dari Palestina sampai Indonesia

Dakwaan JPU vulgar & pertemuan penuh kejanggalan dari “sutradara” dongeng.

Posted in indonesia by nurray on 21/10/2009

Antasari Azhar membantah dirinya telah “menyentuh” atau bahkan melakukan pelecehan seksual terhadap Rani Juliani di Hotel Grand Mahakam, seperti yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum ( JPU ). Menurut Antasari, dugaan pelecehan itu rekayasa dan konspirasi besar untuk mencemarkan nama baiknya, serta menjatuhkan dirinya dari jabatan Ketua KPK. Surat dakwaan JPU yang mengungkap secara detail tuduhan adanya interaksi seksual antara dirinya dan Rani dalam sidang terbuka pun dinilai Antasari sangatlah tidak etis dan terlalu vulgar.

“Surat dakwaan penuntut umum memang sulit dimengerti. Uraian2 tidak relevan dan penuh rekayasa, membuat cerita yang menciptakan sensasi publik dan menimbulkan kesan hebat. Kehebatan rekayasa ini terlihat dari uraian dakwaan yang diawali dengan cerita pertemuan saya dengan Rani di Hotel Grand Mahakam yang dibumbui cerita seksual yang hebat dan belum tentu kebenarannya, tetapi telah diuraikan secara vulgar dan tidak etis,” ungkap Antasari saat membacakan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan JPU di PN Jakarta Selatan, Kamis ( 15/10/2009 ).

Usai menuntaskan kalimatnya, Antasari mendapat sambutan tepuk tangan dari pengunjung sidang yang memadati ruangan. Ketua Majelis Hakim Herri Suantono pun mengingatkan pengunjung agar menghentikan tepuk tangan mereka.”Tidak usah diberi applause. Jika diulangi lagi, saya akan minta semuanya keluar dari ruangan.”

Antasari pada persidangan pertama di PN Jaksel.

Antasari pada persidangan pertama di PN Jaksel. Saya di sini meminta hak saya sebagai terdakwa untuk minta kejelasan dakwaan JPU, bukan sebagai Ketua KPK.

Antasari didakwa sebagai otak pembunuhan berencana terhadap Nasrudin Zulkarnain. Atas dakwaan tsb, JPU menjerat dirinya dengan pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati. Antasari menduga kuat, ada aktor intelektual di balik kasus ini yang mengatur konspirasi guna menjatuhkan dirinya. Sebab, selama menjabat sebagai Ketua KPK, ia tidak pernah pandang bulu dalam upaya memberantas korupsi di tanah air. “Ada alasan untuk mengambil tindakan pemecatan terhadap saya sebagai Ketua KPK. Siapa sebenarnya aktor intelektual di balik ini semua ? Apa ada konspirasi untuk menghancurkan nama baik saya ?”

Antasari juga menyesalkan, mengapa dirinya dikriminalisasi pada saat presiden RI dan rakyat Indonesia sedang gencar-gencarnya memberantas korupsi.”Sebagai Ketua KPK, saya hanya melaksanakan amanah rakyat. Jabatan adalah amanah. Ketika diambil, tidak perlu saya sesalkan.”

Selain eksepsi pribadi, kuasa hukum Antasari kemarin juga membacakan eksepsi mereka yang diberi judul “Dongeng Berujung di Pengadilan.” Dari dakwaan JPU itulah kita dapat sama2 melihat adanya proses persidangan berdasarkan ‘dongeng’ yang dipaksakan ke meja hijau,” kata Juniver Girsang, kuasa hukum Antasari. Kuasa hukum Antasari lainnya, Maqdir Ismail menyatakan, ada beberapa kejanggalan dalam surat dakwaan JPU, terkait pertemuan Rani, Antasari dan Nasrudin di Hotel Grand Mahakam. ( PR, 16/10/2009 )

Komen Nurray :

Antasari bersama istri tercinta, yang setia dan tabah menghadapi cobaan. Semoga Antasari bisa segera kembali ke rumah, ya bu ..

Antasari bersama istri tercinta, yang setia dan tabah menghadapi cobaan. Semoga Antasari bisa segera kembali ke rumah, ya bu. Juga ke kantor untuk melanjutkan tugas pemberantasan korupsi.

Trijaya FM pagi ini ( 21/10/2009 ) memberitakan, ada rekaman pembicaraan Anggoro dengan oknum Mabes Polri dan Kejagung untuk menjebak Bibit dan Chandra. Rekaman ini akan disampaikan pada sidang pengadilan oleh tim pengacara. ICW minta rekaman ini dipaparkan ke publik. Pengacara Ari Muladi mengatakan surat pencabutan pencekalan Anggoro dalam keadaan sudah ditandatangani, diterimanya dari Yulianto yang kini keberadaannya tidak diketahui.

Seperti Rani Juliani, keberadaan Yulianto, saya rasa, disembunyikan oleh oknum Polri. Jangan sampai Rani dan Yulianto “bernyanyi” membongkar konspirasi keji. Seperti Nasruddin, yang terpaksa dihabisi karena gagal dengan skenario A. Dalam skenario A ; Antasari dijebak datang ke hotel Grand Mahakam atas undangan Rani untuk keanggotaan di Modern Golf. Antasari tidak tahu Rani istri Nasruddin. Nasruddin mengantar Rani ke hotel untuk bertemu Antasari. Ia menunggu di lobby. Untung Antasari minta Nasruddin naik ke atas menemuinya.

Menurut para penyidik Bareskrim pimpinan Susno ini ; Nasruddin memergoki Antasari berdua dengan Rani, lalu Nasruddin yang cemburu, memaki dan memfoto Antasari. Oknum2 Polri dan jaksa Sinaga ini sama2 gemar bacaan cabul. Jadi adegan porno yang pertama kali diingatnya ketika mulai terdesak/ terindikasi suap. Mulai terbayang dangkalnya isi kepala mereka ? Mereka tidak membaca buku2 tentang hukum dan penegakan keadilan yang seharusnya mereka kuasai. Referensi hukum di kepalanya kosong. Jadi, adegan di film2 pembunuhan dan porno yang mereka gemari, mereka gunakan untuk keluar dari sanksi hukuman ( dengan menghalalkan segala cara ).

Dalam skenario B ; Nasruddin yang merasa bisa memainkan kartu dengan informasi dan konpirasi yang diketahuinya akhirnya dianggap membahayakan oknum Polri. Ia dihabisi sepulang dari Modern Golf, lalu oknum Polri melemparkan kesalahan itu pada Antasari, dengan alasan cinta segitiga. Ringkasnya, Susno Duadji menerima suap 10 milyar atas pencairan dana di Bank Century. Hal ini terendus oleh Antasari dengan menyadap telpon Susno. Susno tak ingin dipenjara, lalu ia menggunakan Nasruddin untuk menjebak Antasari. Dengan ancaman ‘pertemuan’ Antasari-Rani ( skenario A ), Susno berharap Antasari tidak terus menyelidikinya. Tapi skenario A gagal, maka untuk membungkam Nasruddin, Susno cs menyuruh para eksekutor membunuh Nasruddin dengan mengatakan Nasruddin adalah orang jahat/ membahayakan negara. Dengan ancaman hukum mati pada Antasari, Susno cs berharap tidak ada yang menyelidikinya lagi.

Ketahuan disuap dan emoh disidik, Susno menfitnah Antasari, membunuh Nasruddin & memperkarakan Chandra-Bibit.

Masalah baru lagi, Chandra dan Bibit mempermasalahkan pertemuan Susno dengan Anggoro di Singapura pada 10 Juli. Padahal Anggoro sudah dicekal 7 Juli 2009 oleh pimpinan KPK. Merasa terganggu, Susno bikin akal busuk lagi, membuat surat pencabutan pencekalan palsu dan memperkarakan Chandra yang membuat surat pencekalan Anggoro. Susno tak mau ditahan/ dinonaktifkan/ dipecat gara2 bertemu Anggoro yang sudah dicekal KPK, maka ia lebih dulu memperkarakan Chandra dan Bibit atas pembuatan surat cekal itu. Pokoknya, siapapun yang mempermasalahkan Susno cs mendapat uang suap akan mendapat getahnya. Tak ada yang boleh menghalangi Susno mendapatkan uang haram. Ia sudah terbiasa hidup dari sana. Lebih baik orang lain mati daripada mengganggu kebiasaan buruknya.

Antasari dalam sehari dikenai 3 status hukum ( saksi, tersangka, tahanan ), lalu 6 bulan kemudian dibiarkan terkatung-katung dalam tahanan. Bibit – Chandra dalam 14 jam diperiksa, langsung dijadikan tersangka dengan kewajiban lapor tanpa kejelasan substansinya. Dipermainkan ( psikologisnya ). Saya jadi ingat masyarakat/ pemilik toko yang diangkut oknum2 Mabes Polri muter2 keliling Jakarta diancam-ancam sampai mau memberi mereka puluhan juta agar dilepas. Padahal si pedagang tidak bersalah, tapi berhubung oknum2 Polri itu lagi butuh duit, si pedagang diintimidasi dengan segala cara hingga menyerah. Surat perintah penangkapan/ pelanggaran yang diancamkan oknum Polri tak pernah diselidiki sampai ujungnya/ atasan puncak. Bisa saja itu penghasilan harian Susno cs.

Mereka kompak tutup mulut dan tutup mata atas kejahatan yang dilakukan Susno yang ingin meningkatkan “side income” ( tidak jutaan lagi/ kelas pedagang teri, tapi milyaran/ kelas pengusaha kakap ). Karena ikut kecipratan duit haram, kuatir ikut terseret masuk penjara, teman2 oknum Polri itu memilih menutupi borok Susno dan bahu membahu dalam kejahatan. Ironis ? ( ibarat sama2 bergaul di got kotor, bisa jadi mereka tak merasa sedang berbuat dosa. Sudah biasa menyambung hidup dengan cara haram. Sedikit demi sedikit melanggar, sampai pada satu titik sudah melakukan crime extraordinary, mereka masih menganggap hal yang lumrah saja. Banyak yang berbuat. Banyak temannya. Rekan2 baru diajak makan bara api di neraka itu dengan elusan dan kemasan dalih. Ketika the outsider ( kita ) melihat mereka yang sudah jauh menyimpang dan ingin mengembalikan mereka khitah mereka sebagai penegak hukum ( bukan pemlintir hukum ), kita malah dianggap aneh/ musuh. Rapi/halus betul kerja setan mengelabui manusia, ya..

Berkas Bibit dan Chandra dikembalikan kejaksaan ke Mabes Polri. Para penyidik Bareskrim disuruh Susno menggeledah ruang pimpinan KPK ( siapa tahu ia dapat “amunisi” baru “menembak” Antasari, Bibit dan Chandra ). Saya yakin, kalau KPK mau menggeledah Mabes Polri terutama Bareskrim, bukti2 kejahatan dan korupsi di sana bisa memasukkan 50 % lebih anggota Polri ke penjara. Susno ? Jelas dia dihukum mati, karena dia sudah membunuh Nasruddin, korupsi dan menyalahgunakan wewenang. Tunggu saja, tanggal mainnya..

Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: