dari Palestina sampai Indonesia

184 tewas dalam kerusuhan di kawasan muslim Uighur, Cina

Posted in internasional by nurray on 07/07/2009
Anak2 muslim Uighur sedang sholat Jumat di luar masjid Id Kah

Anak2 muslim Uighur sedang sholat Jumat di luar masjid Id Kah

Media lokal Cina, Xinhua, Senin ( 6/7/2009 ) melaporkan sedikitnya 140 orang tewas dan lebih 800 orang terluka dalam kerusuhan dan kekerasan di Xinjiang, wilayah barat Cina. Beberapa ratus orang ditangkap setelah kekerasan terjadi di kota Urumqi, Xinjiang, Minggu ( 5/7/2009 ) waktu setempat.

Aksi yang melibatkan kelompok muslim Uighur itu merupakan kerusuhan etnik yang mematikan di Cina dalam 20 tahun terakhir sejak kerusuhan di Tiananmen Square. Hingga Senin, pasukan polisi anti huru-hara dan militer lengkap dengan senjata dan perisai menjaga ketat Urumqi.

Kekerasan yang terjadi di ibukota regional Urumqi itu melibatkan sedikitnya ribuan massa dan dinyatakan korban meninggal kemungkinan akan bertambah menyusul pendataan dan banyaknya korban terluka parah dan serius. Para pejabat pemerintah telah menangkap beberapa ratus orang yang terlibat dalam aksi kekerasan tsb.

Pemerintah regional Xinjiang menyalahkan Rebiya Kadeer, pemimpin etnik Uighur yang tinggal di pengasingan di Amerika Serikat atas kerusuhan dan kekerasan yang terjadi. Warga Uighur di pengasingan menuding pasukan keamanan Cina bereaksi berlebihan dalam memadamkan aksi unjuk rasa yang disebutnya berjalan damai.

Pasukan pemerintah berjaga di depan warga Uighur yg marah, karena kehidupannya terdesak oleh etnis Han.

Pasukan pemerintah berjaga di depan warga Uighur yg marah, karena kehidupannya terdesak oleh etnis Han.

Serangan terhadap etnik Han pernah terjadi sebelumnya. Kerusuhan kali ini tampaknya merupakan gaung dari kekerasan di Tibet, Maret tahun 2008. Ketika itu warga Tibet Budha turun ke jalan2 di ibukota Lhasa dan menyerang kelompok Cina Han, menyusul keputusasaan atas apa yang mereka sebut sebagai kekuasaan Cina yang represif.

Kelompok Uighur mengaku sering mendapat penganiayaan politik, kebudayaan dan keagamaan dari penguasa Cina. Hal serupa juga dialami warga Tibet. Mereka mengeluh tentang pergerakan Cina Han ke Xinjiang dan mendominasi kehidupan ekonomi dan politik kawasan itu.

Tayangan singkat yang disiarkan jaringan pemerintah, CCTV, menunjukkan seorang pria menyerang mobil polisi, jendela2 pecah, seorang wanita ditendang dan terbaring di dasar jalan. Sejumlah bus dan kendaraan lainnya rusak dan terbakar.

“Semua pemilik toko di jalan sangat ketakutan,” ungkap pemilik bar Han Cina yang enggan menyebut namanya. Ia mengestimasi sedikitnya ada 3000 pengunjuk rasa Uighur, beberapa diantaranya mengenakan seragam militer, dengan tongkat kayu dan pisau.

”Mereka menyerang orang2 Han. Sedikitnya 10 bus dibakar dan beberapa kendaraan pribadi lainnya dirusak. Saya melihat sebagian orang terbaring di jalan dan berdarah. Seorang pelajar pria tewas,” kata seorang wanita Cina yang melihat kerusuhan dari lantai 11 rumah sakit lokal.

Polisi anti huru hara dan pasukan militer dengan menggunakan senjata dan membawa perisai tampak di Urumqi, Senin ( 6/7/2009 ), melakukan penjagaan dan mencegah aksi protes susulan. Satu truk anjing polisi Jerman jenis Shepherd juga dibawa ke Urumqi dan ke pusat2 muslim di kota itu untuk menutup dan menjaga ketat seluruh wilayah. ( AFP/BBC/PR, 7/7/2009 )

Simpati dunia untuk muslim Uighur, Cina

Aksi demo untuk mengekspresikan rasa simpati kepada etnik muslim Uighur berlangsung di berbagai penjuru dunia. Di Jakarta, ratusan umat Islam yang tergabung dalam Gerakan Reformis Islam menggelar aksinya di depan Kedutaan Besar Cina, di Mega Kuningan, Jakarta, Senin ( 13/7/2009 ).

Para pengunjuk rasa mulai berdatangan sejak pukul 10.30 WIB. Mereka membawa sejumlah spanduk dan poster yang di antaranya bertuliskan “Free Xin Jiang”, “China Communist is Barbarian” dan “Hentikan Pembantaian Kaum Muslimin di Xinjiang”. Para pengunjuk rasa juga menuding pemerintah Cina telah melakukan rekayasa informasi sehingga berita yang beredar di masyarakat simpang siur.

Sebelumnya, ribuan warga Turki di Istambul, Minggu ( 12/7/2009 ), mengecam kekerasan etnik di Xinjiang dan meminta pemerintah mereka ikut campur melindungi umat Islam Uighur di Xinjiang. Demo juga terjadi di Ankara, Oslo, Munich dan Belanda.”Kedutaan Cina dan konsulat di beberapa negara mendapat kritik dan tentangan berupa aksi demonstrasi. Serangan melawan misi diplomatik Cina dan kerusuhan di Urumqi tampak terorganisasi dengan baik,” ungkap Kantor Berita Xinhua.

Sementara itu, suasana ibukota Urumqi masih tampak tegang. Namun perekonomian sudah kembali berjalan meski belum sepenuhnya normal. Aktivitas berjalan di bawah penjagaan ketat aparat keamanan yang bersenjata lengkap, hari Senin. Sebagian kendaraan keamanan yang semula disebarkan di lokasi rawan aksi protes, sudah ditarik kembali. Pada hari yang sama, warga setempat melaporkan, telah terjadi penembakan di daerah muslim Uighur.

Sejak pekan lalu, puluhan ribu polisi anti huru-hara dan pasukan para militer disebarkan dan berpatroli menutup ruas2 jalan di pusat kota setelah terjadi kekerasan antar etnik. Kerusuhan yang dimulai 5 Juli lalu menewaskan 184 orang dan melukai 1.680 orang lainnya. Lebih dari 900 orang masih dirawat di rumah sakit, 74 diantaranya dalam kondisi luka serius dan terancam jiwanya. Hari Senin ( 13/7 ), kehidupan ekonomi sudah mulai berjalan meski belum normal dan masih diselimuti kekhawatiran.

Kota Urumqi, Xinjiang, Cina.

Kota Urumqi, Xinjiang, Cina.

Di provinsi Xinjiang, etnik Uighur berjumlah sekitar 9 juta jiwa. Sebagian besar di antara mereka berkebudayaan dan berbahasa Turki serta menganut agama Islam. Mereka mengeluhkan masuknya etnik Cina Han dan mempertanyakan pelarangan pemerintah terhadap kepercayaan Islam yang dianut etnik Uighur. Etnik Uighur menuduh Partai Komunis Cina melakukan diskriminasi dengan mencoba menghilangkan kebudayaan dan bahasa mereka.

Etnik Cina Han didorong pemerintah Cina untuk bermigrasi ke Uighur. Pemerintah menyakinkan Uighur bahwa masuknya entik Cina Han akan mendorong kemajuan bagi Xinjiang, termasuk pertumbuhan ekonomi. Kehadiran Cina Han disebutkan akan membawa pembangunan sekolah2 baru, jalan2 tol, bandara, jalur kereta api, pertambangan gas alam dan minyak. Uighur menginginkan kemerdekaan dan otonomi yang luas bagi provinsi Xinjiang yang menguasai 1/6 tanah Cina dan berbatasan dengan 8 negara Asia Tengah. ( AP/AFP/Rtr/PR, 14/7/2009 )

Muslim Uighur, kelaparan, sulit kerja. Pertumbuhan ekonomi dinikmati Cina Han.

Apa yang dikeluhkan kelompok minoritas Uighur di Xinjiang, Cina ? Keluhan umum adalah larangan menjalankan ibadah Islam, menggunakan bahasa Turki atau menggelar budaya Asia Tengah. Namun, dalam beberapa kali wawancara di kota Urumqi, tempat tewasnya 184 orang korban kerusuhan, keluhan terbanyak adalah mereka merasa dikecualikan dalam kesempatan ekonomi.

Xinjiang yang dihuni 2 % dari total populasi Cina, merupakan wilayah yang sangat kaya minyak, mineral dan hasil pertanian. Kebijakan pembangunan mendongkrak GDP wilayah tsb dari 20 milyar USD tahun 2000 menjadi 44,5 milyar USD tahun 2006. Meski terjadi kenaikan, banyak etnik Uighur merasa pertumbuhan ekonomi itu hanya menguntungkan etnik Cina Han yang mayoritas, sedang mereka sama sekali tak merasakan.

“Jika anda Han, anda memiliki banyak peluang. Tetapi, jika anda dari kelompok Uighur, tidak ada yang bisa anda lakukan. Kami semua kelaparan. Kami semua pergi mencari pekerjaan, tetapi mereka mengatakan tak menginginkan pekerja dari etnik Uighur,” ungkap seorang pria Uighur di Urumqi.

Kerusuhan etnik yang menewaskan 137 Cina Han, 46 Uighur dan 1 Cina Hui muslim adalah ekspresi ketidakpuasan ekonomi kelompok Uighur. Mereka merasa pemerintah tidak membela dan melindungi mereka. Mereka merasa diperlakukan diskriminatif. Tidak memiliki peluang di kampung halaman mereka, juga tidak memiliki kesempatan di tempat lain.

Uighur pernah menawarkan undang2 suaka ekonomi agar badan usaha milik negara dengan kuota tertentu harus mempekerjakan kelompok minoritas. Akan tetapi, menurut Barry Sautman, professor ilmu sosial di Universitas Sains dan Teknologi Hongkong, perekonomian Xinjiang berkembang dengan privatisasi, sehingga menghilangkan kesempatan2 tsb. Beberapa tahun yang lalu, Xinjiang memang tumpuan bagi badan usaha milik negara. Dengan demikian, relatif mudah bagi warga etnik Uighur dengan kualifikasi tertentu untuk mendapat pekerjaan. Namun, sekarang dengan sejumlah privatisasi ekonomi, hal itu menjadi lebih sulit. Perusahaan menentukan masing2, siapa yang ingin mereka pekerjakan.

Seperti minoritas lainnya, etnik Uighur diberikan sejumlah poin tambahan dalam ujian masuk di perguruan tinggi Cina. Sebagai kelompok minoritas, mereka tidak memiliki pendidikan dengan tingkat yang sama dengan etnik Cina Han. Banyak pelajar Uighur yang tidak lancar berbahasa Mandarin. Manajer2 perusahaan yang bermarkas di luar Xinjiang, sering mempekerjakan pekerja berdasarkan jaringan atau daerah asal. Mereka memilih menyisihkan pekerja Uighur dan meninggalkan mereka dalam ketidakberuntungan.

Cina tidak memiliki hukum dalam masalah keadilan perekrutan, sehingga walau mereka memiliki pengalaman dan keahlian yang cukup, namun karena tidak memiliki koneksi, mereka tetap menghadapi diskriminasi di pasar kerja. Uighur juga mengalami peremehan dalam mendapatkan pekerjaan.

Sejumlah saksi mata mengatakan, para pembuat kerusuhan pekan lalu, tampaknya pekerja miskin dari wilayah selatan, bukan penduduk setempat. Pemerintah menyatakan, kerusuhan terjadi karena dihasut oleh pihak asing. Sementara, masalah ketidakpuasan yang dialami Uighur sendiri, tidak dianggap pemerintah sebagai pemicu kerusuhan.

Pertumbuhan ekonomi Cina ternyata melegitimasi mayoritas dan menyisihkan minoritas. Semakin kaya Cina, kaum minoritas semakin tersisihkan. Dilema bagi perancang pembangunan. ( PR, 15/7/2009 )

Komen Nurray :

Sudah banyak disebut orang, hanya Islam yang bisa mengayomi minoritas. Di Indonesia, dulu etnis keturunan Tionghoa pernah diberangus kebudayaan nenek moyangnya oleh rezim Orde Baru. Tak pernah keduanya ditutup ( ekonomi & budaya ) seperti yang dialami etnik Uighur hari ini. Sehingga etnis Tionghoa masih bisa menunjukkan keberadaan dirinya pada sektor ekonomi. Lalu terjadi kerusuhan Mei yang menjadi catatan kelam sejarah bangsa kita, dipicu kecemburuan sosial pada kemakmuran non pri di dada para pribumi.

Masa pemerintahan Abdurahman Wahid, katup budaya dibuka, etnis Tionghoa bisa berkiprah di banyak sektor. Agar mereka tak malu dengan perantau senegaranya di negara lain. Punya karya di negeri tempat tinggalnya kini, juga anak cucunya kelak. Ada Kwik Kian Gie, Marie Pangestu menjadi menteri dalam kabinet. Tarian barongsai bisa kita temui di perayaan Imlek, tidak cuma di pembukaan kedai obat Wong Fei Hung di film “Kungfu Master”. Olah raga wushu juga menjamur di mana2, sehingga pendekar pedang dan toya ikut memeriahkan karnaval2 di jalanan kota. Tidak cuma di serial silat mandarin yang mencapai ratusan jilid di ruang audio visual kita. Betapa indahnya keragaman itu, bukan ? Bhineka Tunggal Ika.

Kembali ke Urumqi, saya seperti melihat kemiripan dengan kaum kulit hitam di Amerika. Sekolah2 kulit hitam dibuat tidak bisa bersaing dengan sekolah kulit putih. Pelajar SMU kulit hitam diberi fasilitas dan pelajaran sekelas pelajar SMP kulit putih. Sehingga lulusan terbaik SMU kulit hitam itu hanya bisa terisak menangis ketika tertinggal banyak pelajaran dan praktikum setelah menjadi mahasiswa tingkat I di perguruan tinggi umum. Yang patah arang lalu menjual drunk di Bronx atau kawasan rawan lainnya. Penjara2 Amerika disesaki oleh mereka. Genosida halus gaya Amerika.

( Keheranan saya, apa Obama terpilih karena pencitraan luar biasa oleh media zionis. Siasatnya : harapan tinggi digantungkan rakyat AS ke pundak Obama, mereka dikecewakan, lalu haluan kembali dikendalikan oleh pemerintah sesungguhnya Gedung Putih sejak lama. Lobi Yahudi. Lebih mudah begitu, daripada berhadapan frontal seperti masa perang saudara dahulu ).

Apa Cina memiliki kekuatiran yang sama, kaum ber-Tuhan akan menggantikannya suatu saat kelak ? ( Yahudi & Cina, sama2 mengandalkan kekuatan otak kiri, relatif menonjol di bidang ekonomi ) Sehingga represif dan pilih kasih untuk mencegahnya. Belum lagi, lawan kita setelah zionis Yahudi, adalah Yajuz Majuz. Apa mereka sudah mengantisipasinya ? Saya masih terus menyimak kejadian di sana.

Danau Tianchi, Xinjiang, Cina.

Danau Tianchi, Xinjiang, Cina.

Muslim Uighur diinterogasi militer AS

Anggota militer AS di Teluk Guantanamo, Kuba, secara aktif membantu Cina menginterogasi anggota etnik minoritas Uighur termasuk menahan fisik mereka yang menentang saat difoto. Pernyataan dalam testimony yang dipublikasikan Kamis ( 16/7/2009 ) waktu setempat, diyakini akan menambah kontroversi tentang penanganan pemerintah AS terhadap kelompok Uighur yang diserahkan pemburu komersil pada pasukan AS di Afganistan dengan 5000 dolar AS pertawanan. Sebenarnya, kelompok Uighur bersih dari segala hubungan dengan terorisme dan diperintahkan untuk segera dibebaskan dari Guantanamo. 9 orang sudah dibebaskan dan lebih dari 13 orang lainnya masih dipenjara. ( McClatchy/PR, 18/7/2009 ).

free html visitor counters
hit counter
Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: