dari Palestina sampai Indonesia

“Elang hitam, kura2 dan UU ITE

Posted in dunia muslim by nurray on 22/06/2009

Helikopter AS ditembak jatuh Farah Aidid

Minggu malam ( 7/6/2009 ) TransTV memutar film “Black Hawk Down”. Saya memicingkan mata hingga film itu tuntas 00.30 dini hari. Ada beberapa scene mencengangkan. Peluru berdesingan bagai hujan. Granat bertaburan menumbangkan musuh, seperti mercon tahun baru. Rudal menyusuri arcade2 pertokoaan, mengincar para pejuang Somalia ( saya sampe mimpi dikejar2 rudal, gara2 udara mendadak berubah sangat dingin dini hari itu. Busyet ). Di langit, helikopter hitam terus memuntahkan mortirnya. Aroma kematian di mana-mana. Begitu pekat. Mendebarkan. Selama ini, saya penasaran, bagaimana sebetulnya perang kota dilakukan AS di negeri2 yang diinvasinya ? Rupanya, begitu ya ?

Kita tahu, Maret 2003 Amerika Serikat ( AS ) membombardir Irak dari udara. Bom2 tandan dijatuhkan dari langit. Setelah puas bermain ‘kembang api’ di udara, baru dilakukan pertempuran sesungguhnya. Perang darat. Tentara AS memasuki kota2, sampai ke Baghdad, ibukota Irak. Saya ingat di tayangan teve ( siaran live ), orang2 Irak bersorak-sorai, memukul-mukul patung Saddam Husein dengan alas kaki, sebelum menjungkalkannya. AS kelihatan seperti penyelamat.

Dalam film “Black Hawk Down”, anda bisa menjumpai kesan itu juga. Barisan helikopter “Black Hawk” patroli di atas kota2 Somalia, bak kawanan elang sedang bermigrasi. Seorang anak mengintai kedatangan elang2 besi itu dengan ponsel di tangan. Lalu anak itu mengestafetkan ponsel lain, melalui beberapa tangan, hingga berakhir ke tangan pria yang sedang terlelap di ranjangnya. Si pria bangun, mendengar raungan helikopter dari ponsel itu, mengangkat RGP ( roket peluncur granat ) dengan sigap, membidik ke langit melalui jendela kamar tidurnya. Lalu, braakk ! Helikopter AS itu jatuh tertembak. Penembak tepat itu, Muhammad Farah Aidid yang menguasai selatan kota Mogadishu.

Tak lama kemudian, helikopter Black Hawk yang lain juga jatuh menghempas jalanan. Seisi kota dibangunkan oleh kehebohan itu. Mereka menyemut ingin tahu. Seperti kisah di film Alien yang dibintangi Sigourney W, personel yang terpojok pasrah dikerubuti monster yang akan memangsanya. Mungkin saat itulah ( seperti diberitakan di koran ), warga dan ribuan milisi mengarak jasad tentara AS yang sudah tewas keliling kota. Korban tewas di pihak Somalia 1000 orang, AS 19 tentara. Pilot pesawat yang masih hidup ditahan Aidid, lalu dibebaskan beberapa waktu kemudian. Tak tahan melihat jasad tentara AS diseret di jalanan, presiden Bill Clinton menarik pasukan AS dari Somalia.

Penonton terkecoh, tentara AS sama biadabnya

Kalau anda tak tahu alasan sesungguhnya tentara AS berada di Somalia, tentu anda gampang kepincut. Bayangin, aktor cakep, tubuh tegap, atletis dibalut kostum tentara desain terbaru, dengan kaca mata untuk penglihatan malam, senjata tercanggih dan helikopter terbaru, mengatakan pada rekannya,”Ini bukan soal ( kegemaran ) perang. Ini soal teman di samping kita.” Benar2 gambaran sempurna. Semua keunggulan manusia ada di situ. Dari penemuan kostum, senjata, kekuatan tubuh adalah hasil olah otak kiri yang optimal. Tekad anggota pasukan dan jenderal yang memonitor di pusat, untuk tidak meninggalkan seorang pun rekan di belakang mereka, terkesan heroik. Andaikan ada tentara ideal seperti itu di muka bumi.

Sayang, itu cuma film, besutan negara yang menebar perang di mana-mana untuk menjadi nomor satu, dengan merendahkan bangsa lain ; memasuki wilayah kedaulatan negara lain dengan semena-mena, merampas kemerdekaan, menginjak harga diri dan menguras sumber daya alam bangsa lain. Terlintas dalam benak saya, apa para pemeran film tahu apa yang mereka lakukan ? Alasan sesungguhnya dibuatnya film itu ? ( mengecoh warga AS dan dunia internasional atas nafsu perang pemerintah AS, sekaligus menutupi kecerobohan strategi militer AS yang memalukan ). Atau hanya terima honor saja, berakting penuh penjiwaan, lalu keluar set dan melupakannya. Masa bodoh, negaranya menjadi momok negara lain. Asal ia bisa makan, punya tempat berteduh dan keluarganya aman ( sementara ).

Cukup, komestik media propaganda AS. Sekarang, back to reality. Dalam tulisan di bawah ini, anda bisa melihat ulah tentara AS di negara2 yang di invasi atau diintervensinya. Anda akan tahu, tentara AS tak seganteng bintang film. Ia berwajah sekadarnya, memperkosa wanita di negeri yang dimasukinya tanpa hak, merendahkan, menyiksa, memutilasi dan membunuh para pejuang Irak, Pakistan dan Afganistan. Dari  presiden sampai eksekutor di lapangan, kompak melakukan kebohongan publik. Jadi, tentara ideal di “Black Hawk Down” itu lupakan saja. Tak ada seujung kukupun yang mirip. Bahkan Collin Powel, yang dulu saya anggap berbeda, ternyata, setali 3 uang.

“Turtle can fly”, derita korban invasi AS di Irak

Mungkin, kita perlu melihat film dari sudut pandang lain. Korban. Anda  nonton  film “Turtle Can Fly” kemarin malam di “World Cinema” Metro TV ?  Cerita memilukan seorang anak perempuan ( 7 tahun ) yang diperkosa belasan tentara di kubangan saat invasi AS di Irak. Agrin, gadis kecil itu depresi, lalu menenggelamkan batita juling yang harus diasuhnya, atas permintaan kakaknya, Ahmad ( 9 tahun ) yang buntung kedua tangannya akibat perang. Agrin mesti menyuapi kakaknya dan seabrek tugas lainnya, yang biasa dilakukan orang dewasa. Keduanya sudah yatim piatu. Bersama ratusan anak yatim piatu lainnya, mereka berbagi tenda sempit di pengungsian.

Agrin menggendong balita "turtle".

Agrin menggendong balita "turtle".

Saya tak bisa melupakan adegan ketika si “turtle” ( 2 tahun ) yang juling itu tertawa lucu ketika diikat ke sebuah batu oleh Agrin lalu ditinggalkan. Dikira diajak bermain. Tawa lucu itu kemudian menjadi janji untuk menjadi adik yang baik, tak merepotkan Agrin lagi. Ketika Agrin kian jauh, suara memelas itu menjadi tangis menyayat dalam udara malam yang dingin membekukan tulang. Agrin yang tak tahan dengan suara tangisan itu, bangun, keluar dari tenda, menghampiri “turtle”, mengangkatnya dan mencemplungkannya ke dalam palung kubangan ( tempat Agrin diperkosa ) dengan pemberat batu di kakinya.

Pagi menjelang, terdengar lolongan pedih sang kakak ( mendapati batita “turtle” di dasar palung ).

“AGRIINN…!” jerit Ahmad pilu ( sang adik pun terjun dari tebing seperti adegan pembuka film ). Hati yang terlalu kelam yang tak tersentuh dengan adegan mengiris kalbu itu.

Anda bisa membayangkan kejadian yang sama di kamp Palestina, Pakistan dan Afganistan yang hingga hari ini masih diacak-acak oleh serdadu Israel dan Amerika. Tak heran, Amerika seperti menutup mata atas pelanggaran/ kebiadaban yang dilakukan Israel. Wong, kebiadaban AS juga tak kalah dengan kacungnya. Mereka satu aliran, satu selera ( rendah ). Sampai hari ini, Israel masih membangun pemukiman di Tepi Barat, wilayah teritori Palestina ( yang tinggal kurang dari 22 % ). AS melarang ( pura2 ? ) Israel memperluas pemukiman ilegal, tapi Israel jalan terus. Sudah biasa, kok, melanggar. Toh, tak ada yang memberi sangsi dan menindaknya sungguh2.

UU ITE di Indonesia, UU anti semit di Eropa & AS

Dengan kejahatan diluar batas ini, lobi Yahudi menggolkan undang2 anti semit tahun 1948 di Amerika dan Eropa. Tahun yang sama, zionis memproklamirkan negara Israel di wilayah pendudukan Palestina. Beberapa penulis yang mencoba mengkritisi sepak terjang zionis mendekam di penjara karena undang2 ini. Di Indonesia, tak jauh berbeda, Undang2 Informasi dan Transaksi Elektronik ( ITE ) sudah memakan korban. Prita Mulyasari, sempat mendekam 20 hari di ruang tahanan, gara2 mengeluhkan pelayanan RS.Omni Internasional, lewat e-mail kepada temannya. Tak disangkanya, e-mail curhatannya tahu2 sudah menyebar ke beberapa miling list.

Sebelumnya saya mendengar Philip Kotler ( bapak marketing ) di “Special Dialogue” Metro TV berkata ; masa sekarang jika kita ingin membeli sebuah produk ( layanan/ jasa ) kita tinggal mengetik di facebook untuk mendapat feedback dari rekan2 di jaringan pertemanan. Kelebihan dan kekurangan produk segera kita ketahui untuk membantu kita memutuskan. Dengan adanya kasus Prita Mulyasari, orang jadi mikir2 untuk menulis kekurangan produk atau layanan jasa. Kita bisa ketinggalan, tak terpacu untuk efesien dan memperbaiki kualitas dan akhirnya tak mampu bersaing dengan produk luar.

Ditarik ke skup global, kejahatan zionis Israel, AS dan antek2nya makin merajalela. Di Israel, Ehud Olmert bisa menyumpahi Al Qur’an dan umat muslim sebagai barbar dan teroris tanpa hukuman. Sementara mereka sendiri meradang dan memenjarakan orang yang mempertanyakan kelakuan ras Yahudi. Pemerintah AS, Israel, media zionis, Pentagon, CIA, Mossad, Centcom,  terus melakukan propaganda negatif, tipu muslihat dengan leluasa. Sementara kita di negeri sendiri, baru mengeluhkan perlakuan medis yang tak memuaskan, memperjuangkan hak kita saja, sudah masuk penjara. Bagaimana kita punya cukup orang, pejuang, bertarung melawan angkara murka di tatar global ? Akan lebih banyak orang baik di dalam tahanan, orang jahat di luar tahanan, jika begitu. Dunia bisa jungkir balik. Habislah kita.

Saya curiga, Undang2 ITE ini diintervensi AS, seperti halnya UUD 2002 amandemen. Mahkamah Konstitusi menolak judicial review para blogger yang keberatan pada sebagian pasal UU ITE. Seorang pakar hukum di “E-Life Style” Metro TV menyarankan, kalau kita mengeluhkan pelayanan medis, mestinya ke Departemen Kesehatan atau instansi yang berkaitan. Kalau tidak atau lama ditindaklanjuti, lalu jatuh korban berikutnya, bagaimana ? Kita sudah mafhum, betapa lamanya birokrasi/ aparat pemerintahan mengurus komplain masyarakat atau memberi keadilan. Seringnya kita menabrak tembok tebal.

UU ITE yang diberlakukan medio 2008 harus ditinjau kembali, terutama pasal 27 ( pencemaran nama baik ). Peraturan Pemerintah tentang ITE yang diberi tenggat waktu tahun 2010 pembuatannya, harus benar2 bebas dari agenda kepentingan Barat/ zionis. Komunitas dunia maya mesti memantaunya. Kita mesti siap cyber war dengan media Barat/ zionis, didukung kebebasan berekspresi yang besar. Jika kita ingin punya peran lebih ( memakai ‘sepatu’ yang lebih besar ) dalam perdamaian dunia.

Saatnya kebohongan dan penindasan imperalis Barat diakhiri. Kejahatan tempatnya di neraka. Bukan selamanya, bertahta di bumi ini. Saatnya, orang beriman dan berjuang di jalan-Nya mendapat hak hidup, kemerdekaan dan kesejahteraannya. Giliran kami. ( Nurray, 9/6/2009 ).

Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: