dari Palestina sampai Indonesia

Anggodo jadi tersangka dalam 2 minggu. Sanggupkah KPK ?

Posted in indonesia, KPK by nurray on 05/01/2010

Sang kontroversi : George Junus Aditjondro. Sentilannya dulu pada Gurita Cendana terbukti benar. Bagaimana dengan Gurita Cikeas ?

Koalisi Cinta Indonesia Cinta KPK ( Cicak ) memberi waktu 2 pekan bagi KPK untuk menetapkan Anggodo Widjoyo menjadi tersangka dalam kasus rekaman rekayasa penetapan tersangka pimpinan KPK. Sebelumnya, Mabes Polri telah menyelidiki kasus rekaman hasil sadapan KPK terhadap Anggoro yang diperdengarkan dalam sidang MK. Mabes Polri kesulitan menemukan bukti2 kuat yang dapat menjerat adik buronan KPK terkait dugaan korupsi projek SKRT Dephut dan PT. Masaro Radiokom.

Febri Diansyah, aktivis Cicak sekaligus peneliti ICW, menyatakan, sebenarnya KPK tak perlu ragu menetapkan Anggodo sebagai tersangka, karena sudah ada bukti awal, yakni rekaman yang diperdengarkan di MK, keterangan Ari Muladi dan rekomendasi Tim Delapan yang menyebut Anggodo, makelar kasus. Terlebih akibat perilaku Anggodo, kondisi KPK sempat terpuruk. Dengan adanya rekomendasi itu, tentunya KPK harus pro aktif menangani kasus Anggodo dibanding kepolisian dan kejaksaan agung. Saat ini, penyelidikan sudah selesai, tetapi kenapa lamban penanganannya. Ini harus dievaluasi dan diperhatikan.

ICW juga meminta KPK melakukan pembersihan dan evaluasi internal. ICW menilai titik kritis KPK berada di bagian penyidikan lembaga tsb. Khususnya Direktur Penyidikan KPK yang bukan direkrut KPK, Brigjen Suaedi Hussein. Evaluasi akan menentukan pantas tidaknya Suaedi dipertahankan pada posisi itu atau tidak. KPK harus tegas. Buaya yang bertopeng cicak harus disingkirkan. Untuk bagian penyelidikan, kami relatif percaya karena sebagian besar direkrut KPK melalui prosedur yang tepat. Dengan pembenahan internal ini, kasus2 seperti Anggodo, Bank Century dan Agus Condro bisa segera ditindaklanjuti. ( PR, 4/1/2010 ).

Nurray said :

KPK sudah mencekal Anggodo. Johan Budi, jubir KPK, mengatakan penetapan tersangka akan ditinjau pekan depan. Semoga sang markus ini bisa diberangus akhirnya. Jangan sampai ia melengang tanpa hukuman, menginpirasi benih2 markus lainnya untuk merusak tatanan hukum kita. Dugaan saya sekarang, kenapa Anggodo masih menghirup udara bebas, ( mungkin seperti Rani, dititipkan ke LPSK lalu disembunyikan di tempat yang berpindah-pindah dengan penjagaan sepasukan polisi. Makan tidur enak hingga pipi tembem mengkilat, dan main PS ) karena ia dikuatirkan “bernyanyi” seperti Nasrudin atau Williardi Wizar. “Sasaran kita hanya satu. Antasari.” Para petinggi Polri, seperti Susno, Iriawan, Jusuf Manggabarani, dsb, bakal terbongkar kedoknya. Rabu besok, Jusuf Manggabarani yang berkolaborasi dengan Iriawan mempermak jasad Nasrudin hingga tidak asli lagi saat diautopsi, akan dilantik sebagai Wakapolri. Lucu ya, konspirator pembunuh Nasrudin dan penjerat Antasari, jadi Truno 2. Penjahat jadi polisi. Penjahat besar memburu penjahat kecil. Orang baik masuk penjara. Orang jahat di luar penjara. Hukum rimba namanya. Saya tak tahu apa yang terjadi di Dewan Jabatan Mabes Polri ? Apa lobi2 hitam masih berjaya di sana ? Tampaknya semua bahu membahu menutupi aib kolektif. Reposisi ? Get real.

( Kadiv Humas Polri, Nanan Sukarna menggantikan posisi Manggabarani di Irwasum. Edwards Aritonang menjadi Kadiv Humas Polri. Agus Wantoro jadi gubernur PTIK ).

“Membongkar gurita” vs “Cari Sensasi”. Ilmiah & komersial.

Buku “Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century” karya George Junus Aditjondro membuat kehebohan baru. Banyak kalangan kebakaran jenggot karena namanya disebut-sebut penulis kontroversial itu. George sepertinya dilahirkan untuk memprovokasi pemerintah. Ia sempat hengkang ke Australia ( 1995 – 2005 ) menghindari amukan klan Cendana pimpinan Mbah Harto, gara2 “gurita”-nya. Namun, kemudian terbukti analisa George tak jauh meleset. Memang gurita Cendana itu ada, kan ? Begitu kolosalnya, sampai melengserkan Soeharto dari tahtanya 32 tahun. Cicak, buaya, godzila dan gurita. Lengkap sudah. Buku yang semula dibandrol 38 ribu rupiah melejit menjadi 80 ribu. Langka pula. Sebagian mengatakan tidak ilmiah, lainnya mengatakan metode George sudah ilmiah. Apakah buku “Hanya Fitnah & Cari Sensasi” karya Setiardi Negara, setebal 40 halaman dan dihargai Rp.35 ribu, akan sefenomenal itu ? Kata Setiardi, tujuannya membuat buku tsb semata komersial. Kita lihat saja animo masyarakat. Buku dilawan dengan buku. Kata2 dibalas kata2.

Ramadhan Pohan, tamu tak diundang yang ditepis George.

Dalam kekisruhan polemik gurita, Ramadhan Pohan, anggota DPR dari fraksi Demokrat mencoba mendompleng popularitas. Ia datang bagai tamu tak diundang di launching buku “Membongkar gurita”. Ia geer ketika Bony Hargens, pengamat politik, mempersilakan duduk dan bicara. Padahal Arif Iskandar yang mereka tunggu. Merasa dapat angin, Ramadhan mengulang-ulang perkataan halusinasi terhadap daya kritis George. Saat Permadi berkata “inti dalam tulisan di buku ini adalah kebenaran mutlak”, terjadilah tepisan tangan kiri George yang sedang memegang naskah pidatonya ke dekat muka Ramadhan untuk menghentikan ocehannya. Ramadhan sontak berdiri dan berkeluh kesah pada dunia bahwa ia dipukul George. Katanya, dalam demokrasi kalau ada perbedaan pendapat jangan main pukul, selesaikan secara dewasa. What’s he talking about ?

Itu bukan pukulan, pak. Itu tepisan agar anda berhenti ngoceh. Nggak bisa bedain, ya ? Seorang pengamat politik di “Democrazy” berkata, ia sudah bicara dengan George. Ia memegang bahu Ramadhan, seraya berkata “ia tidak sesensitif” pengurus Jurnas ini. Hari2 ini, jika orang bicara normal pun, Ramadhan seakan meledak-ledak, nyerocos terus, negative thinking. Bete. Seperti kaset rusak, yang diucapkan hanya “demokrasi” atau “jangan memukul”. Mungkin hanya itu isi kepalanya. Anas Urbaningrum, ketua DPP Partai Demokrat hanya tersenyum simpul melihat kelakuan Ramadhan. ( Cool seperti biasa, sampai Anas berseloroh, “.. saya sampai didaulat memperlihatkan emosi supaya tontonan jadi seru” ). Biarlah kalem jadi ciri khas Anas. Don’t change. Permadi menepuk bahu Anas, agar Anas yang jadi penasehat SBY. Supaya jadi ikut cool. Tidak reaktif. Membandingkan Ramadhan dengan Anas memang seperti bumi dan langit. Saya terheran orang macam Ramadhan ini bisa dicomot Partai Demokrat dan berpenghasilan sekitar 43 juta tiap bulan dari uang rakyat. Apa ia tak makan gaji buta ? Apa ada Ramadhan2 lain di Demokrat dan DPR ?

Mobil 1,6 milyar dari sinterklas ? Atau duit rakyat ?

Akhir tahun 2009 kemarin ada sinterklas bagi2 mobil mewah, guys. Toyota Crown versi Royal Saloon untuk 79 orang ; menteri dan pimpinan lembaga2 tinggi negara. Mobil seharga 1,3 milyar rupiah di showroom dan pajaknya 300 juta, diaku pemerintah hanya senilai Rp.800 juta. Kok, bisa, ya ? Padahal Kaisar Jepang, mobilnya hanya seharga Rp.469 juta, PM Jepang Rp.692 juta, PM Malaysia Rp.383 juta, dan PM Inggris cuma Rp.197 juta. Apa negeri kita lebih makmur dari negeri mereka sehingga menteri kita difasilitasi mobil dinas senilai total Rp.1,6 milyar ? Boros bensin pula. Siapa yang bayar ? Rakyat.

Lagi2 SBY kurang sensitif ketika menandatangani fasilitas mobil baru bagi para pembantunya ini. Beruntung tak semuanya menerima mobil mewah ini. Tifatul Sembiring, Mahfud MD, Laode Ida ( wakil ketua DPD ), dan para pimpinan KPK lebih memilih menggunakan mobil mereka yang lama. Good thinking, karena BPK akan mengaudit persoalan mobil mewah ini. Nah, siapa lagi yang akan kena ? Menkeu ? ( SBY sembunyi lagi di belakang Menkeu ). Harry Azhar Azis, ketua badan anggaran DPR, mengatakan pihaknya hanya memberi garis besar anggaran untuk pemerintah, tidak detail per item. Namun, ia akan berupaya sebisanya untuk memperbaiki sistem/ peran budgeting DPR untuk meminimalisir acara sinterklas semacam ini.

Gratifikasi itu korup. Pejabat negara ditatar lagi.

Di radio saya dengar, ada pengusaha2 tertentu yang kebagian jatah merenovasi istana di seluruh Indonesia ( dalam arti gratifikasi, bukan proyek lelang publik ). Mungkin mobil 1,6 milyar ini ada sponsornya pula, agar para pengusaha hitam tak tersentuh. Misalnya, dalam Centurygate atau BLBI. Sebagai balas jasa, kalangan istana hendaknya tahu diri untuk menutup rapat2 atau melakukan manuver2 seperlunya, agar identitas para pengemplang dan perampok uang rakyat ini tidak sampai terpapar ke publik. Yang sudah terendus Budi Sampoerna, nasabah terbesar Bank Century. Ia salah satu donatur 6 yayasan yang berafiliasi ( sepengetahuan ) SBY. Ia juga penyumbang dana kampanye SBY. Di buku “Membongkar Gurita” ada foto SBY dan ibu Ani bersalaman dengan Artalita, anak buah Syamsul Nursalim ( buronan KPK ). Tjoko Chandra dan koruptor2 yang kabur itu dekat dengan kalangan istana. Mereka untochable, mungkin karena pemberian2 sinterklas ini. Jadi, pada segan.

Soal pemberian ( gratifikasi ), sepertinya para senior perlu ditatar lagi. Sepertinya mereka kurang ngeh dengan yang namanya tindak pidana korupsi. ( KPK tolong mereka diberi brosur dan penjelasan, apa saja yang dikategorikan korupsi ). Mereka merasa sah2 saja karena pendahulunya juga melakukan. Bermula dari celoteh Karni Ilyas ( pemred TVOne ) menanggapi mahasiswa yang mempertanyakan, kenapa Anggodo tak kunjung ditangkap. Karni dengan enteng menyahut, kan yang berperkara Anggoro, bukan adiknya. Kalau Anggodo memberi mobil Mercy ke pejabat, ya itu, biasa, sah2 saja. Lalu, Karni ngeloyor ke meja lain, merasa sudah memberi jawaban yang hebat.( orang bangkotan model begini masih dipake, jadi pemred, hidup lagi ). Ia tak tahu gratifikasi, menyuap, makelar kasus, korupsi. Mungkin juga ia termasuk yang mendapat Mercy dari pengusaha hitam. Jadinya, hanya bisa membebek.

Selamatkan perbankan, jangan disalahpahami. Sri Mulyani menjawab.

Saya juga agak geli dengan iklan situs ”selamatkanperbankan” di televisi ; “Kok, penyelamatan bank disamakan dengan kerupuk. Jangan dipolitisasi”. Siapa lagi yang punya gawe ? Kami sedang membersihkan sindikat2 jahat yang sedang menggerogoti kekayaan bangsa ini. Jangan disalahpahami, bung. Sri Mulyani ( 4/1/2010 ) menjelaskan pada Kania Sutisnawinata, penyiar MetroTV, tentang bail out Bank Century. Sri bersama SBY sedang di luar negeri ketika ada gonjang ganjing ekonomi di dalam negeri. SBY berpesan agar Indonesia jangan sampai masuk program IMF, with its all cost. Sri berusaha di antara 2 pendulum ; antara pesan SBY dan larangan JK ( jangan memberi penjaminan penuh agar tidak dimanfaatkan oleh para hazard moral/ bankir hitam ). Padahal di luar negeri, bank2 dijamin penuh oleh pemerintah dalam krisis 2008 lalu.

Sri Mulyani kembali ke Indonesia dan berupaya menjaga makro ekonomi Indonesia. Ia tidak kenal Robert Tantular. Penyelamatan perbankan di rapat KSSK itu tidak menyebut nama2. Ini harus ditolong, itu tidak. Tidak begitu. Saat itu, Bank Century adalah bank yang paling dulu sekarat. Kuatir menjalar ke bank lain, Bank Century lalu diselamatkan. Ada tensi ekonomi, krisis global, gaya komunikasi yang berbeda antara SBY dan JK ( kuatir menjurus ke tensi politik ) dan antrian nasabah menarik dana ( faktor psikis ), yang melatari keputusan bail out.

Menkeu/ Sri bekerja dalam sistem yang sudah diatur dalam perundang-undangan, juga etika karena posisinya sebagai pembantu presiden. Ada laporan2 yang rutin ia sampaikan pada DPR, BPK, juga masa2 bail out tsb. Ia tidak bekerja sendiri, tapi dalam satu sistem, secara bersama-sama. Ia heran kenapa sekarang dipermasalahkan ? Setelah makro ekonomi kita baik, perbankan selamat. Indonesia juga nomor 3, setelah Cina dan India dalam prestasi ekonomi masa krisis ini. ( Sri Mulyani termasuk 100 orang berpengaruh versi majalah “Forbes” selama 2 tahun berturut-turut ). Sri tak ingin masyarakat bingung, lalu kelompok2 tertentu memancing di air keruh. Tentang aliran dana ( setelah bail out ) yang tidak sesuai pemanfaatannya, Sri mempersilakan para pihak untuk diselidiki. Diusut tuntas.

BPK & DPR dulu, beda dengan sekarang. Pahami latar psikis & kejadiannya.

BPK masa bail out adalah Anwar Nasution. Ada orang bilang, ia lebih percaya Anwar Nasution ketimbang Sri Mulyani. Namun, saya dengar Rafat Ali, mantan pemegang saham utama Bank Century, mengatakan, Sri Mulyani dan Boediono adalah korban kelicikan Robert Tantular dan kroni-kroninya. Robert dekat dengan para petinggi BI, termasuk Anwar Nasution dan Aulia Pohan. Miranda Goeltom bahkan yang terdekat. Robert membisiki Rafat, ialah yang mendanai kampanye Miranda menjadi deputi senior BI. Rafat terkejut, tapi Robert sesumbar, itu sudah biasa di Indonesia ( saya belum lupa wajah Robert ketika divonis penjara 4 tahun. Wajahnya disetel inosen, merasa diri korban, katanya,”saya kan sedang berusaha minta bantuan Sinar Mas. Sudah datang baik2, kok, ditangkap ?” Padahal, di luar sana, Sinar Mas tak menanggapi ). Musang berbulu domba. Gembul berlemak.

Saya kuatir Boediono seperti Bambang Hendarso. Menerima informasi yang sudah terdistorsi dari anak buah. Termasuk laporan2 yang terhitung sudah kadaluarsa. Beberapa kebijakannya juga kurang cerdas, seperti mengundang hot money, kebijakan uang ketat, dll, yang membuat perbankan kita kian kritis saat krisis 2008. Jika Boediono tak belajar dari kesalahannya, ia bisa membahayakan ekonomi negara. Masa bail out Century, DPR-nya DPR 2004-2009. Sekarang, sudah ganti, 70 % wajah2 baru, dari kalangan muda. Pengalaman belum banyak. Masih menggebu-gebu. Mohon maklum. BPK sekarang dikomandani Hadi Purnomo. DPR dan BPK baru ini punya referensi berbeda dengan DPR dan BPK masa bail out. Seting kejadian, faktor psikologis masa bail out tak mereka alami. Perlu kerja smart untuk bisa keluar dari kasus Centurygate dengan selamat. Yang niatnya baik, murni menyelamatkan perbankan dan makro ekonomi, semoga Allah melindungi. Yang licik, culas, korup dan rampok, semoga Allah menunjukkan. Saya ingin Indonesia selamat. So do you ?

Tagged with: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: