dari Palestina sampai Indonesia

Malaysia mengklaim kuliner Indonesia, seni budaya & pulau kita. Bangun para penidur !

Posted in indonesia by nurray on 14/09/2009

Konfilik Indonesia dan Malaysia atas klaim produk kebudayaan terutama bidang seni kian meruncing. Sangat melukai hati seluruh bangsa Indonesia. Klaim tsb seperti fenomena gunung es, di tengahnya produk budaya Indonesia, dan di bawahnya produk kuliner khas Indonesia yang turut diklaim Malaysia. Produk kuliner berperan penting dalam industri pariwisata, sama kedudukannya dengan obyek wisata, atraksi budaya dan fasilitas pendukung pariwisata lainnya.

Selaras dengan gencarnya geliat industri dan promosi pariwisata Malaysia dan upaya pencitraan negeri jiran itu di tingkat internasional, kuliner menjadi bagian penting untuk dikedepankan. Kuliner terpilih tentunya harus beragam dan memiliki nilai etnis serta cita rasa tinggi. Masalahnya, kuliner yang diklaim sebagai produk khas Malaysia ini perlu dipertanyakan kekhasannya, apakah kuliner tsb benar2 otentik asli Malaysia atau mencaploknya dari negara lain yang kaya akan produk kulinernya ?

Indonesia merupakan negara dengan produk kuliner khas yang sangat beragam dan termasuk terkaya di dunia. Berbagai jenis makanan dan minuman tradisional tersedia dengan cita rasa khas yang tak dapat dijumpai di belahan dunia manapun. Namun, tampaknya hal ini juga memancing Malaysia untuk menguasai produk kuliner di Indonesia. Gelagat Malaysia mengklaim kuliner Indonesia sudah lama dilakukan dengan mengintai produk2 khas Indonesia, untuk dijadikan produk kuliner etniknya. Dengan berdalih kedekatan geografis dan rumpun bangsa yang sama, banyak kuliner Malaysia yang mirip dengan Indonesia ( kedua negara ini sama2 mendapat pengaruh Cina dan India ), seperti yang terjadi pada kuliner gado2 dan rendang Sumatera Barat ( yang kaya akan bumbu rempah ), sudah diklaim sebagai kuliner asal Malaysia.

Beragam produk kuliner lain khas Indonesia, sudah dikemas dengan standar internasional dengan label “Buatan Malaysia” di luarnya. Bahkan, pada kemasannya Malaysia tidak ragu2 mencantumkan nama yang sangat berbau Indonesia. Produk2 yang sudah dikembangkan antara lain ; mi kocok, otak2, rendang daging, laksa, rempeyek, berbagai produk jamu dan rempah2, tauco, ketupat, lontong, gado2, sambal, pecel, soto, sate, cendol, bimpang, serundeng, dan banyak lagi. Malaysia tidak segan2 menggunakan kata2 yang sangat identik dengan Indonesia sebagai selling point-nya, seperti “Bandung” dan Mie Muar Bandung, dan “Bali” dan teh Bali.

Gado2 komoditi ekspor andalan Malaysia ?

Gado2 buatan/ dari Malaysia ?

Produk2 tsa, tidak semata-mata diproduksi untuk kebutuhan dalam negeri saja, tetapi sudah diproduksi massal dengan standar internasional dan digiring menjadi komoditi ekspor andalan Malaysia ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Tak heran saat ini banyak produk kuliner Malaysia dapat ditemui di negara2 Eropa atau supermarket2 di Indonesia. Yang memprihatinkan pula, gencarnya promosi internasional Malaysia yang memposisikan negaranya sebagai pusat rempah dunia. Hal ini menjadi strategis baginya, bukan hanya karena rempah2 menjadi unsur terpenting dalam pembentukan cita rasa kuliner, tetapi juga menjadi bagian strategi jangka panjangnya membangun industri rempah2 tingkat dunia.

Untuk kepentingan industri dan promosinya ini, Malaysia tidak segan2 memplintir sejarah perkembangan rempah2 ratusan tahun yang lalu, dengan mengeliminasi Indonesia sebagai pusat rempah dunia. Malaysia mencitrakan diri sebagai pusat rempah dunia sejak ratusan tahun yang lalu, yang kemudian diekspos di media massa internasional sebagai bagian dari program pencitraan pariwisatanya. Malaysia mengembangkan kebijakan yang konsisten dan fokus pada paket2 kebijakan serta berbagai strategi unik, yang dilakukan pemerintah dan didukung perusahaan2 negara, pihak perbankan dan pengusaha swasta. Mereka bersama-sama mendorong usaha besar dan kecil untuk memproduksi beragam produk kuliner yang berstandar internasional untuk mendukung industri pertanian dan pariwisatanya.

Untuk menguatkan komoditas berbasis kuliner ini, Malaysia memberikan bantuan pada wirausaha yang mengusahakan produk halal berupa bantuan keuangan pajak khusus, kelonggaran pajak investasi 100 % selama 5 tahun, bantuan perencanaan dan pengembangan produk hingga pengembangan bisnis, pengawasan ketat melalui sertifikasi halal hingga perhatian khusus pada pengembangan paten yang menyangkut standar kualitas, proses produksi, penciptaan produk, hingga standar2 produk halal. Upaya2 tsb diikuti dengan mengembangkan pasar dan promosi merk yang dianggap serius sebagai investasi strategis dalam menjamin keberlangsungan pasarnya. Bagaimana dengan nasib kuliner Indonesia selanjutnya ? ( PR, 14/9/2009 ).

Siapa yg bikin malu ? Pemerintah, DPR, akademisi atau Bendera ?

Ketua Komisi I DPR RI, Theo L. Sambuaga meminta masyarakat menghindari aksi yang dapat menjauhkan hubungan RI dengan Malaysia. Sweeping terhadap warga Malaysia dengan membakar bendera atau tindakan anarkis lainnya itu tidak dibenarkan hukum.

Sweeping dilakukan Kelompok Benteng Demokrasi Rakyat ( Bendera ) di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa ( 8/9/2009 ). Menurut para aktivis, sweeping itu dilakukan sebagai protes atas sikap pemerintah yang lamban dan kurang tegas menyikapi tindakan Malaysia yang telah mempreteli kekayaan budaya nusantara dan memprovokasi tapal batas NKRI dengan Malaysia.

Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Rais Yatim mengatakan, pemerintah dan rakyat Malaysia tidak melakukan demonstrasi di KBRI Kuala Lumpur sebagai balasan demo di Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.”Walau pun bendera Malaysia dibakar, kedutaan kami dilempari telur dan batu, kami tidak akan membalas kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur,” kata Rais didampingi Dubes RI untuk Malaysia, Da’i Bachtiar di Kuala Lumpur, ( 9/9/2009 ). Rais mengadakan acara buka bersama dengan karyawan RTM ( Radio Televisi Malaysia ) di Gedung RTM dengan mengundang Da’i Bachtiar dan para wartawan Indonesia di Malaysia. Tujuannya, mendinginkan suasana akibat pemberitaan pers Indonesia yang menuduh Malaysia mengklaim beberapa kesenian dan kebudayaan Indonesia yang akhirnya menimbulkan kemarahan dan demonstrasi di Kedubes Malaysia di Jakarta dan beberapa kota. ( PR, 10/9/2009 ).

Pakar tentang Malaysia dari Universitas Indonesia ( UI ), Linda Sunarti, mengatakan aksi sweeping sebagian warga negara Indonesia terhadap warga Malaysia tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan memperkeruh suasana. Jangan cepat terprovokasi, tidak ada gunanya. Bagaimana jika aksi tsb mendapat balasan dari Malaysia terhadap warga Indonesia yang berada di Malaysia. Masalah tsb akan bertambah runyam, karena ada sekitar 2 juta warga Indonesia yang bekerja di Malaysia. Menurut dia, aksi tsb dilatarbelakangi ketidaktahuan mereka akan akar permasalahan yang terjadi sesungguhnya. Katanya, hubungan antara Indonesia dan Malaysia memasuki babak baru yaitu Malaysia yang dulu dianggap “anak bawang” mulai menunjukkan kemajuan dan meninggalkan Indonesia.”Di sinilah Indonesia seperti sensitif dengan apa yang dilakukan Malaysia.” Ia juga menilai aksi tsb karena pemberitaan media terutama televisi yang terlalu memanaskan situasi yang ada, sehingga sejumlah warga Indonesia ada yang terprovokasi.

Pemerintah Malaysia melalui Menteri Luar Negeri, Kamis ( 10/9/2009 ) memanggil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Da’i Bachtiar. Malaysia menyatakan keprihatinan mendalam menyusul protes kemarahan warga Indonesia terhadap negeri jiran itu, yang dipicu oleh tudingan telah mencuri budaya tradisional Indonesia. Masalah bermula pada bulan Agustus setelah muncul iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan tari pendet dari Bali. Meskipun pemerintah Malaysia menyatakan tidak tahu menahu, sejumlah elemen masyarakat Indonesia menyampaikan reaksi marahnya. Protes diantaranya dengan melempar telur busuk ke Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta. Malaysia juga meminta agar pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk menyakinkan keselamatan warga Malaysia di Indonesia, serta meyakinkan bahwa tindakan agresif dan ekstrem di Indonesia segera dihentikan. Menlu Malaysia, Anifah Aman mengungkapkan pandangannya mengenai memburuknya hubungan bilateral kedua negara akhir2 ini.

Sedikitnya 6.000 mahasiswa asal Malaysia yang tersebar di 20 perguruan tinggi Indonesia. Sampai saat ini, Indonesia masih menjadi salah satu negara tujuan pendidikan yang banyak diminati calon mahasiswa asal Malaysia.”Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi yang berkualitas internasional. Contohnya, Unpad yang menurut saya memiliki fakultas kedokteran terbaik di Indonesia, bahkan mungkin di ASEAN,” kata Khairul Hafidz Alkhair, ketua Persatuan Kebangsaan Pelajar2 Malaysia di Indonesia ( PKP-MI ). Hafidz berharap, isu apa pun yang muncul antara Indonesia dan Malaysia dapat diselesaikan dengan baik oleh pemerintah kedua negara.

Mulyadi, dosen sejarah Fakultas Sastra Unpad, mengatakan, masyarakat sebenarnya tidak perlu mendahulukan emosi dalam menyikapi isu Indonesia-Malaysia, terutama yang berkaitan dengan budaya. ”Kita ambil contoh soal lagu “Terang Bulan”. Kalau yang lebih dulu angkat bicara adalah orang yang tahu sejarah bahwa lagu itu sudah dihibahkan kepada Malaysia, masalah akan cepat selesai.”

Berbagai dengan masalah ini, presiden SBY akan berkunjung ke Kuala Lumpur dan bertemu PM Malaysia, Najib Tun Razak, awal Oktober 2009. Malaysia menawarkan tanggal 9 Oktober 2009. Beberapa agenda pembicaraan yang bakal disampaikan ialah keamanan pangan, kawasan, terorisme, namun bisa saja masalah klaim kebudayaan muncul dalam pembicaraan nanti, kata Da’i, mantan Kapolri, dalam jumpa pers di KBRI dengan wartawan Malaysia dan Indonesia.

Mengenai ketegangan hubungan antara Indonesia – Malaysia, presiden Yudhoyono mengatakan, sweeping warga Malaysia di Jalan Diponegoro oleh segelintir orang bukan cara yang baik, tidak beretika, dan membuat malu Indonesia di dunia internasional. ( PR )

Komen Nurray :

Stupid us ? Or stupid them ? Saya ingat Arswendo Atmowiloto pernah bicara di Democrazy – MetroTV, orang kita itu pinternya nyerang diri sendiri ( sindrom inferior yang parah ). Orang Malaysia itu pinternya ngacak-ngacak kita dan mereka kompak. Saya sependapat. Presiden SBY yang mestinya di garda terdepan membela harga diri bangsa, memilih mendengar menlu Malaysia untuk menghentikan protes bangsanya sendiri dan menyakinkan keselamatan warga Malaysia di Indonesia.

Excuse me ? Apakah warga kita selamat di Malaysia ? Ribuan warga kita disiksa majikannya yang warga negara Malaysia. 180 orang TKW terkatung-katung nasibnya di belakang KBRI Malaysia. Kisah kekejaman yang dialami Siti Hajar, Modesta, Manohara, dst, belum lepas dari ingatan kita. Guru karateka kita dihajar oleh 8 polisi Diraja Malaysia tanpa sebab, hanya karena dia indon. Saya juga melihat rekaman polisi2 Diraja Malaysia dengan buas menghajar seorang TKI yang sudah tak berdaya.

Pemerintah kita lembek, memble, kata Permadi berapi-api. Saya sependapat. Langsung keder mengingat 2 juta warga Indonesia di Malaysia, seperti yang dicemaskan Linda Sunarti. Kelompok Bendera melakukan sweeping karena tidak tahu akar permasalahan yang terjadi sesungguhnya. Apa Linda tahu ? Paham ? Apa yang sebenarnya sedang dilakukan Malaysia pada kita ? Warga kita sensitif ?

Bukan sensitif, bu Linda. Kami tegang, karena kegagalan/ kelemahan diplomasi kita dengan bangsa lain, seperti berulang. Seperti tak pernah belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri. Ya, diplomasi model domba itu, lembek, menghukum diri sendiri, dan seribu maaf buat negara yang mencuri ikan ( illegal fishing ) dan kayu ( illegal logging ), mengklaim 26 khasanah budaya kita, mengambil banyak kuliner Indonesia sebagai komoditi ekspor andalan Malaysia ke seluruh dunia, menghapus sejarah/ citra Indonesia sebagai pusat rempah dunia ( agar Malaysia bisa mengaku dirinyalah yang pusat rempah dunia ), mengaku-ngaku Pulau Jemur sebagai bagian wilayahnya, mengambil pulau Sipadan Ligitan juga memperluas wilayah teritori laut ke arah laut kita, memindahkan patok perbatasan kita, mengincar blok Ambalat milik kita yang kaya akan minyak dan gas bumi ( demi keuntungan yang diperoleh Malaysia dengan perusahaan zionis yang mereka undang masuk/ Shell ). Siapa tahu Indonesia meleng lagi ?

Apalah artinya telur busuk di Kedutaan Malaysia dibandingkan kerugian ratusan trilyun dari ikan, kayu, wilayah teritori, produk budaya dan kuliner yang mereka curi dari kita ? Mereka pantas mendapatkan. Setahu saya permintaan maaf dari mereka juga tak pernah terbuka, misalnya Menteri Pelancongan Malaysia minta maaf soal nyelonongnya Tari Pendet ke iklan pariwisata mereka lewat telpon/ informal. Kita hanya dengar permintaan maaf itu dari mulut Jero Wacik, Menbudpar kita sendiri. “Enigmatic Malaysia” itu diputar berulang-ulang di Discovery Channel, dan kementerian pariwisata Malaysia tak melihatnya ? Tak menanyai production house Malaysia yang membuatnya, tak menegur Discovery Channel yang menayangkan dan menyisipkan Tari Pendet ? Apa mereka pada tidur semua ? Pulau Jemur milik Indonesia juga dibiarkan nongol di situs biro travel Malaysia sebagai obyek wisata dalam teritori Malaysia. Kementerian Pelancongan juga masih tidur ?

Tari Pendet dari Bali muncul di "Enigmatic Malaysia". Jika tidak keburu ditegur mungkin jadi milik Malaysia juga, seperti keroncong yang sudah dianggap milik keluarga kerajaan Malaysia.

Tari Pendet dari Bali muncul di "Enigmatic Malaysia". Jika tidak keburu ditegur mungkin jadi milik Malaysia juga, seperti keroncong yang sudah dianggap musik keluarga kerajaan Malaysia.

Saya bayangkan, kalau tidak ada kelompok Bendera yang protes, juga warga kita yang peduli dengan khasanah bangsanya, pemerintah kita juga ikut2 tertidur. Waktu terbangun tahu2 pulau sudah diambil alih Malaysia, seperti terjadi pada Pulau Sipadan & Ligitan, serta Pulau Pasir yang dicaplok Australia. Lalu, anggota EPG tinggal ngomong enteng Pulau Sipadan Ligitan asalnya tidak bertuan, jadi tidak ada istilah lepas dari NKRI. Lho ? Jika tak bertuan, artinya Malaysia juga tak berhak atas pulau tsb. Kalau sampai mereka bisa mengambil alih, itu bukti bahwa kekuatan diplomasi kita sungguh2 sangat lemah, sampai bisa ditelikung oleh negara yang luasnya tak separoh dari Sumatera itu. Modal omong doang.

Hati2 juga dengan PM Najib Razak. Ia pernah diberitakan tersangkut kasus pembunuhan wanita, mantan kekasihnya. Si wanita mati diledakkan oleh mantan pengawal Najib. Mungkinkah ia dibunuh untuk menutupi jejak atau skandal Najib ? Orang tua si wanita tak pernah memperoleh keadilan atas kematian mengenaskan putrinya hingga hari ini. We now know with whom we’re dealing it. Kelicikan dan kejahatan bisa menjalar ke anak buah dan para bawahan. Orang sesadis ini takkan punya simpati pada derita korban penyiksaan ( TKI ), apalagi empati pada kebenaran dan keadilan. Ia baru mau melakukan permintaan kita kalau dipaksa, ditekan, dikondisikan tak punya pilihan lain.

Yang lebih senang dipikirkannya adalah bagaimana bisa berkelit, kalau perlu menghalalkan segala cara, untuk lolos dari tanggungjawab dan hukuman. Misal, pada kasus Tari Pendet, si production house yang disuruh menghadapi utusan kita. Mengklaim khasanah budaya negeri lain ? No big deal, for him. Toh, selama ini pemerintah Indonesia permisif terus, punya segunung maaf untuk Malaysia. Tak ada jeweran atau tamparan. Tenang2 saja. STOP !! No More ! Mulai saat ini kita perlu memaksa dengan kekuatan untuk membuatnya jera, diikuti seluruh jajaran pemerintahan dan warga Malaysia. Jangan berani coba2 lagi mencuri dari kami.

Jadi, Linda, Theo, Rais, Anifah, Mulyadi, Da’i dan SBY, kalau sebagian warga kita melakukan sweeping, itu karena kalian dan pemerintah tidur terlalu lelap, sehingga perlu diguncang lebih hebat. Kalau protes2 ini dianggap memalukan Indonesia, saya pikir mereka juga berhak malu punya pemerintah, anggota DPR dan akademisi yang lembek, memble menghadapi kelicinan Malaysia mempermainkan kita, mencuri secara terang-terangan.

. SBY tak perlu sesumbar NKRI harga mati, kalau cara menanggapi klaim/ pencurian negara tetangga selemah ini. Pulau Jemur, pulau Batek, pulau Mangudu, pulau Dana Rote, pulau Siloinak, juga blok Ambalat, bisa2 melayang ke Malaysia, Australia atau Timor Leste, seperti pulau Sipadan-Ligitan dan pulau Pasir. No action talking only.

Bersikaplah tegas ! Tembak semua pelintas batas wilayah kita, jika setelah diberi peringatan masih mencoba lagi. Tembak ditempat aparat Malaysia yang memindahkan patok batas wilayah kita ( mereka juga senang2 saja, kok, menyiksa, mencambuk dan menggantung TKI kita ). Tembak kapal Diraja Malaysia yang berani masuk lagi ke blok Ambalat kita. Tembak cukong Malaysia yang mendanai pencurian kayu ( illegal logging ) dari hutan kita.

Tembak kapal2 penangkap ikan dari Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Cina, dll, yang menguras ikan dari perairan kita sampai 6 milyar dolar USD pertahun ( kapal nelayan kita sampai kehabisan ikan dan terpaksa mencari sampai ke Australia hingga ditembak dan dibakar habis, kenapa kita begitu pemaaf pada mereka yang sudah mencuri berulang kali pada kita ? Itu bukan sikap welas asih. Itu kelemahan yang membahayakan. Kerapuhan yang akan dimanfaatkan negara2 tak tahu diri itu ).

Panggil duta besar Malaysia untuk menjelaskan ke publik, setiap warga dan pemerintah Malaysia selonong boy mencuri/ mengklaim sesuatu dari kita. Persulit urusan Malaysia di negara kita setiap mereka mengabaikan peringatan, tuntutan penjelasan serta perbaikan yang kita minta. Siapkan kemungkinan terburuk, 2 juta warga kita di Malaysia sementara pulang ke tanah air.

Percayalah, Malaysia takkan berani berperang dengan kita ( setahu saya, mereka tak punya pengalaman berperang, kemerdekaan Malaysia dari Inggris setelah Soekarno mengerahkan pasukan kita ke Malaysia untuk mengusir neokolim sekutu di Malaysia dan Singapura ). Mereka bahkan takkan bisa beraktivitas normal setelah kepulangan 2 juta warga kita yang sebagian besar TKI di sana. Percayalah, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Australia, akan respek setelah tahu kita tak pernah main2 dengan apa yang telah kita peringatkan kepada mereka. Ini soal dignity, harga diri, betul2 harga mati. Well, Mr.President, do you hear them ? Or do you hear us ? Show your heart for your people. Not them.

Duta Besar Malaysia tidak datang ketika diundang MetroTV untuk menjelaskan soal Tari Pendet itu kepada para pemirsa. Da’i Bachtiar mau datang bahkan diceramahi Menlu Malaysia yang mungkin juga suka tidur, karena tidak tahu ( atau pura2 tidak tahu ) begitu banyak warga Malaysia mengklaim banyak hal dari kita. Keluarga kerajaan Malaysia menyewa guru keroncong dari Indonesia. Setelah sekian bulan menguasai seni keroncong, sang guru dipulangkan. Keroncong pun diklaim sebagai seni kerajaan Malaysia. Semudah itu mereka melakukan, sejungkir balik ini kami harus mengingatkan pemerintah. Dan, kelompok Bendera dicap tak beretika, bikin malu Indonesia. Tak heran, darah mereka naik ke ubun2. Darah saya juga. Saya sungguh bisa merasakannya kemangkelan itu …

hit counters
hit counter
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ratih said, on 29/09/2009 at 07:36

    sekalian aja gudeng sama peyem bandung di jadikan makanan dari malaysia, ” BIAR PUAS “

  2. nurray said, on 30/09/2009 at 13:36

    @ Ratih :
    Ya, tuh. Kenapa orang Malaysia nggak malu mencomot khasanah kuliner kita begitu saja, tanpa punten2 dulu, nggak etis gitu loh. Pemerintah kita rada loyo kalo urusan dengan negara tetangga, makanya kita yg punya kenalan Malaysia, punya akses ke sana mesti ngingetin. Repotnya kalo sebagian orang Malaysia sudah sadar, mereka masih terkendala dengan UU ISA yg melarang warga Malaysia mengkritik kebijakan pemerintahnya. Jadi, perjuangan masih panjang, kawan.Thanks komennya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: