dari Palestina sampai Indonesia

Film “Merantau” : pencak silat, trafficking & nasionalisme

Posted in indonesia by nurray on 26/08/2009

Poster film "Merantau" yang dibintangi Iko Uwais, Christine Hakim, dll.

Poster film "Merantau" yang dibintangi Iko Uwais, Christine Hakim, dll.

Jika trilogi film “Merah Putih” membakar semangat nasionalisme mengusir penjajah, maka film “Merantau” memadamkan gejolak nafsu, mengendalikan diri ( ambisi sukses di rantau/ mengerem arus urbanisasi ). Keduanya masih jauh lebih baik dalam mempromosikan Indonesia ke tatar global, ketimbang mengirim putri Indonesia ke kontes “Miss Universe”.


Christine Hakim, pemeran ibu Yuda, juga produser film ini, berniat melestarikan/ mempopulerkan salah satu khasanah budaya Indonesia, yaitu pencak silat ( Silat Harimau ) sehingga digemari kaum muda, pewaris bangsa. Living legend perfilman Indonesia ini tampaknya juga ingin mengangkat masalah trafficking ( salah satunya perdagangan manusia untuk PSK ) yang selama ini menjadi perhatiannya. Daripada menyesaki kota Jakarta yang sudah jenuh, lebih baik kaum muda membangun kampung halamannya. Ada dialek Minangkabau, Jakarta, yang dipertemukan dengan bahasa pemersatu bangsa. Bahasa Indonesia.


Ada kolaborasi bule dan Indonesia di film ini. Petarungan antara jagoan bule dan jagoan pribumi, seperti juga “Merah Putih” yang musuhnya adalah londo Belanda. Menegangkan. Film bioskop karya anak negeri yang saya tonton terakhir adalah “Laskar Pelangi”. Sebelumnya saya nonton “Banyu Biru” yang dibintangi Tora Sudiro, “Arisan”, “Cau Bau Kan”, “Eifel, I’m in Love”, “Jomblo”, “Jailangkung”, “Petualangan Sherina” dan “G 30 S/ PKI”. Long, long time ago.

Aksi Iko Uwais di luar syuting.

Aksi Iko Uwais di luar syuting.

Nonton aksi Iko Uwais mengkandaskan lawan2nya di lorong gang, bangunan tak terpakai, night club, kantor germo, apartemen dan lapangan peti kemas, sungguh menawan. Saat film dibuka, tarian jurus silat yang dilakukan Yuda tak ubahnya latihan Wong Fei Hung di setiap permulaan sequel “Kungfu Master”. Saya nggak nyangka pencak silat bisa seindah itu, diperagakan pemuda 20 tahun se-powerfull itu. Saya pikir telah lahir Jet Lee Indonesia.

Ada wacana akan diundangkan wajib militer bagi pemuda Indonesia, seperti juga warga Singapura dan Taiwan yang telah diwajibkan sejak dulu. Saya setuju digiatkan wajib militer ini mengingat tantangan dan peran kita di masa datang yang menuntut kekuatan fisik, otak cemerlang dan semangat bela negara. Saya bayangkan Yuda2 berikutnya lahir di alam nyata, untuk membela bangsa ini, tak hanya korban trafficking.


Setiap Yuda berhasil mengalahkan nafsu, menghentikan kejahatan, menjatuhkan musuh, bule sekalipun, dan tetap rendah hati, hormat pada ibu, kakak, guru dan kaum wanita, ada perasaan bangga membuncah di dada. Mungkinkah di masa kita, generasi sekuat Yuda bisa dilahirkan ? Iko, sang pemeran apakah berkarakter sekuat Yuda ? I did my best.


Saya berharap di film2 berikutnya, Iko tetap mempromosikan silat, dengan tokoh yang tetap hidup di akhir kisah. Dengan tingkat pemahaman sebagian besar masyarakat kita saat ini, pahlawan semestinya berakhir bahagia, sehingga mengundang minat kaum muda untuk seheroik Yuda dan tertarik melestarikan budaya bangsa semuda Iko.

Amerika dulu menghadirkan tokoh Rambo hingga 5 sekuel untuk memacu nasionalisme rakyatnya. Dengan tujuan sama, Iko pun bisa tampil setrendi gaya anak muda sekarang, cowok metropolis dengan wawasan luas, tapi tetap rajin menjalankan ibadah, hormat pada orang tua, menekuni pencak silat dan tetap menjaga norma agama ketika berdekatan dengan wanita. Model anak muda Indonesia penjawab tantangan masa depan. Cool.


Saya penasaran melihat sequel “Merantau” jika ada / menyusul dibuat. Film laga Indonesia terkeren yang pernah saya lihat. Kabarnya, film2 Indonesia kini menjadi tuan di negeri sendiri, lebih banyak ditonton orang daripada film Barat. Tak biasanya, apalagi setelah perfilman kita sempat mati suri beberapa tahun silam. Film “Merah Putih” dan “Merantau” memang berkualitas secara seni, pasar maupun isi/ pesan moral. Sangat menjanjikan. Tak heran jika dinanti. ( Nurray setelah nonton film “Merah Putih”, dan “Merantau” ).


Tagged with:

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. tajiek said, on 07/01/2010 at 04:59

    mantRabbbb. .. .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: