dari Palestina sampai Indonesia

TNI tugasnya jaga NKRI, tak ingin campuri Centurygate.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 27/01/2010

Aksi TNI, Tentara Nasional Indonesia. Seorang pengamat mengatakan, demo 28/1/2010 besok, juga demo2 lain, takkan berhasil memakzulkan SBY, selama tak didukung dana besar dan TNI. Rasanya, kita besok damai2 saja, kok .. Betul ?

Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) tak akan mencampuri kasus Bank Century karena sudah berada di ranah politik praktis.”TNI tidak lagi berpolitik praktis sehingga tidak akan ikut campur atau berkomentar apa pun tentang kasus Century,”kata Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta, Selasa ( 26/1/2010 ). TNI hanya akan bertindak sesuai kewenangannya berdasarkan UUD 1945 dan UU no.34 tentang TNI. Menjelaskan tentang suhu politik nasional yang menghangat terkait kasus Bank Century yang mengarah pada pengerahan massa pada 28 Januari, besok, oleh “Petisi 28”, Panglima TNI menegaskan, pihaknya akan bertindak sesuai kewenangan.

Djoko mengemukakan, aksi unjuk rasa oleh “Petisi 28” tentang evaluasi program 100 hari pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono serta kasus Bank Century sebagai salah satu bentuk kebebasan berpendapat dalam negara demokrasi yang telah diatur dalam undang2.”Oleh karena itu, kami berharap, aksi dilakukan sesuai undang2 yang berlaku. TNI juga akan bertindak sesuai kewenangannya berdasarkan UU yang berlaku.” Dalam situasi keamanan yang berstatus tertib sipil, penanganan keamanan dan ketertiban masyarakat berada di tangan Polri.”Jika ada perkembangan situasi yang mengarah pada kondisi darurat hingga perlu perubahan status keamanan, TNI akan bertindak membantu Polri sesuai kewenangannya.”

Penyekatan sejumlah pintu, unjuk rasa di wilayah masing2

Mengantisipasi aksi demonstrasi terkait 100 hari pemerintahan Yudhoyono di Jakarta, Polda Jabar akan menyekat sejumlah pintu masuk ke DKI Jakarta dan perbatasan Jabar – Jateng. Penyekatan itu akan dilakukan di pintu tol Jagorawi, Purwakarta, Bogor, Losari dan Banjar. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar, Kombes Dade Achmad di Bandung, Selasa ( 26/1/2010 ), menjelaskan, Jabar sebagai penyangga DKI Jakarta, merupakan wilayah potensial bagi perlintasan massa. Dengan penyekatan tsb, demonstran akan memilih berunjuk rasa di wilayahnya masing2.”Kami menerima laporan soal rencana pengerahan massa besar-besaran ke Jakarta untuk berdemonstrasi. Oleh karena itu, penyekatan ini dilakukan untuk mengantisipasi masuknya massa besar ke Jakarta.” Untuk penyekatan tsb, Polda Jabar menurunkan personelnya dari Brimob, Dalmas dan Lantas. Kami juga berkoordinasi dengan TNI dan aparat terkait lainnya, kata Dade.

Dade berharap agar massa tidak memaksakan diri berdemonstrasi di Jakarta.”Kami tidak melarang warga negara menyampaikan aspirasinya. Namun, alangkah baiknya jika penyampaian aspirasi itu dilakukan di daerah masing2. Sampai saat ini pun, kami belum menerima laporan LSM, ormas, kelompok mahasiswa atau elemen masyarakat lain yang akan melakukan demonstrasi.”

Dalam pertemuan pers, Panglima TNI membantah TNI menelantarkan para purnawirawan dengan melakukan penertiban.”TNI selalu melihat apakah purnawirawan dan istrinya masih hidup. Lalu apakah yang bersangkutan sudah punya rumah. Tidak mungkin kita menelantarkan,”ujarnya. ( PR, 27/1/2010 )

Nurray Said :

Long time no see. Miss me ? Centurygate, sebagian orang sudah jenuh, seperti ; penonton awam yang IQ-nya pas-pasan, mereka yang sudah hidup enak dan kurang peduli dengan mereka yang masih papa. Tentu, termasuk di sini ; para koruptor dan kaki tangannya, yang tak ingin perilaku busuk mereka ketahuan. Sebagian makin semangat, seperti Petisi 28, GIB, rekan2 LSM dan media. Jadwal demo massal besok berbarengan dengan pembelaan Antasari yang dituntut JPU hukuman mati. ( Sinaga satu ini bukan membela kepentingan rakyat sesuai visi misi Kejagung, tapi membela kepentingan kelompok yang membayarnya. Seharusnya sejak lama ia dibebastugaskan. Tapi, Hendarman Supandji masih betah memeliharanya. Alasannya ; memperbaiki jaksa lebih sulit daripada membuat gedung. Tentu saja, kalau Jaksa Agung-nya Supandji. Orang suruhan bawa mobil pimpinan KPK saja, Supandji sontak haqul yakin menuduh Bibit-Chandra memeras Anggodo. Apalagi kasus2 lebih rumit yang dilakoni jaksa hitam berpengalaman puluhan tahun. Apa radarnya sanggup mendeteksi ? Lebih mengenaskan, SBY memilih dan masih mempertahankan dia sampai hari. Di saat tahtanya sendiri sudah diguncang hebat sejak 100 hari lalu ).

Saya ? Selama Antasari Azhar masih terseok memperjuangkan keadilan, JPU bebal Cirrus Sinaga masih santer berkoak-koak dan para konspirator masih ber-ha-ha hi-hi di belakang layar, maka saya pun masih menyimak persoalan Century, hulu dari kasus kriminalisasi ketua KPK. Even taking a hundred years ..

Saya ingat Denny Indrayana mengatakan, SBY diundang pansus ke Senayan memang seksi untuk kuping media. Pansus angket adalah pintu masuk pemakzulan ( impeachment ), katanya di Trijaya Network. Lalu di rapat pansus, Jusuf Kalla mengatakan hal yang mirip ; blanked garanteed adalah pintu masuk bagi moral hazard para bankir hitam. Deposito fiktif, perusahaan fiktif ( ala Robert Tantular sampai 10 lapis ) berhamburan, kesempatan pengusaha2 hitam menilep uang rakyat/ negara. Sejak 10 tahun lalu sampai hari ini, setiap warga Indonesia tersandera hutang 50 trilyun tiap tahunnya gara2 bail out raksasa/ mega korupsi bernama BLBI ( tahun 1998 ). Itu baru bunganya. Penikmatnya, mayoritas pengusaha Tionghoa. Sampoerna Grup, Bakrie Grup ( milik ketum Golkar, Aburizal Bakrie ), Salim Grup, Summa Grup, dst.

BLBI, Centurygate, bail out yang menyengsarakan rakyat. Negara tidak dirugikan, kata Sri ?

Berkas asli kasus BLBI sudah dihilangkan Kejaksaan Agung. Jelas, ada kesengajaan yang melibatkan sejumlah uang dan lobi2 hitam. ( tahanan LP Cipinang bernama Anggodo Widjojo sedang diklarifikasi oleh KPK tentang pemberian mobil mewah kepada mantan Jamintel Wisnu Subroto. Mantan wakil jaksa agung, Ritonga sudah diberhentikan dari jabatannya. Supandji mengatakan sudah menindak 845 jaksa dan pengawai TU yang melakukan berbagai pelanggaran. 3 jaksa diberhentikan dengan hormat, 2 jaksa diberhentikan tidak hormat, 4 jaksa mengundurkan diri. Saya menunggu Supandji himself mengundurkan diri, karena do nothing soal hilangnya barang bukti BLBI dan memilih jaksa tak berkualitas macam Cirrus Sinaga untuk menuntut penegak hukum yang berjasa bagi negara sekaliber Antasari, seniornya, pada kasus pembunuhan yang tak pernah didalanginya. Otak Sinaga dan Supandji benar2 tak jalan. Keduanya bekerja demi uang, bukan kebenaran. Semoga Allah menyadarkan, atau menghentikan mereka sama sekali.

Penderitaan sebagian rakyat Indonesia, minimnya bantuan bencana, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, rusaknya lingkungan hidup adalah harga yang harus dibayar. Rakyat mensubsidi orang kaya, ( terutama bankir, pengusaha, pengacara, aparat hitam ), dengan penyakit dan kebodohannya. ACFTA, Ujian Nasional, BUHM perguruan2 tinggi, dipaksakan berlaku, meski rakyat tidak dipersiapkan dengan infrastruktur pendukungnya seperti di negara2 lain. Christian Wibisono dan SBY membanggakan keanggotaan Indonesia di G-20. Negara2 dominan yang berkepentingan negeri ini menjadi pasar mereka. Diupayakan untuk tetap bodoh dengan beragam perjanjian2 yang terpaksa kita stempel karena terlanjur menjadi anggota komunitas mereka. Dipilih dan dipertahankan pejabat2 bodoh dan kemaruk, agar sumber daya alam kita leluasa mereka keruk untuk membiayai koalisi perang mereka di seluruh penjuru dunia. Sisanya untuk meredakan rengekan rakyat mereka yang boros.

Di perkumpulan2 dan klub2, kita tahu, yang kuat akan mendominasi yang lemah. Kalau perlu sampai licin tak bersisa, hingga terpuruk menjadi budak mereka. Stereotip penyiksa ( verbal/ psikis, fisik ). Di Haiti, gempa 7 skala Richter ( 12/1/2010 ) yang menewaskan sekitar 200 ribu jiwa, ribuan personel militer AS yang dimobilisasi, dipandang sebagian pemerhati, bukan tulus untuk membantu korban Port-au-Prince. Kegiatan mereka lebih mirip pendudukan militer daripada kemanusiaan. AS tak sudi merugi. As usual. Kaum zionis di belakang Gedung Putih mesti untung seuntung-untungnya. Materi adalah tuhan mereka. ( lalu apa istimewanya Indonesia menjadi perkecualian mereka ? Jangan tertipu mulut manis mereka, pak )

180 hari waktu pemakzulan. SBY atau Boediono out ?

Dalam Today’s Dialogue Metro TV semalam ( menghadirkan Lukman Hakim Saefuddin/ wakil ketua DPR, Refli Harun/ pakar hukum tata negara dan Azis Syamsuddin/ anggota pansus dari FG ), Aziz ditanya soal kemungkinan menghadirkan SBY. SBY diperlukan untuk konfirmasi ; apa betul Sri Mulyani mengirim sms ke SBY, tembusannya ke JK, setelah keputusan bail-out Century 21/11/2008 ? JK, sebagai presiden ad interim kala itu, mengaku, hanya menerima laporan bail out setelah kejadian, yaitu 25/11/2008. Siapa yang benar ? Siapa yang bertanggungjawab atas penggelontoran dana LPS ke bank gagal ini, yang semula dikira Sri 632 milyar ternyata membengkak membengkak jadi 4,7 lalu 6,7 trilyun. Pembicaraan privat antara JK dan Sri, bahwa Sri merasa tertipu dengan laporan BI. Jika memang ada, siapa yang bertanggungjawab ? Ada kejahatan perbankan di sini. Harus ada yang dicokok, sebelum jumawa dan berulah lagi di kemudian hari ).

Azis mengelak memberitahu kesimpulan sementara pansus pada Kania dan pemirsa. Ia tak ingin mendahului pansus atau pun melanggar etika. Kesimpulan tsb diserahkan ke masing2 fraksi. Masih 70 % data yang belum diterima pansus. Azis tak ingin gegabah. Bijak, kata Refli. Dari koran Media Indonesia ( 23/1/2010 ), peta sementara sikap fraksi terkait bail out Century ; 260 orang ( F-PD, F-PPP, F-PAN, F-PKB ) menganggap tidak terjadi pelanggaran, 137 orang ( F-PDIP, F-Partai Gerindra, F-Partai Hanura ), dan 163 orang ( F-Partai Golkar, F-PKS ) belum bersikap. Jadi, Golkar dan PKS menentukan bandul akan mengayun ke mana. Perjalanan hak angket kasus Bank Century sendiri dimulai ;

  1. 503 anggota DPR dari 9 fraksi mendukung penggunaan hak angket kasus bail out Bank Century ( 1 Desember 2009 ).
  2. Pemilihan ketua pansus dan penetapan 30 anggota pansus ( 4 Desember 2009 )
  3. Pembahasan agenda dan mekanisme kerja pansus ( 14 Desember 2009 )
  4. Pansus memulai pemeriksaan ( 16 Desember 2009 )
  5. Rapat pemeriksaan terakhir dengan menghadirkan saksi ahli ( 21 Januari 2010 )
  6. Staf ahli pansus menyusun rancangan kesimpulan sementara ( 22-24 Januari 2010 )
  7. Rapat pleno pembahasan kesimpulan sementara pansus ( 25 Januari 2010 )
  8. Rekomendasi sementara dibahas di rapat Badan Musyawarah ( Bamus ) untuk diagendakan di paripurna ( 28 Januari 2010 ).
  9. Rapat paripurna pengambilan keputusan kesimpulan sementara dan keputusan perlu tidaknya melanjutkan proses pansus ( 4 Februari 2010 ).

Refli mengatakan sedikitnya perlu 180 hari untuk sampai ke pilihan pemakzulan. Tidak seperti masa presiden Gus Dur yang tersandung Buloggate, memakzulkan presiden sekarang lebih sulit setelah amandemen UUD 1945. Dulu, ketua MPR Amien Rais sudah cukup. Tapi, sekarang harus melalui sidang paripurna hak mengajukan pertanyaan dan Mahkamah Konstitusi. Setelah terbukti terjadi pelanggaran hukum ( misalnya keputusan bail-out ini ditujukan untuk keuntungan diri, orang atau kelompok tertentu, bukan semata salah kebijakan yang dikenai sanksi administrasi sampai dibebastugaskan ) menurut penyelidikan KPK, Polri atau Kejagung, baru pemakzulan bisa dilakukan.

Ada 6 celah memakzulkan presiden/ wapres ; suap, korupsi, pelanggaran hukum berat ( memperkosa, merampok, membunuh dsb ), mengkhianati negara, perilaku menyimpang/ gila, dan tidak lagi memenuhi syarat menjalankan tugas presiden/ wapres. ( AS sering intervensi saat amandemen UUD kita. Baru ketahuan gunanya sekarang ; melindungi orang2 yang melindungi kepentingannya di Indonesia. Sudah diantisipasi jauh2 hari, demi big scenario menaklukkan dunia, menjadikan warga negara lain jongos2 mereka ).

Pertemuan Bogor : upaya SBY menghadang pansus ?

Shut up, Poltak !

SBY juga sudah mengantisipasi dengan mengundang 7 pimpinan lembaga tinggi negara ke Istana Bogor ( 21/1/2010 ). KPK, Polri, Kejagung, MK, MA, BPK, MPR. Yunus Husein, ketua PPATK juga sudah direkrut dan disibukkan dengan aneka kegiatan satgas Anti Mafia Hukum. Pansus Centurygate jadi kesulitan mencari informasi dari Yunus lagi. ( yang katanya bisa melacak sampai 7 lapis penerima dana Century, padahal Susno Duadji, mantan wakil PPATK, mengatakan perlu 10 lapis ( perusahaan fiktif ) untuk menguliti Robert Tantular berada di belakangnya. Ruhut Sitompul, yang semula tampak bisa diandalkan di salah satu episode Democrazy, kini berupa jadi anggota dewan bermulut kasar ( sebagian mengatakan Poltak Sitompul, badut idiot yang merasa paling hebat ) yang rajin interupsi dan memecah konsentrasi rekannya di pansus.

Pintar bicara ternyata tidak cukup. Otak juga harus rajin di isi informasi yang benar, aktual dan bermanfaat. Waktu bersilat lidah dengan Gayuz Lumbuun di kasus hasil pilpres lalu, saya pikir Ruhut hanya kurang menguasai materi persoalan. Saya tak menduga ternyata separah itu. Klaimnya berulang-ulang di berbagai  acara, bahwa dirinya pernah membela para jenderal hingga 94 bintang di masa lalu, tak bermakna, jika Ruhut tak rajin meng-update isi kepalanya. Ia makhluk kadaluarsa. Tak macth dengan persoalan hari ini, termasuk skandal Bank Century yang terindikasi melibatkan orang2 seputar SBY, bos Ruhut.

Juga ketika, kuasa hukum Bibit-Chandra, Bambang Widjajanto cs mengatakan ada rekayasa dalam kasus kriminalisasi pimpinan KPK, Ruhut dengan pongah mengatakan pada audiens TV One,”KPK bukan punya kuasa hukum Bibit-Chandra !”. Coba kalau tak ada pengacara muda segigih Bambang Widjojanto cs dan dukungan masyarakat anti korupsi, mungkin Bibit- Chandra sekarang masih ditahan. Apa Ruhut pernah merenungi kesalahannya ? Alih2 merasa benar sendiri. Atau tipikal sebagian orang Sumatera yang bermodal ngotot, mulut kasar, merendahkan orang lain untuk meninggikan diri ? Ego kelewat besar, tak sepadan dengan kemampuan. Mendompleng nama leluhur, atau siapa pun yang dianggap bernilai ( seringnya materi, status ) baginya. Hiperbol.

Hati2 bertemu orang malas, jarang ibadah, bermulut kasar dan keranjingan merendahkan orang lain. 4 ciri awal penyiksa, yang takkan sungkan/ tanggung2 mempermalukan anda di depan umum. Terlepas anda salah atau tidak, karena otaknya tak mampu mendeteksi kebenaran ( karena jarang diasah/ diisi ilmu ). Asal ia merasa terancam, egonya tersentil, semua ucapan kotor menjadi lumrah/ pembenaran baginya. He must number one. Bisa jadi Ruhut salah satunya. Terus terang, saya jengah mendengar Ruhut mengulang-ulang ‘iya Daeng, jangan marah dulu Daeng’ ( who does he think he is ? ). Shut up !!

Mahfud MD atau JK dari kaukus bersih ?

Jusuf Kalla, meski dari Partai Golkar, ia termasuk yang tidak hitam. ( di kelompok buruk ada orang baik, di kelompok baik ada orang jahat ). Bahkan, SBY ( melihat kemampuan sebenarnya yang sedikit demi sedikit ditelanjangi oleh publik ) ‘berhutang’ kecerdikan pada JK pada masa pemerintah KIB I yang relatif baik. ( Kalau SBY emoh/ gagal dimakzulkan, ia harus rela melepas Boediono, sebagai ‘tumbal/ kambing hitam’ atas keputusan SBY melindungi Boedi Sampoerna, nasabah terbesar Century sekaligus donatur kampanye dan yayasan SBY ; Puri Cikeas, Kepedulian & Kesetiaan, Majelis Dzikir yang beroperasi di seluruh Indonesia, memobilisasi dana dan suara bagi kemenangan SBY, tapi tak dilaporkan ke KPU.

Sampoerna memberi dana 150 milyar tahun 2006 untuk kampanya SBY. Pilpres 2004, Sampoerna juga menyumbang. Kalau bersedia demi negara, JK bisa menggantikan Boediono. Mahfud MD juga boleh, karena persoalan hukum adalah yang paling berat mendera selama kepemimpinan SBY. Di luar negeri, kebanyakan ahli hukum yang menjadi presiden. Bermain di tatar kebijakan dalam koridor hukum dan perundang-undangan. Militer jarang dilirik, kecuali negara otoriter yang terbiasa kudeta. Militer terbiasa satu komando dan mengedepankan kekuatan, ketimbang argumentasi yang fair. Adegan berjam-jam, berminggu-minggu RDP anggota pansus di Senayan untuk menjawab pertanyaan tunggal ‘siapa yang bertanggungjawab atas penggelapan dana bail out Century’, bisa jadi membosankan anggota korp militer. Mereka memang dilahirkan untuk memanggul senjata dan berperang, cekatan dan sigap menjaga keutuhan NKRI. Hantam musuh yang melanggar perbatasan dan kedaulatan kita. We need you there .. We love you that way ..

( Boediono kemayu, kata sebagian orang. Pastinya tidak menyaingi popularitasnya SBY seperti halnya JK. Mirip Soeharto, yang ogah disaingi komandan RPKAD, sekarang Kopassus, Sarwo Edhi, ayah Ani, yang diberhentikan dari jabatan militer aktif di tahun ke2, justru karena karirnya yang gemilang, lalu ‘dibuang’ ke luar negeri sebagai duta besar. Pengalaman menyedihkan mertua yang dikagumi SBY ini ternyata diulangi SBY pada JK. Apa karena SBY ‘berhutang budi’ pada Boediono yang telah membantu memuluskan jalan Budi Sampoerna memperoleh uangnya kembali di Bank Century ? Atau memang ambisi sebagian orang Jawa, yang gemar one man show ? ).

Demo damai esok. Where are you, Sampoerna ?

TNI menjaga keutuhan NKRI. We love you that way ..

Hujan turun deras sore ini. Di luar sana, TNI, Polri dan Petisi 28 bersiap demi hajat besar di Jakarta esok hari. Juga, Antasari dan para pengacaranya sibuk menyusun pledoi, menghindarkan mantan ketua KPK ini dari hukuman mati. Akankah kita, sesama komponen bangsa, saling menghancurkan, atau menguatkan ? Bahwa kita berpusar sejak Antasari ditahan penyidik Polri, April 2009, gara2 seorang pengusaha bernama Budi Sampoerna ? ( ia bisa menolak diperiksa. Ada orang2 tertentu di negeri ini yang tak terjamah hukum. Para oligarkh yang menguasai istana.

Saya ingat iklan bombastis ‘Sumpah Pemuda’ di televisi oleh Sampoerna Group. Perusahaan ini sudah dijual ke Philip Morris, perusahaan rokok milik pengusaha zionis. Yang kerap mengadakan lomba melukis se-ASEAN, sekaligus yang kemarin menghilangkan ayat tembakau sebelum ditandatangani SBY. Banyak tokoh seperti Jekyll and Hyde sekarang. Terlihat mulia di permukaan, tapi keji dan egois di lubuk hatinya. Nuraninya tergadaikan demi sebuah citra artifisial. Tak peduli orang lain dibui atau dihukum mati. Yang penting citra, citra terjaga ). Melihat carut marut yang ditimpakan pada bangsa ini, Boedi Sampoerna, who do you think you are ??

Iklan
Tagged with: , ,

Anggodo jadi tersangka dalam 2 minggu. Sanggupkah KPK ?

Posted in indonesia, KPK by nurray on 05/01/2010

Sang kontroversi : George Junus Aditjondro. Sentilannya dulu pada Gurita Cendana terbukti benar. Bagaimana dengan Gurita Cikeas ?

Koalisi Cinta Indonesia Cinta KPK ( Cicak ) memberi waktu 2 pekan bagi KPK untuk menetapkan Anggodo Widjoyo menjadi tersangka dalam kasus rekaman rekayasa penetapan tersangka pimpinan KPK. Sebelumnya, Mabes Polri telah menyelidiki kasus rekaman hasil sadapan KPK terhadap Anggoro yang diperdengarkan dalam sidang MK. Mabes Polri kesulitan menemukan bukti2 kuat yang dapat menjerat adik buronan KPK terkait dugaan korupsi projek SKRT Dephut dan PT. Masaro Radiokom.

Febri Diansyah, aktivis Cicak sekaligus peneliti ICW, menyatakan, sebenarnya KPK tak perlu ragu menetapkan Anggodo sebagai tersangka, karena sudah ada bukti awal, yakni rekaman yang diperdengarkan di MK, keterangan Ari Muladi dan rekomendasi Tim Delapan yang menyebut Anggodo, makelar kasus. Terlebih akibat perilaku Anggodo, kondisi KPK sempat terpuruk. Dengan adanya rekomendasi itu, tentunya KPK harus pro aktif menangani kasus Anggodo dibanding kepolisian dan kejaksaan agung. Saat ini, penyelidikan sudah selesai, tetapi kenapa lamban penanganannya. Ini harus dievaluasi dan diperhatikan.

ICW juga meminta KPK melakukan pembersihan dan evaluasi internal. ICW menilai titik kritis KPK berada di bagian penyidikan lembaga tsb. Khususnya Direktur Penyidikan KPK yang bukan direkrut KPK, Brigjen Suaedi Hussein. Evaluasi akan menentukan pantas tidaknya Suaedi dipertahankan pada posisi itu atau tidak. KPK harus tegas. Buaya yang bertopeng cicak harus disingkirkan. Untuk bagian penyelidikan, kami relatif percaya karena sebagian besar direkrut KPK melalui prosedur yang tepat. Dengan pembenahan internal ini, kasus2 seperti Anggodo, Bank Century dan Agus Condro bisa segera ditindaklanjuti. ( PR, 4/1/2010 ).

Nurray said :

KPK sudah mencekal Anggodo. Johan Budi, jubir KPK, mengatakan penetapan tersangka akan ditinjau pekan depan. Semoga sang markus ini bisa diberangus akhirnya. Jangan sampai ia melengang tanpa hukuman, menginpirasi benih2 markus lainnya untuk merusak tatanan hukum kita. Dugaan saya sekarang, kenapa Anggodo masih menghirup udara bebas, ( mungkin seperti Rani, dititipkan ke LPSK lalu disembunyikan di tempat yang berpindah-pindah dengan penjagaan sepasukan polisi. Makan tidur enak hingga pipi tembem mengkilat, dan main PS ) karena ia dikuatirkan “bernyanyi” seperti Nasrudin atau Williardi Wizar. “Sasaran kita hanya satu. Antasari.” Para petinggi Polri, seperti Susno, Iriawan, Jusuf Manggabarani, dsb, bakal terbongkar kedoknya. Rabu besok, Jusuf Manggabarani yang berkolaborasi dengan Iriawan mempermak jasad Nasrudin hingga tidak asli lagi saat diautopsi, akan dilantik sebagai Wakapolri. Lucu ya, konspirator pembunuh Nasrudin dan penjerat Antasari, jadi Truno 2. Penjahat jadi polisi. Penjahat besar memburu penjahat kecil. Orang baik masuk penjara. Orang jahat di luar penjara. Hukum rimba namanya. Saya tak tahu apa yang terjadi di Dewan Jabatan Mabes Polri ? Apa lobi2 hitam masih berjaya di sana ? Tampaknya semua bahu membahu menutupi aib kolektif. Reposisi ? Get real.

( Kadiv Humas Polri, Nanan Sukarna menggantikan posisi Manggabarani di Irwasum. Edwards Aritonang menjadi Kadiv Humas Polri. Agus Wantoro jadi gubernur PTIK ).

“Membongkar gurita” vs “Cari Sensasi”. Ilmiah & komersial.

Buku “Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century” karya George Junus Aditjondro membuat kehebohan baru. Banyak kalangan kebakaran jenggot karena namanya disebut-sebut penulis kontroversial itu. George sepertinya dilahirkan untuk memprovokasi pemerintah. Ia sempat hengkang ke Australia ( 1995 – 2005 ) menghindari amukan klan Cendana pimpinan Mbah Harto, gara2 “gurita”-nya. Namun, kemudian terbukti analisa George tak jauh meleset. Memang gurita Cendana itu ada, kan ? Begitu kolosalnya, sampai melengserkan Soeharto dari tahtanya 32 tahun. Cicak, buaya, godzila dan gurita. Lengkap sudah. Buku yang semula dibandrol 38 ribu rupiah melejit menjadi 80 ribu. Langka pula. Sebagian mengatakan tidak ilmiah, lainnya mengatakan metode George sudah ilmiah. Apakah buku “Hanya Fitnah & Cari Sensasi” karya Setiardi Negara, setebal 40 halaman dan dihargai Rp.35 ribu, akan sefenomenal itu ? Kata Setiardi, tujuannya membuat buku tsb semata komersial. Kita lihat saja animo masyarakat. Buku dilawan dengan buku. Kata2 dibalas kata2.

Ramadhan Pohan, tamu tak diundang yang ditepis George.

Dalam kekisruhan polemik gurita, Ramadhan Pohan, anggota DPR dari fraksi Demokrat mencoba mendompleng popularitas. Ia datang bagai tamu tak diundang di launching buku “Membongkar gurita”. Ia geer ketika Bony Hargens, pengamat politik, mempersilakan duduk dan bicara. Padahal Arif Iskandar yang mereka tunggu. Merasa dapat angin, Ramadhan mengulang-ulang perkataan halusinasi terhadap daya kritis George. Saat Permadi berkata “inti dalam tulisan di buku ini adalah kebenaran mutlak”, terjadilah tepisan tangan kiri George yang sedang memegang naskah pidatonya ke dekat muka Ramadhan untuk menghentikan ocehannya. Ramadhan sontak berdiri dan berkeluh kesah pada dunia bahwa ia dipukul George. Katanya, dalam demokrasi kalau ada perbedaan pendapat jangan main pukul, selesaikan secara dewasa. What’s he talking about ?

Itu bukan pukulan, pak. Itu tepisan agar anda berhenti ngoceh. Nggak bisa bedain, ya ? Seorang pengamat politik di “Democrazy” berkata, ia sudah bicara dengan George. Ia memegang bahu Ramadhan, seraya berkata “ia tidak sesensitif” pengurus Jurnas ini. Hari2 ini, jika orang bicara normal pun, Ramadhan seakan meledak-ledak, nyerocos terus, negative thinking. Bete. Seperti kaset rusak, yang diucapkan hanya “demokrasi” atau “jangan memukul”. Mungkin hanya itu isi kepalanya. Anas Urbaningrum, ketua DPP Partai Demokrat hanya tersenyum simpul melihat kelakuan Ramadhan. ( Cool seperti biasa, sampai Anas berseloroh, “.. saya sampai didaulat memperlihatkan emosi supaya tontonan jadi seru” ). Biarlah kalem jadi ciri khas Anas. Don’t change. Permadi menepuk bahu Anas, agar Anas yang jadi penasehat SBY. Supaya jadi ikut cool. Tidak reaktif. Membandingkan Ramadhan dengan Anas memang seperti bumi dan langit. Saya terheran orang macam Ramadhan ini bisa dicomot Partai Demokrat dan berpenghasilan sekitar 43 juta tiap bulan dari uang rakyat. Apa ia tak makan gaji buta ? Apa ada Ramadhan2 lain di Demokrat dan DPR ?

Mobil 1,6 milyar dari sinterklas ? Atau duit rakyat ?

Akhir tahun 2009 kemarin ada sinterklas bagi2 mobil mewah, guys. Toyota Crown versi Royal Saloon untuk 79 orang ; menteri dan pimpinan lembaga2 tinggi negara. Mobil seharga 1,3 milyar rupiah di showroom dan pajaknya 300 juta, diaku pemerintah hanya senilai Rp.800 juta. Kok, bisa, ya ? Padahal Kaisar Jepang, mobilnya hanya seharga Rp.469 juta, PM Jepang Rp.692 juta, PM Malaysia Rp.383 juta, dan PM Inggris cuma Rp.197 juta. Apa negeri kita lebih makmur dari negeri mereka sehingga menteri kita difasilitasi mobil dinas senilai total Rp.1,6 milyar ? Boros bensin pula. Siapa yang bayar ? Rakyat.

Lagi2 SBY kurang sensitif ketika menandatangani fasilitas mobil baru bagi para pembantunya ini. Beruntung tak semuanya menerima mobil mewah ini. Tifatul Sembiring, Mahfud MD, Laode Ida ( wakil ketua DPD ), dan para pimpinan KPK lebih memilih menggunakan mobil mereka yang lama. Good thinking, karena BPK akan mengaudit persoalan mobil mewah ini. Nah, siapa lagi yang akan kena ? Menkeu ? ( SBY sembunyi lagi di belakang Menkeu ). Harry Azhar Azis, ketua badan anggaran DPR, mengatakan pihaknya hanya memberi garis besar anggaran untuk pemerintah, tidak detail per item. Namun, ia akan berupaya sebisanya untuk memperbaiki sistem/ peran budgeting DPR untuk meminimalisir acara sinterklas semacam ini.

Gratifikasi itu korup. Pejabat negara ditatar lagi.

Di radio saya dengar, ada pengusaha2 tertentu yang kebagian jatah merenovasi istana di seluruh Indonesia ( dalam arti gratifikasi, bukan proyek lelang publik ). Mungkin mobil 1,6 milyar ini ada sponsornya pula, agar para pengusaha hitam tak tersentuh. Misalnya, dalam Centurygate atau BLBI. Sebagai balas jasa, kalangan istana hendaknya tahu diri untuk menutup rapat2 atau melakukan manuver2 seperlunya, agar identitas para pengemplang dan perampok uang rakyat ini tidak sampai terpapar ke publik. Yang sudah terendus Budi Sampoerna, nasabah terbesar Bank Century. Ia salah satu donatur 6 yayasan yang berafiliasi ( sepengetahuan ) SBY. Ia juga penyumbang dana kampanye SBY. Di buku “Membongkar Gurita” ada foto SBY dan ibu Ani bersalaman dengan Artalita, anak buah Syamsul Nursalim ( buronan KPK ). Tjoko Chandra dan koruptor2 yang kabur itu dekat dengan kalangan istana. Mereka untochable, mungkin karena pemberian2 sinterklas ini. Jadi, pada segan.

Soal pemberian ( gratifikasi ), sepertinya para senior perlu ditatar lagi. Sepertinya mereka kurang ngeh dengan yang namanya tindak pidana korupsi. ( KPK tolong mereka diberi brosur dan penjelasan, apa saja yang dikategorikan korupsi ). Mereka merasa sah2 saja karena pendahulunya juga melakukan. Bermula dari celoteh Karni Ilyas ( pemred TVOne ) menanggapi mahasiswa yang mempertanyakan, kenapa Anggodo tak kunjung ditangkap. Karni dengan enteng menyahut, kan yang berperkara Anggoro, bukan adiknya. Kalau Anggodo memberi mobil Mercy ke pejabat, ya itu, biasa, sah2 saja. Lalu, Karni ngeloyor ke meja lain, merasa sudah memberi jawaban yang hebat.( orang bangkotan model begini masih dipake, jadi pemred, hidup lagi ). Ia tak tahu gratifikasi, menyuap, makelar kasus, korupsi. Mungkin juga ia termasuk yang mendapat Mercy dari pengusaha hitam. Jadinya, hanya bisa membebek.

Selamatkan perbankan, jangan disalahpahami. Sri Mulyani menjawab.

Saya juga agak geli dengan iklan situs ”selamatkanperbankan” di televisi ; “Kok, penyelamatan bank disamakan dengan kerupuk. Jangan dipolitisasi”. Siapa lagi yang punya gawe ? Kami sedang membersihkan sindikat2 jahat yang sedang menggerogoti kekayaan bangsa ini. Jangan disalahpahami, bung. Sri Mulyani ( 4/1/2010 ) menjelaskan pada Kania Sutisnawinata, penyiar MetroTV, tentang bail out Bank Century. Sri bersama SBY sedang di luar negeri ketika ada gonjang ganjing ekonomi di dalam negeri. SBY berpesan agar Indonesia jangan sampai masuk program IMF, with its all cost. Sri berusaha di antara 2 pendulum ; antara pesan SBY dan larangan JK ( jangan memberi penjaminan penuh agar tidak dimanfaatkan oleh para hazard moral/ bankir hitam ). Padahal di luar negeri, bank2 dijamin penuh oleh pemerintah dalam krisis 2008 lalu.

Sri Mulyani kembali ke Indonesia dan berupaya menjaga makro ekonomi Indonesia. Ia tidak kenal Robert Tantular. Penyelamatan perbankan di rapat KSSK itu tidak menyebut nama2. Ini harus ditolong, itu tidak. Tidak begitu. Saat itu, Bank Century adalah bank yang paling dulu sekarat. Kuatir menjalar ke bank lain, Bank Century lalu diselamatkan. Ada tensi ekonomi, krisis global, gaya komunikasi yang berbeda antara SBY dan JK ( kuatir menjurus ke tensi politik ) dan antrian nasabah menarik dana ( faktor psikis ), yang melatari keputusan bail out.

Menkeu/ Sri bekerja dalam sistem yang sudah diatur dalam perundang-undangan, juga etika karena posisinya sebagai pembantu presiden. Ada laporan2 yang rutin ia sampaikan pada DPR, BPK, juga masa2 bail out tsb. Ia tidak bekerja sendiri, tapi dalam satu sistem, secara bersama-sama. Ia heran kenapa sekarang dipermasalahkan ? Setelah makro ekonomi kita baik, perbankan selamat. Indonesia juga nomor 3, setelah Cina dan India dalam prestasi ekonomi masa krisis ini. ( Sri Mulyani termasuk 100 orang berpengaruh versi majalah “Forbes” selama 2 tahun berturut-turut ). Sri tak ingin masyarakat bingung, lalu kelompok2 tertentu memancing di air keruh. Tentang aliran dana ( setelah bail out ) yang tidak sesuai pemanfaatannya, Sri mempersilakan para pihak untuk diselidiki. Diusut tuntas.

BPK & DPR dulu, beda dengan sekarang. Pahami latar psikis & kejadiannya.

BPK masa bail out adalah Anwar Nasution. Ada orang bilang, ia lebih percaya Anwar Nasution ketimbang Sri Mulyani. Namun, saya dengar Rafat Ali, mantan pemegang saham utama Bank Century, mengatakan, Sri Mulyani dan Boediono adalah korban kelicikan Robert Tantular dan kroni-kroninya. Robert dekat dengan para petinggi BI, termasuk Anwar Nasution dan Aulia Pohan. Miranda Goeltom bahkan yang terdekat. Robert membisiki Rafat, ialah yang mendanai kampanye Miranda menjadi deputi senior BI. Rafat terkejut, tapi Robert sesumbar, itu sudah biasa di Indonesia ( saya belum lupa wajah Robert ketika divonis penjara 4 tahun. Wajahnya disetel inosen, merasa diri korban, katanya,”saya kan sedang berusaha minta bantuan Sinar Mas. Sudah datang baik2, kok, ditangkap ?” Padahal, di luar sana, Sinar Mas tak menanggapi ). Musang berbulu domba. Gembul berlemak.

Saya kuatir Boediono seperti Bambang Hendarso. Menerima informasi yang sudah terdistorsi dari anak buah. Termasuk laporan2 yang terhitung sudah kadaluarsa. Beberapa kebijakannya juga kurang cerdas, seperti mengundang hot money, kebijakan uang ketat, dll, yang membuat perbankan kita kian kritis saat krisis 2008. Jika Boediono tak belajar dari kesalahannya, ia bisa membahayakan ekonomi negara. Masa bail out Century, DPR-nya DPR 2004-2009. Sekarang, sudah ganti, 70 % wajah2 baru, dari kalangan muda. Pengalaman belum banyak. Masih menggebu-gebu. Mohon maklum. BPK sekarang dikomandani Hadi Purnomo. DPR dan BPK baru ini punya referensi berbeda dengan DPR dan BPK masa bail out. Seting kejadian, faktor psikologis masa bail out tak mereka alami. Perlu kerja smart untuk bisa keluar dari kasus Centurygate dengan selamat. Yang niatnya baik, murni menyelamatkan perbankan dan makro ekonomi, semoga Allah melindungi. Yang licik, culas, korup dan rampok, semoga Allah menunjukkan. Saya ingin Indonesia selamat. So do you ?

Tagged with: , , ,