dari Palestina sampai Indonesia

Titik2 harapan untuk Pansus Century. Tapi, jangan berlarut-larut seperti Thailand, ya.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 23/12/2009

Tifatul Sembiring, mantan presiden PKS. Kini Menkominfo. Ia ditugasi menyusun RPP penyadapan, yang bisa menurunkan popularitasnya. Seolah bersebarengan dengan aspirasi rakyat. KPK jangan dibonsai dulu, pak.

Pansus Angket Bank Century harus bisa menyelesaikan target pengusutan skandal Bank Century selama 60 hari agar tidak mengusik ketenangan pasar yang saat ini sudah terbentuk. Semakin lama kasus Century berkembang, bisa menghabiskan kesabaran pasar, yang akhirnya bisa mengoreksi posisi comfort zone rupiah dan indeks harga saham gabungan ( ISHG ), yang akibatnya bisa berantai ke sektor riil, kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM, A.Tony Prasetiantono dalam diskusi “Kontroversi Bank Century” di Hotel Atlet Century, Jakarta, Senin ( 21/12/2009 ). Himbauan untuk penonaktifan Menkeu Sri Mulyani dan Wapres Boediono selama proses pemanggilan pansus Angket Century dinilai banyak kerugiannya. Pasar finansial akan dengan cepat merespon negatif jika kedua pejabat itu dinonaktifkan secara vulgar, kecuali jika bisa mendapatkan seorang Menkeu yang lebih bagus dari Sri Mulyani.

Penyelesaian kasus Century yang berlarut-larut pun akan berdampak pada instabilitas ekonomi dan politik di Indonesia. Investor asing akan menilai negatif. Contoh konkretnya, Thailand yang kasusnya tak kunjung selesai. Tony mengungkapkan kebijakan penyelamatan Bank Century pada kondisi saat itu dinilai sudah tepat. Yakni, kepanikan paska bangkrutnya Lehman Brothers pada 15/9/2008 yang tercermin dari indeks saham yang terpangkas 50 %.

Praktisi hukum perbankan, Pradjoto, mengatakan, manajemen lama Bank Century,  yakni Robert Tantular, merupakan dalang kekacauan di Bank Century. Yakni, telah terjadi kredit fiktif, LC fiktif dan beredarnya surat berharga yang menimbulkan persoalan baru bagi manajemen baru, Bank Mutiara. Perilaku tidak pantas ini diuntungkan oleh datangnya krisis perbankan.

Di tempat terpisah, Tim Kolektif Gerakan Indonesia Bersih ( GIB ), Effendi Ghazali mengatakan, proses dan kinerja Pansus Angket Century telah memunculkan harapan awal dalam pengusutan kasus Bank Century. Untuk itu, ia meminta pansus dan KPK tidak terpengaruh jika terdapat pengalihan isu menjadi personalisasi tokoh2 tertentu.”Kami melihat munculnya beberapa titik harapan baru walaupun belum signifikan untuk mengubah pesimisme sementara kami terhadap Pansus Angket Century,”katanya. ( PR, 22/12/2009 )

IHSG ambruk terburuk, jika penyelesaian kasus Century berlarut-larut.

Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) di bursa efek Indonesia ambruk hingga 78 poin ( -3,12 % ) pada penutupan perdagangan Senin ( 21/12/2009 ). Kondisi ini kejatuhan terburuk di Asia. Aksi tekanan jual yang sangat besar pada saham2 perusahaan besar, sempat mendorong kejatuhan IHSG ke level 2.415.347 atau jatuh 94 poin lebih di akhir2 penutupan perdagangan. Branch Manager Trimegah Securities Bandung, Asep Saepudin mengatakan, penurunan indeks tsb karena merebaknya kekhawatiran pasar terhadap penyelesaian kasus Bank Century yang terlihat mulai merembet ke mana2.

Indeks Nikkei, salah satu acuan bursa regional, masih positif meski indeks Hang Seng turun sekitar 1 %. Bursa2 regional Asia berjalan variatif. Indeks Komposit Shanghai naik 9,09 poin ( 0,29 % ) ke level 3.122, 97. Indeks Nikkei -225 naik 41,42 poin ( 0,41 % ) ke level 10.183,47. Indeks Hang Seng turun 227,78 poin ( 1,08 % ) ke level 20.948,10. Indeks Straits Times turun 8,85 poin ( 0,31 % ) ke level 2.793, 94. Penurunan ini lebih disebabkan faktor lokal terkait masalah Century, karena bursa regional saja masih positif, meski memang ada beberapa yang turun, tetapi hanya di kisaran 1 %. IHSG secara year to date ( Ytd ) selama 2009 masih terhitung meningkat sekitar 80 %, kata Asep.

Investor asing tercatat masih melakukan net buying sebesar Rp.1, 611 trilyun atau selisih Rp.200 milyar dengan nilai jual mencapai Rp. 1,411 trilyun. Hal itu menunjukkan koreksi tajam IHSG kemarin, lebih disebabkan oleh isu dalam negeri ketimbang isu regional. Kejatuhan diprediksi bisa lebih parah bila penyelesaian kasus Century oleh Pansus tidak fokus pada inti masalah dan merembet ke pihak2 lain. Turunnya harga saham perusahaan2 yang diduga terkait dengan Century, seperti saham Telkom yang turun sampai Rp.600,- ( -5,94 % ) karena merebaknya isu perusahaan tsb sempat menempatkan dananya di Bank Century. Penurunan pasar terjadi sejak awal pembukaan perdagangan. IHSG dibuka langsung melemah 28,458 poin ( 1,13 % ) ke level 2.481,118 yang dibarengi turunnya harga saham2 blue chip di antaranya Astra International turun Rp.800,- menjadi Rp.34.200,-. Telkom turun Rp.350,- menjadi Rp.9.750,-

Pasar kembali bergolak saat mantan Gubernur BI menjadi saksi dan pernyataannya membuat pasar makin semakin tertekan. Pasar khawatir, masalah tsb akan terus berlarut-larut, dan Pansus mungkin memanggil perusahaan2 yang diindikasikan terkait kasus Century seperti yang terjadi pada Telkom, kata Asep. Gejolak masalah politik dan menggoyang bursa saham menimbulkan banyak spekulan yang mencoba mengambil keuntungan di akhir transaksi. IHSG pada perdagangan sesi I ditutup dengan penurunan mencapai 57 poin, termasuk kejatuhan paling parah di kawasan Asia. Penurunan semakin tajam hingga 94 poin pada perdagangan sore, sebelum akhirnya ditutup melemah 78 poin pada akhir perdagangan kemarin. Akhir2 perdagangan kembali ada penguatan yang didorong banyak spekulan dan aksi buy back dengan memanfaatkan kejatuhan saham2 blue chip. ( PR, 22/12/2009 )

Nurray said :

Pengawasan terhadap Bank Pikko, Danpac, dan CIC, menjadi Bank Century, lemah dan diyakini persoalan atas bank hasil merger itu tidak mungkin menimbulkan dampak sistemik, kata mantan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, kepada Pansus Angket Bank Century di Gedung DPR/ MPR, Senayan, Jakarta, Senin ( 21/12/2009 ). Para mantan pimpinan BI yang juga dipanggil kemarin, adalah Anwar Nasution, Miranda Goeltom dan Aulia Pohan. Burhanuddin menjelaskan, BI saat itu hanya terfokus untuk mengawasi 15 bank besar yang menguasai 85 % pangsa industri perbankan Indonesia. Century tidak termasuk di dalamnya. Ke-15 bank besar yang punya dampak sistemik apabila bermasalah itu di antaranya ; Bank Mandiri, BNI, BCA, Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Permata dan BRI.

Apa yang diucapkan Tony Prasetiantono berbeda dengan Burhanuddin. Yang ditakutkannya juga sudah terjadi di pasar saham. Seperti juga Christian Wibisono, yang begitu menggebu ; “kebijakan publik tak bisa dihukum, nanti tak ada yang mau jadi pejabat. Obama saja disumbang banyak waktu kampanye. Jangan permasalahkan soal itu, jangan sia-siakan posisi kita di G-20”. Itu diucapkannya berulang kali. Suck.

Setahu saya, negara2 kapitalis tak pernah berniat sungguh2 menjadikan kita sejajar dengan mereka. Keanggotaan kita, termasuk di PBB, tak lebih dari stempel dan cara mereka memaksa kita melakukan yang mereka mau. Kapitalisme, liberalisme disahkan dalam lembaga2 yang mereka bentuk. Keputusan lembaga2 ini kalian harus tunduk. Kerjakan di negara kalian masing2. Kalau tidak, negeri kalian dibumihanguskan seperti Irak dan Afganistan. Mau ??

Di belakang, para kapitalis itu kasak kusuk. UNHCR dan IOM diam2 menyebar benih terorisme. Para pengungsi dari negeri2 yang mereka invasi itu, mereka arahkan dan persenjatai untuk meledakkan Jakarta, Bali, dsb. Negeri besar ini jangan sampai kuat. Bikin rusuh dan bodoh di sini. Cekik biaya sekolah dan perguruan tinggi. UUD 1945 mereka amandemen ( melalui kaki tangannya di DPR  ), presiden tak disyaratkan lagi menguasai sejarah bangsa. Jati diri go to hell. Kalau negara2 berkembang dan tertinggal, tetap bodoh, tanpa jati diri ( hanya bisa manut dan nurut didikte asing ), miskin dan bertengkar terus, maka para imperialis tetap kuat dan berjaya. Devide et impera, lagu lama. Masih mujarab di milineum ke 2 ini.

Saya lebih pro pendapat pak Bondan, yang sudah hidup sejak jaman Sekolah Rakyat. Bahwa untuk masa depan gemilang, tak apa jika terpaksa porak poranda dulu. Yah, mirip mengangkat kanker ganas. Di obok-obok dulu badannya mencari asal kanker yang akan dibersihkan. Adhe Massaardi, lebih kalem lagi. Pergantian presiden kita lebih banyak yang heboh. Menggerakkan massa yang besar. Toh, hari ini kita masih baik2 saja. So, Tony, Yopie Hidayat ( jubir wapres ), Purbaya Yudhi Sadewa ( ekonom Danareksa ) dan Christian, apa sesungguhnya di balik pembelaan anda ?

4 % etnis Cina menguasai 70 % ekonomi nasional.

Dalam “Secret Operation” ( 15/12/2009 ), Ichsanudin Noorsy, pengamat geopolitik ekonomi, mengatakan, bahwa sejak tahun 1978 terjadi politik pintu terbuka bagi Cina. Dari 300 konglomerat di Indonesia, lebih dari 200-nya dipegang etnis Cina. Kekayaan konglomerat Cina mencapai 183 trilyun. 4 %  etnis Cina menguasai 70 % ekonomi nasional. Kekayaan Indonesia dipegang 78 % oleh BUMN, 12 % konglomerat Cina dan 6 % koperasi. Dari 147 trilyun uang di 48 bank, 138 trilyun-nya terjadi penyimpangan. 87 milyar dilarikan ke Singapura oleh para pengusaha Cina ini. Mereka tidak nasionalis ( juga beranak pinak seperti marmot ). 870 milyar dana BLBI disedot kebanyakan dari mereka, para kulit kuning pengisap kekayaan Indonesia. ( Anggodo dan Anggoro, salah satu taipan yang dimaksud. Robert Tantular dengan bank bejat Century hanya pengulangan masa lalu ). Sebelumnya, kebijakan PP 10 melarang etnis Cina berusaha hingga level kecamatan. ( mirip etnis Yahudi yang awalnya dilarang masuk perbankan AS. Sedikit demi sedikit mereka melobi, sampai akhirnya menguasai seluruh Gedung Putih dan Amerika ).

13 Mei 1969 terjadi krisis Cina- Malaysia di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 1970, Tun Abdul Razak, dibantu begawan ekonomi kita, Sumitro Joyohadikusumo, ayahanda Prabowo Subianto, menggulirkan kebijakan yang pro putra Melayu, hingga Malaysia bisa seperti sekarang. Peristiwa Malari terpicu oleh banyaknya investasi Jepang ( Tanaka ) di Indonesia. Sekarang, KKN ( korupsi, kolusi, nepotisme ) diperhalus, dibikin logis, hingga menjadi sesuatu yang wajar. Sesungguhnya KKN, tak pernah hilang sejak reformasi 1998. ( Susno, Manggabarani, Iriawan, polisi, pengusaha, jaksa, hakim & pengacara hitam sampai tak merasa kalau tindakannya sudah dikategorikan tindak korupsi. Sudah menjadi keseharian. Mereka terheran-heran, orang lain protes dan mempermasalahkan ).

Dana Dephan AS di Century hasil Namru ?

Rp.6.762.361.000.000 dan bail out Century. Kemana ? Hesham Al Warrag, Rafat Ali, Robert Tantular dan Dewi Tantular yang tahu. Uang itu sudah dilarikan ke Hongkong dan Eropa, kata Hendarman Supandji. Menurut PPATK, ada 64 transaksi mencurigakan. Ada 10 deposan besar yang mirip dengan nama politisi, mengambil uang senilai 4, 2 trilyun. Yang menarik, pada 1 November 2008 ada dana dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebanyak 17, 28 juta USD masuk ke Bank Century lalu dipindahkan oleh Menkeu ke bank2 plat merah. Apa ini komisi dari proyek Namru ? Sehingga bank kecil nan bejat ini diselimuti kabut tebal oleh istana, atau berlapis-lapis seperti kulit bawang yang memedihkan mata ?

Kupasan pertama menjebloskan Antasari ke tahanan ( karena tak sengaja mendengar transaksi Susno yang  kecipratan dana bail out. Simpanan Budi Sampoerna di bank gagal yang katanya berdampak sistemik ini, belum saatnya ditarik. Ia tak sabar menunggu kurator pemailitan memproses aset bank Century ). Kupasan ke-2 : Bibit dan Chandra ( cara komplotan Susno cs mengintimidasi pemimpin2 KPK agar tak mengusik bau busuk di Century ). Kupasan ke 3 : Boediono dan Sri Mulyani ( BI tidak memasok data yang benar pada Sri sehingga ia tersandung di kasus ini. Apa Sri tidak diberitahu, Robert, Rafat dan Hesham tidak lulus proper test ? ). Next ?

Selamatkan Tifatul Sembiring dari tugas2 yang melorotkan reputasinya.

Seperti kata Fachri Hamzah, anggota pansus Century, dari fraksi PKS,”ibaratnya nyelam, kita sudah melihat banyak ikan di dalamnya, kita tinggal pilih ikan mana yang akan ditangkap”. Saya juga titip pesan pada Fachry ( piece, man.. ), agar Tifatul Sembiring, mantan ketua PKS dijaga dari penyalahgunaan istana. Saya dengar, Tifatul sedang berselisih dengan Adnan Buyung dan ICW soal RPP penyadapan. Saya kuatir reputasinya yang baik ,sedang sedikit demi sedikit dihancurkan dengan tugas2 yang diberikan pemerintahan SBY. Nama Tifatul bisa2 meredup saat pemilu 2014, padahal semangatnya luar biasa masuk ke kabinet. Semua jabatan sebelumnya, langsung ia lepas agar bisa total mengabdi untuk negara.

Jajaran Depkominfo terlihat respek dan kagum dengan kinerjanya yang tidak tanggung2. Tifatul harus diselamatkan. Ia mesti tahu “asap menghitam” yang sedang bertebaran di ruang hirupnya. Feeling saya, orang2 di istana tidak lagi bersih. Bahkan, SBY pernah tersangkut Namru ( menandatangani pengoperasiannya kembali di Indonesia ). Ada hutang2 masa lalu yang membebani pemerintahannya saat ini. Saya sangat respek pada Tifatul. Semoga Allah menyelamatkan jalan pengabdiannya. Amin.

Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: