dari Palestina sampai Indonesia

Membongkar propaganda hitam Amerika

Posted in internasional, irak by nurray on 22/06/2009

Bukti2 kelicikan Amerika memplintir informasi dan menipu dunia demi kepentingannya diungkap ke publik.

Lebih 6 tahun pasukan Amerika dan koalisinya menduduki Irak. Hasilnya, mereka bukannya bersenang-senang pasca penggantungan Saddam, melainkan menghadapi teror baru yang menewaskan ribuan tentaranya. Di luar perang, Amerika juga ‘ditelanjangi’, kali ini oleh warganya sendiri. Akhir tahun 2003, beredar bocoran laporan internal tentang kebobrokan dan kelicikan pemerintahan Bush dalam melakukan disinformasi pada publik tentang pihak2 yang mereka anggap musuh. Isinya sungguh mengagetkan, karena melibatkan pakar2 komunikasi dan jaringan kerja pemerintah serta militer AS dengan pemerintah Inggris.

50 cerita bohong perang Irak karangan mesin propaganda AS

Pengungkapan dokumen tsb dimulai dari sepak terjang Joseph Wilson, bekas duta besar AS. Wilson menulis esai di “New York Times” yang mengeritik keras tuduhan tak terbukti George Bush tentang Irak. Bush pernah dengan yakin menyatakan, Irak telah membeli uranium dari Nigeria untuk pembuatan bom nuklir. Padahal, tak ada bukti kuat itu.

Rupanya, Gedung Putih panas dengan kritik Wilson. Maka, tahu2 ada bocoran dari para pejabat tinggi di Gedung Putih ke beberapa wartawan di Washington. Isinya, membongkar rahasia istri Wilson, yang ternyata agen dinas rahasia CIA.

invasi Amerika di Irak

invasi Amerika di Irak

Sebagaimana diungkap Gar Smith dalam The Edge, Wilson marah besar. Gedung Putih tak menyangka kalau bekas dubes ini serius membalas pembukaan kedok istrinya. Maka, Oktober 2003, Wilson balas menyebarkan kepada pers salinan laporan internal yang amat memalukan. Laporan 56 halaman itu hasil penyelidikan Sam Gardiner, pensiunan colonel Angkatan Udara AS. Judulnya, “Truth form These Podia : Summary of a Study of Strategic Influence, Perception Management, Strategic Information Warfare, and Strategic Psychological Operations in Gulf II”. Laporan ini mengindentifikasi lebih dari 50 cerita tentang perang Irak yang ternyata dipalsukan oleh para ‘seniman propaganda’ pemerintah, dalam rangka kampanye rahasia bagi publik berkaitan dengan invasi militer Irak.

Reruntuhan Bagdad dan warganya.

Reruntuhan Bagdad dan warganya.

Gardiner sendiri punya kredibiltas yang tak diragukan. Ia mengajar di National War College, the Air War College, dan Naval Warfare College. Selain itu, ia juga cendekiawan tamu di Swedish Defense College. Menurut Gardiner, upaya propaganda hitam yang dilakukan AS adalah usaha sistematik yang telah dimulai jauh sebelum perang Irak dimulai. Tujuannya, menyesatkan publik dan dunia. Penelitian Gardiner menuntunnya pada kesimpulan bahwa Inggris dan AS telah berkomplot pada tingkat paling tinggi demi menanamkan cerita2 yang belakangan terbukti palsu.

Kampanye propanda milyaran dolar ini dijalankan habis-habisan oleh Gedung Putih dan Departemen Pertahanan. Untuk pertama kali, kata Gardiner, dalam sejarah AS, mereka mengijinkan operasi psikologis strategis untuk menjadi bagian dari urusan public. Kampanye propanda ini dimulai ketika sekretaris pertahanan Donald Rumsfeld mengumumkan rencana membentuk kantor “Strategic Influence” tahun 2002. Pada waktu yang sama, Alastair Campbell, Direktur Strategi PM Inggris, telah menyusun operasi serupa di London. Para kritikus Gedung Putih dengan cepat mengenali bahwa istilah “strategic influence” adalah eufemisme bagi istilah pemlintiran informasi. Dengan kata lain, Rumsfeld telah mengusulkan penetapan berdirinya Departemen Propaganda di AS.

Hasilnya, lebih 50 peristiwa ternyata telah direkayasa untuk menyelewengkan gambaran Perang Teluk II bagi masyarakat Amerika dan Inggris. ( Ins, Mei 2004 ).

Menyusul, pengungkapan atas :

Kebohongan AS tentang senjata musnah massal di Irak

Cerita tentang senjata pemusnah massal ( weapon of mass destruction atau WMD ) milik Saddam hanyalah satu bagian kecil dari propaganda AS. Tujuannya, tak lain untuk membuat konflik dengan Irak menjadi suatu perjuangan antara kebaikan dan kejahatan. Terorisme adalah kejahatan, sedangkan AS dan Inggris adalah lakon kebaikan. Citra itu pula yang membuat mereka memaksakan adanya hubungan antara Irak dengan serangan 11 September 2001 yang meluluhlantakkan Amerika, agar warga setempat dan Inggris percaya bahwa Saddam Hussein ada di belakang serangan itu.

Teknik plintiran tentang Irak yang terbukti ampuh itu sebenarnya telah diujicobakan pertama kali di Afganistan, untuk meraih dukungan atas serangan AS dan sekutu ke negeri mujahidin tsb. Rumsfeld menyewa Rendon Associated, public relation swasta yang terlibat dalam kampanye di perang Teluk. Pendirinya, Yohanes Rendon, yang menyebut dirinya information warrior ( pejuang informasi ). Dengan bangga ia membual dirinyalah yang bertanggung jawab menyediakan beribu-ribu bendera AS untuk dikibar-kibarkan penduduk Kuwait saat menyambut ‘pembebasan’ negara itu dari Kuwait. Semuanya ditampilkan secara atraktif lewat sorotan kamera.

Pusat Informasi Koalisi ( Coalition Information Center ) disiapkan oleh Karen Hughes pada bulan November 2001, yang kemudian berubah menjadi Office for Global Communication ( OGC ). Mereka membuat kampanye serangan AS ke Afganistan dengan memanfaatkan kondisi kaum perempuan di sana yang digembar-gemborkan perlu dibebaskan. Laura Bush, ibu negara AS, mengeluarkan statemen, bahwa Thaliban mengancam mencabut kuku para wanita yang ketahuan memakai pewarna kuku.

Dan tahukah anda, 3 hari berselang, istri PM Inggris, Cherie Blair, juga mengungkapkan kepada media massa lokal bahwa di Afganistan, jika kaum perempuan memakai pewarna kuku, maka kukunya bisa dicabut oleh rezim Thaliban. Kompak sekali.

Kebohongan AS tentang teror antraks di Irak

Wartawan di AS berkali-kali menerima bocoran berita dari CIC tentang adanya teror antraks. Rupanya, itu sengaja disebarkan sebagai ‘pemanasan’ sebelum promosi rencana penyerangan ke Irak. Yang lebih konyol, AS dan Inggris sama2 cuek memberi pernyataan tanpa bukti bahwa Irak dan Al Qaeda berada di belakang pengiriman surat pos yang berisi antraks. Sampai kini, bukti tentang hal tsb tak ada sama sekali.

Poros disinformasi Amerika-Inggris

Sebelum invasi ke Irak, Maret 2003, Washington dan London sepakat menyebut tindakan agresi militer mereka yang tidak sah ke Irak sebagai “konflik bersenjata”. Acuannya selalu kepada pemerintah Irak yang disebut sebagai “sebuah rezim”. Para manajer komunikasi strategis di kedua negara sampai merasa perlu mengeluarkan daftar panduan istilah yang akan digunakan dalam semua statemen pejabat mereka. Jika di AS ada CIC atau OGC, maka di Inggris ada lembaga yang bernama Psychological Operation Group 15.

Begitu dalamnya propaganda tsb, sampai2 nama operasi militer yang biasanya dirahasiakan demi alasan keamanan, kin berubah menjadi brand pasar yang dijual ke seluruh dunia. Maka, dikenallah berbagai nama operasi militer yang bombastis dan terdengar patriotic, seperti Operation Nobel Eagle, Valiant Strike, Provide Comfort, Enduring Freedom, Uphold Democracy dan akhirnya Operation Iraqi Freedom ( Operasi Pembebasan Irak ).

Kebohongan AS tentang penyelamatan Jessica Lynch

Kontrol Pentagon atas berita penangkapan dan pembebasan serdadu wanita AS, Jessica Lynch, amat menarik perhatian. Sejak awal, mereka menyebut pembebasan itu sebagai suatu penyergapan. Tapi Gardiner berkata lain.”Jika anda memandu sebuah konvoi ke garis musuh, lalu berbalik pulang lagi, itu sih bukan penyergapan,” katanya.

Faktanya terungkap seperti yang disebut Majalah Newsweek.”Begitu serdadu Jessica Lynch diterbangkan, Joint Operation Center pasukan segera menelpon Jim Wilkinson, ahli komunikasi sipil yang membantu CENTCOM ( Komando Pusat Tentara AS ) yang dipimpin Jenderal Tommy Franks. Yang mencurigakan, setelah Jessica Lynch dibebaskan, mengapa panggilan pertama justru dilakukan ke Direktur Komunikasi Strategis di Gedung Putih, bukan ke Pentagon, atau lainnya.

Baru beberapa hari kemudian, Pentagon menyebarkan berita tentang Jessica Lynch, yang disebut sebagai “Rambo Baru Amerika”. Koran Washington Post mengutip mentah2 kisah versi Pentagon itu : “.. bahwa Lynch terluka akibat beberapa tembakan..” dan “.. bertempur mati-matian melawan musuh hingga peluru terakhir ..” Lucunya, keluarga si serdadu wanita itu sendiri bingung karena melihat putri mereka sama sekali tidak terluka akibat tembakan. Keluarga itu menolak memberi keterangan pers, dengan alasan “mereka diberi tahu untuk tidak membicarakan masalah itu”. Dan kebenaran datang beberapa pekan kemudian. Serdadu Jessica Lynch terbukti bukan cedera karena ditembak dan disandera, melainkan terluka karena terjatuh dari kendaraannya.

Rumsfeld dan Jenderal Myers tetap menyatakan kisah “heroik” Lynch pada konferensi pers, walaupun mereka sudah diberi tahu peristiwa yang sebenarnya terjadi. Mereka memilih berbohong demi kemenangan simpati publik.

Kebohongan AS tentang Ansar al Salam sebagai bagian Al Qaeda

Para tokoh propaganda AS dan Inggris memilih kelompok kecil dari kaum Kurdis yang disebut Ansar al Salam ( Anshar al Islam ) sebagai bagian dari kelompok teroris Al Qaeda. Lebih lanjut, disebutkan bahwa Ansar al Salam ini dikendalikan oleh Saddam Hussein dan dipercaya memproduksi ricin, suatu biotoksin yang mematikan. Organisasi ini pula yang sempat dituduh ikut terlibat peledakan WTC. Padahal, Anshar al Salam baru didirikan setelah peristiwa 911 tsb.

Sumber tuduhan ini, sebagaimana pola lainnya, tidak jelas benar. Kepalsuan ini disebut oleh Gardiner,” Ada banyak format mengenai koneksi terhadap tindakan terorisme. Tapi tuduhan satu ini, aku sungguh2 tidak melihat satu pun bukti kebenarannya.”

Kebohongan AS tentang penaklukannya atas kota Basrah, Irak

Hari pertama invasi AS dan koalisi ke Irak, juru bicara korps marinir AS melontarkan statemen ramalan bahwa kota Basrah akan segera jatuh ke tangan sekutu. Faktanya, karena keyakinan itu, AS sebenarnya telah menyiapkan banyak hal jauh sebelum tentara pertama masuk ke Irak. Marinir AS dibekali dengan paket2 sembako untuk anak2 Basrah. Para jurnalis diangkut ke kota yang baru ditaklukkan itu untuk meliput bagaimana warga setempat mengelu-elukan pasukan koalisi dengan senyum dan bunga di tangan.

Awalnya, Inggrislah yang berharap memimpin penaklukkan Basrah. Tetapi AS keberatan, karena berpendapat, merekalah yang mempunyai kekuatan utama dan sewajarnya memimpin kemenangan koalisi di kota tsb. Ternyata, belakangan, terbukti penduduk Basrah menolak dibebaskan dan memberi perlawanan. Tetapi momen itu tidak ada yang mengekspos, karena peristiwanya ditutup-tutupi dan dialihkan ke persoalan lain.

Kebohongan AS tentang tempat pelatihan teroris Salman Pak di Irak & pabrik racun kimianya.

Sebuah laporan singkat yang dipublikasikan Gedung Putih secara luas pada 12 September 2002 berjudul “Decade of Deception”, menguraikan “adanya suatu fasilitas rahasia pelatihan teroris” yang disebut sebagai Salman Pak. Tempat ini, umbar Gedung Putih, dijadikan lokasi pelatihan bagi warga Irak dan non Irak untuk melakukan pembajakan pesawat dan kereta api, menanam bom di kota2 besar, sabotase dan pembunuhan.

Penyebutan adanya lokasi ini merupakan bagian dari strategic influence dalam rangka memasarkan pemahaman bahayanya teroris, sekali pun Pentagon sendiri tidak pernah menunjukkan adanya bukti2 bahwa lokasi itu memang ada.

Dalam presentasinya di depan sidang PBB tanggal 3 Februari 2003, Collin Powell menyiarkan apa yang mereka sebut sebagai foto pabrik racun kimia milik Ansar al-Salam. Tujuh bulan setelah presentasi Powell itu, wartawan Los Angeles Times berupaya menuju lokasi yang disebut sebagai pabrik racun kimia tsb. Apa yang disebut orang penting AS itu sebagai pabrik racun kimia milik teroris ternyata cuma pabrik racun tikus komersil.

Kebohongan AS tentang penghancuran fasilitas publik di Irak

Saat aliran listrik kota Baghdad putus akibat bombardemen AS, juru bicara Pentagon, Victoria “Tori” Clarke dengan terburu-buru meyakinkan dunia bahwa mereka tidak menjadikan jaringan listrik kota sebagai target militer.”Itu bukan perbuatan kami,” kilahnya.

Fakta menunjukkan bahwa AS memang telah menargetkan sebagian jaringan listrik sebagai sasaran pengeboman mereka. Di utara, sebuah regu operasi khusus ternyata merancang penyerangan Bendungan Hadithah pada awal April. Human Right Watch mendokumentasikan sedikitnya ada dua serangan terhadap jaringan listrik di selatan Baghdad, di sepanjang jalan tol, dengan menggunakan misil Tomahawk berselubung serat karbon. Serangan ini telah direncanakan mengingat penggunaan serat karbon dalam misil memerlukan persetujuan langsung dari Washington.

Kebohongan AS tentang dirty bomb Irak

Pada bulan Juni 2002, seorang ekspatriat asal Irak, Khidhir Manza, menceritakan pada harian Wall Street Journal bahwa situasi saat ini merupakan “saat ideal bagi negara2 seperti Irak untuk melatih dan mendukung suatu operasi teroris dengan menggunakan senjata radiasi.” Wawancara dengan Khidhir ini rupanya diatur oleh Iraqi National Congress, kelompok warga pengasingan Irak, dan direncanakan oleh Rendon Associates ( penasehat humas AS dalam Perang Teluk 2 ). Pendanaan wawancara dilakukan oleh Gedung Putih.

Demi mendongkrak kredibilitas Khidhir Manza, seorang pejabat intelijen yang menolak disebut namanya, terlebih dahulu telah memberi informasi ke International Herald Tribune bahwa mereka selalu waspada dengan kemungkinan adanya “dirty bomb” yang dilakukan Irak. Pembaca yang cerdik akan mencatat bahwa sumber tanpa nama ini tidak pernah menyatakan bahwa Irak benar2 memiliki kemampuan untuk melakukan dirty bomb.

Kebohongan AS tentang serdadunya yang gagah berani

Permainan persepsi publik juga dilakukan lewat pemanfaatan para veteran perang. Adalah letnan Scott Speicher, perwira yang tertembak dalam Perang Teluk I tahun 1991, yang berusaha menghasilkan simpati publik dengan mendukung kebijakan “pre-emptive strike” presiden Bush. Ia mulai menyebarkan cerita2 heroik ke berbagai media massa di AS. Gardiner menyebutnya, pola khas dari sebuah cerita rekayasa.

Disebutkan, bahwa sang letnan sesungguhnya bukan saja selamat dari kematian, tetapi ia ternyata menghabiskan waktunya dalam sekapan di sebuah penjara di Irak. Pejabat Irak terang saja membantah cerita tersebut. Donald Rumsfeld, ketika dikonfirmasi tentang bantahan tsb, dengan lihai membalikkan pernyataan,” Saya tidak percaya dengan apa yang rezim Irak katakan.”

Yang aneh, pada bulan Januari 2001, status Speicher diubah dari KIA ( Killing in Action ) atau gugur dalam tugas menjadi MIA ( Missing in Action ) atau hilang dalam tugas. Saat kekuatan koalisi bergabung di Timur Tengah, tiba2 status Speicher diubah sekali lagi menjadi “tertangkap”. Pejabat marinir yang dihubungi ABC News menyatakan bahwa mereka telah dipaksa untuk membuat perubahan ini.

Pada bulan Januari,”pejabat intelijen” membocorkan informasi kepada media bahwa Speicher masih hidup. Dan di bulan April, sekretaris departemen propaganda kembali menyebarkan informasi bahwa inisial nama Speicher ditemukan di dinding sel sebuah penjara di Irak. Gardiner menganggap informasi ini aneh, karena biasanya setiap berita mengenai tawanan perang AS dijaga secara hati2, karena khawatir menimbulkan harapan berlebihan pada keluarganya. Menyebarkan informasi seperti itu, kata Gardiner, amat ceroboh dan membahayakan tawanan.

Setelah Baghdad jatuh dan perhatian media telah digeser oleh kegagalan AS membuktikan WMD ( senjata pemusnah massal ), seorang wartawan menanyakan kembali status para tentara AS yang hilang dalam tugas di Irak. Rumsfeld menjawab secara samar bahwa tidak ada perkembangan berarti sampai mereka mendapat informasi baru.

Baru pada Juli 2003, investigasi Washington Times menyimpulkan bahwa tidak ada bukti bahwa Speicher pernah ditawan di Irak.

Kebohongan AS tentang orang2 Irak yang menguji bom cluster

Pemerintah AS sempat mendiskreditkan Hans Blix dan UNMOVIC-nya. Blix berulang kali menegaskan, dari hasil inspeksi PBB ke Irak, tidak ada bukti sama sekali tentang adanya senjata mematikan milik Irak. Pemerintah melontarkan pernyataan pada Boston Globe bahwa Blix tidak memberi penjelasan yang cukup detail tentang kemungkinan keberadaan bom cluster yang mematikan.

Juru bicara presiden AS waktu itu, Ari Fleischer, mengklaim bahwa AS amat peduli dan berkepentingan tentang nihilnya hasil inspeksi UNMOVIC. Amerika sampa merasa perlu menyiarkan sebuah rekaman video tentang dugaan orang2 Irak yang tengah menguji bom cluster.

Kabar burung tentang bom ini terus-menerus digembar-gemborkan AS. Faktanya, surat kabar dan TV menyadari, tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan Irak memiliki senjata tsb, baik sejak Perang Teluk 1 hingga kini.

Kebohongan AS tentang insinyur2 Irak bersiap menyerang jaringan komputer AS

Paul Wolfowitz pernah membawakan paper presentasi di depan Council on Foreign Relations yang memperingatkan bahwa para insinyur Irak sedang menyiapkan suatu serangan besar-besaran terhadap jaringan komputer Amerika. Peringatan ini berasal dari satu sumber, yang menyebutkan bahwa Dinas Intelijen Irak bekerja sama dengan perusahaan software Babylonia akan mencoba menembus sistem komputer AS, mencuri dokumen, dan menyebar virus. Bualan mantan dubes AS untuk Indonesia itu tidak jelas juntrungannya sampai sekarang.

Kebohongan AS tentang tentara Irak berseragam AS untuk merusak citra AS

Kebohongan AS tentang rudal Irak ( scud ) yang bisa mencapai wilayah Israel

Kebohongan AS tentang pesawat mata2 mini remote Irak

Kebohongan AS untuk mendiskreditkan Perancis, Jerman, yang tak mendukung invasi AS di Irak

Kebohongan AS tentang suap yang diterima Galloway, kritikus Inggris, untuk mendiskreditkannya

Kebohongan AS tentang bendera putih untuk menutupi salah tembak pasukan sendiri

Kebohongan AS tentang dieksekusinya 2 tawanan Inggris yang telah menyerah oleh tentara Irak

Kebohongan AS tentang pengeboman distrik Shula karena Irak salah peluncuran

Kebohongan AS tentang menyerahnya seluruh divisi tentara Irak

free html visitor counters
hit counter
Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: