dari Palestina sampai Indonesia

Citra polisi diuji atau Polri di menara gading ?

Posted in indonesia by nurray on 18/11/2009

Inspeksi pasukan polisi dalam perayaan HUT Brimob.

Jenderal Bambang Hendarso Danuri menyatakan citra, harga diri dan kehormatan Polri sedang diuji oleh publik yang cenderung menyangsikan profesionalisme Polri, khususnya dalam penegakan hukum. Bambang mengaku kecewa karena jasa2 Polri seperti terlebur begitu saja karena keraguan masyarakat tsb. Kita merasakan selama 64 tahun Polri dengan prestasi membanggakan dalam menjaga ketertiban negara, seolah-olah tertutup oleh fenomena yang sedang dihadapi oleh Polri, kata Bambang, dalam upacara peringatan 64 tahun korps Brimob di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, Sabtu ( 14/11/2009 ). “Saya selaku pimpinan Polri berharap agar Polri tetap tegar, tetap setia, tetap bersemangat, dan tetap bangga kepada profesi kita, sebagai bhayangkara dan mengabdikan diri kepada masyarakat dengan penuh semangat dan keikhlasan.”

Menanggapi kisruh Polri dan KPK, Irjen Imam Sudjarwo, Kepala Korps Brimob, menegaskan,”Saya ingin sampaikan hukum harus kita tegakkan, tidak boleh ada hukum jalanan. Hukum tidak boleh goyah. Jangan hanya karena tekanan, proses hukum mundur. Apa itu tukang becak, tukang sayur, KPK, jaksa, semuanya sama. Kita bukan malaikat yang tidak punya kesalahan. Siapa pun yang salah harus diproses hukum. Asas kita praduga tidak bersalah. Jadi, kalau sekarang masih diperiksa, belum tentu bersalah.”

Sebuah spanduk bertuliskan kalimat,”Kami Anggota Korps Brimob Polri Bangga Jadi Anak Buah Jenderal” dipasang di salah satu Gedung Mako Brimob. Spanduk yang didominasi warna kuning itu berukuran 2 x 10 meter. Di sisi kiri tulisan, terpampang foto Kapolri Bambang. Pemasangan spanduk itu menuai kritik dan dinilai provokatif.”Kami kritik keras, seharusnya spanduk itu bertuliskan ‘Kami Bangga Menjadi Anggota Polri’. Mereka itu dibiayai oleh rakyat. Mereka digaji oleh rakyat, bukan digaji oleh jenderalnya,” ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane.

Menurut Neta, spanduk tsb juga provokatif karena saat ini masyarakat sedang meragukan kinerja Polri dalam kasus dugaan kriminalisasi pimpinan non aktif KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M.Hamzah. ”Salah kaprah kalau mereka bangga. Itu sangat tendensius, harusnya jangan arogan, biasa2 saja,”ujarnya. Penggunaan kata “Jenderal” mengindikasikan Brimob hanya mendukung salah seorang petinggi Polri. Padahal, petinggi Polri cukup banyak.”Mau menunjukkan seolah polisi solid, tetapi sebenarnya polisi pecah. Jenderal kan banyak ini itu.” ( PR, 15/11/2009 )

Komen Nurray :

Beberapa waktu lalu, Neta pernah mengatakan, perwira dari jenderal bintang 2 ke bawah tidak setuju dengan penahanan Bibit dan Chandra. Berbeda dengan atasan mereka, tapi mereka tak berani menentang atau melawan terang-terangan. Mungkin ini yang dimaksud Neta, polisi sebenarnya terpecah. Ada polisi Sulawesi yang membuka dukungan bagi Polri di Facebook, dengan menulis : rakyatlah yang butuh polisi, bukan polisi yang butuh rakyat. Hanya 12 dukungan untuknya. Sesudah itu ia dipanggil atasan untuk menghentikan provokasinya. Rakyat yang butuh polisi ? Hmm .. tidak tepat juga. Jika rakyat tak mau, apa polisi bisa bekerja ?

Pagi ini, saya dengar warga di Sumatera, melindungi aktivis Green Peace yang ingin menyelamatkan lahan gambut di daerah tsb. Warga tidur bersama aktivis tsb dan memukul mundur polisi yang akan membubarkan mereka. Di pulau Jawa, warga berkelahi dengan polisi yang akan mengeksekusi lahan garapan mereka. ( kasus lain satpol PP, bahkan ditantang ibu2 dengan membuka gaunnya, agar eksekusi lahan dihentikan. Rakyat termarginalkan sekarang sudah sampai pada tingkat siap membunuh orang kaya dan kaki tangannya, jika lahan hidup satu2-nya ( yang terakhir ) direbut darinya. Indonesia adalah negara dengan sumber alam terkaya di dunia. Menyedihkan, jika masih banyak yang mengais remah sekedar mempertahankan hidup ). Di Bekasi, 50 warga merusak kantor Mapolsek Muara Gembong karena tidak puas dengan razia motor yang dilakukan petugas Polsek ( 10/11/2009 ).

Itu akibat rakyat tidak percaya dengan polisi. Di jalanan, pelanggar lalulintas sudah biasa ‘bernegosiasi’ dengan polantas agar urusan cepat beres. Namun, jika ditingkat atas, para jenderal dan petinggi Polri yang gajinya sudah tinggi masih juga bekerja sama dengan markus dan melindungi mafia hukum, apa lagi yang tersisa ? Apa yang bisa diteladani ? Memimpinlah dengan contoh, bukan unjuk kuasa. Polisi jumlahnya cuma 346 ribu orang. Sedangkan Facebookers saja, sekarang sudah tembus 1, 3 juta orang. Jika setiap Facebooker punya saudara, keluarga, teman, kalikan dengan 5 orang lagi, jadi 6,5 juta orang. Itu baru dari akunnya Usman Yasin, belum yang lainnya. Tiap malam minggu mereka berkumpul untuk sambung rasa dan berkesenian di halaman gedung KPK. Sudah masuk minggu ke-3. Tiap yang lewat, yang hadir di acara tsb, akan menceritakan pada orang2 terdekatnya, lingkungannya, sehingga akan makin banyak dukungan terkumpul. Mereka ingin Bibit dan Chandra bebas murni setelah kesimpulan kemarin ( bukti tak cukup ). Ribuan nasabah kecil Century yang merana, juga mereka perjuangkan untuk mendapat uangnya kembali.

Jika rakyat tak mengizinkan, polisi juga tak bisa bekerja. Jika rakyat tak bekerja, polisi juga tak mendapat gaji. Polisi tak butuh rakyat ? Lalu mau makan apa ? Siapa yang akan kalian lindungi ? Saya kuatir soal melindungi dan mengayomi hanya sebatas slogan, wacana tak berisi. Sebelum rekaman Anggodo terungkap ke publik, sebagian orang tak nyaman di dekat polisi. Setelah terungkap, rakyat jadi paranoid ; polisi dengan acuan moral tak pasti ( tergantung siapa yang kuat membayar ) ini bisa menangkap siapa saja. Aturan hukum hanya menjadi macan kertas, yang tebang pilih menguntungkan pihaknya. Ketidakpastian inilah yang membuat masyarakat lebih baik bertindak sendiri daripada tersesat dalam hukum rimba di tubuh kepolisian. Main hakim sendiri, akhirnya menjadi kewajaran.

Soal ‘bukan polisi yang butuh rakyat’, apakah diam2 meresap juga di sanubari para petinggi Polri ? Bukan semata ocehan polisi di pelosok. Memposisikan Polri di atas rakyat. Memposisikan masyarakatlah yang keliru dan tak tahu proses hukum. Polisilah yang profesional, dan tak sudi ditekan ? Hanya Kapolri Bambang yang boleh kecewa ( dengan mencatut 64 tahun kerja Polri, padahal di situ ada kerja Kapolri Hoegeng yang jujur dan berdedikasi, juga polisi2 bersih lainnya ) sementara rakyat tak boleh kecewa mendapati reformasi hukum sejak 11 tahun lalu seperti kembali ke nol lagi di bawah kepemimpinannya.

Sebelumnya saya sempat terkesan melihat Kapolri Bambang, penuh senyum, santun dan telaten menghadapi pertanyaan Komisi III selama 8 jam hingga pukul 3 dini hari seorang diri. Namun, ketika ia salah menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang mestinya bisa menyeimbangkan antara tangan kiri ( hukuman ) dan tangan kanan ( kasih sayang ), serta terus melindungi anak buahnya yang salah, mengabaikan rasa keadilan rakyat, maka kesan itu memudar.

Semoga dengan keluarnya rekomendasi Tim 8 setebal 31 halaman, kemarin ( 17/11/2009 ), Polri dan Kejagung sudi legowo mengoreksi dirinya, mereformasi institusinya, menjadi lebih andal dan dihargai masyarakat. Kondisi terbaik adalah kondisi penuh tekanan, kata Mario Teguh. Karena saat itu seseorang dipaksa untuk berubah, memenuhi potensinya yang dahsyat, yang telah dianugerahkan-Nya pada manusia pilihannya. Jika Polri dalam keadaan terdesak, itu artinya Allah masih sayang. Kita tunggu perubahan positif mendasar pada instansi tercinta kita ini. Keep watching, guys ..

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: