dari Palestina sampai Indonesia

Warga New York ( AS ), London ( Inggris ), Canberra ( Australia ), Amsterdam ( Belanda ), Paris ( Perancis ), Jenewa ( Swiss ), Korea Selatan, Jepang mengkritik tindakan tegas pemerintah Iran.

Posted in dunia muslim by nurray on 29/07/2009
Demo Neda di Kanada

Demo Neda di Kanada

Aksi unjuk rasa yang memprotes tindakan tegas pemerintah Teheran terhadap para pendukung kelompok oposisi Iran, digelar di berbagai kota di dunia pasca Ahmadinejad terpilih kembali menjadi presiden Iran untuk kedua kalinya.

Kelompok pengunjuk rasa termasuk pemantau hak asasi manusia ( HAM ) dan Amnesti Internasional mendukung demonstrasi global, Sabtu ( 25/7/2009 ) di New York, yang meminta agar pemerintah Iran mengakhiri tindakan tegasnya terhadap para pengkritik pemerintah.

Para demonstran yang turun ke jalan di berbagai negara itu juga mendesak agar PBB melakukan penyelidikan terhadap tuduhan adanya pelanggaran hak di Iran. Menurut sejumlah organisasi yang menggalang aksi demo ini, protes dilakukan di sekitar 8 kota di berbagai negara di dunia.

Ratusan pengunjuk rasa ikut bergabung dengan salah satu demonstrasi di luar kedutaan besar Iran di London, Sabtu waktu setempat. Sementara ratusan orang lainnya melakukan aksi serupa di seluruh kota negara Eropa, termasuk di Amsterdam, Paris, Praha dan Jenewa.

Beberapa jam sebelumnya, para demonstran di Korea Selatan, Jepang dan Australia memprotes pemerintah Iran. Di ibukota Australia, Canberra, sebagian pengunjuk rasa meminta agar pemerintah negara2 Barat mengambil tindakan keras terhadap pemerintah Iran yang dipimpin Ahmadinejad.

“Pemerintah Australia harus menolak kedutaan besar Iran dan mengirimkan isyarat besar,”kata Ardeshir Gholipur, bekas tahanan politik Iran di hadapan para pengunjuk rasa di Canberra. Dr.Aaron Rhodes, anggota Persatuan Iran, koalisi yang mengorganisir “aksi global sehari” mengatakan, ratusan pendukung oposisi masih di penjara tanpa proses lebih lanjut. Pemenjaraan disebutnya telah berlangsung sebulan lebih usai pilpres.

Ia mengatakan, tidak adanya transparansi terhadap mereka yang ditahan dan kurang mendapat hak2nya.”Pesan kami sangat simpel. Kami mendukung hak2 asasi manusia dan juga hak sipil di Iran, dan kami meminta kepada pemerintah Iran untuk menghentikan penyalahgunaan kekuasaan, menghentikan pemenjaraan orang2 yang tak bersalah dan penyiksaan terhadap tahanan serta menghentikan kekerasan terhadap orang yang hanya mencoba mendapat perlindungan hak asasi manusia dari dunia internasional serta menggelar protes damai,” kata Rhodes.

Meski aksi protes sebagian besar bisa dipadamkan, namun ketegangan politik masih terus berlangsung di Iran, karena 2 kandidat lain yang kalah menolak hasil pilpres. Untuk meredakan aksi protes, pemerintah menerapkan tindakan tegas terhadap para pengunjuk rasa hingga aksi mereda. Sebagai ganti aksi unjuk rasa, kedua capres itu bersama bekas presiden Iran, Mohammad Khatami menyerukan agar para tokoh agama Iran berhenti melakukan penindasan terhadap para pendukung mereka.

Dalam salah satu pernyataan yang disampaikan di situs Mousavi, mereka mengatakan pihaknya ingin agar para tokoh agama itu mengingatkan pemerintah untuk tindakan menyakiti yang telah dilakukannya dan mencegah mereka untuk menyebarkan tekanan di republik Islam itu. ( AFP/Al-Jazeera/PR,27/7/2009 )

Komen Nurray : Apa bukan kebetulan negara2 yang mengkritik ketegasan pemerintah Iran adalah juga negara2 yang menduduki Afganistan ? Gara2 Iran ogah datang ke pertemuan Barat yang membahas persoalan Afganistan beberapa waktu lalu ? ( ketika Iran sedang digoyang kerusuhan pasca pilpres, gara2 provokasi negara2 pro-Barat, terutama AS, Inggris dan Israel ). Licik ?

19 tewas di Teheran, 1200 tewas di Afganistan. Apakah sebanding ? Tahanan politik di Iran baik2 saja, bahkan bisa berteriak lantang seperti Aaron Rhodes itu. Di penjara Abu Ghraib, militer AS menyiksa pejuang2 Irak dan Afganistan itu sampai memutilasi, masuk peti mati alias dead. Boro2 teriak. Iran baru sebulan, Afganistan sudah 8 tahun. Apa warga 8 negara itu hanya melihat info sepenggal ? Tidakkah mereka berpikir, pemerintah Iran punya alasan kuat menindak tegas para perusuh dan pendukung Mousavi yang mengabaikan pemimpin tertinggi Iran, Ayatolah Khamenei, menyatakan hasil pilpres benar ?

Teheran, ibukota Iran, saat malam.

Teheran, ibukota Iran, saat malam.

Warga Iran tak sudi negerinya dikuasai orang yang dikontrol Barat, dalam hal ini coba dipaksakan Mousavi dan Karroubi, lalu berbuntut kerusuhan. Salahkah pemerintah dan pemuka agama di Iran menertibkan warganya yang bisa membahayakan masa depan Iran ? Apakah warga ke 8 negara pro-Barat itu cuma menelan mentah2 kebohongan ke sekian kalinya pemerintahnya ( mereka juga dibohongi pasukan negaranya mengejar Osama bin Laden, padahal yang dikejar opium/ minyak di Kaspia ). Sayangnya, mereka tak berusaha mencari kebenarannya.

Mencoba berempati persoalan Iran dengan yang kita rasakan di Indonesia pasca pilpres 2009 ; Kita marah terjadi ledakan bom di Mega Kuningan, Jakarta ( 17/7/2009 ), setelah 4 tahun kita bekerja keras meminimalisir dampak bom Bali-2 tahun 2005 pada perekonomian dan dunia pariwisata kita. Kita marah presiden pilihan 60,08 % rakyat Indonesia, SBY, jadi sasaran tembak sniper/ diintimidasi pihak tertentu. Kita marah, hasil KPU dan quick count, ditolak 2 kandidat capres lain saat pengumuman resminya ( 26/7/2009 ). Kita tak ingin kekisruhan di Iran pasca pilpres terjadi di negeri kita.

Pada masa krusial ini, selisih suara, DPT dan kekurangan KPU, prioritasnya di bawah keutuhan bangsa Indonesia. Apalagi, ada salah satu kandidat yang mengancam akan membawanya ke Mahkamah Internasional jika protesnya tidak ditanggapi. Apa dia tak ingat, Sipadan dan Ligitan lepas dari NKRI karena dibawa ke Makamah Internasional ? Timor Timur lepas dari NKRI karena intervensi PBB ke mantan provinsi ke-27 Indonesia ini. MI dan PBB diciptakan untuk melayani kepentingan negara2 imperalis Barat. Tidakkah kita marah, para senior membuat kita berdebar dengan pertaruhan ini demi alasan legitimasi pemilu ? ( jika niatnya bersih, agar pemilu 2014 lebih legitimated, saya bisa mengerti, tapi jika ditunggangi kepentingan lain yang menyimpang, saya benar2 marah ).

Kekurangan KPU mestinya kita maklumi dengan fakta pemangkasan biaya pemilu dan 38 partai pemilu ( anda bayangkan berapa pihak bermain/ berusaha memenangkan partainya dengan segala cara ). Sinyalnya sejak pileg, surat2 suara tiba terlambat di beberapa TPS karena ketiadaan transpor, membuat sebagian orang tak bisa memilih. Banyak penyelenggara TPS, anggota PPS, terpaksa merogoh kocek sendiri agar warga tetap bisa mencontreng, menggunakan haknya. Bahkan, untuk menyemangati warganya, beberapa PPS rela/ tampak gembira berkostum wayang, kabayan, busana daerah dll, menyediakan ubi, singkong juga door prize agar warga tertarik datang memberikan suaranya. Mengharukan, sekaligus membanggakan.

Anda bisa berimajinasi dampak minimnya biaya penyelenggaraan pemilu juga berdampak pada kurang sempurnanya DPT dan aspek lain. Apa kekurangan ini langsung divonis kecurangan ? Rasanya kurang bijak. KPU sudah bekerja keras, kita patut memberi apresiasi positif pada mereka. Menolak pilpres ? Maaf, saya kurang simpati dengan tindakan itu. Pilpres ulang ? Saya takkan mencontreng penggagas ide boros ini. Ke Mahkamah Internasional ? No way, man, penggagas ide konyol ini akan saya black list seumur hidup !

( Melihat Today’s Dialogue-Metro TV semalam ( 28/7/2009 ) yang menghadirkan 3 pengacara dari 3 kubu tim sukses capres. Saya melihat I Gusti Putu Artha ( wakil KPU ) beritikad baik menyukseskan pemilu 2009 dengan segala keterbatasan yang ada. Tak ada wajah licik atau secara sengaja mempermainkan. Ia tulus & cukup bisa diterima. Sebaliknya, saya melihat  pak Gayus dan bu Elza  terlihat sensitif  &  mudah dipicu.  Mirip respon yang diperlihatkan Prabowo dalam beberapa wawancara. Gagal mengelola emosi. Megawati juga, kalau tidak suka, kentara sekali.

Prabowo boleh jadi prajurit tulen,  salah satu yang terbaik di Indonesia, mungkin juga di dunia. Saya bisa rasakan semangat kebangsaan membuncah di dadanya. Menaklukkan puncak Himalaya, mengawal tim polo demi Indonesia. Saya tak ragukan kegigihan & kesatriaannya jika itu menyangkut bangsa dan negara kita. Ia juga bintang dalam jajaran debat cawapres kemarin. Salah satu wakil kaum muda berbakat yang lahir di bumi pertiwi.

Tapi kenapa ada kesan menakutkan pada kehadirannya ? Berbeda dengan SBY yang santun, meski agak kaku tapi ada rasa aman di dekatnya. Mungkinkah yang lain merasakan hal sama ? Lalu saya teringat B.J.Habibie ketika menyalahartikan komunikasinya dengan Prabowo sebelum ia diminta meletakkan jabatannya di kemiliteran. Apakah Habibie merasakan hal yang sama ? Aura yang dibawa Prabowo menekannya hingga salah paham.

Dunia politik penuh dengan “tarian”, keluwesan, intrik dan kelicikan. Saya kuatir Prabowo yang lurus & tegas, tak cukup sabar untuk mengikuti irama tarian. Itu sudah diperlihatkan dari beberapa penampilannya, juga ketika hasil pilpres diumumkan 26/7/2009 lalu.

Prabowo, Gayuz ( kubu Mega-Pro ) & Elza ( JK-Win ) yang terlihat intelek di awal dengan segepok data, langsung buyar dengan percikan emosi tak terduga.  Bintang malam itu diambil alih Rohut Sitompul yang sebetulnya kurang siap dibanding pengacara di kanan kirinya, tapi sikap santai dan kehandalannya bermain kata, mencuri perhatian pemirsa. Lalu saya juga mengamati tayangan2 sebelumnya ; Anas Urbaningrum, Tifatul Sembiring, Zulkiflimansyah, ketika beradu dengan wakil2 dari kubu lain, terlihat lebih cool, berbobot dan santun.

Eep Saefulloh pernah mengatakan  SBY adalah orang yang bisa mengambil keuntungan dari hal yang tidak dilakukannya. Lalu saya mengaitkan dengan peristiwa SBY menentukan siapa wapresnya di saat2 akhir. ( membuat positioning Jusuf Kalla terlambat sebagai capres, dan tim2 sukses kubu lain terlambat terbentuk, untuk menyikapi masa 30 hari DPT sebelum hari H pilpres, sehingga terjadi apa yang terjadi sekarang. SBY keluar sebagai pemenang ).

Ada tudingan USAID, panggung deklarasi ala Obama oleh Fox Indonesia. Saya kira kita perlu lebih smart menghadapi Amerika & antek2nya di Indonesia. Tapi saya akui, di banyak lini, orang2 SBY lebih unggul, dan saya mengapresiasinya dengan menerima hasil pilpres 2009 ini.

Untuk Kania Sutisnawinata, saya menikmati panduan anda di acara2 Metro TV. Good show. Sukses juga untuk Putu Artha & KPU. Kalian sudah bekerja keras untuk Indonesia. Terima kasih )

So, kita mengerti kekesalan pemerintah Iran pada ide boros dan konyol Mousavi, dukungan Barat, yang mendesak pemilu ulang. Sejak lama Iran diembargo Barat. Koceknya tak setebal kita ( bayangkan juga kekurangan yang mungkin terjadi dalam penyelenggaraan pemilunya. Kurang bukan berarti curang ).

Fakta, Iran berada di dekat krisis dunia. Palestina, Irak, Pakistan, Afganistan dalam pendudukan pasukan koalisi Barat. Boleh dibilang Iran dan Suriah, benteng terakhir, negeri2 muslim berdaulat penuh. Bermartabat, tidak disetir Barat. Para pejuang dari 4 negara muslim itu sedikit banyak bergantung kepadanya. Indonesia, negeri dengan jumlah muslim terbesar di dunia, mestinya berada di posisi Iran, sebagai pembela negeri2 muslim yang lebih kecil, yang sedang teraniaya. Nyatanya, tidak. Kita tidak melakukan secara negara, karena pemerintah kita moderat ( dalam pengaruh/ hutang Barat ). Kita berjuang secara individu atau kelompok kecil. Itu tak cukup kuat.

Karena absennya negara kita ( pada tahun2 sebelumnya, mungkin tahun ini juga ) pada tanggungjawab mengenyahkan tentara pendudukan di Palestina, Irak, Pakistan dan Afganistan, selayaknya kita tidak ikut-ikutan mengecam pemerintah Iran. Lihat dari sudut pemerintah Iran, baca media kredibel di sana, seperti koran Kayhan, lalu counter berita menyesatkan dari media2 Barat. Kabari saudara, teman, tetangga, pengunjung blog atau situs kita tentang situasi sebenarnya di Iran. Setiap Barat pimpinan AS itu menfitnah Iran, kita luruskan dengan pemahaman yang benar tentang Iran. Iran mereka jelekin 100 kali, Iran kita baikin 1000 kali. Karena informasi berulang ke otak bisa mengendap ke bawah sadar dan berujung tindakan. Kalau input jelek kita jadi jelek dan anarkis/ perusuh. Kalau input baik kita jadi baik dan pejuang/ pahlawan.

So, Indonesia United, Iran do not go down. Palestina, Irak, Pakistan, Afganistan don’t.

Company Logo design
hit counter
Iklan
Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: