dari Palestina sampai Indonesia

MK bikin terobosan untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat. Mahfud oke.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 05/11/2009
20090810Sidang MK20

Sidang Utama Mahkamah Konstitusi dengan acara mendengarkan rekaman percakapan Anggodo dengan mafioso peradilan. Semua mata memandang ke sini, Selasa kemarin. Dari Sabang sampai Merauke. Nggak nyangka ...

11.00 WIB hari Selasa, perhatian kita mengarah ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi. Ada yang baru di sana. Rekaman percakapan Anggodo dengan sejumlah pihak yang merekayasa penahanan Bibit dan Chandra diperdengarkan ke publik. Semua menyimak dengan tekun. Dari ketua MK, Mahfud M.D, majelis hakim, kuasa hukum Bibit & Chandra, 5 pimpinan KPK, Menkumham, Jaksa Agung, 8 anggota TPF pimpinan Adnan Buyung Nasution, para wartawan di gedung MK ( saya lihat ada Efendi Gazali, juga ketua FPI, Habib Raziq di sana ) dan markas medianya masing2, para jaksa di Kejagung, para pengunjuk rasa di bunderan HI, pemirsa di rumah dari seluruh pelosok tanah air sampai pengunjung warteg dan pangkalan ojek. Peristiwa bersejarah.

Susno komitmennya tinggi sama Anggodo

Berbeda dengan suasana tegang di PN Jaksel, tempat Antasari didzalimi JPU dan majelis hakim, di ruang sidang utama MK ada ketegangan yang cair. Serius, tapi juga diselingi geli, terutama mendengar celoteh Anggodo semisal,’Truno 3 ( Susno Duadji ) komitmennya tinggi sama kita ( Anggodo, Bonaran )’, ‘tak ada istilah polisi hutang pengacara, yang ada pengacara hutang polisi’, ‘fee-nya ketinggian, bodonya aku’, dsb. Pak Mahfud juga sersan ( serius tapi santai ), seperti ketika diberitahu Tumpak Hatorangan ( ketua sementara KPK ) bahwa durasi rekaman percakapan itu 4,5 jam, Mahfud menyahut ‘Bagus’. Kontan hadirin tertawa. Suasana mencair. Ruang sidang yang berwibawa itu seketika berubah nyaman secara psikologis. Mahfud pandai membawa atmosfir ‘feels like a home’. Kepandaian tersendiri. Hadirin menyimak dengan tekun dan bersemangat. Dari ‘pembukaan’-nya yang spesial itu, feeling saya jalannya sidang akan menarik.

Saya tak salah. Saya merasa beruntung nongkrongin sampai jam 4 sore. Menyaksikan di negeri ini masih ada orang2 berbobot dan berkarakter memaparkan argumentasinya dengan piawai dan santun. Sampai digetok palu tanda sidang ditutup, diteruskan besok jam 2 siang ( 4/10/2009 ), saya merasa seperti menunggu “The Lord of the Rings” sequel berikutnya. Can’t wait. Lalu setelah 2 jam menyimak pada Rabu siang, saya masih juga penasaran mendengar Rabu depannya, ketika majelis hakim MK memutuskan vonis bagi uji materi yang diajukan kuasa hukum Bibit & Chandra ( pimpinan KPK yang menjadi terdakwa belum bisa diberhentikan tetap ). Pak Mahfud mencuri perhatian.

Siapapun yang melawan kehendak rakyat akan terlindas.

ketuaMK-300x299

Ketua MK, Mahfud MD, judge Bao-nya Indonesia. Wibawa & bijaksana.

Saya pikir mendengar hakim dan percakapan di pengadilan itu membosankan. Apalagi melihat hakim PN Jaksel beberapa minggu ini yang cenderung pro JPU ( yang sudah disetir Ritonga ), membuyarkan bayangan saya akan hakim yang adil. Bikin dongkol dan gregetan saja. Saya pikir Judge Bao yang wibawa dan adil hanya di serial mandarin saja. Ternyata tidak, di Indonesia masih ada hakim Mahfud yang wibawa, adil and cool.

Tengok pendapatnya ketika ditanya soal bantahan orang2 yang disebut dalam rekaman. ( Kadiv Humas Mabes Polri, Nanan Sukarna menjawab ketus ketika ditanya wartawan soal yang menyebar rekaman percakapan Anggodo ). Mahfud mengatakan, dalam sejarah tak ada yang mampu mengalahkan kekuatan rakyat. Siapapun. Yang ngeyel dan memaksa melawan rakyat akan tergilas. Setuju, pak. Rakyat mesti menang.

Kita semua bisa bernasib seperti Bibit-Chandra kalau Polri dan Kejaksaan tak dibersihkan

Polri dan Kejaksaan Agung mesti direformasi, dibersihkan dari orang2 busuknya. Sistim rekrutmen dan kenaikan jabatan harus diperbaiki. SBY juga berkepentingan terhadap bersihnya 2 lembaga penegak hukum ini. Tidak selamanya ia jadi presiden. Setelah 5 tahun, ia akan jadi rakyat biasa lagi. Ia bisa saja mengalami apa yang dialami Bibit dan Chandra 5 hari kemarin atau Antasari sampai hari ini, jika Susno cs lolos dari hukuman. Hukuman yang setimpal akan memberi efek domino pada aparat yang akan/ coba2 melakukan hal serupa. Masa ini, kesempatan bagi SBY menggunakan kewenangannya memperbaiki institusi penegak hukum.

Dari disapih jadi arogan. Tempatkan Polri di bawah departemen agar SBY tak gamang.

Saya pikir, Polri perlu ditempatkan di bawah sebuah departemen, seperti halnya TNI yang personel dan persenjataannya jauh melebihi Polri. Ingat dulu Polri disapih TNI sebelum masa presiden Gus Dur. Ironisnya kemarin, surat permohonan penangguhan penahanan Bibit dan Chandra dari Gus Dur ( Abdurahman Wahid ), juga KPK ( lahir dari rahim reformasi/ keputusan politik tahun 1998 ), dianggap angin lalu. Supaya Polri tak arogan, menafikan rakyat reformasi yang melahirkannya. Supaya presiden SBY juga tidak gamang dalam banyak keputusan/ interaksinya dengan bawahannya yang satu ini ( yang petinggi2nya pandai mengintimidasi dalam beraneka bentuk, sementara presiden sendirian ), kembalikan Polri ke dalam habitatnya, di bawah departemen.

Anggodo belum ditahan karena alat bukti belum cukup ? Atau suap sudah cukup ?

Dua komisioner KPK non aktif yang dituduh menerima suap, penyalahgunaan lalu pemerasan oleh para penyidik Polri pimpinan Susno Duadji. Pertama suap, setelah itu karena Ary Muladi mencabut kesaksian, berubah menjadi penyalahgunaan wewenang, setelah dikritik itu bukan hak Polri, lalu berubah lagi menjadi pemerasan. Tidak profesional. Tapi anehnya, Susno bisa mengatakan itu profesional, diikuti Kapolri Bambang, lalu Dikdik dan Nanan Sukarna. Surat penahanan yang ditujukan ke keluarga Bibit dan Chandra ( Bibit – Chandra ditahan di Bareskrim Mabes Polri ) bisa berbeda dengan yang diterima tim pengacara ( Bibit – Chandra ditahan di Mako Brimob, Depok ). Dalam hitungan jam, komisioner KPK yang dipanggil sebagai saksi, bisa meningkat sebagai tersangka lalu tertahan ( kasus Antasari ). Secepat itukah mendapat alat buktinya ? Saya sulit menerima jawaban lain kecuali semua tuduhan dan bukti sudah diatur sebelumnya.

Giliran Anggodo yang sudah didengar percakapannya “membeli” Susno Duadji, Ary Muladi, Abdul Hakim Ritonga, Wisnu Subroto, Edy Sumarsono, Ketut Sudiharsa, oleh masyarakat dari Sabang sampai Merauke dibiarkan bebas menebar bohong di televisi bahkan akan menuntut KPK dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sementara Bibit dan Chandra yang hanya menjalankan tugasnya sesuai UU KPK mencekal Anggoro yang mengkorupsi duit rakyat 180 milyar malah dikenai berbagai tuduhan, menjadi tersangka, wajib lapor bahkan ditahan oleh Bareskrim Mabes Polri selama 5 hari. Sudah gitu, rekaman percakapan belum dirasa cukup untuk menahan Anggodo. Para penyidik malas mencari bukti tambahan. Bahkan dengan BAP ( Ary Muladi meneruskan uang suap dari Anggodo untuk disampaikan kepada pimpinan KPK ) yang sudah dibuat, yang tinggal comot. Itu semua tergantung niat. Saya ragukan Dikdik yang mungkin menggantikan posisi Susno akan bisa memimpin penyidikan dengan netral. Karena namanya ikut disebut dalam rekaman percakapan Anggodo. Dikdik terlibat konspirasi.

Saya harap, di TPF dan pemeriksaan2 berikutnya, Anggodo yang sempat menjadi ‘bintang’ TV One dan rajin membantah isi rekaman percakapan, dipasangi detektor kebohongan. Sehingga ocehannya tidak membosankan dan menghabiskan waktu para pemeriksanya.

Unsur hukum dan humanis dilafalkan, tapi tak dihayati maknanya. Hubungan transaksional

Tak ada sensitivitas publik di lembaga Kepresidenan, Kepolisian dan Kejaksaan. Yang terjadi adalah hubungan transaksional dan pencitraan. Jaksa Agung Hendarman Supandji langsung cemberut ditanya soal mundur dari jabatan oleh wartawan. Taat azas katanya, hanya presiden yang bisa memundurkannya. Kami ( rakyat ) tidak, apalagi kesadaran moral ( tanggung jawab profesi ) dirinya. Di Jepang, sudah lumrah, penjabat mundur ketika tak mampu mengatur anak buahnya atau sebuah kegagalan terjadi. Saya tak bisa bayangkan ketika nanti gaji para menteri jadi dinaikkan. Ketika mereka makin berjarak dengan sebagian besar rakyatnya yang kian sulit mempertahankan hidup.

Di perempatan dan jalan umum, saya juga anda makin sering melihat orang gila berkeliaran. Di teve, orang stres naik tiang pemancar atau terjun dari gedung makin sering ditayangkan. Di koran, anak SD sampai kakek jompo makin sering diberitakan gantung diri di langit2 rumah atau pohon di halaman. Karena tak bisa bayar sekolah atau berobat. Belum lagi yang busung lapar, kurang gizi dan terbelakang mental. Mereka makin banyak saja. Karena kemiskinan sudah mencapai titik nadir, pendidikan makin sulit terjangkau. Di saat serba sulit sekarang ini, SBY mengatakan ‘cukup’ kepada wartawan “Antara” yang tak menyimak cakapnya ( SBY tak paham istilah kriminalisasi KPK dan tak suka istilah buaya vs cicak ). Hanya pejabat yang boleh marah, rakyat hanya bisa pasrah, kata Noorca Masaardi, pengarang puisi “Negeri Para Bedebah”.

Soal National Summit tertutup berita penahanan Bibit – Chandra

Eep Saefullah Fatah menghimbau SBY tampil di depan mengatasi desakan rakyat secara elegan dan penuh empati. Namun, SBY memilih melemparkan bola panas ( demo masyarakat di mana2 meminta pembebasan Bibit dan Chandra ) kepada TPF. SBY juga kecewa ketika berita penahanan Bibit & Chandra menutupi gawe pemerintahannya di National Summit. Apakah SBY tak bisa meraba, hasil ekonomi baru dirasakan segelintir orang yang diberi keistimewaan di negeri ini, mungkin dalam 5 tahun mendatang jika tidak gagal ? Tapi apa yang dialami Bibit dan Chandra bisa dialami siapa saja yang bertemu polisi dan jaksa kotor di mana saja, every single day, bahkan sepulang dari berdemo. Kepastian dan keadilan hukum adalah hajat hidup orang banyak saat ini. Please understand us, Mr President ..

Mabes Polri gengsi mengaku penangguhan penahanan Bibit dan Chandra karena desakan dan tekanan. Ogah menonaktifkan Susno Duadji, meski yang terlihat sekarang Wakabareskrim Dikdik. Jaksa Agung emoh mundur, sampai dimundurkan SBY. Mengapa kalian gengsi mengaku pada rakyat yang memberi amanah pada kalian ? Ini membuat kalian makin berjarak dengan rakyat. Tidak simpatik.

Kalau rakyat tak berdemo ( Nanan menafikan, hanya menyebutnya segelintir masyarakat ) seperti sekarang, apa mafioso peradilan akan tersingkap ? Jika belasan mahasiswa tidak mogok makan, apakah penangguhan penahanan Bibit dan Chandra dikabulkan ? Jika jutaan rakyat tidak berdemo dengan kreatif ( teatrikal mandi lumpur, membaca puisi, menyemat pita hitam, memainkan ketipung, berorasi, dukungan Facebookers, seribu tanda tangan di spanduk, dsb ) dan menyimak dengan tekun perkembangan berita TPF, MK, Polri, Kejagung, menit demi menit, waktu demi waktu, apakah keadilan hukum bisa ditegakkan ? Semua hasil ini, kalian juga menikmatinya jika sudah tak menjabat kelak. Mungkin presiden orang yang pandai, stafnya juga pandai, tapi saya sangat yakin masyarakat pemberantas korupsi yang kini tengah berjuang juga pandai. Smarter, maybe. You make me proud, guys ..

nagabonar5

Dukungan bagi KPK tak pernah berhenti mengalir. KPK lahir dari rahim reformasi dan keputusan politik tahun 1998. Rakyat di belakang KPK. Yang melawan kehendak rakyat akan tergilas. Sejarah panjang manusia sudah membuktikan.

Dengan masyarakat anti korupsi yang hebat ini ( di luar negeri belum tentu ada ), rasanya tak berlebihan jika Presiden, Polri dan Kejagung mengatakan ; kami dari rakyat, untuk rakyat dan bersama rakyat. Kami memperhatikan keprihatinan masyarakat atas sebagian tindakan anggota kami yang telah menurunkan kepercayaan rakyat. Kami akan menertibkan dan memberi hukuman yang setimpal untuk mencegah kejadian berulang di masa depan. Terus sokong dan bantu kami untuk melakukan tugas dan mempersembahkan yang terbaik untuk rakyat Indonesia.

Dengan pernyataan yang humble ( rendah hati ) ini, instansi penegak hukum bisa mendapat respek kembali dari masyarakat. Jalankan sungguh2 reformasinya. Gengsi, jaga image, kebohongan apalagi tindakan represif tidak memenangkan apa2. Hati hanya bisa disentuh dengan hati. Trust me..

KPK rohnya ada di komisionernya, karena itu kita bela.

Saya sering mendengar ucapan dari awam, juga pembicara ; yang penting KPK jalan terus memberantas korupsi, KPK tak boleh bubar, KPK milik kita semua, bukan cuma milik pengacara Bibit dan Chandra ( seperti kata Rohut Sitompul ), dan semacamnya. Saya miris mendengarnya. KPK itu sebuah gedung, UU dan kewenangan yang diberikan. Manusialah yang menghidupkannya. Orang2 pilihan, yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk kebenaran. Mencari orang2 ini di Indonesia saat ini tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi dengan resiko dikriminalkan oleh Polri, Kejagung dan Pengadilan Umum yang belum melakukan reformasi secara serius. Apabila kita tidak membela Antasari, Chandra dan Bibit ketika koruptor2 melakukan serangan balik, maka tak ada orang yang mau menghidupkan KPK lagi, dengan kesungguhan dan kerja keras. KPK bisa seperti lembaga penegak hukum lain yang kurang menyakinkan dalam pemberantasan korupsi. Reformasi hukum dan kesejahteraan rakyat akan terancam sejak dicanangkan tahun 1998. Kita kembali ke titik nol.

Jadi tolong, mereka yang berkata, ‘KPK harus eksis, biar Bibit, Chandra dan Antasari diserahkan pada proses hukum yang berlaku’, coba kalian berhenti sejenak, dan peduli. Jangan berlalu begitu saja, mengurus urusan sendiri, seolah tak terusik, tak ingin diganggu, tak mau repot, tak perlu pusing, tak peduli. Tak ada yang berbeda. EGP.Tak terlintaskan di pikiran kalian, apakah mereka mendapat proses hukum yang benar dan perlakuan yang layak, setelah kiprah mereka menggebrak sarang koruptor, musuh bangsa kita ? Tak inginkah kalian menyakinkan apakah mereka baik2 saja ? Apakah mereka berada di tangan penegak hukum yang benar ? Mereka sudah bekerja keras untuk menyelamatkan uang rakyat, sekarang bagian kita memperhatikan nasib mereka dengan memastikan mereka mendapat hak-haknya sebagai warga negara, termasuk perlakuan hukum yang adil.

Kalau kejadiannya seperti Selasa kemarin, BAP kasus mereka ternyata direkayasa oleh mafioso peradilan, bahwa sebenarnya mereka tidak bersalah ( tidak punya case, kata Bambang, pengacara Bibit ), kan kasihan. Salah satu putra terbaik bangsa ini tersia-sia, apalagi sampai dihukum mati. Sebagai bangsa kita sulit memaafkan kecerobohan/ ketakpedulian ini. Atau istilah Suciwati, istri pendekar hak azasi, ‘betapa bodohnya negara ini membiarkan seorang Munir pergi’ dengan cara ini ( diracun arsenik ).

Kita bukan bangsa bodoh. Kita takkan mengulangi kesalahan kita di masa lalu. Untuk itu, generasi sesudah Munir kita bela. Kita bela Antasari, Chandra dan Bibit. Right, guys ..

Asal muasal kisruh KPK vs Polri

Dimulai dari suara Susno Duadji masuk ke telpon seseorang yang sedang disadap KPK dalam pengusutan kasus Bank Century. Sebelumnya kegeraman Polri sudah muncul ketika kasus2 korupsi di berbagai daerah diambil alih oleh KPK ( itu berarti pemasukan haram dari yang berperkara yang masuk ke kantong polisi kotor dan jaksa kotor berkurang drastis. Susno cs sudah menyimpan dendam, tak bisa ke tukang pijat seperti Anggodo lagi, makan enak lagi seperti Bonaran Situmeang, dsb ). Lalu Susno bertekad membuktikan dirinya adalah buaya darat yang akan mencaplok cicak kecil di lautan koruptor. ( Susno tak peduli Indonesia menjadi negara terkorup di dunia, yang pentingnya perutnya bisa gembul dan cengangas, cengenges mempermainkan hukum bersama gerombolannya ;

  1. Dikdik Mulyana Arif Mansur ( Wakabareskrim Mabes Polri, nama Dikdik disebut dalam rekaman percakapan Anggodo ),
  2. Parman, Irwan, Marwan ( penyidik2 anak buah Susno yang membuat kronologis BAP rekayasa ),
  3. Anggoro Widjoyo ( buronan KPK yang kini berada di Singapura, merugikan negara 180 milyar ),
  4. Anggodo Widjojo ( adik Anggoro, yang mewakili kakaknya mencoba menyuap pimpinan KPK, ia ingin membunuh Chandra di tahanan, gara2 telah mencekal Anggoro yang dikatakan kena stroke mata dan anaknya stres karena kasus SKRT yang sedang disidik KPK ),
  5. Bonaran Situmeang ( pengacara Anggoro, yang minta bayaran 2 milyar untuk kasus suap ini )
  6. Abdul Hakim Ritonga ( Wakil Jaksa Agung )
  7. Wisnu Subroto ( mantan Jaksa Agung Muda Intelijen )
  8. I Ketut Sudiharsa ( Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban/ LPSK )
  9. Edi Sumarsono ( pemimpin redaksi sebuah tabloid, yang sering menjadi penghubung Kejagung dengan orang yang sedang berperkara )
  10. Ary Muladi ( orang yang disuruh Anggoro mengantarkan uang suap ke pimpinan KPK tapi tidak sampai, lalu mencabut kesaksiannya di BAP pertama. Melalui pengacaranya Ary meminta maaf pada Bibit dan Chandra yang sudah ia catut namanya )
  11. Ong Yuliana Gunawan ( perempuan penghubung Anggodo ke oknum Kejaksaan )
  12. Kosasih ( pengacara Anggodo dari Surabaya atas rekomendasi Wisnu Subroto )
  13. Anak Anggodo ( mengantar Anggodo ke Mabes Polri )
  14. Putra Nefo ( mengatur rencana dengan Anggodo )
  15. Cirus Sinaga ( jaksa penuntut umum yang berteriak-teriak di PN Jaksel meminta hakim menolak eksepsi Antasari Azhar setelah mendakwanya beradegan vulgar dengan Rani Juliani yang menjebak Antasari untuk datang ke hotel Grand Mahakam )
  16. Rani Juliani ( yang baru diketahui belakangan adalah istri ke-3 Nasrudin oleh istri ke 2 Nasrudin, supir Nasrudin dan Antasari setelah Antasari dijebak. Oleh penyidik Polri digambarkan kupu2 di situs Rani ).
  17. Istri ke 2 Nasrudin ( yang mengontak Nasrudin untuk pulang cepat agar bisa dibunuh oleh eksekutor yang diperintah atasan Williardi Wizar. Dia juga yang mengirim sms ‘Antasari, Ketua KPK’ ke kuasa hukum Nasrudin di hari2 terakhir Nasrudin akan ditembak, agar bisa dicatat di BAP untuk menahan Antasari )
  18. Supir Nasrudin ( diminta penyidik menghafal nomor kendaraan yang dipakai eksekutor menembak Nasrudin agar sesuai dengan BAP rekayasa ).
  19. Kuasa hukum Nasrudin ( yang memilih bermain golf dari menjawab pertanyaan soal Nasrudin ).
  20. Amerika, zionis Israel, Uni Eropa dan kaki tangannya ( yang agen2nya sudah berada di belakang SBY dengan penggantian mendadak calon Menkes menjadi Endang, yang dulu mengepalai lab Namru milik Amerika ( mencuri sampel virus flu burung di Indonesia lalu vaksin yang dibuat darinya dijual mahal ke negara2 berkembang tanpa pembagian keuntungan untuk Indonesia ), mungkin juga berada di belakang keputusan dipertahankannya Kapolri Bambang dan Jaksa Agung Hendarman.

Para anggota konspirator tsa seperti mendapat angin dengan sikap :

  • Hendarman Supandji ( Jaksa Agung yang menutup mata terhadap mafia peradilan yang menggerogoti kewibawaan instansinya, mengirim surat permohonan penonaktifan Antasari, Bibit, Chandra ke presiden SBY, juga pencekalan, perubahan status saksi menjadi tersangka, tertahan dan terdakwa bagi 3 pimpinan KPK, tanpa memeriksa lebih dahulu kebenaran faktanya )
  • Bambang Hendarso Danuri ( Kapolri yang menutup mata terhadap penyidikan amburadul Bareskrim, menolak menahan Anggodo Widjoyo mesti sudah begitu kasat mata rekayasa kriminalisasi terhadap pimpinan KPK, masih belum juga menonaktifkan Susno Duadji yang menjadi tokoh sentral konspirasi ini, sebelumnya Bambang membiarkan Susno yang punya konflik kepentingan ( dalam kasus Bank Century ) untuk menyidik pimpinan KPK yang sedang memeriksa keterlibatan Susno di Bank tsb yang kini bernama Bank Mutiara )
  • Nanan Sukarna ( Kadiv Humas Polri yang bikin gemas para wartawan karena terkesan meremehkan kehendak rakyat yang ia bilang segelintir masyarakat, ngeles Polri tidak dalam desakan atau tekanan ketika Kapolri mengabulkan penangguhan Bibit dan Chandra, menghindar dengan perkataan alat bukti belum cukup meski bukti rekaman dan BAP pertama kasus suap sudah ada di tangan penyidik jauh2 hari/ penyidik tidak berusaha mencari alat bukti yang kedua, tidak sportif mengakui kekeliruan Polri dalam kasus Bibit dan Chandra, tidak sensitif dengan dinamika masyarakat dengan berkata sambil tersenyum, Polri melepas Anggodo supaya tidak terjadi seperti Bibit dan Chandra ( padahal perlakuan mereka berbeda, 2 komisioner KPK masih belum di SP3-kan, masih dikenai wajib lapor Selasa Kamis. Anggodo masih bebas berkeliaran menebar fitnah dan kebohongan di stasiun2 televisi ). Nanan kemarin ( 4/11/2009 ) melecehkan kecerdasan publik dengan berkata Polri tidak bisa membebaskan Bibit dan Chandra karena itu hak pengadilan. Apa Nanan tidak tahu yang dimaksud wartawan itu SP-3 dari Kapolri, yang juga bisa membebaskan Bibit dan Chandra dari segala tuduhan ? Wajahnya memerah, suaranya mengeras ketika wartawan menyebutkan MK dan bukti rekaman pembicaraan Anggodo dengan sejumlah oknum di Polri. Tersinggung jika benar ? Ibaratnya pembantu rumah mengintip perselingkuhan tuannya dengan wanita lain di ranjang istrinya. Bukan perselingkuhan ( perbuatan percobaan suap ) itu yang dipermasalahkan Polri tapi justru pembantu ( bukti rekaman dan para pendengarnya ) yang memergoki perbuatan terkutuk ( rekayasa konspirasi ) itu yang ingin mereka libas. Beruntung siang ini ( 5/11/2009 ), saya lihat Nanan sudah lebih bijak dengan mengatakan, saya minta maaf jika ada perkataan yang tidak memuaskan kalian ( para wartawan ). Apa yang kurang dalam penyampaian saya siang ini, adalah pendapat pribadi saya, bukan Polri. Hmm .. saya pikir jika Nanan lebih dekat lagi ke rakyat, secara jantan mengakui kekeliruan Polri dalam kasus penahanan Bibit dan Chandra, bersih dari KKN dan paham arti legal dan legitimated dalam menerapkan hukum pada masyarakat ( jika UU sudah benar tapi rakyat menolaknya, maka UU itu menjadi tidak legitimated dan batal, demi rasa keadilan rakyat. Kedaulatan rakyat yang tertinggi setelah Allah Swt. UU dibuat untuk melindungi rakyat. Jika rakyat justru terdzalimi akibat penerapan UU itu, maka UU itu batal demi hukum ), Nanan bisa menjadi Plt Kabareskrim lebih baik daripada Dikdik Mulyana Arif Mansur yang terindikasi terlibat rekayasa. Saya tak begitu mengenal petinggi Polri yang lain. Tapi sedikitnya saya bisa membaca Nanan dalam beberapa penampilan di depan media. Much better these days ..
  • Presiden SBY ( karena menandatangani surat penonaktifan, pemberhentian sementara dan tetap 3 pimpinan KPK tanpa pikir panjang dan pertimbangan cukup melibatkan pihak2 yang mungkin dirugikan, membiarkan para pencatut namanya seperti BPKP, Anggodo Widjoyo, tanpa hukuman berat. Lamban bertindak ketika Kapolri tidak kunjung menerbitkan SP-3 seperti diultimatum wapres Jusuf Kalla ( 23/9/2009 ) jika dalam seminggu penyidik Polri tidak kunjung menemukan bukti yang cukup. Pasal2 yang berubah-ubah dan kronologis rekayasa di BAP adalah hasil karya oknum Polri yang terus dibela oleh Kapolri dan SBY dengan perkataan tidak ada rekayasa, berulang kali. Jika SBY suka jaim ( jaga image ), maka tindakan menutup-nutupi ini bisa menjadi bumerang bagi kredibilitasnya. Rakyat butuh transparansi dan kejujuran. Rakyat mungkin pemaaf, yang jelas tak suka dibohongi/ sandiwara.

Kenapa SBY sering dicatut namanya ?

Kelambanan SBY dibaca para koruptor sebagai dukungan bagi mereka dan jaringannya. Juga pembuat grand design ( Amerika cs ). Mereka telah mengetes kelemahan SBY dengan menghilangkan ayat 2 tentang tembakau di UU Kesehatan, yang akan ditandatangani SBY, tapi tak ditindak oleh SBY. Sikap SBY ini memberi pesan kepada mereka bahwa SBY gampang dicatut dan tak ada konsekuensi apa pun bagi siapa pun yang terinspirasi melakukan hal serupa.

Dalam konferensi pers, SBY memprotes istilah kriminalisasi KPK, istilah yang lebih dikenal masyarakat dan media untuk memberi label pada tindakan sewenang-wenang oknum Polri pada para pimpinan KPK. Presiden ikut rakyat atau rakyat ikut presiden ? Sekali lagi saya masih menyakini kedaulatan rakyat adalah yang tertinggi di negeri ini setelah Allah Swt.

Usaha Amerika memecah belah bangsa Indonesia.

Setelah gagal membuat rakyat negeri ini bergolak dengan klaim2 Malaysia terhadap budaya, kuliner, Ambalat dan pulau2 Indonesia, juga gagal mengadu domba rakyat kita dengan penduduk Singapura sehubungan pembunuhan David yang ditutupi-tutupi oleh pemerintah Singapura yang menjadi kaki tangan Amerika sejak terpisahnya negeri itu dari Malaysia, Amerika kini mencoba mengadu domba kita dengan membenturkan presiden, Polri dan Kejagung di satu sisi dan KPK, TPF dan masyarakat anti korupsi di sisi lainnya. Melihat tingkat intelegensi para petinggi Polri yang terkuak belakangan ini dalam menangani mafia peradilan, kita mulai mengerti siapa sebetulnya yang berada di belakang sukses penangkapan teroris.

Amerika dengan jaringan satelit mata2, intel, persenjataan dan dananya yang luar biasa besar. Eforia keberhasilan semu ini kadung dihayati Polri sebagai miliknya. Membuatnya jumawa, merasa lebih pintar dan lebih kuat dari rakyat. Yang tercetus terang-terangan, salah satunya dari mulut Susno yang mengibaratkan dirinya buaya dan KPK cuma cicak kecil. Yang tersamar, ucapan Nanan, Kapolri, dan SBY yang menyambung lidah Susno, ‘tak ada rekayasa.’ Di mata mereka, kita yang sedang berjuang menegakkan hukum dan keadilan, dipandang hanya segelintir orang emosional, tak sabaran, yang tak tahu proses hukum. Radarnya tak dipercaya untuk menangkap adanya aroma rekayasa dan konspirasi. Tapi Indonesia masih beruntung, SBY, Polri dan Kejagung deep in their heart ( meski gengsi mengaku salah ) masih sayang rakyat. Masih sayang kita. SBY sudah memerintahkan orang2 yang terlibat dalam rekaman tsb untuk dibebastugaskan. Susno Duadji sudah mengajukan surat pengunduran diri ke Kapolri. Akhirnya ..

Namun demikian, tantangan ke depan masih banyak. Zionis Yahudi yang merasuki Amerika tentu tidak akan berhenti begitu saja. Menkes Endang mengungkapkannya dalam perkataan ‘zero enemy’ ( tetap jadi good boy Amerika. Tak peduli di seberang, rakyat sendiri ganti menjadi enemy-nya ). Bukan Amerika namanya, kalau tidak minta imbalan berkali lipat. Baru membantu mengesahkan kedaulatan RI di PBB saja, mereka sudah menggaruk sumber2 alam kita yang terkaya di dunia, sampai pemilik sahnya ( bangsa Indonesia ) terjerat hutang sekian turunan, busung lapar, idiot ( seperti sebuah desa di Ponorogo ), merana di tenda2 pengungsian pasca gempa Jabar, Sumbar, lumpur Lapindo, stress bunuh diri, depresi dan gila. Apalagi sekarang sudah membantu menangkap gembong teroris ( ciptaan mereka ). Tentu tidak ‘murah’ bayarannya. DP-nya ; Endang jadikan Menkes, Kapolri Bambang & Jaksa Agung Hendarman pertahankan, Bank Century samarkan/ hentikan pengusutannya, KPK bubarkan. Maunya. Yang diamini koruptor lokal.

Amerika mengerti betul, rakyat kita fans berat KPK, sedang Polri lagi merasa top2-nya bisa menangkap gembong teroris ( bahkan diberi penghargaan oleh Interpol untuk mengesahkan ‘prestasi’-nya, meyakinkan Polri tak mungkin salah, top habis ). Rakyat diusik rasa keadilannya, Polri digosok-gosok ego/ kehebatannya. Di saat kedua pihak sudah berada di posisi ekstrim, keduanya diadu, hingga rontok di kedua belah pihak. Terjadi hot money, rush di perbankan, investor batal menanamkan investasinya. Koruptor bebas berkeliaran di mana-mana membusukkan instansi dan penegak hukum. Pengusaha hitam, pengacara hitam dan aparat hitam bersatu padu seperti bayang2 di negeri Mordor, negeri para bedebah. Kita tak ingin skenario suram itu terjadi dan menggilas kita. Awalnya mungkin dari salam amplop di jalanan untuk bebas dari pelanggaran lalu lintas. Ingat firman Allah ; jangan ada noda sebesar dzarah pun di hatimu, karena ia akan terus membesar, dan menelan habis nuranimu.

Kita semua harus menahan diri ( tidak anarkis ), tapi juga jangan mengabaikan penyimpangan. Karena penyimpangan kecil jika terakumulasi bisa menelan kita juga. Setannya sudah membesar, kadung jadi genderuwo, sulit dihentikan. Seperti mafioso peradilan yang menjerat Antasari, dan nyaris menelan Chandra dan Bibit. Untung media dan masyarakat anti korupsi masih kritis dan sudi berlelah-lelah turun tangan mencegahnya. Untung Adnan Buyung dan para tokoh nasional peduli dan mau kita repotkan. Untung SBY masih mendengar dan turun tangan. We’re still lucky, guys ..

Negeri para bedebah, jangan terjadi lagi.

SBY bangga menjadi bagian dari G-20, dan mengajak ketua ASEAN untuk bergabung karena katanya, Indonesia tak ingin mengecap keuntungan sendirian. Mungkinkah menjadi ‘negeri para bedebah’ di sana setelah bergabung dengan G-20, seperti sempat terjadi di Indonesia beberapa hari ini ? Pertumbuhan yang diaku, sejatinya milik pengusaha besar dan perusahaan asing yang menancapkan kukunya dalam2 di perut bumi Indonesia sejak 350 tahun lalu. Hanya ganti nama. Gedung Putih, rumah para presiden Amerika sudah menjadi teritori zionis Yahudi sejak Abraham Lincoln dan J.F.Kennedy dibunuh oleh mereka. Apakah kita mau di Munir-kan, dihilangkan seperti mahasiswa Trisakti atau diperdaya Amerika ? Tentu tidak.

Saya tahu SBY orang baik. Membaktikan hidupnya bagi negara adalah cita-cita beliau sejak kecil. Saya mafhum betul. Tapi ketika seorang RI-1 masuk ke istana negara dan istana merdeka, sudah banyak jerat yang dipasang Amerika di sana. Jerat dan ranjau ini pula yang menyebabkan ;

  1. presiden Soekarno menjadi otoriter dan terdesak ke PKI hingga tercetus peristiwa G-30 PKI, hasil rekayasa CIA. Bapak bangsa Indonesia ini wafat setelah disuntik racun dan dijauhkan dari keluarganya oleh AS.
  2. presiden Soeharto terpengaruh terus memperkaya anak-anaknya dan melibas para pengkritiknya sehingga terjadi demo besar-besaran mencopotnya dari jabatan dengan paksa. Hidup menanggung malu hingga masuk liang kubur. Korban represifnya, terutama yang dilabeli PKI masih mengutuknya di alam kubur. Supersemar yang ‘melegitimasi’ kudetanya terhadap Soekarno tak pernah jelas hingga sekarang.
  3. presiden Habibie melepaskan Timor-Timur karena manipulasi PBB atas nama referendum rakyat provinsi ke 27 RI : Timor Timur. Keputusan yang menafikan pengorbanan keluarga TNI dalam operasi Seroja, menyengsarakan anggota keluarga2 yang tercerai berai. Hingga kini permusuhan antar saudara akibat perbedaan loyalitas terhadap negara masih terjadi ( kemarin saya lihat instalasi pengeboran minyak milik Australia ( pendukung utama AS, juga disintegrasi TT menjadi Timor Leste ) di celah Timor masih terbakar hebat setelah berhari-hari, anjungan lepas pantai itu berada di dekat pulau Pasir milik Indonesia yang sudah dicaplok Australia, membuat aparat Kelautan kita ekstra waspada menjaga wilayah sekitarnya/ teritori Indonesia. Ledakan tsb menyita energi dan sumber daya kita yang mestinya bisa dipakai untuk menjaga wilayah teritori kita yang lain. Armada laut kita masih terbatas. Apa ini awal ekses tercaploknya Timor Timur ke tangan asing ? Ada sesuatu lebih besar akan terjadi di depan ? ).
  4. presiden Abdurahman Wahid memisahkan Polri dan ABRI yang ‘bom waktu’-nya baru terasa sekarang, sejak Antasari dikenai 3 status dalam hitungan jam oleh Mabes Polri yang mulai arogan dan gengsi mengakui kesalahan.
  5. presiden Megawati menghilangkan mahasiswa2 dan kader PDIP yang kritis kepadanya dan menjual aset berharga Indonesia ke tangan zionis, seperti Indosat yang logonya berubah menyerupai bendera Israel.
  6. presiden SBY gamang dalam keputusannya sehubungan kisruh KPK vs Polri & Kejagung.

Masa ini fase berbahaya yang harus dilewati presiden ke-6 Indonesia. Pro rakyat atau pro Amerika ? ( yang bersembunyi di belakang arogansi Polri dan Kejagung, Pengadilan Umum dan sekretariat DPR ). Kita lihat, dan kita bantu agar SBY lebih ‘terpikat’ sama kita, rakyatnya. Kita kan lebih cakep dan oke, right guys ?

RI-1 bisa jadi saksi pelapor ( pencatutan nama ) untuk melengkapi alat bukti menahan Anggodo

Jika hati SBY masih milik rakyat Indonesia, saya pikir SBY perlu mengusut pencatutan nama baiknya ke Polri sehingga Nanan Sukarna tak berdalih lagi ke wartawan, tak ada pengaduan yang memungkinkan Anggodo ditahan. Atau jika belum yakin netralitas penyidik Polri setelah terbongkarnya konspirasi Selasa kemarin, SBY bisa mendukung penuh upaya KPK yang akan mengambil alih kasus percobaan penyuapan Anggodo. Percayalah, dalam sejarah, tak ada yang mengalahkan kekuatan rakyat. KPK lahir dari rahim reformasi dan keputusan politik tahun 1998. Rakyat yang ada di belakang KPK. Jika ingin mempertahankan pemerintahan kedua ini, saya rasa memihak KPK dan masyarakat anti korupsi adalah pilihan tepat. Kami sangat, sangat serius memikirkan masa depan bangsa ini.

( Lihat di teve, demonstran pembela polisi cuma tahan 15 menit berdemo, sedang kami bahkan 3 hari mogok makan, masih tahan berdemo. Kami lebih gigih ). Zero enemy hanya dalam khayalan. Bahkan Allah yang Maha Adil saja bermusuhan dengan iblis, mengatakan setan adalah musuh manusia yang teramat nyata. Masak, manusia yang sulit bertindak adil, bisa tak punya musuh ? Itu utopis. Hidup di bumi adalah soal pilihan. Suatu saat kita dikondisikan-Nya untuk memilih siapa teman kita, di mana kita melangkah. Meski nyawa taruhannya. Hamba-Nya, jalan-Nya ? Atau jalan setan, yang menjelma di bumi sebagai koruptor, penyuap, penerima suap, zionis Yahudi dan Amerika garis kanan. Juga, ketika ayat QS Al Isra : menghendaki kaum muslim mengeluarkan zionis Israel peliharaan Amerika dari bumi Palestina pada saatnya nanti. Tidak lama lagi. Saat itu Indonesia dan SBY harus memilih. Pil merah ( peduli ) atau pil biru ( tak peduli ), kata Neo Matrix.

What’s your choice, Mr. President ?

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: