dari Palestina sampai Indonesia

Palagan Surabaya, melebihi Gaza dan Baghdad

Posted in indonesia by nurray on 18/11/2009

Bung Tomo, jurnalis pejuang Palagan Surabaya. Merdeka atau Mati ! Inset : Ny.Soetomo, istrinya.

Surprise. Bangga, haru, campur aduk, melihat 16.000 warga Indonesia setor nyawa mempertahankan kemerdekaan. 1000 pejuang dan 15.000 rakyat biasa berjibaku mempertahankan kehormatan tanah kelahirannya, Surabaya. 2 kuital bom dijatuhkan pasukan Sekutu. Arek2 Suroboyo dibombardir dari darat, laut dan udara oleh pasukan Barat, karena mereka menolak menyerahkan senjata. Hebatnya, dengan senjata seadanya, pejuang kita bisa menewaskan 2 jenderal sekutu ( Mallaby dan marsekal udara ) pada pertempuran sekelas perang Irak-AS, Mei 2003 lalu. Melebihi serbuan Israel ke Gaza, Januari 2009, yang menelan korban 1200 jiwa. Selama Perang Dunia II, tak ada yang mampu mengkandaskan seorang pun jenderal Sekutu, tapi di Surabaya mereka kecolongan 2 jenderal sekaligus. Amazing.

Anda melihat siaran live serangan udara Amerika cs di langit Baghdad ? ( night seen warna hijau di CNN ). Bom tandan, pesawat tempur, rudal patriot, rudal scud, bersliweran di langit seperti pesta kembang api tahun baru. Anda bayangkan itu terjadi di selatan Sungai Wonokromo, Surabaya 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Drum bensin meledak. Jam 6.10, Surabaya menjadi lautan api. Lalu, 30/11/1945, sepanjang mata memandang, bergelimpangan mayat terbujur kaku, hangus, serpihan daging dari 30.000 orang ; warga kita, pasukan sekutu, pasukan Inggris yang diboncengi Belanda ( mereka bertemu rahasia di London untuk menguasai kembali Indonesia, Agreement 24/8/1895 ). Kita sudah lama berinteraksi dengan para bule, juga 350 tahun sebelumnya. Kita memang ditakdirkan berurusan dengan makhluk berkulit putih ini, entah sampai kapan.

Radio rakyat untuk mengkordinir pejuang. Bung Tomo, biangnya.

Bayangkan perang kota di Baghdad ( antara pejuang Irak melawan tentara Sekutu pimpinan AS ) tahun 2003 itu, terjadi pula di Tunjungan, Bank Jembatan Merah, Gedung Kempetai, Gedung Gubernur, tahun 1945. Para pejuang kita berasal dari komponen BKR di Surabaya, PRI, Perjuangan Putri RI, veteran Heiho – Halmahera, tentara Peta – Surabaya, dll. Pada 27/9/1945, mereka dikobarkan semangat juangnya oleh Soetomo ( Bung Tomo ) lewat Radio Pemberontakan Indonesia, perwakilan kantor berita “Antara”. Ketika pasukan Sekutu menggunakan radio komunikasi militer mutakhir untuk mengkoordinir prajuritnya, Soetomo hanya menggunakan pemancar radio biasa, dengan kode2 tertentu ( seperti belok kiri, artinya belok kanan, maju artinya mundur, dsb ), yang hanya dimengerti oleh pendengar2 setianya.

Sehari-hari, biasanya, pendengar radio dihibur lagu2 perjuangan dan cerita2 rakyat. Sekonyong-konyong, 9 November 1945, mereka dikejutkan pekik,”MERDEKA ATAU MATI !!” dari Bung Tomo. Agitator itu, seorang jurnalis yang gigih menyemangati warga Surabaya mengusir Sekutu. 45.000 pejuang kita tersentak bangkit. Waktu itu, Surabaya dipimpin oleh Gubernur Suryo. Oleh Soekarno, mereka dipersilakan untuk mengikuti permintaan Sekutu ( menyerahkan senjata ), atau mempertahankan kemerdekaan wilayahnya. Rakyat Surabaya memilih berjuang hingga titik darah penghabisan. Benar, kata Permadi, orang2 kita memang bondo nekad semua. Untuk kenekadan dan pengorbanan jiwa raga ini, Soetomo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2008.

Palagan Surabaya dimulai ketika Van Mook, 5 Oktober 1945, memimpin markas NICA di Australia. 7 Oktober 1945, sekitar 5000 orang Gurkha ( dari India, bagian pasukan Sekutu ) dan pasukan NICA Belanda akan masuk kota Surabaya. Dr.Moertopo, kepala TKR, melarang NICA masuk kota. Sekutu yang akan melucuti persenjataan tentara Jepang, diminta berlabuh saja sekian km dari daratan Surabaya. Tapi bala tentara Inggris terus merangsek masuk, sampai di Jembatan Merah ( 28-29/10/1945 ). Mereka gemas dengan Insinden Mallaby dari Divisi 5, di gedung Internasio ( belum jelas siapa pembunuh jenderal Inggris tsb, tentara Belanda atau pejuang Indonesia ? ).

Surabaya direbut dari Jepang & Sekutu. Terima kasih, Pahlawan.

27 September 1945, Surabaya menjadi kota pertahanan Jepang melawan sekutu. Dari kantor Kempetai ( polisi militer ), 40 pemuda kita berhasil merebut 60 pucuk senjata. Dalam pertempuran itu, 400 pemuda kita tewas, 400 prajurit Jepang tewas. 18 hilang. Pasukan perintis Sekutu mendarat di Surabaya. Di hotel Yamato ( sekarang Majapahit ), 14/9/1945, residen Sudirman ditodong Mr.Brugman, seorang sinyo totok Belanda. Terjadi keributan di sana. Beruntung kawannya yang bisa silat, segera menepis jatuh senjata tsb. Di hotel Oranye, 19/9/1945 jam 9 pagi, terjadi penyobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia ( bagian biru disobek ). Di buku Sejarah, kita mengenalnya sebagai peristiwa di Hotel Oranye. ( kemarin di teve, saya lihat nelayan Jatim menemukan bom masih aktif peninggalan Sekutu, menguatkan kisah dokumenter tsb )

Semula saya tak begitu memperhatikan peristiwa bersejarah ini. Hanya satu kalimat di buku dan satu hari di kalender. Satu tayangan di Metro Files. Namun, ketika dikorelasikan dengan Perang Gaza-Israel, awal tahun ini dan Perang Irak-AS tahun 2003, ( juga Revolusi Perancis ) yang saya ikuti dari A-Z, saya terperangah, betapa potensi rakyat Indonesia luar biasa. Merah Putih bukan slogan atau isapan jempol. Benar2 nyata keberanian pejuang dan warga kita waktu itu. Kalau saja kita mau menyelami lebih dalam perjuangan para pendahulu di masa lalu, kita akan makin tercengang dan terbata-bata, betapa dahsyatnya kegigihan dan pengorbanan para kesuma bangsa itu. Mereka lebih kuat dari warga Gaza dan Baghdad.

Jika saja, kita tergerak menyerap semangat juang mereka, kali ini untuk mengisi kemerdekaan dengan kiprah dan karya nyata, mengolah sumber alam terkaya di dunia di negeri ini dengan tangan2 sendiri ( putra bangsa, bukan pihak asing ), dengan keberanian menggetarkan setara para pejuang dan pahlawan kita dahulu, dengan kepintaran sejenius rekan2 kita yang juara Olimpiade Fisika, Matematika, Astronomi, David Hartanto ( software militer ), guru2 besar kita yang bertebaran di luar negeri, dibingkai kebijaksanaan para bapak bangsa, founding father, dikawal daya kritis para pemuda Indonesia yang menggulirkan reformasi, maka negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, bisa menjadi negara adidaya. Allah Swt with us. We love Indonesia. Kita punya semua yang terbaik, di negeri ini, kawan.

We can, if we really, really, really want to. Is this inspiring you, guys ?

Terima kasih tak terhingga untuk para pejuang Indonesia. Selamat Hari Pahlawan ..

Tagged with: ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. RochMan said, on 21/12/2009 at 03:26

    Allahuakbar!!! merdeka!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: