dari Palestina sampai Indonesia

John Lie : etnis Tionghoa, dengan Al Kitab, berjuang mempertahankan kemerdekaan RI

Posted in indonesia by nurray on 18/11/2009

Mayor John Lie, pahlawan Indonesia dari etnis Tionghoa dan Nasrani. Buronan utama pasukan Sekutu di perairan nusantara.

Pernah terbetik, mengemudikan kapal dalam gelap, dalam gempuran pasukan Sekutu bersenjata lengkap nan canggih ? Selamat dalam 15 kali pelayaran, pulang pergi, ke Malaysia dan Thailand ? Seperti kisah2 di film bioskop saja. Get real ?

Itu bukan hal musykil buat John Lie. Masa revolusi fisik tahun 1945-1949, orang Minahasa keturunan Tionghoa ini sudah melakukannya dengan KRI Rajawali ( kini disebut KRI Majapahit ). Komandan maritim, sahabat para gelandangan ini, bersama Utoyo Ramelan, Syahsudim Izah Mahdi, mengatur peredaran senjata dan komoditas di perairan Indonesia. John Lie menjadi buronan paling dicari pasukan Sekutu yang masih mengawasi dan mengincar kekayaan Indonesia. Maklum, Lie menyelundupkan senjata dan obat dari Singapura, Australia, Inggris dan Amerika, untuk membantu perjuangan rakyat Indonesia di daratan. Satu pistol ditukar satu ton karet. Satu senapan laras panjang ditukar dengan 2 ton karet. Satu senapan mesin ditukar 2,4 ton daun teh. Seribu peluru ditukar dengan 6 ton teh. Mahal sekali, ya.

Margaretha Dharma Angkuw ( istri Lie ), Rita Lie ( keponakan Lie ), Eddie Lambong ( tokoh masyarakat Tionghoa ), Asvi Warman Adam ( sejarawan ), Soedomo ( rekan Lie ) dan A.B, Lapian ( sejarawan maritim ) mengisahkan sepak terjang pahlawan nasional ini dalam “Laksamana John Lie”- MetroTV ( 15/11/2009 ). John Lie lahir tahun 1911 sebagai keturunan ke 5, orang Tionghoa yang datang dari China. ( Singko = totok yang merasa leluhurnya Tiongkok. Golongan kedua = Tionghoa peranakan Belanda. Golongan ketiga = partai Tionghoa Indonesia ). Umur 15 tahun, Lie sudah berani pergi ke Jawa mengadu nasib.

Tahun 1942, John Lie berada di Timur Tengah. Selama 13 tahun menjadi mualim kapal Belanda. Di Teluk Persia bekerja di kapal laut Sekutu. Pada Februari 1946, setelah mendengar kemerdekaan Indonesia, John Lie pindah dan memilih bergabung dengan Angkatan Laut Indonesia, di bawah pimpinan Mr.Maramis. Jam 5 pagi, Lie sudah menyapu ranjau di perairan Cilacap. Karena pengalaman dan ketrampilan yang diperolehnya selama bekerja di kapal Sekutu, Lie melesat menjadi Syahbandar. Waktu itu ada 2 kapal Inggris membawa gula. Indonesia membeli 7 kapal Inggris berkecepatan 40 knot. Jenis black speed boat yang dinamai “The Out Law” menjadi kendaraan John Lie mencari devisa untuk tanah air. Diperoleh 3 juta USD per bulan. Lie berpangkat kapten waktu itu.

Syahbandar, penyapu ranjau, pencari devisa, mengecoh Sekutu. John Lie, wanted ! ( buron utama )

Tahun 1946, terjadi kekerasan terhadap etnis Tionghoa ( adu domba yang didalangi Belanda ) yang menyebabkan 635 orang Tionghoa tewas ( 135 diantaranya perempuan dan anak2 ), 1028 rumah terbakar dan 236 rumah rusak. Orang Tionghoa waktu itu masih dipandang pribumi sebagai orang asing, tidak patriot dan penyebab kesenjangan ekonomi. Di masa rezim Orde Baru, etnis Tionghoa di satu sisi dibenci karena dipandang pro RRC yang komunis. Di sisi lain, konglomerat Cina dipelihara, hingga tercetus kerusuhan Mei 1998, akibat jurang kesenjangan ekonomi antara nonpri dan pribumi.

2 Maret 1957, timbul gerakan Permesta, karena tidak puas dengan pemerataan hasil pembangunan di Jawa. Muncul kelompok Republik Maluku Selatan ( RMS ) yang memberontak terhadap pemerintah pusat di Jakarta. Pada 1 Desember 1948, 30 prajurit AL atas perintah Jenderal Nasution di kirim ke Sungai Tameang, Aceh Selatan, dipimpin mayor laut R.E.Martadinata. Kapal corvet Rajawali, bekas penyapu ranjau, dikomandani Mayor John Lie.

Lie menikah dalam usia tidak muda lagi dengan gerejawani, Margaretha. Tak dikarunia anak. Tahun 1967, Lie pensiun. Masa Orde Baru, mengikuti aturan pemerintah, namanya diubah menjadi Jahja Daniel Dharma. Pada 27 Agustus 1988, Lie wafat. Presiden Soeharto yang waktu itu sedang di Makasar, meminta pemakaman Lie ditunda, sampai ia datang melepas kepergiannya. Sudomo juga hadir. Seorang pahlawan telah pergi. Ia bisa beragama Nasrani dan beretnis Tionghoa. Siapa pun penghuni nusantara, mengaku berbangsa dan berbahasa Indonesia, punya hak dan kewajiban sama untuk membela tanah air, tumpah darahnya. John Lie sudah memberi teladan.

Tagged with:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: