dari Palestina sampai Indonesia

Ingin rakyat Indonesia sejahtera & bahagia ? Selamatkan KPK & Antasari !

Posted in indonesia by nurray on 04/08/2009

“Jika dibandingkan, ibarat di sini ( Polri ) buaya, di situ ( KPK ) cicak. Cicak kok melawan buaya ? Apakah buaya marah ? Enggak, cuma menyesal. Cicaknya masih bodoh saja,” ungkap Susno Duadji.

“Jangan dibandingkan dong, antara Kejaksaan dan KPK. Terlalu kecil KPK dibandingkan Kejaksaan Agung. Kewenangan Kejaksaan Agung jauh lebih luas, kok. Ngapain kita ngurusin kerjaan KPK ?” kilah Jasman Panjaitan.

Siapa sih yang masih bodoh dan kecil sebenarnya ? Allah Maha Tahu. Kami juga tahu.

Logika penyiksa memang suka jungkir balik. Merasa diri besar, orang lain kecil. Tinggal pites aja. Mampus. Mengherankan jika kalimat hiperbol itu keluar dari mulut jenderal polisi bintang 3 yang menjorokkan Antasari ke dalam sel tahanan ? Gara2 lembaga yang disebut Susno sekadar pembasmi tikus kantor itu menyadap telefon genggam Susno, sang jenderal dari institusi buaya. Petinggi Polri bisa berpikir dan berperilaku begitu memang ajaib. Hari gini.

Sebagai hukuman, Antasari digaruknya masuk sel, hanya karena sebuah perintah penyadapan. Masuk masa perpanjangan yang ketiga pula ( 3/8/2009 ). Yang sudah disiapkan sejak 6/7/2009. Begitu pula masa perpanjangan yang kedua lalu, sudah dipersiapkan sebulan sebelumnya. Lucu, ya ? Perpanjangan bukan dilihat dari kebutuhan penyidikan, tapi keinginan si buaya emosional ini. Sudah sirik, pendendam pula.

Kehadiran KPK terkait dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Ada korelasi antara kemerosotan kesejahteraan masyarakat dengan tingginya tingkat korupsi. Artinya, kehadiran KPK diharapkan dapat membahagiakan rakyat. Jika bicara rakyat, itu artinya 240 juta jiwa penduduk Indonesia, minus koruptor. Di bingkai itu, Polri mungkin cuma buaya, dan kita pemilik kebun binatang. Karena KPK adalah anak kandung reformasi, sang cicak kita perbolehkan di luar kandang, bahkan merayap di tembok rumah kita. Biarlah buaya tetap di kandangnya, karena rambu kebun binatang sudah ditabrak-tabraknya tanpa malu.

Di tayangan televisi, Kadiv Humas Polri minta para hacker Indonesia membantu mengungkap penulis blog Al Qoidah Indonesia yang mengaku bertanggung jawab atas peledakan bom J.W.Marriott dan Ritz-Carlton. Setelah rasa keadilan dan harapan masyarakat atas pemberantasan korupsi diobok-obok sedemikian rupa, ia minta begitu pada kita, kalian mau ? I don’t think so.

Pemilik kebun binatang ( rakyat + pejuang reformasi) siap menggiring buaya2 ( Polri, Kejaksaan Agung, DPR ) kembali ke kandangnya.

Dunia tahu kalau negara ini termasuk yang terkorup di dunia. Saking korupnya, sistem peradilan juga bagian dari tatanan korup itu, dan kini tengah mempertontonkan sandiwaranya yang memalukan, kolaborasi oknum2 polisi, jaksa, anggota dewan yang “terhormat”. Polri, Kejaksaan Agung dan DPR. Bukan main.

Meski KPK dipandang lembaga extra ordinary/ superbody, sesuai UU no.30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, kinerja lembaga ini masih dibatasi prosedur hukum/ birokrasi tertentu. Kekuasaan besar yang dimilikinya masih dibatasi aturan main yang berlaku.

Berbeda dengan koruptor. Menghalalkan segala cara, tak peduli etika, moral dan hukum. Tak ada hukum bagi mereka. Semuanya hanya permainan hukum. Hukum dipakai sebagai alat menjaga kegilaan mereka agar bebas bergerak tanpa hambatan untuk memuaskan hasrat. Dalam “Madness and Civilization”-nya Michel Foucault, gangguan pikiran ini disebabkan penyerahan diri pada nafsu dan kepentingan pribadi/ kelompoknya, dengan cara memutarbalikkan, bersekongkol, mendistorsi, merobohkan, memporak-porandakan hukum yang ada. Sampai berkembang pendapat irasional yang bertujuan mengubah persepsi massa. Masyarakat dibawa, digiring ke situasi mengambang, seolah kehadiran KPK adalah kesalahan dan tidak prosedural. KPK juga digembosi melalui mekanisme dan aturan main yang ada.

Korupsi kekuasaan yaitu pelaksanaan kekuasaan publik manapun, pada tingkat apapun menjadi jahat, tidak jujur, tidak bermutu, merusak kepercayaan publik, tidak peduli perasaan rakyat. Kondisi yang sedang diciptakan para pemandul KPK dan pelanggeng kekuasaan sekarang ini. Kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang, ceroboh, asal-asalan. Menilep uang rakyat, menyusun undang2 asal-asalan, memperlambat pembahasan RUU Tipikor, menangkap orang asal-asalan, menyidik sewenang-wenang. Merusak integritas kekuatan publik. Masyarakat digiring menjadi toleran terhadap korupsi, iklim korup dipertebal, hukum digerogot habis.

Kehadiran KPK untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan penegakan hukum yang adil. KPK memiliki legitimasi rakyat. Akankah KPK berakhir ? Ataukah lebih matang ? KPK makin perkasa memberantas korupsi dan makin mampu menjalankan fungsi simboliknya, yaitu ekspresi nilai ideal dan penjaga harapan masyarakat.

Prestasi KPK tak pernah terjadi di pengadilan umum. 20 tahun versus 6 bulan penjara

Para aktivis antikorupsi telah menduga serangan balik sangat dahsyat menimpa KPK dan Pengadilan Tipikor. Mengaca pengalaman Independent Commission Against Corruption ( ICAC ) atau Lembaga Anti Korupsi Hongkong yang membongkar korupsi oleh kepala polisi Hongkong. Tersangka menyimpan aset 4,3 juta dolar Hongkong dan menyembunyikan uang 600.000 dolar AS. Kantor ICAC diserang polisi Hongkong. Akan tetapi, Pengadilan Anti Korupsi Hongkong membuktikan tindakan korupsi tsb. Maka, ICAC selamat.

Antasari Azhar & SBY

Antasari Azhar & SBY

KPK tidak kalah mengkilat prestasinya dari ICAC, Hongkong. Para pejabat sudah merasakan gebrakan KPK. Sebut saja, KPU periode 2002-2004, Kejaksaan Agung, Dirjen Departemen Administrasi Hukum dan HAM, Komisi Judicial, Komisi Pengawas Persaingan Usaha ( KPPU ), DPR, Bank Indonesia, bahkan penyidik KPK sendiri ( anggota polisi yang diperbantukan, ia memeras notaris perempuan dengan ancaman statusnya sebagai saksi akan ditingkatkan menjadi tersangka jika ia tak diberi uang, ponsel terbaru dan diberangkatkan haji ). Kemudian, puluhan gubernur/ mantan gubernur dan bupati/walikota juga pengacara/ advokat.

Dari semua kasus dan tersangka yang disidik KPK dan dilimpahkan ke pengadilan, tidak ada satu pun terdakwa yang bebas. Prestasi gemilang KPK dan Pengadilan Tipikor tidak pernah terjadi di pengadilan umum. Di pengadilan umum, jumlah koruptor yang bebas dari hukuman lebih banyak daripada yang dihukum. Itupun rata2 cuma 5,82 bulan penjara. Bandingkan dengan Urip Tri Gunawan, mantan jaksa terbaik di Kejagung, yang diganjar 20 tahun penjara setelah terbukti menerima suap dari Artalyta Suryani, tangan kanan bos BDNI, Sjamsul Nursalim, sebesar 660.000 dolar AS.

Dosa konspirator penggembos KPK dan Pengadilan Tipikor

Saya bayangkan jika konspirasi keji yang menyudutkan Antasari dan KPK ini akhirnya terbongkar, akan menjadi skandal terbesar tahun ini. Bayangkan ;

  • pembunuhan pengusaha Nasrudin yang beristri 3,
  • korupsi/ kasus suap pejabat setingkat jenderal,
  • penahanan 3 kali perpanjangan pejabat setingkat menteri ( ketua KPK ),
  • pencatutan nama presiden untuk perintah audit KPK oleh BPKP ( serangan BPKP berlanjut dengan menarik 25 personel auditor yang diperbantukan ke KPK ),
  • intimidasi SBY sebagai sasaran tembak militan agar timbul “ketergantungan/hutang budi” pada Polri sehingga cenderung mengenyampingkan KPK ( di AS, pejabat Pentagon pernah mengakui, antara Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara mereka terjadi persaingan memperebutkan anggaran negara, termasuk lobi2 mereka pada presiden dan parlemen ),
  • pembuatan situs palsu ( situs si caddy Rani yang bergambar kupu2 agar dikonotasikan wanita panggilan, mungkin juga blog Al-Qoidah agar SBY kian terintimidasi lalu “butuh” kawalan Polri sekaligus menafikan pembunuhan karakter yang dilakukan oknum Polri pada Antasari & KPK. Dengan demikian penembakan di Freeport dan peledakan J.W Marriott bisa jadi, juga untuk mengalihkan perhatian masyarakat akan nasib KPK dan Pengadilan Tipikor yang sudah di ujung tanduk dalam hitungan hari. Peristiwa pembajakan pesawat Wyola dulu juga skenario untuk melambungkan ABRI & Barat. Siapa sih yang bodoh ? Siapa yang gampang dibodohi ? Kami bukan orang bodoh. KPK juga bukan ),
  • persekongkolan ( oknum2 ) Polri, Kejaksaan Agung, DPR, BPKP, Departemen Kehakiman, mungkin juga BIN ( laporan bahwa SBY jadi sasasaran tembak militan ) untuk menjegal pemberantasan korupsi yang menafikan rasa keadilan, kesejahteraan, harapan, kebahagiaan rakyat dengan mempermainkan hukum.

Kejahatan masif terhadap penegakan hukum ini, ironisnya, dilakukan oleh institusi yang semestinya ( dan disumpah untuk itu ) untuk menegakkan hukum. Anda bisa membayangkan azab Allah para oknum pejabat penegak hukum ini ? Jika sudah begini, biar kami ( masyarakat ) yang menilai siapa yang pantas disebut buaya, siapa yang cicak. Buaya umumnya berkonotasi buruk ; air mata buaya, buaya darat, keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya. Kenapa Susno membuat perumpamaan dengannya ? Rasanya cuma lidah buaya yang agak mendingan, bisa dipakai untuk keramas atau campuran sirup. Dan saat kebenaran terungkap, Susno sudah bukan buaya lagi. Ia sudah jadi telur cicak yang dipites !

Tolak perpanjangan ( rekayasa ) penahanan Antasari.

Dari pengalaman reformasi di banyak negara, apabila rakyat bersatu padu, tidak ada kekuatan lain yang mampu menahannya, termasuk negara dengan kelengkapan lembaganya. Polri, Kejaksaan, DPR lewaatt.. Seperti reformasi tahun 1997, ketika masyarakat berbagai kalangan bersatu meruntuhkan rezim Soeharto.

Kita harus merapatkan barisan, holobis kuntul baris, meminimalisir imoralitas ruang publik yang dikuasai kelompok yang tak suka dengan kehadiran KPK. Mereka yang membuat ukuran dan definisi sendiri untuk kepentingan diri dan mereduksi makna moralitas ke dalam bentuknya yang paling rendah.

Di saat hukum dan sarana legal telah digunakan untuk melakukan kejahatan, menyerahkan persoalan KPK pada persoalan hukum adalah langkah bunuh diri, tidak realistis dan berbahaya. Sudah terbukti tak ada lembaga yang mampu melaksanakan tugasnya kecuali atas bantuan dan dukungan rakyat. Masyarakat perlu dimobilisasi dengan arahan pemimpin yang punya komitmen tinggi pada pemberantasan korupsi. Antasari Azhar, juga para pengacaranya, mungkin sudah saatnya selicik Fidel Castro. Out of box.

Che Guavara, pejuang revolusi Kuba pembela rakyat miskin, berakhir naas di ujung senapan sersan Bolivia, 10 Oktober 1967 di bangunan bekas sekolah desa di Vallegrande tempat ia ditawan. Ditembak mati jam 11 atas suruhan CIA ( dinas intelejen AS ). Castro, sudah mengatakan sebelumnya, Che sebagai pahlawan sedikit kurang sempurna. Che tak bisa licik. Pejuang/ pahlawan, baru sempurna jika ia pun bisa licik, bila keadaan memaksanya. Masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Di saat, para koruptor dan kaki tangannya menabrak semua rambu etika dan aturan, kita pun mesti bisa memainkan “bahasa” mereka. Gempur !!

Antasari akan ditahan lagi sampai 31 Agustus 2009, September masa reses anggota DPR 2004-2009, 19 Desember 2009 batas pembahasan RUU Pengadilan Tipikor yang diberikan Mahkamah Konstitusi ( atau Pengadilan Tipikor lenyap ), sedangkan anggota legislatif terus menundanya dengan berbagai dalih. Polri, Kejaksaan Agung, Departemen Kehakiman, lembaga audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan ( BPKP ) dan DPR terus berupaya mengkerdilkan ( kalau perlu membunuh ) 2 sejoli yang sinergis, KPK dan Pengadilan Tipikor. Dua pilar pemberantas korupsi ini dianggap common enemy ( musuh bersama ) oleh lembaga2 peradilan konvensional tsb.

Ekonom dan ketua Yayasan Bung Hatta, Prof.Dr.Sri Edi Swasono menyatakan heran melihat lembaga sebaik KPK dan Pengadilan Tipikor yang sangat efektif memberantas korupsi ini justru mau dibubarkan oleh berbagai pihak. Ada orang sangat kuat di balik skenario ini.”( Hanya ) tirani yang memiliki kekuasaan besar yang bisa melakukan ini.”

Para aktivis dari berbagai lembaga swadaya masyarakat ( LSM ) telah berbondong-bondong datang ke gedung KPK untuk memberi dukungan. Diantaranya, lembaga peduli pemberantasan korupsi yang tergabung dalam gerakan Cinta Indonesia Cinta KPK ( CICAK ). Sekjen Transparency International Indonesia ( TII ), Teten Masduki berharap, meski pimpinan KPK tinggal satu orang, pemberantasan korupsi harus jalan terus. Setiap orang yang ingin Indonesia lebih baik, ikutlah terlibat mendukung KPK,”Saya cicak, berantas korupsi, berani lawan buaya.”

Tolak perpanjangan penahanan Antasari, periksa berkas perkara kasus Antasari yang akan dikirimkan Polri ke Kejaksaan ( rencananya pekan depan ), periksa kasus suap yang diterima Susno Duadji ( kini Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri ) dalam pencairan uang PT. Lancar Sampoerna Bestari terkait kasus Bank Century ( pecah kekuatan/ konsentrasi para penjerat Antasari ), hukum orang yang bilang presiden memerintahkan KPK diaudit BPKP ( padahal SBY tidak memerintahkan ), dukung penuh KPK dalam tugas2 dan citranya sebagai benteng pemberantas korupsi yang dicintai rakyat dan pejuang reformasi.

Selamatkan Antasari, KPK dan Pengadilan Tipikor ! We’ll be there for you…

( pelbagai sumber )

Testimoni rekayasa : upaya Susno memecah kekompakan pemimpin2 KPK

KPK akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi testimoni Antasari. Wakil ketua bidang pencegahan KPK, Muhammad Jassin menegaskan, tidak benar pimpinan KPK menerima suap dalam penanganan kasus Anggoro Wijaya ( AW ), direktur PT.Masaro.

“Hingga saat ini, penanganan kasus itu masih terus berlangsung, baik terhadap Anggoro maupun beberapa pihak lain. Penyidikan atas kasus ini masih dilanjutkan. Mereka ( yang diduga terlibat ) telah dikenakan larangan bepergian ke luar negeri sejak 22 Agustus tahun 2008. Anggoro sudah dipanggil beberapa kali, tapi tak pernah datang sekalipun sehingga masuk DPO ( daftar pencarian orang ),” kata Jassin di Gedung KPK, Jl.H.R.Rasuna Said, Jakarta, Kamis ( 6/8/2009 ).

Sementara wakil ketua KPK, Chandra Hamzah menegaskan testimoni Antasari itu tidak bisa dijadikan bukti dalam dugaan suap itu.”Karena testimoni itu merupakan keterangan seseorang berdasarkan keterangan orang lain, seperti diatur Pasal 185 ayat ( 1 ) KUHAP. Ada kemungkinan keterangan yang disampaikan Anggoro ke Antasari tidak benar. Mungkin saja pengakuan Anggoro telah menipu Antasari dengan memberikan keterangan yang tidak benar, demi kepentingan sendiri selaku pihak yang terkait dengan kasus itu.” Dalam Pasal itu, keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan.

Surat testimoni Antasari terdiri 4 halaman, dibuat 16 Mei 2009, disebutkan Antasari bercerita adanya dugaan suap terkait kasus PT.Masaro, yakni pengadaan sistem komunikasi radio terpadu ( SKRT ) di Departemen Kehutanan dengan tersangka pimpinan perusahaan tsb, AW.

Pimpinan KPK telah menyampaikan klarifikasi mengenai surat pengakuan Antasari yang kontroversial tsb. Klarifikasi atas isu suap di jajaran KPK disampaikan secara langsung pada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Wakil ketua bidang penindakan KPK, Bibit Samad Rianto, dan Chandra Hamzah menemui Kapolri untuk menjelaskan masalah2 ini, Kamis kemarin. Menurut Bibit, pertemuan tsb merupakan bentuk klarifikasi antara KPK dan Mabes Polri. Bahkan, KPK mendapat klarifikasi dari Kapolri mengenai isu asal usul menculnya testimoni Antasari yang sempat menjadi bahan spekulasi banyak kalangan. ( PR, 7/8/2009 )

Komen Nurray :

Ada tayangan di televisi, penyidik Polri memeriksa & mencatat nomor seri laptop Antasari. Terlihat di situ Antasari tidak berbicara, tak biasanya. Mungkin ia dalam tekanan. Kamera itu ( mungkin dari ponsel ) lalu menyapu wajah2 orang2 di sekeliling Antasari ( bisa untuk bukti nanti, siapa saja yang terlibat dalam konspirasi besar menjerat Antasari ). Mungkinkah testimoni Antasari perihal suap dalam kasus direktur PT. Masaro juga dalam tekanan ?

Pernah terjadi kasus menghebohkan melibatkan kepala polisi yang bekerja sama dengan pembunuh sepasang pengusaha terkenal sebuah kota di Amerika. Si pembunuh adalah rekan pengusaha yang ingkar membayar hutang padanya. Si pembunuh adalah kawan si kepala polisi. Lalu, dibuat rekayasa bahwa si pengusaha dibunuh oleh putranya sendiri yang baru berusia 16 tahun. Dalam kegalauan, rasa sedih yang mendalam karena kehilangan orang tua yang sangat dipatuhi dan dicintainya, si anak dipaksa mengakui tuduhan polisi itu. Caranya ?

Si anak diintimidasi sedemikian rupa ( direndahkan, dipermalu, diancam, dicecar, disiksa, dibuat kelaparan dan kehausan, dijemur di terik matahari, dipukul, diinjak ( seperti yang dialami pemimpin kelompok oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim yang dirawat cukup lama di rumah sakit Jerman, karena tubuhnya remuk disiksa sipir penjara ) dan kengerian lain yang tak bisa anda bayangkan ), agar menerima Berita Acara yang disodorkan kalau si anak mengaku membunuh orang tuanya sendiri.

Dan jika si anak menuruti kemauan si investigator, si anak diperlakukan baik, diberi makan dan pujian. Si anak yang kini dewasa, 20 tahun kemudian, mengakui saat itu ia hanya ingin keluar dari situasi siksaan yang menderanya berminggu-minggu, dengan hati hancur lebur. Mungkinkah Antasari berada dalam situasi penuh tekanan dan siksaan ketika ( dipaksa ) mengeluarkan testimoni itu ?

Saya lebih percaya kata2 Antasari di luar tahanan. Ketika ia mengatakan,”semua yang dikatakan tentang saya terkait kasus ini, tidak benar.” Itu sebabnya, saya merasa perlu mengatakan, sebaiknya Antasari sesegera mungkin keluar dari tahanan. Ketika ia berada diantara kita semua, yang aman bagi keselamatannya juga keluarganya, ia akan mengatakan yang sebenarnya. Kalau bisa Rani Juliani, Williardi ( feeling saya ia orang yang dikorbankan karena tidak sehaluan dengan Susno ) juga Arina ( isunya ia istri Noordin M.Top ) juga berada di luar tahanan dalam keadaan aman baginya & keluarganya. Mereka saksi kunci dalam konspirasi besar ini. ( Arina kini sudah bersama kuasa hukumnya setelah pemeriksaan Polri )

“Prita Mulyasari cuma dikerjain Omni. Kasihan dia. Saya minta catatan medis trombosit Prita yang turun, tak diberikan pihak rumah sakit. Ini, janggal, kan,” kata O.C.Kaligis, pada wartawan. Kejanggalan yang mirip dengan Rani, Williardi dan Antasari, saya pikir. Ketiganya sama2 “disimpan” oknum2 Polri, agar tak bernyanyi membongkar skenario keji mereka. Bahwa mereka bicara karena diperintah orang lain, bukan nuraninya. Amir Abdullah, Hendra, Aris, Tatak, Mohjahri diperiksa atau disimpan, agar sandiwara militan muslim yang mengintimidasi SBY tidak terbongkar. Kedua kasus ini bermuara pada tujuan yang sama. Penggembosan KPK dan Pengadilan Tipikor.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mungkin takkan pernah terjadi 17 Agustus 1945 jika tak ada para pemuda yang menculik bung Karno dan bung Hatta ke Rengas Dengklok, untuk memaksa deklarasi bersejarah itu. Kalau Susno cs. ini makin menggila ( kepalang basah, karena tak ada jalan untuk kembali ), mungkinkah kita mengeluarkan Antasari dengan ide paling kreatif dan berani ? Misalkan, demo/ kepung kantor, rumah para konspirator ( Susno, cs ) dan oknum2 instansi yang menggembosi KPK. Keluarkan Antasari dari tahanan untuk bersama-sama dengan kita menegakkan hukum dan menuntaskan kasus ini dari luar sarang konspirator. Peleceh hukum tak seharusnya menjadi penegak hukum. Hentikan parasit2 yang merusak wibawa lembaga peradilan kita selama ini, now and forever.

Tentu, Susno cs akan gunakan strategi berikutnya. What else ?

Komisi III ingin KPK dipimpin orang yang mengakomodir kepentingan mafia DPR

“”Testimoni Antasari, kami harap dimasukkan dalam kerangka hukum. Testimoni itu serahkan pada penyidik, soal benar tidaknya. Itu saja, kan, masalahnya ?” tukas Azlaini Agus, anggota komisi III, DPR periode 2004-2009.”Kami tidak bermaksud mengkerdilkan KPK. Kami hanya mengontrol mereka sebagai bentuk pertanggungjawaban kami pada rakyat yang kami wakili. Dukungan rakyat pada KPK tidak boleh membabi buta !”

Saya terpana. Seorang ibu paruh baya, berdandan modis dengan jilbab gaul, bicara lantang menelan informasi sepihak, memplintir hukum dan menyerahkan testimoni janggal itu pada para penyidik Polri ( yang merekayasanya ). Ia bilang ; melanggar aturan, jika pimpinan KPK bicara dengan orang dalam DPO ( Daftar Pencarian Orang ) yang jelas2 ia ketahui. Pimpinan KPK tak boleh sedikit pun punya cacat cela ( tapi kalau dia dan sejawatnya merampok uang rakyat seenak udel, tak masalah ).

Febri Diansyah, peneliti hukum ICW.

Febri Diansyah, peneliti hukum ICW.

Di sampingnya, Febri Diansyah ( orang muda, peneliti hukum ICW ), menjelaskan lembaga seperti KPK sebelumnya ada 7 yang dimatikan dan dibubarkan seperti ini. Kita jangan jatuh dalam lubang yang sama. Testimoni itu berasal dari rekaman pembicaraan selama 18 menit di Singapura, antara 4 orang, yang kemudian ditulis oleh Antasari dalam sebuah testimoni. Empat orang itu diantaranya Anggoro dan anggota DPR dalam kasus SKRT. Anggoro mengatakan ada pimpinan KPK yang ia suap. ( betulkah ada rekaman itu ? )

Ibu Azlaini langsung menyambarnya dengan “ada mafia di KPK”. Titik. Menutup semua kemungkinan bahwa itu rekayasa penyidik ( dipimpin Susno Duadji yang terindikasi suap 10 milyar pada kasus PT.LCB-Bank Century. Susno ini juga yang bersama Kapolri Danuri, Minggu, 9/8/2009, berencana melihat jasad teroris yang diduga Noordin M.Top di RS.Polri, tapi tidak jadi.

Beredar kabar, kepala lonjong yang terbelah mulai hidung ke atas itu mirip Ibrohim, florist Ritz-Carlton yang buron. Kenapa ? Karena ia menyebut “saya Noordin M.Top” saat dikepung, seperti Susno cs menyuruh istri/ Nasrudin mensms “Antasari, Ketua KPK” ke pengacaranya yang hobi main golf . Supaya rapi ditulis di Berita Acara. Jelas, sekaligus ganjil, bagi saya. Tatak “lenyap” 3 tahun silam, ditangkap polisi dengan tuduhan kader yang menyembunyikan Noordin M.Top. Waktu penyergapan Dr.Azahari di Batu, Malang, Jawa Timur tahun 2005, saya juga semua pemirsa teve bisa melihat wajah2 para teroris di kantong mayat sebelum dimasukkan ke mobil. Tapi, anehnya kali ini jasad “Noordin M.Top” ini langsung dimasukkan ke peti mati, dengan police line di sekeliling rumah Mohjahri, yang dipasang makin lebar di RS.Polri. Pers dilarang mendekat. Menurut petugas ( 9/8/2009 ) hasil tes DNA diumumkan pekan depan. Apakah mengambil momen masuknya berkas kasus Antasari di Kejaksaan Agung ? Juga, “keperluan” penjagaan SBY menjelang peringatan proklamasi dan acara “Sail Bunaken” ?

Kalau SBY berhasil diintimidasi dengan kemungkinan meledaknya bom ketiga di kamar 1808 JW.Marriott, wajah SBY jadi sasaran tembak “militan”, bom mobil di pick up merah di Perum Puri Nusa Phala, Bekasi, yang akan diledakkan di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. Lalu, 3 bom bunuh diri oleh Amir Abdullah, Yayan, Endra di istana presiden ( seperti jawaban Kapolri ketika ditanya wartawan ), maka kartu truf ada di tangan oknum2 Polri yang sedang menggembosi KPK dan Pengadilan Tipikor. Siapa tahu bisa menang lawan KPK ?

Kenapa SBY ? Bukan karena ia menolak grasi pelaku bom Bali, Amrozi, Muklas dan Imam Samudera yang dieksekusi mati di pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, 9 November 2008, seperti mereka coba simpulkan ( untuk mempengaruhi masyarakat ). Tapi karena SBY menciptakan lembaga tandingan untuk memperbaiki kinerja aparat negara. KPK untuk memacu kinerja Kejaksaan Agung, Mahkamah Konstitusi untuk memacu Mahkamah Agung, Pengadilan Tipikor untuk memacu kinerja Departemen Kehakiman. SBY ( dimata para konspirator ) membuat ketidaknyamanan yang mereka alami sekarang, sehingga pantas diintimidasi seperti ini.

Saya mendukung keterlibatan TNI dan panglima Djoko Santoso untuk menjaga SBY dalam masa2 genting ini. Diawali dengan konferensi HIV/AIDS di Bali. Polri saat ini kurang bisa diandalkan, jika masih mempertahankan oknum2 tsb ). Mungkin juga untuk masa2 selanjutnya, untuk mengantisipasi hal2 serupa ini. Lagipula, Densus 88 ( yg kelahirannya dibidani Amerika ) mestinya diisi orang2 yang tangguh & profesional di bidangnya. Bisa mengambil dari luar, misalnya TNI, kalangan profesional di bidang IT dsb, agar bisa lebih cerdik dari para teroris dan jaringannya yang mendunia.

Mantan gubernur DKI, Sutiyoso, ingin tahu isi Den 88 sebenarnya. Saya setuju. Rakyat perlu yakin dengan alat keamanannya. Jangan sampai mereka bertindak sendiri, karena merasa alat keamanannya kurang profesional/ ngawur. Seperti keluhan keluarga Mohjahri ; rumahnya hancur berantakan ( untuk menangkap 1 orang saja, mati pula, yg ternyata juga bukan Noordin M.Top ), 2 keponakannya ditangkap dan keluarganya dicap teroris. Jika polisi dalam melakukan tugasnya berlaku kasar begini, bagaimana masyarakat tidak menjadi antipati padanya ? Mereka bisa balik bersimpati pada teroris dan memberi perlindungan kepada mereka.

Di Riau, 16/8/2009, polisi mengejar pelaku curanmor dan salah tembak. Seorang anak 10 tahun tewas oleh peluru nyasar. Ayahnya mengutuk, kenapa polisi tidak segera mengangkut putrinya yang sekarat ke rumah sakit dengan mobil patroli mereka ? Hanya membiarkan, menunggu ambulans datang hingga korban meninggal di TKP. Lagi2, kurang profesional dan lambatnya komunikasi/ rantai komando. Ada apa dengan Polri ? Mungkinkah sudah terjadi pembusukan di sana, yang baru kita lihat permukaannya ?

Azlaini Agus, anggota Komisi III DPR,"Jangan membabi buta..."

Azlaini Agus, anggota Komisi III DPR,"Jangan membabi buta..."

Andaikan ibu Azlaini yang “dinyanyikan” Anggoro menerima suap ( bukannya pimpinan KPK ), pasti ia akan menolak jika testimoni itu langsung dijadikan alat bukti untuk menyeretnya ke penjara. Orang lain boleh ngomong aja saja, semisal telah memberi suap kepada si anu. Belum tentu si anu mau menerima suap, lalu didapuk jadi tersangka suap. Punya cacat cela. Ini soal berempati, berada di posisi Antasari yang mengemban amanat memberantas korupsi yang merugikan rakyat selama puluhan tahun. Benar2 rakyat. Bukan “rakyat” yang diwakili Azlaini dan rekan2nya di Komisi III.

Gedung Putih dikuasai lobi2 Yahudi. DPR sejak lama dikendalikan Amerika untuk menghasilkan UU & peraturan yang memihak kepentingan mereka di Indonesia, semisal UU Gas & Energi, amandemen UUD tahun 2002 dsb. Oknum2 DPR ini tak heran rajin memplintir hukum demi “rakyat” yang bisa membayar mereka. Mereka gemas pada jajaran KPK yang membongkar borok2 pengkhianatan mereka. Itu sebabnya, mereka mengeroyok Antasari dan pimpinan2 KPK lainnya yang menelanjangi aib kawan2 mereka, anggota dewan yang “terhormat”.

Lalu, jika Azlaini tak mau dituduh menerima suap atau membela koruptor dengan membabi buta, kenapa ia begitu bernafsu memasukkan testimoni Antasari itu ke dalam kerangka hukum ? Ingin mengganti pimpinan2 KPK dengan orang2 yang bisa mereka kendalikan, akomodatif dengan kepentingan mereka dan bos mereka sebenarnya ?

Yang jelas, saya mendapat temuan lagi ; kemasan alim, senior, pandai bicara tidak berarti amanah dan kredibel. Sebaliknya, yang muda, penampilan sederhana, idealis, ulet bisa jadi andalan masa depan bangsa ini. Maju terus, Febri Diansyah & ICW ! ( Nurray setelah nonton “Democrazy” ep.9/8/2009 ).

Anggoro terkecoh 2 penipu, penyidik Polri kegirangan meski melanggar kode etik.

Tersangka dirut PT.Masaro Radiokom, Anggoro Widjojo, melaporkan 2 orang yang dianggap suruhan KPK, yakni Ari Muladi dan Edi Sumarsono ke Mabes Polri, Senin ( 10/8/2009 ) atas dasar pemerasan. Anggoro mengaku telah diperas oleh 2 orang tsb sebesar Rp.5,15 milyar agar dirinya tak ikut diseret dalam kasus korupsi pengadaan alat Sistem Komunikasi Radio Terpadu ( SKRT ) di Departemen Kehutanan ( Dephut ). Kasus tsb telah menjerat mantan ketua Komisi Kehutanan DPR RI, Yusuf Erwin Faishal, dengan hukuman 4,5 tahun penjara oleha Pengadilan Tipikor.

Kuasa hukum Anggoro, R. Bonaran Situmeang mengungkapkan hal itu dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Mega, Jl.Proklamasi, Jakarta, Senin ( 10/8/2009 ). “Pak Anggoro mengaku kaget dengan isi terstimoni pak Antasari Azhar, karena dikatakan ia menyuap KPK.” Padahal yang benar, ia diperas oleh 2 orang suruhan KPK tsb, jelas Bonaran.

Bonaran mengatakan, kliennya mengaku merasakan manfaat setelah memberikan uang kepada mereka. Selama 9 bulan, Anggoro tak pernah disentuh lagi terkait kasus yang menimpa Yusuf. Sejak 25 September 2008, Anggoro diperiksa KPK sebagai saksi, dan baru 26 Juni 2009 dipanggil lagi oleh KPK untuk pertama kalinya sebagai tersangka kasus SKRT Dephut.

“Kenapa status pak Anggoro di KPK berubah setelah ada testimoni Antasari ? Ini kami pertanyakan. Pada kesempatan ini saya juga katakan bahwa, Pak Anggoro pergi ke luar negeri jauh sebelum kantor PT.Masaro digeledah tahun 2008 lalu. Jadi, bukannya dia kabur,” kata Bonaran.

Anggoro dalam percakapan dengan dirinya melalui telefon, Minggu ( 9/8/2009 ) malam, menyatakan siap kembali ke tanah air dan membantu pihak aparat hukum untuk menyelesaikan kasus tsb. Asal ada kepastian perlindungan saksi, ia siap kembali ke Indonesia. Anggoro sendiri tidak tahu pasti 2 orang suruhan KPK tsb bergerak atas perintah pimpinan KPK yang mana. Karena panik dan takut terlibat lebih jauh maka ketika dimintai uang, ia mau saja membayarkannya.

Testimoni Antasari Azhar yang ditulis 16 Mei 2009 menyebutkan, ada pimpinan KPK yang menerima aliran dana dari PT.Masaro Radiokom. Bonaran tak tahu pasti kapan dan dimana uang Rp.5,15 milyar tsb diserahkan Anggoro pada Ari Muladi dan Edi Sumarsono. Semua bukti dan berkas sudah diserahkan ke Mabes Polri untuk ditindaklanjuti.

KPK sendiri membantah ada pegawainya yang bernama Ari Muladi dan Edi Sumarsono yang diduga telah memeras Anggoro tsb.”Saya sudah cek di semua lini, tidak ada 2 nama itu,”kata Bambang Sapto Pratomo Sunu, sekjen KPK di gedung KPK, Jakarta, Senin ( 10/8/2009 ).

Sementara itu, wakil ketua KPK Bidang Penindakan, Bibit Samad Riyanto mengatakan, terkait polemik testimoni Antasari Azhar, KPK mulai mengusut adanya pelanggaran kode etik dalam kasus ini.”Yang jelas, kita sudah mulai menyelidiki soal pelanggaran kode etik. Saya sudah menyusun timnya, nanti hasilnya akan kita gunakan untuk menindaklanjuti dengan tim yang lebih komprehensif lagi,”ujarnya. KPK telah berkoordinasi dengan Mabes Polri terkait adanya pelanggaran Pasal 36 dan 65 UU no.30/ 2002.”Ya, kalau secara surat sudah kita sampaikan ke Kapolri. Secara lisan juga sudah. Tinggal di follow-up.”

Pelanggaran 17 kode etik dilaporkan ICW ke KPK

Indonesia Corruption Watch ( ICW ) melaporkan Antasari ke bagian pengawasan internal KPK karena diduga telah melakukan pelanggaran kode etik selama menjadi ketua KPK. Laporan tsb diterima penasehat KPK, Abdullah Hehamahua, petugas Bagian Pengaduan Masyarakat dan petugas Bagian Pengawasan Internal KPK. Salah satunya, menemui dirut PT.Masaro, Anggoro Widjojo di Singapura. Padahal, saat itu Anggoro terkait kasus korupsi dan diduga menyuap anggota DPR RI. Pertemuan itu dianggap melanggar pasal 6 angka 1 huruf r kode etik, Pasal 36 dan Pasal 65 UU KPK.

Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Illian Deta Arta Sari mengungkapkan hal itu dalam konferensi pers di Gedung KPK, Selasa ( 11/8/2009 ). Peneliti hukum ICW, Febri Diansyah mengatakan, pada dugaan pelanggaran kode etik tsb, ada kemungkinan berkaitan juga dengan pelanggaran pidana. Oleh karena itu, hasil dari pemeriksaan internal ini bisa menjadi 2, yakni sanksi terkait pelanggaran kode etik dan dugaan tindak pidana. Jika ada dugaan pidana, bagian internal KPK harus melanjutkan ke aparat hukum.

Dalam testimoni Antasari yang ditulis 16/5/2009 disebutkan, ia bertemu dengan Anggoro dan 2 pria lain di Singapura. Dalam pertemuan itu, Antasari mengatakan Anggoro mengaku telah memberi uang “suap” pada pimpinan KPK.”Kalau Anggoro mengaku pada Antasari telah memberi suap pada pimpinan KPK, kenapa dia membiarkan Anggoro dan tidak melakukan penangkapan terhadap Anggoro sebagai pemberi suap ?” kata Febri.

Beberapa pelanggaran Antasari lainnya yang dilaporkan ICW yakni memberi uang 10.000 dolar Singapura pada wakil ketua KPK, M.Jasin, saat istrinya sakit di salah satu rumah sakit di Malang. Jasin sudah mencoba menolak uang tsb, tetapi tidak berhasil, lalu Jasin pun menyerahkan ke bagian gratifikasi. Pada tanggal 27/5/2008, Antasari juga bertemu dengan 2 pengusaha di Batam, yang terkait kasus korupsi berinisial H dan J. Pertemuan itu tidak pernah dilaporkan pada pimpinan KPK. Hal ini tentu melanggar pasal 6 angka 1 huruf r, t, u, dan v Kode Etik KPK dan harus ditindaklanjuti,”ujar Illian.

Sementara itu, 4 pimpinan KPK, Selasa ( 11/8/2009 ) akhirnya secara resmi melaporkan ke Polda Metro Jaya terkait 4 hal dugaan pelanggaran pidana yang muncul dari pengakuan Antasari Azhar maupun dari kuasa hukum Anggoro Widjojo.”Masalah pertemuan AA dengan AW di Singapura, pencemaran nama baik atas pimpinan KPK karena disiarkan testimoni, pemalsuan surat permohonan pencabutan larangan ke luar negeri atas nama AW dan mengakunya ES dan AM sebagai suruhan KPK,” ujar Pelaksana Harian Ketua KPK Bidang Penindakan, Bibit Samad Riyanto.

( PR, 12/8/2009 )

Komen Nurray : Jangan terpancing, stay cool, stay unite

Oh, guys … Antasari sekarang seperti sudah jatuh ketimpa tangga pula. Karena pancingan Azlaini Agus/ anggota Komisi III DPR dan penyidik Polri, Antasari yang semula, sebetulnya bersih dari tuduhan otak pembunuhan Nasrudin, sekarang punya tuduhan baru yang kalian pasok ( ICW ). Oknum2 Polri seperti mendapat amunisi baru untuk menyerang Antasari dan menahannya lebih lama. Kita semua tahu, Antara in wrong hand right now ( Susno cs ). Mereka memplintir hukum, memutarbalikkan fakta, menghalalkan segala cara untuk melindungi kepentingan kelompoknya. Ada orang yang mati dibunuh disini ( Nasrudin ) dan kalian mempermasalahkan dugaan2 kode etik yang skala dosanya jauh lebih kecil. Antasari bukan malaikat, banyak tarikan dan tekanan di iklim yang masih sangat korup ini. Jika ia bisa bertahan dengan seminimal mungkin kesalahan, itu sudah hebat. Please … jangan terpancing kalau dipanas-panasi orang2 yang sedang bermasalah ( Komisi III, Susno cs ). Kalian mesti lebih cerdik mengatasi kelicikan mereka.

Jangan jatuhkan mental Antasari yang sudah diserang dari segala penjuru. Tidakkah kalian curiga kenapa Antasari dipojokkan sedemikian rupa ? Antasari tak minta penangguhan penahanan sampai hari ini, tidak seperti tersangka lainnya, tidakkah itu menyentuh kesadaran kalian ? Lihat skala kesalahannya dengan kesalahan koruptor dan konspirator2 itu.

Tentukan, prioritas kalian. Mengeluarkan Antasari dari tuduhan pembunuhan yang tidak dilakukannya, menjaga nama baik ICW yang tak pandang bulu membeberkan dosa korupsi pejabat negara, mempertahankan KPK dan Pengadilan Tipikor, membongkar skenario konspirator ( Susno cs ) atau menyeret Susno dalam kasus suap dalam pencairan uang PT. Lancar Sampoerna Bestari terkait kasus Bank Century ? ( saya kira kalian akan menyibukkan Susno dengan kasus ini sehingga ia tak sempat memimpin orang mengobok-obok KPK, nyatanya malah Antasari yang sudah dalam kondisi lemah yang kalian persulit. Ibaratnya dalam medan tempur, Antasari yang sudah tak punya senjata dan kekuatan melawan, kalian serbu memakai kekuatan ( musuh ) yang punya senjata lengkap dan dendam kesumat. Ini tidak adil, kemenangan yang diperoleh akan memalukan ). Soal kode etik ini, sebutkan pejabat negara yang tidak melanggar ? Azlaini Agus ? Susno Duadji ?

Permasalahan kode etik ini ajukan setelah Antasari di luar tahanan atau berada di tangan yang aman. Antasari sudah berusaha memenuhi standar kualitas yang kalian inginkan dengan susah payah hingga menjadi figur seperti sekarang ini. Tunjukkan belas kasihan kalian, ketika Antasari sudah tak berdaya melakukan apapun di ruang tahanannya ( bahkan untuk mengklarifikasi testimoni itu benar atau tidak/ rekayasa penyidik, mencegah kita diadudomba, dipecahbelah kekuatannya ).

Melebihi soal benar tidak, ini soal kearifan dan rasa terima kasih kita pada sosok bernama Antasari Azhar. Tak banyak orang mampu dan tahan berada di posisinya dalam atmosfir korupsi dan kekuasaan yang masih begitu pekat di negeri ini. Banyak teror dan tekanan, padanya juga keluarganya. Soal dibilang berpihak membabi buta pada Antasari oleh Azlaini, biar saja, kita memang memihak ( pembela ) kebenaran. Apa Azlaini juga tidak membabi buta membela para koruptor ?

So, jangan terpancing, kawan. Tetaplah bersatu, ICW, Antasari, KPK, Pengadilan Tipikor dan pejuang2 reformasi hukum. Hidup Cicak ! ( Cinta Indonesia Cinta KPK )

Saya Cicak, berani lawan buaya. CICAK = Cinta Indonesia Cinta KPK.

Saya Cicak, berani lawan buaya. CICAK = Cinta Indonesia Cinta KPK.

free html visitor counters
hit counter
Iklan
Tagged with:

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wong kito said, on 20/10/2009 at 03:51

    kepada anda yg terhormat,
    kalau memang ada konspirasi, jangan menyebut dep.kehakiman dong…!
    anda lupa cikal bakal KPK lahirnya dimana, pemikiran awal dan draf RUU tentang TIpikor & KPK ada di ditjen KUMDANG dep. Kehakiman dengan pak Ramli sebagai “tehnisinya”

  2. nurray said, on 21/10/2009 at 14:52

    Pengadilan Tipikor diisi oleh hakim2 pilihan yang bersih dari korupsi. KPK juga diisi oleh jaksa2 & polisi2 bersih dari Kejaksaan dan Polri. Jaksa bersih dari Kejagung mengatakan masih ada sekitar 4000 jaksa bersih dari sekitar 8000 jaksa di Kejaksaan. Komposisi hakim di Pengadilan Tipikor lebih banyak hakim ad hoc, karena hakim karir banyak yang sudah terkontaminasi virus suap, alias banyak yang membebaskan terdakwa korupsi.
    Pengadilan Tipikor dibuat sebagai trigger bagi para hakim memperbaiki diri dan instansinya. KPK dibentuk untuk memacu kinerja Polri dan Kejagung. Saya tak mengatakan Kehakiman secara jelas mendukung konspirasi, tapi tengok anggotanya apakah membiarkan perilaku korupsi menggerogoti citra lembaga penegak hukum ? Antasari sudah berpesan agar pihak PN Jaksel memeriksa dengan teliti berkasnya yang penuh kejanggalan itu apakah layak untuk disidangkan ? Dan, kita lihat bersama kemarin, Antasari sudah disidang dan diserang JPU dengan kasar dan vulgar.
    Komisi III DPR yang menggetok UU KPK, di akhir masa tugasnya juga dengan kesadaran penuh mengebiri wewenang KPK dan membuat kabur UU Pengadilan Tipikor dengan meninggalkan banyak celah yang menguntungkan para koruptor.
    Saya sangat menghargai hakim yang bersih. Di lembaga penegak hukum, seharusnya tidak boleh ada hakim yang menyimpang. Berlaku nila setitik rusak susu sebelanga. Indonesia negara hukum, pilarnya adalah Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman dan MA. Posting2 saya dimaksudkan agar instansi tsb membenahi diri. Jika anda orang dalam, anda bisa bantu kami yang di luar ini untuk membersihkan hakim2 nakal ini. Semoga anda bisa menerima penjelasan saya ini dengan legowo. Trims kunjungannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: