuh, melakukan ekspedisi militer ke Mesir.

Setelah Imaduddin merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/ 1139 M, Najamuddin Ayyub menjadi gubernur Balbek dan kepercayaan raja Syria, Nuruddin Mahmud. Demikian pula Syirkuh, komandan angkatan perang Syria yang mengalahkan tentara salib di Suriah dan Mesir.

Selama di Balbek, Shalahuddin muda menekuni teknik perang, strategi dan politik. Ia belajar ilmu kemiliteran dari Syirkuh, panglima perang Turki Seljuk. Sejak usia belasan tahun Shalahuddin mendampingi ayahnya melawan tentara salib dan menumpas para penentang Sultan Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin merebut kota Damaskus tahun 549 H / 1154 M, ayah beranak telah menunjukkan loyalitas tinggi pada pemimpinnya. Shalahuddin juga mempelajari teologi Sunni di istana Nuruddin selama 10 tahun. Tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir ( konselor ).

Shalahuddin mewarisi tugas mempertahankan Mesir dari serbuan Kerajaan Yerusalem pimpinan Amalrik I, di tengah perlawanan anak-anak khalifah yang menginginkan posisinya. Sebagai pemimpin prajurit asing Syria, Shalahuddin tak memiliki kontrol atas prajurit Syiah, Mesir, pimpinan khalifah lemah, Al-Adid. Setelah khalifah wafat, sebelum shalat Jum’at, September 1171, Shalahuddin diangkat imam dengan nama Al-Mustadi oleh khalifah Abbasid di Baghdad. Dengan kewenangan ini, garis keturunan khalifah tak terlalu menjadi persoalan lagi. Shalahuddin disebut Waliullah, teman Allah bagi muslim Sunni.

Selama menjadi wakil resmi Nuruddin di Mesir, Shalahuddin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, sembari mengikuti nasihat ayahnya untuk menghindari konflik apapun dengan Nuruddin. Shalahuddin menjadi panglima Islam masa khalifah Muiz Liddinillah, dinasti Bani Fathimiyah, Mesir ( 365 H/ 975 M ).

Shalahuddin ditugasi Nuruddin Zangki mengusir tentara Amaury yang berusaha menguasai Mesir. Ketika pamannya, pergi ke Nil mendamaikan beberapa pemberontakan dari para pendukung Fatimid, Shalahuddin menuju Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dalam tiga pertempuran di Mesir ( 559-564 H/ 1164-1168 M ), Shalahuddin dan pamannya berhasil mengusir tentara salib. Asaduddin Syirkuh lalu diangkat menjadi perdana menteri Khilafah Fathimiyah.

Bersama pamannya, Shalahuddin menguasai Mesir dan menjadikannya pusat kekuasaan pemerintah Islam. Benteng pertahanan Shalahuddin yang sangat luas hingga kini masih berdiri dan menjadi tujuan wisata turis asing. Di dalamnya ada Masjid Muhammad Ali berarsitektur Turki. Setelah pamannya meninggal, jabatan perdana menteri dipercayakan pada Shalahuddin.

Selanjutnya, Shalahuddin mematahkan serangan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan pada Khilafah Abbasiyah di Baghdad tahun 567 H / September 1171 M. Setelah Al-‘Adid, khalifah terakhir Fathimiyah ( keturunan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah ), wafat maka kekuasaan sepenuhnya jatuh ke tangan Shalahuddin.

Shalahuddin menerima gelar Sultan Mesir. Damaskus diserahkan kepada Salih Ismail, putera Nurrudin yang masih kecil didampingi seorang wali. Selama perwalian itu terjadi perebutan kekuasaan diantara keturunan Nuruddin hingga wilayah kekuasaan Nurruddin terpecah. Shalahuddin ke Damaskus, membereskan keadaan di tengah perlawanan pengikut Nuruddin yang enggan bersatu.

Shalahuddin memproklamasikan kemerdekaan Mesir dari kaum Seljuk, mendirikan dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Shalahuddin mulai menghadapi wilayah muslim yang kecil, mengarahkan mereka melawan pasukan salib. Ia memperluas wilayah hingga Maghreb barat.

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir terasa janggal Shalih Ismail. Shalih mempersoalkan garis keturunan kekhalifahan Mesir. Ia kemudian berperang dengan Shalahuddin hingga Damaskus jatuh ke tangan Shalahuddin. Shalih terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh tahun 1181. Akhirnya, Shalahuddin menyatakan diri sebagai raja Mesir dan Syria ( 571 H/ 1176 M ) dan memperluas wilayah hingga Mousul, Irak.

PERANG HATTIN MEMBEBASKAN YERUSALEM

Paus Urbanius II pada 27 November 1095 di Dewan Clermont, menggerakkan lebih dari 100.000 orang Eropa bergerak ke Palestina untuk “memerdekakan” tanah suci dari orang Islam dan mencari kekayaan yang besar di Timur. Dipicu dari pembakaran gereja kristen terbesar di Yerusalem oleh Al Hakim, penguasa Mesir abad 11. Tindakan ceroboh yang menyimpang dari pakem Islam waktu itu. Banyak perampasan dan pembantaian di sepanjang perjalanan tentara salib, sebelum mencapai Yerusalem tahun 1099. Kota ini jatuh setelah pengepungan hampir 5 minggu. Warga Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar. Hanya tersisa empat orang Yahudi setelah pembantaian sadis pasukan salib. Semua orang Saracen dan Turki yang mereka temui, pria maupun wanita, mereka bunuh.

Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Perdamaian dan ketertiban di Palestina, yang telah berlangsung semenjak khalifah Umar, berakhir dengan pembantaian mengerikan. 20.000 tentara perang salib yang tinggal lalu membangun kerajaan katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah, beribukota di Yerusalem. Crack Des Cevalier, benteng istana mereka.

Perang pertama yang dipimpin Shalahuddin, melawan Amalrik I, Raja Yerusalem. Kedua, perang melawan Baldwin IV ( putra Amalrik I ) yang pernah difilmkan tahun 2005 dengan judul “Kingdom of Heaven” dan dibintangi aktor terkenal Suriah, Ghassan Massoud sebagai Saladin. Shalahuddin sempat mundur dari pertempuran Montgisard melawan Kerajaan Yerusalem.

Raynald dari Châtillon, penguasa benteng Karak/ Crack, pemimpin ksatria Templar, memprovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur jamaah haji di Laut Merah, mengancam menyerang Mekah dan Madinah. Salahuddin segera mengumpulkan seluruh kerajaan Islam di bawah benderanya untuk mengalahkan tentara salib. Menjelang serbuan, Shalahuddin memberi kesempatan penguasa Kristen di kota Palestina menyiapkan diri agar mereka bisa melawan pasukannya dengan terhormat. Lalu pecahlah perang Hattin yang dimenangkan pasukan muslim. Shalahuddin menghukum mati Raynald dan menangkap rajanya, Guy de Lusignan.

Tiga bulan setelah perang Hattin, di hari mi’raj-nya Rasulullah, Shalahuddin baru masuk Yerusalem, membebaskannya dari 88 tahun pendudukan tentara salib. Shalahuddin memerintahkan umat Katolik meninggalkan Yerusalem. Umat nasrani ortodoks, non tentara salib, dibiarkan tinggal dan beribadah sesuai keyakinan mereka. Kompleks Al-Haram asy-Syarif oleh jenderal yang di Barat dikenal sebagai Saladin, dijadikan tempat ibadah muslim. Shalahuddin kemudian membangun sekolah, rumah sakit, merestorasi Masjid Al-Aqsha dan Kubah Batu.

Berikutnya, Shalahuddin melawan Baldwin V, sampai kota Tiberias, Nasirah, Gaza, Hebron, Yerusalem, Bethlehem, Busniayah, Gunung Zaitun jatuh ke tangan Shalahuddin, tahun 1187. Meski 70 ribu muslim Palestina tewas dibunuh tentara salib hingga banjir darah ( 1099 M ), Shalahuddin tidak balas dendam. Ia tahu, membunuh karena marah adalah dosa. Dalam perang, etika kemanusiaan tetap dijunjung tinggi. Penduduk dan bekas penguasa Yerusalem yang menyerah diperlakukan dengan santun. Sungguh mulia.

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan ( sehingga ) ketaatan itu hanya semata –mata untuk Allah. Jika mereka berhenti ( dari memusuhi kamu ), maka tidak ada permusuhan ( lagi ), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” ( Qur’an, 2 : 193 )

“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” ( Qur’an, 2 : 194 )

Berbeda dengan tentara salib, Shalahuddin memperlakukan warga Yerusalem dengan baik sesuai ajaran Islam yang murni. Tidak dendam untuk membalas pembantaian. Ia menghentikan pembunuhan dan menunjukkan kasih sayang pada kaum nasrani lebih baik dibanding pemimpin mereka sendiri.

PAHLAWAN PERANG MENANGIS

Sejak 2 Oktober 1187 sampai 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota muslim. Salahuddin menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni. Tak seorang Kristen pun yang dibunuh. Tak ada perampasan. Jumlah tebusan sangat rendah. Salahuddin menangis tersedu-sedu melihat keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur. Ia membebaskan banyak dari mereka, sampai bendaharawan negara prihatin. Para pemimpin muslim tersinggung melihat orang kaya Kristen melarikan diri dengan kekayaan mereka, tanpa menebus tawanan. Uskup Heraclius menebus dirinya sepuluh dinar dan mendapat pengawal pribadi selama perjalanan ke Tyre, satu-satunya kota yang belum takluk.

Jatuhnya Yerusalem memicu perang salib yang ketiga. Richard I dari Inggris, berangkat ke pertempuran Arsuf. Richard cedera. Shalahuddin menawarkan pengobatan dari ilmu kedokteran muslim yang telah maju dan dipercaya. Saladin mengiriminya buah pir yang segar, dingin dalam salju, dan seorang dokter. Tanggal 1 September 1192, Shalahuddin dan Richard menyepakati perjanjian Ramla ; Yerusalem tetap dikuasai muslim dan terbuka bagi peziarah kristen. Setelah itu, pesta diadakan dengan pelbagai pertandingan. Orang Eropa sampai takjub bagaimana Islam bisa melahirkan orang sebaik itu.

Richard kembali ke Inggris. Setelah Yerusalem, tentara salib melanjutkan perbuatan tak manusiawinya dan pasukan muslim meneruskan keadilannya di kota-kota Palestina lainnya. Raja Richard I yang dijuluki Si Hati Singa, merampas Kastil Acre, membantai ratusan muslim, menghukum mati 3000 muslim, mayoritas wanita dan anak-anak di sana. Mayat mereka dan penggalan kepala ditumpuk di bawah panggung.

Setelah sebagian besar wilayah Islam kembali diraihnya, Shalahuddin memindahkan pusat pemerintahannya di Kairo, Mesir ke Damaskus, Syria. Setelah 17 tahun menjadi penguasa Mesir dan Syria, Shalahuddin wafat karena sakit di Damaskus dalam usia 57 tahun ( 4 Maret 1193 ). Mengharukan, ketika peti hartanya dibuka, ternyata tak cukup untuk biaya pemakaman. Hartanya selama ini dibagikan pada yang membutuhkan.

PANGGILAN BAGI MASA KINI

Sebuah pemerintahan yang dibangun di atas dasar-dasar Islam memungkinkan pemeluk keyakinan berbeda hidup damai. Menurut Al-Qur’an, perang hanya sarana mempertahankan diri. Kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi.

Tapi tidak demikian bagi zionis Israel yang menduduki tanah Palestina hari ini. Ekstremis yahudi itu meneruskan mentalitas penjajah Eropa abad 19. Mereka percaya, negara industri Barat berhak menjajah bangsa terkebelakang sebagai proses seleksi alam. Darwinisme Sosial. Inggris menjajah India, Afrika Selatan dan Mesir. Prancis menjajah Indocina, Afrika Utara dan Guyana. Terinspirasi pendukungnya, para zionis terus merampas wilayah teritori Palestina hingga tak bersisa demi utopia, Israel Raya / Haikal Sulaiman di Timur Tengah.

Khalifah Umar bin Khattab, pemimpin muslim yang pernah menaklukkan imperium Romawi, Mesir dan Persia, menerima kunci Baitul Maqdis dari Uskup Agung Severinus tahun 15 H/ 636 M, menyebutkan tanah Palestina berstatus wakaf, yang tak boleh dijual atau diserahkan pada non muslim. Tugas bagi generasi muslim masa kini untuk merebut tanah Palestina kembali ke pangkuan muslim.

Makam Shalahuddin di ruang belakang berukuran 4 x 6 meter Masjid Umayyah, Damaskus yang berumur lebih dari 12 abad, tampak kelabu, pudar dan berdebu. Di kampung akhirat, pahlawan Islam itu menanti dengan hati berdebar ; siapa gerangan yang terpanggil menghentikan tragedi berdarah-darah yang tengah dialami entitas terakhir penjaga Masjid Aqsha di al-Quds ? Mengembalikan kedamaian di Palestina selama 1280 tahun lagi. Andakah itu ? ( Sav / dari berbagai sumber ).


free html visitor counters
hit counter
Iklan
Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: