dari Palestina sampai Indonesia

Gerakan Indonesia Bersih berlangsung damai. Everybody’s happy.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 10/12/2009

Istana Negara, Jakarta. Di mana gerangan pak SBY kemarin ? Kami orang baik2, kok. Masih terkendali. Ke Bali ? Don't leave us behind, Sir.

Again. You make me proud, guys. Aksi damai kemarin ( 9/12/2009 ), dalam memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia secara keseluruhan berlangsung tertib. Puluhan ribu orang dari 43 elemen masyarakat turun ke jalan, mengawal pemberantasan korupsi di tanah air tercinta. Itu baru di Jakarta saja. Mereka menuju Gedung KPK, Bundaran HI, Mabes Polri, Kejaksaan Agung, Monas dan Istana Merdeka. Where is Mr. President ? He’s gone to Bali, already. Kata jubirnya, Julian Aldrin Pasha ( sudah ganti lagi, ya, karena Dino Patti Jalal dibilang agen asing, tak baik buat citra SBY ? ), SBY ke Bali pagi kemarin bukan untuk menghindari aksi besar-besaran 9 Desember. ( Ya, ya, ya .. kita makin biasa, kok, dengan pernyataan terbalik dari para pejabat yang terdesak. Tenang saja, pak. Kami masih jinak ).

Di atas ‘panggung darurat’ ( karena kepolisian melarang perlengkapan panggung sekaligus soud system standar dibawa untuk ekspresi kesenian ), Din Syamsuddin ( Ketua Umum PP Muhammadiyah ), Fadjroel Rahman ( koordinator Kompak, Koalisi Masyarakat Anti Korupsi, yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden dari jalur independen ), Eep Saefulloh Fatah ( CEO Polmark ) bersama istrinya Sandra Malakiano, Efendi Ghazali ( pengamat komunikasi politik ), Adhi Masaardi ( pengarang puisi “Negeri Para Bedebah”, mantan pemred Jakarta2 ), Usman Hamid ( Ketua Kontras, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan yang didirikan mendiang aktivis Munir ), Yudi Latief, aktivis perempuan dan musisi Franky Sihalatua dengan gitar setianya, berinteraksi dengan para peserta aksi damai. ( PR, 10/12/2009 )

Negeri Bedebah, Dharmawangsa & paranoia SBY

Sekali lagi “Negeri Para Bedebah” dideklamasikan, kali ini duet. Masih merinding mendengarnya. Betapa Indonesia bisa tergelincir ke abad kegelapan, jika kita tidak serius mengawal pemberantasan korupsi. Betapa Anggodo masih bebas berkeliaran, di sisi lain Antasari masih ditahan, dan mesti berjuang keras untuk membersihkan nama baiknya. Betapa orang baik, idealis, bisa masuk penjara kapan saja, dalam perjuangan melawan kebatilan. Itu berlaku untuk anda juga saya. Siapa pun.

Bang Franky menyanyi,’yang miskin kita-kita ( rakyat ), yang kaya kamu-kamu ( koruptor )’. Aksi Gerakan Indonesia Bersih ( GIB ) ini ingin dibaca sebagai gerakan yang bertekad melengserkan koruptor, bukan mencongkel kursi SBY. Don’t misunderstanding, Sir. ( tapi jika SBY setelah penyelidikan Centurygate terbukti melindungi koruptor, atau lingkaran dekatnya menerima aliran dana haram tsb, you’re dead man ). Kalau tidak salah, kenapa harus takut, paranoid ? ( SBY tidak takut, hanya kuatir, kata Julian. Ya, ya, ya … ). Untung Julian tidak menyebut soal Dokumen Dharmawangsa, yang di miling list menyebutkan Din Syamsuddin, Surya Paloh, Suryapratomo, Fadjroel Rahman ( tahun 1982 sudah anti Soeharto, sebelum SBY anti korupsi ), Ray Rangkuti, Yudi Latief, Prabowo Subianto merencanakan makar terhadap SBY. Padahal Fadjroel tidak datang ke Dharmawangsa. Tokoh bersih sekaliber Din Syamsuddin, apalagi. Musykil. Apa artinya ?

Mantan intelijen mengaku di Trijaya Network, pihak intelijen melakukan kegiatan semacam ini untuk kepentingan tertentu. Ketika aktivis Bendera melakukan press release ; Edi Baskoro, trio Malarangreng, Fox, LSI, dll, menerima aliran dana Century, lalu yang dituduh segera berbondong-bondong ke Polda Metro Jaya dalam hitungan jam, sebenarnya terasa janggal. Dengan menyebut putra SBY terima 700 milyar, lalu tim kampanye SBY terima 500 milyar, kemudian tidak benar ( dan terlihat nyata, mudah dilihat/ disimpulkan masyarakat : terima 700 milyar tapi hidupnya/ penampilannya masih biasa, tidak ada yang ujug2 mentereng ) maka pihak SBY akan mudah menepis bahwa mereka tidak terlibat dalam Centurygate. Tuh, kalian salah, kan ( mereka berharap publik ‘malu’ dan kapok mengungkit-ungkit mereka lagi. Uang yang diterima di bawah nilai tsb, takkan diusik-usik lagi ). Skenario seperti itu bisa jadi. SBY dari kalangan militer.

Kapolri & kapolda do the right thing, this time. So do we.

2 aktivis dari Bendera yang dijadikan tersangka pencemaran nama baik mengaku menerima data valid dari sumber terpercaya. Keduanya akan mempraperadilkan polisi jika mereka ditangkap sebelum Boediono dan Sri Mulyani ditangkap. Bisa jadi aktivis Bendera itu memang benar menerima data valid, tapi jika itu datang dari permainan intelijen ( pihak intelijen yang memasok data tsb ) atas pesanan pihak istana ? Mereka menjadi martir. Big, big scenario, guys. Saya kemarin juga melihat ada pemuda tanggung yang dipiting aparat dengan tuduhan provokator. Pihak MetroTV tak bisa mendekati si pemuda untuk mengetahui identitasnya, polisi keburu meringkus dan memasukkannya ke mobil. Itu cara intelijen dari kepolisian untuk membubarkan aksi GIB. Provokator itu mungkin didatangkan mereka agar korlap menyudahi aksi. Apa itu salah ? Hmm .. Saya pikir polisi kuatir otot jantung anak buahnya jebol mendengar orasi GIB yang begitu bersemangat.

Sejak SBY berpidato malam sebelumnya ( 8/12/2009 jam 21.00 ) akan adanya penunggang gelap di aksi GIB, jantung mereka sudah dipacu. ( saya pernah seharian berdebar karena menghadapi masalah ruwet sampai badan ini serasa tidak menapak di tanah, sangat tidak enak. Ingin sekali keluar dari situasi itu ). Saya lihat para polisi itu juga muda2, sebaya dengan peserta GIB. Kapolri Bambang sebelumnya mendapat laporan dari Irjen Adang Rochjana, Kapolda Sulsel, tentang aksi unjuk rasa di Makasar yang mulai rusuh karena Gubernur Sulsel tidak berhasil ditemui para peserta aksi. Para mahasiswa gagal menyerahkan petisi pada gubernur dan memintanya menandatanganinya. Sebagian peserta aksi yang frustasi lalu melempar batu. Polisi membalasnya dengan water canon ( semprotan air ). Batu masih melayang, gas air mata dilontarkan. Kapolda Adang turun, menenangkan massa dengan cara humanis, seperti pesan Kapolri Bambang. Massa kemudian long march. Sebagian yang masih frustasi melempar batu ke KFC ( restoran waralaba milik Amerika ), pos jaga dan mobil polisi.

Demo orang Makasar tidak pernah tidak brutal, kata seorang pengamat. Tapi, kemarin saya lihat beberapa mahasiswa, kordinator lapangan ( korlap ) terlihat mengangkat kedua tangan memberi tanda pada peserta aksi agar tidak berbuat anarkis. Mobil2 mulus yang parkir di situ juga tidak mereka sentuh. Mereka tahu jelas siapa sasaran kemarahan mereka. Amerika dan polisi yang korup. Saya salut pada para korlap dan mahasiswa Makasar, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Padang, Ambon, dan daerah2 di seluruh Indonesia yang bisa mengawal gerakan anti korupsi ini menjadi aksi damai yang membanggakan. Seperti Kang Eep Saefulloh bilang, bahwa demonstrasi damai bisa terselenggara karena ada 2 pihak yang elegan, dewasa dan matang. Pengunjuk rasa dan aparat yang menjaganya. Keduanya mayoritas sama2 anak muda. Di ujung sana, ada komando dari para seniornya yang bijak. Tokoh nasional, figur publik di kubu demonstran. Kapolri dan Kapolda di kubu aparat. So, good job, both of you.

Aksi damai berhadiah stabilitas keamanan dan ekonomi. Plus pujian negara tetangga. Yess !

Apa hadiahnya ? Bursa saham dan indeks rupiah stabil, dan investor masih mau menanamkan modalnya di Indonesia. Para pelaku ekonomi juga berkepentingan terhadap Indonesia bersih. Korupsi, selama ini menjadi kendala utama kemajuan Indonesia. Musuh bersama. Mereka mendukung aksi2 yang berlangsung damai. Syukur2 korupsi benar2 lenyap sehingga mereka bisa tenang/ efesien berusaha. Termasuk di sini, pengusaha kecil, industri rumahan dan pedagang kaki lima. Mereka bisa jadi orang tua, sanak saudara sebagian peserta aksi. Bonusnya, pujian dari Mahathir Mohammad, bapak pembangunan dan mantan PM Malaysia, yang menilai rakyat Indonesia telah berhasil menjalankan sistem demokrasi yang baik. Buktinya, pemilu 2009 yang berlangsung aman tanpa kerusuhan. Kita berhasil menghidupkan sistim demokrasi yang sejati.

Rakyat Indonesia telah memilih pemimpin yang tidak korup dan berkomitmen memberantas korupsi ( soal satu ini, masih harus dibuktikan ). See ? Negara2 tetangga kita diam2 memperhatikan kita. Dalam kehidupan berpolitik, kita lebih maju dari warga Malaysia, Singapura, Filipina, dll. Hanya masalah perut lapar yang masih menghantui sebagian saudara kita, yang masih perlu terus diperjuangkan. Dimulai dari pemberantasan korupsi, yang menghalangi rakyat kecil dari akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Gerakan mogok makan. Tempo hari di Gedung KPK ada yang tahan 3 hari. Kemarin ada yang coba di Gedung DPR RI, tak diizinkan.

Tips untuk menggerakkan aksi damai : para korlap koordinasi dulu dengan aparat polsek di daerahnya masing2, beberapa hari sebelumnya. Pastikan mendapat izin. Libatkan tokoh masyarakat, jika sewaktu-waktu keadaan memanas, mereka bisa menenangkan, bahkan mencegahnya dengan kepiawaian ( juga integritas ) mereka menyejukkan massa. Para peserta makan, minum dan tidur yang cukup, sehingga akal sehat tetap terjaga jika ada penyusup yang mencoba-coba memprovokasi.

Demikian pula, di kubu aparat. Jangan terlalu tegang. Pastikan nutrisi dan istirahat yang cukup. Don’t crack under pressure. Para komandan polisi hadapi peserta aksi dengan humanis, santun dan mendukung. Pastikan, kelompok unjuk rasa yang saling bertentangan jangan sampai bertemu ( atau dipertemukan seperti gerakan Indonesia Sehat II di Bundaran HI tempo hari ). Tempatkan mereka di lokasi berbeda, berjauhan. Di aksi 9 Desember kemarin ada 3 kelompok yang pro SBY. Kalau berlangsung damai, rating Indonesia dalam kehidupan berdemokrasi akan meningkat. Ekonomi Indonesia akan ikut terkerek naik. Demo ? Siapa takut ?

SBY juga takkan paranoid lagi. Pidatonya sudah mencederai perasaan para peserta aksi damai yang ingin Indonesia lebih baik. Para aktivis anti korupsi, penggagas gerakan GIB, menuntut presiden minta maaf. Bagaimana mungkin seorang presiden bisa berseberangan, bahkan mencurigai rakyatnya sendiri, yang ingin menyuarakan aspirasi untuk kebaikan bangsa ? Paling depan memberantas korupsi ? Are we still in the same boat, Sir ? Still ? Untung, Julian tidak menyebut soal dokumen Dharmawangsa. Jika sampai, betapa marahnya rakyat difitnah makar terhadap presidennya dengan sewenang-wenang ( tanpa alasan jelas/ konstitusional ). Really breaks our heart, you know ..

Data intelijen ? Again ?

Apa ini kerja intelijen juga, agar orang tidak terlalu banyak turun ke jalan ? Saya heran, kenapa setelah informasi intelijen salah berulang kali, SBY masih menyebut ini data intelijen, ini data intelijen. We suck. Ingat bom Marriot II yang ditujukan pada SBY ? Ingat rencana massa menduduki KPU ? Ingat penunggang gelap yang berencana makar pada dirinya lusa kemarin ? Itu semua tidak terbukti. Data intelijen tak bisa dipercaya. Mencari simpati rakyat ? SBY dibilang presiden yang paling banyak mengadu pada rakyatnya. Bukannya menitikberatkan perhatiannya, empatinya, pada derita korban bom Marriot, derita rakyat Indonesia yang terkoyak rasa keamanan, derita kedaulatan RI yang diobok-obok teroris, SBY malah ribut mengkuatirkan keselamatan dirinya. Soal ancaman dari intelijen itu bicarakan internal saja. Supaya kalau salah, tidak memalukan. Tidak makin menyurutkan pamor intelijen kita yang sudah terpuruk, sejak Hendropriyono tampil terbuka, dalam sorotan terang benderang nyamuk pers, membuka sekolah2 intelijen seperti layaknya sekolah umum.

Bukankah, intelijen itu mestinya tersembunyi, dalam keremangan, mengendap-endap, misterius sekaligus seksi ? Bukan hanya membuntuti para demonstran yang vokal, menyelidiki peristiwa yang sudah terjadi, tapi enduslah terutama peristiwa teror yang akan terjadi. Antisipasi dampak kerusakannya seminimal mungkin. Saat ini kerja BIN mirip intelijen administrasi, intelijen politik, bahkan wartawan media. Masa Ali Moertopo, L.B.Moerdani tidak begini. BAKIN kuat, terpusat dengan satu komando yang berwibawa. Geraknya fokus, semua informasi disinergiskan dalam satu kebijakan terarah.

Sekarang, agen intelijen terpencar-pencar. Ada sekitar 1000 orang di tiap Kodam. Setiap lembaga pemerintah juga punya, sehingga malah kontra produktif, saling menjatuhkan, membongkar kebobrokan pesaingnya. ( “Secret Operation” dengan nara sumber : John Mempi/ pengamat intelijen, Haris Rusli/ presidium FKBI, Wibisono/ mantan Dansat, Connie Rahakundini/ analis IODAS ). Mungkin beberapa diantaranya ada yang ngobyek di istana, menyuplai data2 sumir untuk SBY yang kian hari bersikap tidak friendly dengan rakyat. Sekedar kejar setoran.

Kaca buram istana, SBY berjarak dari rakyatnya.

Eep Saefulloh bilang ada 17 hal yang menyebabkan SBY bersikap demikian. Salah satunya fenomena kaca buram istana. Ada orang2 yang memasok informasi yang sudah terdistorsi pada SBY. Saya sendiri menangkap kesan, SBY kurang smart dalam memilah informasi .( kemampuan ini butuh pengalaman dan wawasan yang sangat luas, mengingat kompleks dan kronisnya masalah yang dihadapi bangsa ini. Apa SBY banyak membaca dan terlatih menganalisa sebelumnya ? ). Menanggapi Rekomendasi Tim 8, SBY hanya meminta kasus Bibit – Chandra diselesaikan luar pengadilan. Soal caranya diserahkan kepada penerima tugas, dalam hal ini Kapolri Bambang dan Jaksa Agung Hendarman.

Saya bayangkan, jika SBY minta orang2-nya jangan diusik pada para pembantunya ( misalnya Kapolri dan Jaksa Agung ), lalu tugas itu diterjemahkan mereka dengan cara masing2, menjadi seperti peristiwa yang mendera kita belakangan ini ( Antasari, Bibit-Chandra, Centurygate ). Dengan tingkat inteligensi dan kearifan yang lebih rendah, apa pun bisa terjadi demi terlaksananya perintah itu. Lalu setelah terekspos media, SBY yang merasa harus ikut bertanggung jawab, lalu melindungi anak buah yang disuruhnya itu ( secara garis besar/ tidak terperinci, as long stay away from me ) dengan berbagai manuver. Yang terbaru RPP ijin ke pengadilan untuk kegiatan penyadapan termasuk yang dilakukan KPK. Intelijen dilibatkan untuk mendukung pernyataan2 SBY. Ini yang bisa saya pikirkan ketika SBY masih menggunakan data intelijen yang sudah kita ketahui bersama banyak melesetnya.

Soal Rencana Peraturan Pemerintah tentang penyadapan, saya tak setuju jika KPK yang harus kerja raksasa dengan 500 orang saja, membersihkan Polri ( 346.000 orang ), Kejaksaan ( 8.000 ) yang sudah terbiasa korupsi sejak tahun 1974 ( 35 tahun ) harus minta ijin dulu ke pengadilan, yang juga sedang dibersihkannya. Banyak hakim karir yang kejar setoran, itu sebabnya di Pengadilan Tipikor mereka dipangkas. Lebih banyak hakim ad hoc. Koruptor, mafia hukum, makelar kasus keburu ngacir dan menghilangkan barang bukti. KPK bisa kalah cepat, kalau harus nunggu izin keluar.

Mengejar koruptor itu kerja 24 jam, 7 hari dalam seminggu, seringnya kebutuhan menyadap itu tengah malam buta. Di saat orang kebanyakan sudah tidur lelap, deal2 itu leluasa berseliweran. Jam 4 sore, para pegawai negeri kita, termasuk para hakim, sudah berkemas ingin cepat2 pulang. Bagaimana program 100 hari pemerintah SBY dalam pengganyangan markus itu bisa terkejar ? Akhir Januari 2010, lho.

Hak penyadapan tanpa izin KPK pertahankan. Kami yang mengawasi.

Saat ini, kepercayaan masyarakat lebih besar pada pimpinan KPK daripada kepolisian, kejaksaan intelijen, parlemen, bahkan kepresidenan. Menghindari saling tahu kebobrokan instansi lain, lalu kisruh saling menjatuhkan, biarlah KPK saja yang diberi wewenang penyadapan. Toh, previledge ini sebelumnya juga tokcer. Banyak pejabat dan pengusaha hitam yang tergaruk. Kenapa prestasi yang bagus ini malah digembosi ? Logikanya, pejuang anti korupsi sejati akan mempertahankan prestasi ini, juga hak penyadapan yang dimiliki KPK.

Jika RPP masih mempreteli kewenangan ini, jangan salahkan rakyat, jika pemerintah dianggap tak serius lagi memberantas korupsi. Meningkatnya indeks korupsi Indonesia dari 2 menjadi 2,8 jangan bangga dulu atau dijadikan pertimbangan mencabut hak penyadapan tanpa izin KPK. Indeks itu dihitung sebelum kasus Bibit-Chandra mencuat. Kalau mau jujur, kita ini maju selangkah lalu mundur 3 langkah. Makanya, kemarin ada kelompok mahasiswa yang berjalan mundur saat long march. Di Bali, anda lihat teve, kan, pak ? ( Saya harap pak Bibit dan pak Chandra yang sudah bertugas kembali sebagai wakil ketua KPK, mendampingi pak Tumpak Hatorangan, gigih memperjuangkan hak penyadapan KPK. Terima kasih pada Waluyo dan Mas Santosa yang telah berkenan menjadi ‘pilot’ sementara ketika pesawat KPK mengalami turbulensi kemarin. Sukses untuk karir anda selanjutnya. God bless you ).

Setelah Kepolisian dan Kejaksaan diisi dan dipimpin oleh orang yang kredibel, berintegritas tinggi, KPK dengan sendiri akan lengser dan menyerahkan tugas pemberantasan korupsi pada Kepolisian dan Kejaksaan, berikut jurus penyadapannya. Atau tugas penyadapan ini diserahkan kembali ke intelijen BAKIN jilid 2 yang sudah direformasi, kredibel dan bisa diandalkan. Ada jenderal intelijen di situ yang menghimpun seluruh informasi di Indonesia dan memasok informasi yang diperlukan pada Kepolisian dan Kejaksaan sehubungan kasus yang sedang ditangani. Biarkan intelijen yang kerjanya menguping, tetap menguping. Mereka sudah biasa dan relatif kebal dengan ekses2 penyadapan. Rakyat mengawasi semua lembaga tsa. Rakyat harus nomor satu ( setelah Allah Swt ). Pak SBY tahun 2014 juga jadi rakyat, kan ? Setuju ?

I love you full, SBY ..

I love you full, kata Mbah Surip. Kata Kang Eef Saefulloh juga. ( Saya ? Saya masih ada perhitungan dengan SBY soal pak Antasari ). SBY, presiden pertama kita yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia selama 2 kali berturut-turut, memenangkan 60,8 suara. SBY bisa jadi surplus percaya diri, sekaligus surplus sensitif. Dalam 5 tahun, perolehan Demokrat yang mengusung figur SBY melesat dari 7,4 menjadi 20, 58. Melihat sosoknya yang tegap, gagah, rapi, ganteng ( kata ibu2 ), santun, runtut & sistematis bicaranya, jenderal dan doktor pula, memang menyenangkan. Soal penampilan, tongkrongannya, SBY memenuhi harapan rakyat Indonesia. Melihat SBY turun dari pesawat bersalaman dengan pimpinan negara yang sedang dikunjungi, menghadiri rapat kabinet atau sidang MPR, KPU, konferensi pers .. mantap, man. ( Apa SBY atau pihak istana punya ahli2 khusus untuk menggarap penampilan presiden di hadapan publik ? ). Penampilan gagah ini hanya Soekarno yang bisa menyaingi.

Antasari Azhar ketika masih aktif memimpin KPK di hari Anti Korupsi Sedunia 9/12/2008. Beliau di tahanan Polda Metro sekarang, karena kejahatan yang tak dilakukannya. Sudah jalan 7 bulan. Bayangkan rasa sakit di hati anaknya melihat ayahnya tercinta didzalimi sedemikian rupa. Diancam hukuman mati ? Dengan tuduhan menerima dana Centurygate yang menimpa Edi Baskoro, putranya, apa SBY bisa meraba perasaan putra Antasari sekarang ?

Namun, akhir2 ini saya lihat kantong mata SBY bertambah. Apalagi kemarin saat aroma busuk Century diarahkan pertama kali ke istana, menghujam kalbu putra kesayangannya ( semoga SBY juga berempati ketika anak Antasari melihat bapak tercintanya di penjara, didakwa mendalangi pembunuhan, selama 7 bulan ini. Berapa kali lipat sakitnya ). Matanya memerah, wajahnya mengeras. 5 tahun mengurus negara, kurang tidur dan sering berdebar, masih difitnah dan diserapahi. Tak terhitung foto SBY, Boediono dan Sri Mulyani, orang2 kesayangannya, diinjak-injak dan dibakar. Apakah sepadan dengan pengabdiannya seumur hidup kepada negara ? Ia harus diungsikan ke Bali untuk menghindari rakyatnya yang marah. Bukan kisah happy ending.

Kita beri kesempatan pada SBY untuk membuktikan bahwa ia tak terlibat. Presiden juga manusia. Langkahnya yang terpeleset di Namru dan Century mungkin karena keterbatasan wawasan dan pengalaman beliau memimpin. Masih banyak kebajikan yang ia bawa untuk negeri ini. Ibarat seciduk air di seember air. Kami sedih kalau SBY sedih. Kami gembira, jika SBY berseri-seri ( saya ingat wajah pak Adnan Buyung, pendekar hukum saya, setelah melaporkan Rekomendasi Tim 8 pada presiden ). Kami ingin membentuk, menempa SBY menjadi presiden kami yang hebat. Izinkan kami. ( mungkin awalnya dengan ‘menelanjangi’ para pembantunya sehingga mereka tergerak ( terdesak ) jadi pembantu yang mumpuni. Presiden hebat mesti dikelilingi orang2 hebat juga ). Jangan tinggalkan ( hindari ) kami. Demi kantong memikirkan negara/ rakyat yang bergantung di mata SBY, let’s give him a chance. ( semoga langkahnya benar sesudah ini, tidak retorika dan mengadu saja. Talk less do more ). Dalam konteks praduga tak bersalah ini, saya bisa berucap,”I love you full, Mr. SBY”.

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: