dari Palestina sampai Indonesia

Keppres & pengangkatan penyidik independen KPK.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 14/10/2009

Presiden SBY, Minggu ( 11/10/2009 ) telah menandatangani Keputusan Presiden ( Keppres ) Pemberhentian Tetap Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) Non aktif, Antasari Azhar, setelah dalam proses hukum Antasari statusnya menjadi terdakwa. Mensegneg Hatta Rajasa belum bisa menyebutkan nomor keppres yang telah dikeluarkan karena masih dalam proses administrasi di Sekretariat Negara.

Antasari Azhar, tak semestinya duduk di kursi pesakitan. Ia dijebak, difitnah, dibunuh karakternya oleh oknum Polri & Kejagung. Semoga azab keras segera jatuh ke para pelaku konspirasi keji penggembosan KPK. Amin.

Antasari Azhar, tak semestinya duduk di kursi pesakitan. Ia dijebak, difitnah, dibunuh karakternya oleh oknum Polri & Kejagung. Semoga azab keras segera jatuh ke para pelaku konspirasi keji penggembosan KPK. Amin.

Sementara itu, semakin kuat desakan terhadap KPK untuk memiliki penyidik independent yang melakukan penyidikan kasus korupsi tanpa ada rasa sungkan atau hambatan psikologis terhadap lembaga tertentu. Sekjen Transparency International Indonesia ( TII ) Teten Masduki di Jakarta, Senin ( 12/10/2009 ) mengatakan wacana penyidik KPK yang independent itu timbul antara lain dikuatirkan terdapat masalah loyalitas yang dialami para penyidik sekarang ini apabila haru menyelidiki orang2 dari lembaga tempat mereka berasal.

Sebelumnya, peneliti ICW, Febri Diansyah mengemukakan, konsep penyidik independent selaras dengan KPK sebagai lembaga negara independen. Berdasarkan UU KPK no.30 tahun 2002, terdapat celah yang membuat KPK dapat mengangkat tenaga penyidik yang sifatnya independent. Pasal 45 ayat ( 1 ) UU KPK menyatakan,”Penyidik adalah penyidik pada KPK yang diangkat dan diberhentikan oleh KPK.” Sementara ayat ( 2 ) nya berbunyi,”Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) melaksanakan fungsi penyidikan tindak pidana korupsi.”

3 pimpinan sementara KPK. Mas Achmad Santosa (kiri), Tumpak Hatorangan Panggabean (tengah) dan Waluyo (kanan)

3 pimpinan sementara KPK. Mas Achmad Santosa (kiri), Tumpak Hatorangan Panggabean (tengah) dan Waluyo (kanan)

Plt sementara Ketua KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean, di Jakarta, Selasa ( 6/10/2009 ) mengatakan, pihaknya akan memperjuangkan pengangkatan penyidik sendiri yang lebih independen. Menurut Tumpak, wacana pengangkatan penyidik secara independen ini sudah ada ketika dia menjadi wakil ketua KPK periode 2003-2007 ( PR, 13/10/2009 )

Komen Nurray :

Menyedihkan, pahlawan anti korupsi diberhentikan oleh presiden yang telah dikatrol popularitasnya oleh keberhasilan KPK pimpinan Antasari menggaruk koruptor2 besar. Kenapa SBY lebih percaya pada petinggi lembaga2 ( Polri, Kejagung, Dep.Kehakiman ) yang sedang ia bersihkan ? Track record bersih Antasari apakah tidak menjadi pertimbangannya ? Kenapa Susno cs yang menyalahgunakan wewenang ( bertemu dengan Anggoro di Singapura setelah dicekal, memper-tersangkakan Bibit, Chandra dengan pasal yang bukan hak Polri untuk memeriksanya, juga kasus 10 milyarnya dalam pencairan dana Budi Sampoerna ) tidak dinonaktifkan juga ? Semata, karena Irwasum Polri tidak paham hukum, punya standar ganda, keder/ rikuh memeriksa sejawatnya atau mungkin juga satu komplotan dengan Susno, sehingga Susno tak diproses lebih lanjut ? Pengacara Bibit-Chandra sudah menawarkan ahli hukum independen untuk uji perkara, pada Irwasum, tapi karena niat mereka sejak awal adalah menutupi borok Polri, maka Irwasum, Kapolri dan Susno cs setali 3 uang. So ?

Bentuk Tim Penyidik Independen untuk memeriksa Antasari, Susno, Bibit, Chandra

Teten Masduki. Sikat para koruptor, pak !

Teten Masduki. Sikat para koruptor !

Bentuk Tim Penyidik Khusus diluar Polri yang berani ambil resiko ( pantang diteror/ tak takut diintimidasi/ dengan perlindungan penuh oleh negara/ rakyat ) membersihkan seluruh jajaran Polri, Kejagung, Departemen Kehakiman dan Mahkamah Agung. Jika SBY benar2 bertekad membentuk strong government, mutiara kebenaran seperti Antasari jangan disia-siakan. Juga, jangan memilih pimpinan Polri seperti Bambang Hendarso Danuri dan Kejaksaan Agung seperti Hendarman Supandji. Lembek, lamban sehingga gampang ditelikung/ disetir oleh anak buahnya yang ganas2/ jahat2. Mencari bawahan yang “tidak mengancam” memang nyaman untuk ego kita. Tapi sisi buruknya, kita tidak tahu kelemahan kita, dan bahayanya, orang manut2 yang kita pilih itu bisa kalah “set” dengan anggotanya yang “super kreatif” dalam pelanggengan korupsi atau tindak kejahatan lain ( memeras warga yang tertangkap razia, meski terbukti tak bersalah ).

Antasari jangan diberhentikan dulu ( Sekretariat Negara tahan dulu keppres itu ), sampai semua proses penyidikan atas kasus Antasari dilakukan dengan prosedur yang benar oleh Tim Penyidik Independen. Antasari berhak mendapat pemeriksaan yang adil, bersih, dan transparan. Mengingat jasanya pada negeri ini, Antasari tak layak diperlakukan seperti ia diperlakukan Polri-Kejagung sampai hari ini. Apa jadinya nanti, kalau ternyata Antasari terbukti tak bersalah ( kecenderungan bukti yang otentik/ bukan rekayasa, demikian ) tapi SBY kadung mengeluarkan Keppres karena desakan Polri yang tak beres ini ? SBY tak bijak dan tak berpihak pada rakyat/ kebenaran.

Kebenaran semu yang digembar-gemborkan Polri belakangan ini harus dicek lagi. Bukankah KPK dibentuk untuk membersihkan koruptor dan suap, salah satunya di tubuh Polri ? Sepak terjang Polri dalam konteks/ masa ini patut diwaspadai sebagai upaya menggagalkan pemberantasan korupsi di lembaganya. It make sense, doesn’t it ?

Ingin mati, atau ingin membungkam kesaksian ?

Buaya versus Cicak, dimulai dari ucapan Susno, yang menggambarkan dirinya buaya dan KPK cuma cicak, pembasmi tikus kantor.

Buaya versus Cicak, dimulai dari ucapan Susno, yang menggambarkan dirinya buaya dan KPK cuma cicak, pembasmi tikus kantor.

Saya juga tak percaya begitu saja ketika Nanan Sukarna ( Kadiv Humas Polri ) mengatakan para teroris itu ditembak mati karena mereka semua ingin mati. Mereka ingin Afganistan merdeka dari pendudukan Amerika cs. Mereka ingin Indonesia berdaulat penuh, tidak menjadi good boy Amerika dan menjadikan wilayah kita yang kaya sebagai sarana mengisi pundi2 uang para pengusaha zionis/ pemerintah AS/ militer AS untuk menginvasi Irak, mengintervensi pemerintah Pakistan, mengganggu pemerintah Iran dan memodali Israel terus menjajah bumi Palestina agar bisa terus menguasai minyak Timur Tengah.

Mereka tak ingin mati sebelum cita2 itu tercapai. Saya, kok, melihat kemiripan antara diisolasinya Rani Juliani, ditahannya Mohammad Jibril, dengan tewasnya 9 teroris. Tak ada akses publik untuk mengetahui kebenaran pengakuan mereka. Muhjahri setelah rumahnya yang menjadi tempat tewasnya Ibrohim direnovasi Mabes Polri juga tertutup dengan tamu dan wartawan. Apa sekedar melindungi info penting soal teroris ? Atau ada soal lainnya yang dirahasiakan ?

Kita tidak tahu sandiwara apa yang sedang dimainkan mereka, juga Polri. Dengan informasi di satu pihak saja, Polri bisa leluasa mengarahkan hasil temuannya untuk melobi SBY atau mengkambinghitamkan orang tertentu untuk kepentingannya. Apa teman2 merasakan timing yang diatur ? ; tewasnya Zuhri dan Syahrir dengan status Antasari yang disodorkan ke SBY untuk diberhentikan/ terdakwa, tewasnya Noordin M.Top dengan status Bibit, Chandra yang disodorkan ke SBY untuk dinonaktifkan/ tersangka ? Susno nempelin Kapolri Bambang ketika akan mengecek jasad Ibrohim, kan ? Kita ingat juga, peledakkan J.W Marriot & Ritz Carlton untuk mengalihkan kisruhnya hasil pilpres 2009 ? Jatuhnya pesawat2 militer untuk menurunkan popularitas SBY ? Do you feel it, too ?

Metode hipnosis digunakan Mabes Polri untuk memeriksa para tersangka teroris ?

Dalam suatu kesempatan, mantan Kapolri Da’i Bachtiar bersilaturahmi ke sebuah pesantren di kawasan kompleks Margahayu Raya Bandung. Di salah satu ruangan, seorang ustad, yang dikenal sebagai guru hipnosis, menjelaskan manfaat ilmu hypnosis bagi kepentingan penegakan hukum dan penangan kasus kriminalitas.”Uji coba” manfaat pun dilakukan. Dalam hitungan menit, sejumlah “pengawal” Da’I tertidur dengan aneka gaya yang lucu dan “penuh wibawa”. Diantara mereka ada pula yang diajak mengobrol dan ironisnya, ada yang mengungkapkan informasi pribadi yang lugu.

Lalu, apa yang menarik dari peristiwa yang terjadi sekitar 3 tahun lalu itu ? Tak lain adalah munculnya wacana baru di lingkungan kepolisian ikhwal kemungkinan diterapkannya metode hypnosis dalam penanganan kasus kriminalitas. Sang guru penulis itu pun menuturkan kepada Da’I bahwa kemampuan hypnosis polisi bisa dimanfaatkan untuk memperdaya pelaku kejahatan ( asal polisinya yang baik, kalau polisinya yang buruk ia akan menyalahgunakan dan makin berbahaya.

Rekrutmen polisi harus dilakukan dengan bersih dan berkualitas tinggi. Awalnya harus benar dulu, baru dipersenjatai macam2. Kalau kondisi sekarang yang main duit untuk bisa masuk, lulus tes dan naik jabatan, hypnosis is very dangerous for them. Dibekali pentung dan pistol saja ( dari pajak kita/ uang rakyat ) mereka sudah banyak bertingkah, menghalangi kebenaran, menakut-nakuti orang macam Susno dengan posisi jepitnya_ nurray )

“Kalau polisi kebetulan enggak bawa senjata, bisa menghipnosis pelaku kejahatan dengan menodongkan jari tangan sehingga seolah-olah yang terlihat di mata penjahat istu sebagai senjata api. Bisa juga untuk mengorek informasi apabila penjahat yang diperiksa berkelit atau memberi keterangan yang meragukan,” tutur ustad yang berusia di bawah 40 tahun ini.

Ketika penulis bersilaturahmi ke Mabes Polri, beberapa kolega anggota Polri sempat berbisik tentang dimungkinkannya pendayagunaan ilmu hypnosis dalam proses penyelidikan maupun penyidikan suatu perkara. Benarkah ? Saat penulis mengonfirmasi, Kabareskrim Susno Duadji hanya diam dan tidak memberi komentar ( diam begini artinya sudah terlintas, dan sangat mungkin pernah menggunakan, bisa juga ia tak ingin isi kepalanya terbaca ). Sejumlah rekan intelijen di Mabes Polri juga tidak berkomentar tatkala penuls mengonfirmasi apakah metode hipnosis digunakan untuk memeriksa para tersangka kasus teroris ?

Mengapa penulis bertanya semacam itu ? Pasalnya, ada percepatan hasil kinerja tim Densus 88 dalam menguak jaringan teroris. ( itu sih, karena Polri sebenarnya sudah tahu sejak lama, dan mengeluarkan sedikit demi sedikit untuk memperoleh manfaat ganda ; pujian dari SBY sekalian menggolkan beberapa kepentingan petingginya, terutama jika terdesak, misalnya saat KPK akan memeriksa petinggi Polri yang terindikasi suap, lihat gencarnya KPK mengusut korupsi yang menyerempet Susno cs, gencar pula Polri menyodorkan anggota teroris dalam kantong mayat, supaya tidak bisa kita tanyai dan konfirmasi berapa lama mereka sudah diincar. Apakah ini sekedar menyelamatkan muka Polri ? Sesederhana itu ?_nurray )

Dari rekan2 pers, penulis hanya bisa mengendus atmosfer jawaban atas pertanyaan tsb berupa seringnya hipnoterapis yang diwawancarai pers mengklaim dilibatkan Mabes Polri dalam penanganan perkara teroris baru2 ini. Last but not least, dalam konteks ini, penulis usul hendaknya KPK menerapkan ilmu hypnosis tatkala memeriksa koruptor. Dihipnosis saja terperiksa koruptor hingga tertidur, lalu tanya soal aliran dana korupsinya, disimpan di bank apa uang hasil korupsinya, kemudian cocokkan dengan barang bukti. Jangan lupa, direkam dengan handycam, lalu pertontonkan ke masyarakat luas pengakuan itu.

Cara ini jauh lebih clear daripada berpolemik terus-terusan, antara “buaya” dan “cicak” di media massa sehingga memunculkan saling suuzan ( buruk sangka ). Setujukah anda dengan solusi ini ? ( Achmad Setiyaji/ PR, 12/10/2009 )

Hipnosis Susno, Rani di zona bebas intimidasi untuk menyudahi konspirasi & rivalitas

Ide Achmad Setiyaji dengan hipnosis bisa dicoba untuk mengetahui kebenaran di belakang sandiwara yang disuguhkan oknum2 Polri di hadapan kita semua selama ini. Rani Juliani, Susno Duadji, Antasari Azhar dibawa ke zona yang bebas pengaruh dan intimidasi. Bawa ketiga saksi kunci kasus2 yang menyita waktu dan perhatian kita ini ke pesantren atau ke istana negara. Disaksikan ( dibalik pembatas kaca pandangan satu arah ) oleh SBY, Tim Lima, Kapolri, Ketua MA, Ketua MK, Jaksa Agung, Hakim Agung, Tim Penyidik Independen, ICW, Metro TV ( siaran tunda ), satu persatu, Rani, Susno, Antasari dihipnosis oleh ustad ahli hipnosis, ditanya segala hal yang mereka sembunyikan selama ini, lalu cocokkan dengan barang bukti.

Setelah direkam, diedit dengan kriteria konsumsi publik, pertontonkan ke masyarakat luas, sehingga polemik buaya versus cicak ini segera berakhir, dan energi kita bisa disalurkan untuk hal yang lebih maslahat. Banyak pekerjaan besar menunggu di depan kita. Sayang, kalau dihabiskan untuk meladeni ulah manipulator, predator, koruptor yang seperti punya seribu akal bulus lolos dari hukuman. Mereka sudah terlatih memperdaya orang. Mungkin sejak balita, ia mengakali ayah ibunya, dan terus dibiarkan hingga sebesar ini, menjadi parasit di kantornya.

Orang2 ini kerjaannya hanya meneror untuk memuaskan kerakusannya, juga dendam kesumatnya yang dibawa hingga ke liang kubur. Kerjaan rekan lain ( separoh polisi bersih, misalnya kerja Densus 88 menangkap teroris, separoh jaksa bersih ) biasa diaku sebagai miliknya, instansi tempat dia bekerja. Benar2 tak punya keahlian. Hanya menjilat, tak tahu malu, menggunakan prestasi rekan polisi yang bersih untuk kepentingan busuk polisi buruk. Prestasi ini digunakan komplotan Susno untuk melobi SBY agar meloloskan petinggi Polri yang terindikasi suap, dan sebaliknya mendesaknya menandatangani penonaktifan atau pemberhentian rival ( yang mengancam kebiasaan korupsi ) mereka di KPK.

Agar tak berat sebelah, saya harap KPK juga melaporkan setiap keberhasilannya ke SBY. Jangan cuma Polri yang diterimakasihi SBY, KPK juga berhak mendapat ucapan terima kasih dan perhatian dari SBY. KPK mesti melobi pengaruh, jangan kalah dengan Polri. Pikirkan kemungkinan modus ini digunakan petinggi Polri untuk mengelak dari pemeriksaan korupsi. Lalu kapan Polri akan bersih ? Saya harapkan juga, yang diberi wewenang memeriksa kasus korupsi di Indonesia adalah KPK, seperti KPK Malaysia. Polri dan Kejagung tak diberi kewenangan itu, sehingga tidak terjadi cakar-cakaran seperti sekarang, berebut kewenangan.

Sinaga : jaksa penjual obralan di PN Jaksel

Belajar dari pertempuran Sakagaheru, di mana shogun Ieyasu mengarahkan meriam ke sekutunya, wali kaisar cilik agar cepat bertindak membantunya, saya pikir separoh polisi bersih dan separoh jaksa bersih itu mesti “didesak” agar segera bergerak, memberanikan diri, membantu membersihkan lembaganya dari orang2 busuk ini. Kita sudah jungkir balik mengusahakan pembersihan Polri dan Kejagung dari luar, kenapa mereka yang di dalam masih diam2 saja, membiarkan dirinya ciut oleh ancaman polisi buruk dan jaksa buruk ? Lihatlah film animasi “Dinasour”, ketika bersama-sama dinasourus itu bisa mengusir, mengalahkan tyrex pemangsanya.

Sel Al Qaeda sudah mengganti bentuk serangan dari bom menjadi sniper. Umar Patek dan Dulmatin yang di Moro, Filipina, mungkin ingin menziarahi rekannya yang tewas ditembak Densus kemarin. Jika mereka ingin meninggalkan kenang-kenangan berarti, untuk rakyat Indonesia, tolong jangan dibom tempat2 yang ada warga sipilnya yang tak terlibat, tolong jangan ditembak SBY. Lebih baik yang ditembak Susno Duadji, anggota Irwasum, Jasman Panjaitan ( jubir Kejagung ) dan jaksa Sinaga yang kemarin seperti penjual obralan teriak2 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Karena polisi buruk dan jaksa buruk ini yang membahayakan masa depan Indonesia. Sinaga ini otaknya nyaris kosong, yang diandalkan hanya urat leher. Para jaksa pengarang novel picisan itu, jika konspirasi busuk ini terbongkar, mestinya ikut dijebloskan ke penjara, karena sudah menceritakan kebohongan publik. Kabareskrim yang menyerahkan BAP rekayasa itu juga dikenai sanksi berat/ penjara karena bekerja ceroboh seenak udel. Supaya tidak terulang kejadian serupa. Polisi ke depan harus profesional, adil dan transparan. Tidak gegabah seperti sekarang, karena selalu lolos hukuman/ tanpa sanksi setiap menyidik asal-asalan dalam memperkarakan pejabat publik.

Sniper untuk Susno & Sinaga untuk melecut polisi & jaksa baik, maju ke depan

Orang2 yang terindikasi terlibat dalam kasus kriminalisasi Antasari, Bibit, Chandra masih lolos hingga hari ini. Apakah mereka diam saja, setelah kita sibukkan kemarin ? Tidak. Mereka pendendam. Lihat saja, orang Kejagung akan menjerat 2 anggota ICW dengan tuduhan pencemaran nama baik. Bukannya menjelaskan bahwa mereka bersih dari tuduhan korupsi, dengan bukti2 yang tepat, mereka lebih gampang menuduh balik. Tak usah kerja. Ya, orang2 busuk ini pemalas. Lebih suka menghentikan penyidikan kasus BLBI dan menghilangkan barang buktinya ( yang di Kejagung tinggal foto copy-nya ) daripada repot2 menuntaskan perkara besar yang menggerogoti kepercayaan rakyat dan kekayaan negara.

Mereka hanya gerombolan orang yang mementingkan diri sendiri ( bukan solider dengan jaksa Urip ), takut nasib mereka senaas dia, digaruk KPK sampai mendekam di bui 20 tahun. Untuk masa depan kelam itu, mereka berteriak-teriak seolah membela rekan dan korpsnya. Makin kencang suaranya, ( sebetulnya ) makin ketakutan dia. Jaksa2 lantang tak berotak macam Sinaga ini yang dihadirkan Hendarman Supandji untuk menghadapi orang sekaliber Antasari. Kita mengerti seberapa rendah kualitas Jaksa Agung masa ini.

Dari segala kecerobohan dan kejahatan tsa mestinya Susno yang ada di kursi pesakitan saat ini, bukan Antasari. Bambang Hendarso yang diberhentikan bukan Antasari. Hendarman yang dinonaktifkan bukan Bibit. Sinaga yang dinonaktifkan bukan Chandra. Tapi kenapa semuanya terbalik sekarang ? What’s wrong ? Sejak awal penyebabnya kepemimpinan yang lemah. SBY, Bambang, Hendarman lemah, sehingga yang jahat2 yang di atas angin dan bisa terus kurang ajar mempermainkan hukum hingga sejauh ini. Yang pernah belajar parenthing tahu, anak yang tak diberi peringatan, sanksi hukuman setelah melakukan kesalahan, akan memperparah derajat pelanggaran peraturan di rumah hari berikutnya.

Perilaku buruk makin menjadi-jadi, sampai akhirnya tak bisa dibentuk lagi, lalu memangsa manusia lainnya, sampai Allah turun tangan mengazabnya sendiri. Sudah seberapa lama oknum2 Polri dan Kejagung ini dibiarkan dengan perilaku buruknya ? Pembiaran ini kelemahan yang membahayakan. Apa kita akan berdiam diri melihat orang2 baik ( yang justru ) diancam penjara dan hukuman mati ? ( untuk membungkam dan menghilangkan jejak konspirasi ). Apa orang2 busuk ini kita biarkan mendominasi lembaga2 negara ? Negara kita bisa jadi tertawaan bangsa lain. Mau ditaruh kemana muka ini ? Musuh yang melihat negara ini keropos di dalam akan tergiur untuk mencaploknya. Do you think about that ??

Pertahanan terbaik adalah menyerang. Orang2 di balik skenario busuk ini tak boleh dibiarkan leluasa membalaskan dendamnya. Langkah mereka harus dihambat agar tak sesumbar lagi mengangkangi hukum dan agama. Jelasnya, mereka tidak takut Tuhan. Mereka lebih takut kehilangan jabatan dan penghasilan haram. Supaya mereka tak keburu nafsu menjebloskan pimpinan KPK ke penjara, bagaimana kalau 488 teroris/ pencari surga ( 22 orangnya ada di DPO ) yang sedang kucing-kucingan dengan Mabes Polri, atau sel Al Qaeda menembak jidat Susno, Sinaga, Jasman dan anggota Irwasum Polri ?

Supaya polisi baik, jaksa baik, terlecut maju menggantikan pimpinan yang korup dan permisif terhadap kejahatan korupsi ? ( Hari ini mereka masih berhitung. Untung, rugi dan resikonya. Anggota konspirasi belum ada yang terjungkal, membuat oknum2nya makin percaya diri menggasak yang benar ). Supaya polisi buruk dan jaksa buruk menjadi grogi dan mengerem nafsunya mengkriminalkan pimpinan KPK, sebagian pelaku konspirasi itu mesti dibidik hingga terjungkal roboh. Mereka sudah pengalaman 7 kali melakukan pelemahan lembaga seperti KPK ini. Karena merekalah, negeri ini lemah dan sulit beranjak maju dari keterpurukannya. Jika Indonesia kuat, sejahtera, syukur2 adidaya, Afganistan bisa lebih terbantu mengusir imperialis Amerika cs dari bumi mujahid ? Will you, Osama ?

Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Lex dePraxis said, on 15/10/2009 at 12:45

    Sebagai referensi tambahan, saya sudah menulis banyak info spesifik tentang rahasia hipnosis, cara menangkal dan modus operandi kejahatan hipnotis. Di sana dijelaskan bahwa korban TIDAK kehilangan kesadaran, melainkan sekedar terbujuk. Silakan cek di FAST HYPNOSIS untuk mendownload e-booknya (bahasa Indonesia). Semoga bermanfaat, dan salam kenal!

  2. abdul said, on 15/10/2009 at 16:50

    terima kasih atas artikel dan semangat Mas Nurray mencintai Indonesia.

    saya dulu juga pernah menyampaikan hal serupa: para teroris lebih baik mengebom sarang koruptor yaitu DPR, yang sekarang kebanyakan kumpulan makhluk sedikit legitimisasi, hasil pilihan banyak rakyat yang tidak mengerti. Tambahan mungkin, seleb dan media-media pendangkal akidah dan akal rakyat. Tapi astaghfirullah, saya benar hanya membayangkan saja, saya tidak pernah punya keberanian.

    saya sendiri jadi semakin sedih melihat Indonesia, pertama saya ga tega melihat kenestapaan karena buramnya masa depan akibat skala absurdisitas sistem bernegara. yang kedua, masa depan saya dan keluarga saya sendiri. sejak saya mahasiswa dulu, belum pernah saya sesedih dan terhenyak seperti sekarang ini melihat Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: