dari Palestina sampai Indonesia

Miss Universe 2009, film “Merah Putih” & “Merantau”

Posted in indonesia by nurray on 26/08/2009

Putri Venezuela menang, Putri Indonesia tak lolos 15 besar


Putri Indonesia 2008.

Putri Indonesia 2008.

Miss Venezuela, Stefania Fernandez, dinobatkan sebagai Miss Universe 2009, Minggu ( 23/8/2009 ) waktu setempat. Gelar itu yang ke-6 bagi negerinya Hugo Chavez. Ajang ratu kecantikan internasional itu dimenangkan Fernandez di Atlantis, kawasan wisata di pulau Paradise di kepulauan Bahama, ditayangkan langsung ke seluruh dunia.


Saat penyerahan dari Miss Universe sebelumnya, Dayana Mendoza asal Venezuela juga, mahkota itu sempat jatuh, namun dengan cekatan ditangkap Fernandez.”Apa yang kami kerjakan untuk Venezuela,” ungkap mahasiswa jurusan hubungan internasional tsb.


Fernandez terpilih dari 5 finalis yang diseleksi dari 83 peserta. Runner up pertama diraih Miss Republik Dominika, Ada Aimee de la Cruz. Posisi berikutnya diraih Miss Kosovo, Droga Ganusha, Miss Australia, Rachael Finch, dan Miss Puerto Rico, Mayra Matos Perez.


Sementara itu, puteri Indonesia, Zivanna Letisha Siregar, yang sehari sebelumnya menempati urutan teratas dan difavoritkan dalam jajak pendapat situs web resmi Miss Universe, pada hari pemilihan gagal lolos 15 besar.


Saat segmen tanya jawab yang diikuti 5 besar, Fernandez mengatakan bahwa dirinya percaya, wanita memiliki berbagai rintangan.”Saya merasa kita harus bisa mencapai tingkat yang dicapai pria.” Ketika ditanya mengenai bagaimana kiprahnya sebagai ratu kecantikan mempromosikan kesetaraan antara pria dan wanita, Fernandez mengatakan mereka harus menunjukkan kelebihan atau keahliannya.


Fernandez berasal dari kota Merida, barat Venezuela, di mana banyak wanita berobsesi menjadi ratu kecantikan. Fernandez tak tahu apa presiden Venezuela, Hugo Chavez akan menerima kemenangannya atau tidak. Chavez belum pernah bertemu dengan Mendoza ketika dirinya dinobatkan sebagai Miss Universe, juga tak memberikan satu pun pernyataan menanggapi kemenangannya. Namun, Fernandez berharap Chavez akan berubah pikiran.”Kita akan lihat nanti, karena kita telah berhasil membuat sejarah.”


Sebelumnya, ke 15 finalis Miss Universe tampil mengenakan pakaian renang. Mereka kemudian diseleksi menjadi 10 orang. Penyelenggara Miss Universe, Donald Trumph, mengatakan pada wartawan,”Ini adalah kelompok wanita paling cantik dari yang pernah saya lihat.”


Ajang penobatan Miss Universe 2009 ini diisi penampilan musisi berbakat dan terkenal seperti ; Flo Rida, Heidi Montag, David Guetta dan Kelly Rowland. Montag tampil pertama dengan membawakan lagu “Body Language” dari album pertamanya. ( AP/PR, 25/8/2009 )


Komen Nurray :


Selalu terjadi pro dan kontra dalam keikutsertaan putri Indonesia ke ajang Miss Universe, terlebih pada bagian swimsuit/ pakaian renang untuk menguji kecantikan fisik. Zivanna Letisha ( 20 ), wakil Indonesia yang sempat menjadi Miss Favourite, pilihan surfer internet, bahkan berani memakai bikini/ two pieces. Hasilnya ? Zivanna, bahkan tak lolos 15 besar ( putri Venezuela menjadi pemenangnya ). Plus bangsa ini diuji kembali kekompakannya. Setidaknya itu terlihat dari adu argumen antara muslimah PKS dan Alya Rohali, mantan Putri Indonesia yang sempat hadir di ajang ciptaan Donald Trumph ini, meski waktu itu ia tampil dengan baju renang one piece. Jadi, apa gunanya ?


Alya berdalih ada standar ganda, kenapa di Indonesia, wanita berbikini di pantai atau kolam renang tak dilarang ? Agama Islam yang dianut Alya sudah melarang wanita memamerkan aurat ( sejak alam semesta belum diciptakan/ Lauh Mahfuz yang memuat kandungan Al-Qur’an, artinya sebelum Barat mengadakan “Miss Universe” ).


Ceramah soal ini juga sudah tayang di mana2. Kalau pemerintah belum melarang bikini itu karena aturan mengenai ini selalu terjegal oleh agen2 asing & simpatisannya yang mengkontaminasi DPR dan pemerintahan. Untuk memberantas korupsi yang jelas2 menyengsarakan rakyat selama puluhan tahun saja susahnya bukan main. KPK dan UU Pengadilan Tipikor sudah di ujung tanduk ( saya harap Mahkamah Konstitusi mau memperpanjang batas waktu penetapan UU tsb, sampai beberapa waktu setelah anggota DPR hasil pileg 2009 yang terdiri 70 % orang muda dilantik dan siap bekerja. Kalau anggota dewan yang mau pensiun ini ogah-ogahan, biar anggota DPR muda yang membahasnya ).


Soal Malaysia juga ikut, saya tak menganggap generasi Malaysia masa ini sebagai panutan. Kesenian angklung, reog, batik, lagu “Rasa Sayange’ berani mereka klaim, apalagi cuma ikut “Miss Universe” dan berpakaian renang. ( Tari Pendet akhirnya diselesaikan dengan pencabutan dan permintaan maaf dari Discovery Channel yang telah salah memasukkan kesenian pulau Bali itu ke dalam acara “Enigmatic Malaysia”. Keris dan wayang kulit sudah dipatenkan Indonesia ke UNESCO ).


Saya bayangkan kalau putri Indonesia menang kontes “Miss Universe”, ia harus mempromosikan produk2 sponsor ajang tsb ke seluruh dunia. Sebagian besar, pastinya, milik zionis. Warga Gaza, Palestina yang selama ini kita bela, tentu akan terluka hatinya dan meragukan keberpihakan kita ( jangan lupa Tim Mercy Indonesia juga sedang menggadaikan nyawa di sana. Kita tak ingin peluru, bom, rudal yang dibiayai pengusaha zionis, sebagian ada/ diproduksi, karena andil promosi putri Indonesia. Apalagi sampai membunuh bangsa sendiri, juga saudara semuslim. Mau dikemanakan muka ini ?


Ada pertanyaan dari kru “Democrazy”, bagaimana agar Indonesia bisa ikut kontes dunia seperti ini tanpa polemik ? Saya kira jawabannya sudah dilakukan oleh sebagian pemuda kita. Yang teranyar, tim Indonesia juara 2 Olimpiade di Bulgaria. Indonesia juga juara 1 kompetisi sains. Sedangkan dibidang kecantikan 3 B ( beauty, brain, behaviour ), bagaimana kalau kita yang menggelar even berskala dunia itu dengan standar Timur ? Indonesia menjadi kiblat mode busana muslim sejauh ini. Alih2 memamerkan aurat, para kontestan diminta memamerkan busana penutup aurat yang trendi juga ‘nyari ( syariah ). Seru, kan ? Ajang “Miss Universe” ala Amerika ? Sejauh ini tak signifikan manfaatnya. Tinggalkan saja. Putri Indonesia jangan ikut lagi. Cuma perpecahan yang mengemuka.


Dewasa ini, banyak bule yang tertarik dengan busana nan anggun dan bermartabat karya perancang Indonesia. Dalam ajang kecantikan ini, tak hanya Malaysia yang bisa mengirimkan wakilnya, tapi wanita Iran, Palestina, Irak, Afganistan, Pakistan, dan negeri2 muslim lainnya mungkin diizinkan pemerintahnya untuk turut serta. Mooryati Soedibyo, Martha Tilaar, dan pengusaha2 Indonesia bisa mempromosikan produk dalam negeri ke seluruh dunia. Dan, dunia muslim bersatu. Isn’t that nice ?


Trilogi “Merah Putih”, veteran TKR dan Palagan Ambarawa


Prajurit Indonesia siap mempertahankan kemerdekaan.

Prajurit Indonesia siap mempertahankan kemerdekaan.

Saya tak bisa melupakan gegap gempita penonton Indonesia bertepuk tangan dan berteriak merdeka di cineplex siang itu ( 20/8/2009 ). Saya pikir cuma warga Gaza yang bisa begitu melihat pahlawannya menghajar tentara Israel di film “Emad Akel” . Nyatanya warga kita, bisa juga. Yang membuat kita berdebar dan bersorai ini, film “Merah Putih” karya kolaborasi sineas Indonesia dan bule. Film perjuangan itu dibintangi mayoritas kaum muda ; Lukman Sardi, Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, T.Rifnu Wikana, Zumi Zola, Astri Nurdin, Rahayu Saraswati dan banyak lagi.


Film trilogi merdeka ini menarik kalangan beragam usia. Ketika keluar bioskop, saya lihat dari usia TK sampai kakek nenek menontonnya. Bukan main. Film ini memang layak ditonton. Perpaduan kebijakan falsafah Timur dan kecanggihan teknologi perfilman Hollywood. Dari pengalaman saya menonton film, “Merah Putih” adalah kombinasi film trilogi persahabatan “The Lord of the Rings”, pelatihan kadet pasukan elit Hongkong “Best of the Best”, film aksi penuh ledakan “XXX”, penyusuran belantara Vietnam ala film pemenang Oscar “Platoon” dan ikatan prajurit serial apik televisi “Band of Brothers”.

Poster film trilogi merdeka "Merah Putih"

Poster film trilogi merdeka "Merah Putih"

Ada haru, tawa, sedih, gembira, benci, cinta, lucu, heroik, campur aduk dengan takaran pas. Ada dikotomi orang Jawa dan luar Jawa ( Bali, Manado ). Priyayi versus petani. Kita tahu di situ, Bali yang terakhir dikoloni Belanda. Dan wakil Bali di film itu digambarkan paling jago bertempur, mirip Legolas ( pangeran peri di TLOTR ) yang tak terkalahkan. Maut hanya mainan baginya. Cool.

Wakil Manado, yang petani, paling pemberani. Wakil Jawa, yang priyayi, tak jago menembak, tapi jago sejarah dunia. Dan, sang komandan, letnan 2, asal Jawa, kalem dan memimpin. Ia seorang guru yang gelisah setelah disentil anak didiknya yang tewas oleh peluru Belanda,”Bagaimana bapak bisa tenang mengajar, sementara orang lain berjuang mengusahakan kemerdekaan untuk bapak juga ?”


Jadi, kita tepuk tangan ketika 4 dari 8 anggota pasukan yang tersisa, berdiri menjulang dilatari teriknya matahari seperti cover “Band of Brothers”. Kita tepuk tangan ketika F4 ( Ef tse/ Fantastic Four ) made in Indonesia ini menghajar tentara2 Belanda. Kita tepuk tangan ketika si Manado dengan kostum petani sukses mengelabui iring2 kendaraan logistik musuh lalu terjun ke sungai dengan latar kobaran api membubung ke udara dari truk yang meledak. Kita tepuk tangan ketika seorang warga desa dan ke-7 anaknya berubah segarang petarung menjungkalkan musuh.


Kita tepuk tangan ketika si Bali melontarkan belati dengan indah merobek dada tentara Belanda. Kita tepuk tangan ketika ia menyobek bagian biru bendera Belanda menjadi merah putih Indonesia. Selanjutnya, ketika menghambur ke arah pasukan Belanda, merobohkannya dengan piawai, gagah berani lalu melompat ke atas jeep petinggi Belanda yang ditaklukannya, si Bali dan saya, juga seluruh penonton di sekeliling saya, tak tertahankan untuk berpekik,“MERDEKA !!!”


Kita seperti ikut berjuang bersama para karakter. Pengalaman mengesankan. Can’t wait seeing the two sequel next year.


Semalam ( 23/8/2009 ) dalam tayangan “Langit Merah di Ambarawa” di slot “Metro Files”, saya lihat pelaku sejarah aslinya/ masa yang sama ( ketika Belanda menggonceng tentara Sekutu yang ditugasi melucuti senjata tentara Jepang, berusaha menguasai Indonesia kembali ) terlihat berjalan tertatih dan bercerita dengan mulut ompong. Mengharukan. Satu dua gigi yang tersisa, artikulasi tak begitu jelas, tapi semangat tetap berkobar. Dengan fasih para veteran berumur 80 tahun lebih menceritakan datangnya jenderal Lord Mountbatten ke Jawa Tengah.


Para internir-an ( tentara Belanda yang ditahan tentara Jepang ) yang dibebaskan tentara sekutu, diam2 dibekali senjata oleh NICA Belanda. Lalu terjadilah penculikan, penyiksaan di Magelang, Kebumen, Purworedjo, Solo, Yogya dan Ambarawa. Di Ambarawa sendiri ada 2 batalyon tentara sekutu bersenjata lengkap dan modern melawan para pemuda dan rakyat petani yang bermodalkan nekad dan bambu runcing. Do you know what ?


2000 pemuda dan petani itu tewas. Sekutu tewas 100 orang. Tawanan perang tewas 175 orang. Namun, dengan korban sebesar itu, tentara sekutu berhasil dipukul keluar Ambarawa. Rupanya, rakyat tanpa senjata menyerang markas musuh bersenjata lengkap, begitu menakutkan, sehingga musuh terpaksa mundur ke Semarang. Aneh tapi nyata, kan ?


Dari setting itu juga muncul pemuda panutan anggota TNI sepanjang masa. Sudirman, yang diangkat panglima berpangkat jenderal di usia yang baru 31 tahun. Urip Sukoharjo diangkat kepala staf TKR. Waktu terjadinya Palagan Ambarawa itu dijadikan Hari TNI – Angkatan Darat. Tjipto Martoyo ( 81 ) mendapat tunjangan veteran sebesar 250 ribu perbulan. Anggota Resimen 23 Divisi 41 TKR menutup kisah dengan ucapan,”Niat kami membela NKRI memang tanpa pamrih.”


Saya bayangkan ia setampan si priyayi, seberani si Manado, sekuat si Bali dan sebijak si letnan, 64 tahun lalu. Setidaknya hatinya telah memancarkan pesona sosok pahlawan, sehingga ia layak dilihat dengan keindahan itu. Terima kasih para pejuang dan pahlawan Indonesia. Kami akan meneruskan perjuangan kalian dengan mengisi kemerdekaan dan mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia. Doakan kami agar tak mengecewakan kalian.


hit counters
hit counter

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: