dari Palestina sampai Indonesia

Gerindra desak SBY segera dimakzulkan. Sasaran kita hanya Antasari, pinta SBY.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 03/02/2010

Nasabah Bank Century diantara ribuan nasabah, sedang berjuang memperoleh uangnya kembali. Seorang meninggal, tak punya biaya berobat lagi, setelah uangnya di Century ditilep Robert Tantular cs. Seorang nyaris bunuh diri. Setelah setahun dipingpong ke sana kemari, dana mereka masih belum kembali. Siapa sangka petinggi negeri ini terlibat demi seorang oligarkh bernama Boedi Sampoerna. Sampai Antasari yang tak bersalah mesti divonis hukuman mati dengan kasus rekayasa. RI-1 takut ketahuan ?

Fraksi Gerindra mendesak pemakzulan presiden SBY segera dilakukan. Mereka menilai, SBY pihak yang paling bertanggungjawab dalam kasus bail-out Bank Century, setelah melihat banyak fakta terungkap dalam pemeriksaan saksi2 oleh Pansus Century selama ini. Rindoko, anggota Komisi III dari Fraksi Gerindra, dalam keterangan pers resmi Fraksi Gerindra di Gedung DPR, Senayan, Senin ( 1/2/2010 ), mengatakan, hal tersebut sebaiknya dijadikan kesimpulan awal pansus untuk diajukan ke Mahkamah Konstitusi ( MK ). ”Yang paling bertanggung jawab jelas komandannya, Yudhoyono. Boediono dan Sri Mulyani hanya pelaksana lapangan. Jadi, yang harus dimakzulkan adalah Yudhoyono.”

Gerindra mendukung penuh wacana pemakzulan yang diminta rakyat akhir2 ini, meski Pansus Century belum mengambil kesimpulan.”Sudah waktunya pemakzulan. Tidak ada yang perlu ditunggu. MK sudah siap. Kita melihat ada fakta di pansus. Bagi kami, pemakzulan harus segera dilakukan,”ujar Rindoko, didampingi Pius Lustrilanang ( Komisi VII DPR ), Fary Francis ( Komisi V DPR ) dan Sadar Subagyo ( Komisi XI  DPR ). Meski membubuhkan tanda tangannya dalam keterangan pers yang disebarkan kepada wartawan, Ketua Fraksi Gerindra, Widjono Hardjanto dan sekretarisnya, Desmond Mahesa, tak hadir pada konferensi pers. Siaran pers berbentuk selebaran itu, berisi kecaman terhadap program 100 hari pertama pemerintahan Yudhoyono – Boediono. Pada bagian akhir selebaran itu juga tertulis bahwa, jika tetap tidak mendengar suara rakyat, rakyat akan mencari jalannya sendiri, melalui pengadilan rakyat.

Menanggapi hal itu, Ketua Pansus Century, yang juga Sekjen Golkar, Idrus Marham mengatakan, mungkin saja Gerindra memiliki bukti lain sehingga begitu yakin memakzulkan presiden.”Coba tanya Gerindra sendiri, mungkin punya bukti baru.” Idrus menilai, data untuk masalah Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek ( FPJP ) dan merger merger sudah lengkap. Data itu sudah cukup dibuat kesimpulan sementara. Namun demikian, belum saatnya bagi pansus untuk menyimpulkan.”Data yang hampir semua, FPJP dan merger, Golkar sudah melihat indikasi2 itu ( pidana ) tentunya. Nanti kita cross-check dengan data yang ada di pansus.”

Benny K.Harman, Ketua Komisi III DPR dari Fraksi Demokrat, geram dengan desakan pemakzulan dari Gerindra.”Sikap Gerindra seperti itu jauh panggang dari api. Orang2 yang mengharapkan seperti itu berhalusinasi. Mereka mimpi di siang bolong. Pemakzulan itu harus disepakati ¾ anggota parlemen. Sementara PD mendominasi. Jalannya ada atau tidak ( pemakzulan ) ? Ini orang2 ( Gerindra ) yang tidak paham, saya kira. Itu masih jauh.” ( PR, 2/1/2010 ).

Nurray said :

Belakangan ini, kita diperlakukan seperti Manohara oleh Pangeran Kelantan. Lho ? Tengok mimik Andi Arief , staf khusus presiden, ketika mengatakan,”Ya, maklum. Anak muda tak sabaran, he, he, he ..”. Atau SBY yang tersenyum-senyum seraya berkata di depan audiensnya,”Apakah mereka tahu arti program 100 hari ? Program 100 hari itu artinya, bla, bla, bla .. Biasa, tidak pakai telor. Mana mungkin mensejahterakan rakyat dalam 100 hari ?”. Saya jadi bertanya-tanya, siapa yang bicara dalam 100 hari, rakyat mesti sejahtera ? Perasaan, kemarin2, saya mempermasalahkan indikasi keterlibatan SBY di kasus bail out Century, demi menyelamatkan dana ‘sohib’-nya, Boedi Sampoerna. Karena usaha ilegal menyelamatkan dana Boedi ini, Antasari ( yang mengendus percakapan Susno dengan pengacara Boedi/ ditakutkan jejak RI-1 terlihat ) dikenai hukuman mati, dan Nasrudin ( yang tahu dan terlibat rekayasa menjerat Antasari, ditakutkan bernyanyi ) sudah mati duluan ditembak tim bayangan, anak buah Kapolri.

Pada 29 November 2008, ada pertemuan antara Sigit Wibisono dan Kapolri Bambang, sebelum Antasari disadap diam2 oleh Sigid atas perintah Kapolri. Rekaman pertemuan Sigid dan Antasari itu dijadikan bukti dakwaan Antasari mendalangi pembunuhan Nasrudin. Semestinya, jika pengadilan/ hukum dijalankan dengan benar, yang duduk di kursi Antasari itu mestinya SBY, di kursi Williardi Wizard itu Kapolri Bambang ( Susno mengakui, benar, ada tekanan dari Wakabareskrim waktu itu, Hadiatmoko pada WW untuk mengikuti BAP rekayasa ), dan di kursi Sigid itu Boedi Sampoerna. Ketiganya dihukum mati ? Sudah pasti dimakzulkan, istilah Gerindra.

SBY intervensi menghentikan penyidikan Boediono ? Memerintahkan, istilah JK.

Ada perintah ke Mabes Polri untuk menghentikan penyidikan terhadap Boediono. SBY ingin berkampanye dengan Boediono, setelah SBY menolak tawaran berduet lagi dari JK yang ia anggap menyaingi popularitasnya. Jika SBY mengaku tidak ingin intervensi, itu tak berlaku jika dia yang menginginkan. Misalnya, Boediono, karena mantan gubernur BI ini sudah membantu memuluskan usaha SBY menyelamatkan uang Boedi Sampoerna. Antasari, no way. Karena ketegasan mantan ketua KPK ini Aulia Pohan, besan SBY mesti meringkuk lama di penjara karena korupsi. Sebagai pemuja citra, peristiwa ini sangat menyakitkan SBY ( namun sebagai orang Jawa, pantang terang-terangan menyampaikan  kedongkolan hati. Semua disimpan, sampai waktunya, hari pembalasan ).

Pengalaman saya bertemu dengan para penyiksa/ manipulator, mereka paranoid. Sehingga, SBY memerlukan diri pergi ke Bali dan Banten untuk menghindari rakyat yang dikira akan menjungkalkan dirinya dari tahta kekuasaan ( yang sudah susah payah ia raih dengan menghalalkan segala cara, seperti menerima gratifikasi ( termasuk tindak pidana korupsi ) dari para pengusaha, berkedok donasi bagi 6 yayasannya ). Kuatir rakyat menyerbu, senjata paspampres ia minta dimutakhirkan. Pagar istana dicanggihkan dengan biaya 22 milyar. 13 milyar untuk sistem keamanan standar internasional lengkap dengan CCTV-nya, sisanya untuk meninggikan pagar dari 1,2 meter menjadi 2,7 meter.

Kuatir para menteri mengundurkan diri seperti hari2 akhir Soeharto, SBY memikat mereka dengan mobil mewah 1,3 milyar, juga kenaikan gaji 20 %  ( bagi yang kinerjanya baik menurut penilaian SBY. Insentif atau pengendalian pengaruh/ intimidasi, sebenarnya ? ). Dana 400 miliar digelontorkan untuk me-‘renovasi’ 500 rumah dinas anggota DPR di Kalibata, Jakarta Selatan. Tunjangan 15 juta per bulan per anggota dewan dikeluarkan untuk sewa rumah dari dana APBN. Duit 33 miliar dialokasikan untuk membuat 10 ruangan bagi anggota dewan yang baru. 6 miliar ditambahkan untuk memperindah ruangan anggota DPR 2009-2014.

12 miliar dikeluarkan untuk membeli kapal ( mewah yang segelintir orang kaya Australia yang memiliki ) untuk mengawasi terumbu karang, yang mestinya bisa dibelikan 3 kapal lebih cepat dan fungsional untuk tugas tersebut. 200 dari 700 miliar dianggarkan untuk membeli pesawat kepresidenan ( alasannya untuk efesiensi perjalanan SBY ke luar Jakarta yang bisa mencapai puluhan miliar per trip. Masalahnya, anggaran itu tak pernah transparan. ICW tak pernah bisa mengaksesnya, Kwik Kian Gie saat jadi menko ekonomi juga tidak. Bagaimana Sutan Bhatoegana, wakil fraksi Demokrat dan Andi Arief bisa yakin, bahwa biaya perawatan dan pemakaian pesawat kecil di daerah2 yang tak bisa didarati pesawat Boeing itu sudah diperhitungkan ? Atau hanya opini/ perkiraan kalian sendiri yang menyesatkan publik, sementara kalau Danang Widoyoko, koordinator ICW, dilarang Arief menggunakan opini. Mengapa, kalian di pemerintahan ( yang kami biayai ), menjadi lebih istimewa, merasa lebih ‘pintar’ dari kami ? Apa sih hebatnya kalian, selain mengibuli kami ??

Lembaga ad hoc penyokong rasa aman SBY.

Setiap ada masalah, SBY membentuk komite, satgas, wakil menteri, badan2 ad hoc yang membebani anggaran negara. Saya kuatir, itu untuk hanya mensuport rasa aman/ psikis SBY, seperti George W.Bush memerlukan wanita sangar seperti Condoleezza Rice sebagai penasehat keamanan dan menlu, untuk menenangkan kegelisahannya. Banyaknya bawahan yang mengangguk-angguk kepadanya, seperti Andi Arief itu, seolah bisa melegitimasi apapun yang dikatakan SBY. Para bawahan terpaksa memberi laporan ABS ( Asal Bambang Senang, istilah Butet ) sehingga SBY makin berjarak dengan kenyataan dan rakyatnya. Yah, daripada di-reshuffle atau dikurangi penghasilannya oleh SBY, kan ? Rasa tidak aman ini ( meski mengklaim menang satu putaran dengan 60 % suara ) bisa jadi muncul dari kemenangannya yang cacat. Gratifikasi dalam kampanyenya, matinya Nasrudin dan dihukumnya Antasari yang berpotensi menggoyang kursi empuk SBY jika pucuk konspirasi ini terbongkar. Atau bahkan, membuat SBY dihukum mati juga ( seperti tuduhan JPU pada Antasari, mendalangi pembunuhan ). Tidak elok bagi Ani dan kedua buah hatinya.

‘Tidak pakai telor’ itu pembelokan isu. Persis, ketika Fachry berbusa-busa mentertawai nalar Manohara. Berharap anda kecil, lalu tak berdaya mengusik mereka yang ‘besar’ dan memerintah. Khas penyiksa. Mereka juga sangat manipulatif. Contoh, Andi Arief mengusik rasa bersalah Maruarar Sirait, anggota pansus Century dari fraksi PDIP, dan Danang Widoyoko dengan berkata,”Masak sih, kita bangsa yang besar tidak menghargai presidennya. Sudah 12 tahun, di saat kita mampu, kita tak pernah punya pesawat kepresidenan ?!”. Dalam hati saya, kenapa harus rakyat terus yang memberi ? Kemana pemerintah, ketika Prita Mulyasari dikerjain RS  Omni Internasional ? Kemana pemerintah, ketika Nenek Minah dipenjara 1,5 bulan karena mengambil 3 cacao seharga Rp 2000,- ? Kemana pemerintah, ketika Bibit dan Chandra ditahan Bareskrim Polri ? Kemana pemerintah, ketika Antasari yang tak bersalah ( kecuali menceritakan teror ancaman yang diterimanya pada Kapolri ) ditahan dan dituntut hukuman mati ? Kami harus melakukan sendiri.

Kemana pemerintah, ketika korban lumpur Lapindo, bencana gempa Tasikmalaya dan Padang terlunta-lunta di kamp pengungsi ? Kemana pemerintah, ketika ribuan nasabah Century dipingpong ke sana kemari mengupayakan uangnya kembali ? Semua duka nestapa itu karena presiden tak becus memilih anak buahnya ( dan terus mempertahankan, meski sudah diingatkan oleh banyak pihak, termasuk Tim 8 yang dibentuknya ). Karena presiden ingin melengserkan Antasari demi seorang Boedi Sampoerna mendapatkan uangnya kembali. Diantara jepitan biaya hidup yang kian mencekik karena serbuan produk Cina akibat pemberlakukan CAFTA tanpa persiapan ( banyak pabrik tutup dan karyawan di-PHK ), juga rencana kenaikan TDL yang memicu kenaikan harga2 kebutuhan, Andi Arief meminta kita/ rakyat memberi fasilitas lagi untuk presiden, pesawat Boeing seharga 700 miliar ??

Saya heran, kenapa orang2 yang dipilih presiden, orang2 sedangkal Arief. Apakah SBY juga dangkal/ tak sensitif ? ( SBY dan Arief hanya peka dengan  urusan sendiri ). Saya setuju Danang, selama belum ada dana surplus dan perhitungan cermat yang transparan ke publik soal pengadaan pesawat kepresidenan, SBY jangan diberi pesawat dulu ( mencicipi 5 tahun pertama pesawat baru jika tak dimakzulkan ). Tanggung jawab dulu soal Century. Feeling saya, selama SBY tak mengakui peran sebenarnya di skandal Century, selama itu Antasari, Williardi, dan Sigid akan divonis hukuman mati. Tak peduli betapa terang benderangnya bukti di pengadilan kalau Antasari tak terlibat dalam kasus pembunuhan tsb. Anggota konspirasi masih bebas berkeliaran di luar penjara, bahu membahu dalam kebohongan, menutupi rekayasa mereka. Bahkan Susno, anggota mereka, yang keceplosan bicara di pengadilan dan rapat pansus, diasingkan dan diintimidasi, dirampas seluruh fasilitasnya. Siapa yang bisa melakukan itu, kecuali atasannya ? Manggabarani, Bambang Hendarso dan SBY. Of course, Boedi Sampoerna in it.

Kerbau ‘jangan tipu2’ memprihatinkan SBY.

Up date untuk Pansus Century : setelah mendapat fatwa dari MA, mereka meminta pengadilan memberi legitimasi bagi mereka menyita data yang kurang dari BPK dan KSSK. Surya Paloh, Sultan Hamengkubuwono dkk membentuk ormas ‘Nasional Demokrat’ karena realitas sekarang, rakyat belum memperoleh ( rasa ) keadilan, kenyamanan dan kesejahteraan. Demokrasi bukan tujuan, tapi alat untuk meraih kesejahteraan rakyat. Tumpak Hatorangan, pjs ketua KPK ‘diusir’ dari istana Cipanas, alasannya undangan peresmian berubah menjadi rapat kabinet ( apa karena KPK kemarin menemukan bukti aliran dana Century ke YKK milik SBY ? Tumpak perlu dikerjain/ intimidasi dulu ah ).

Adnan Buyung sudah tidak di Wantimpres ( menjaga integritas, karena rekomendasi Tim 8 dilaksanakan sedikit saja, untuk lip service SBY, seperti dugaan semula. Mana mungkin SBY mencopot ‘kawan2’-nya ? ). SBY prihatin ( tersinggung ), dirinya diibaratkan kerbau yang gemuk, lamban dan bodoh  bertulisan “jangan tipu2” di pantatnya pada demo memperingati 100 hari pemerintahan SBY jilid 2. Well, cerita lainnya, tunggu saya menyimak lagi berita2 terkini. Kata orang, sekarang warga Indonesia lebih suka nonton berita daripada sinetron. Good choice, guys.

Kita mesti tahu kemana negeri ini akan dibawa. Masa depan kita ada di dalamnya. Ngomong2, kemarin demonya secara umum berlangsung tertib di 30 kota di Indonesia. Demo meriah dan damai, rupiah menguat. Waktu ‘Hari Anti Korupsi Dunia’ demo marak di 12 kota. Ada insiden kecil, seorang polisi tertimpuk batu hingga berdarah ( nyata atau ulah intelijen lagi ). Beberapa mahasiswa terlibat dorong-dorongan, pukul-pukulan dengan polisi yang menjaga gerbang gedung parlemen. Pengusaha dan investor tak terlalu memusingkan demo2 ( yang tertib ). Cuma, ada segelintir masyarakat yang kurang mengerti, mengeritik ‘apa sih maunya mahasiswa’ ? Mahasiswa mau seperti yang rakyat mau. Penegakan hukum dan perbaikan ekonomi, sehingga tak ada rakyat yang mengalami nasib seperti Prita, Minah, Antasari, juga harga2 kebutuhan terjangkau karena rakyat punya pekerjaan dan penghasilan cukup.

Apakah SBY tahu, kalau klaim sukses pemerintahannya tak bisa menghapus dosa pembunuhan Nasrudin dan matinya mertua seorang nasabah Century yang tak tertolong karena dana pengobatan ludes dimakan bos Century ? Heaven knows ..

We did again !

Saya melihat ada beberapa mahasiswa yang rela menjahit mulutnya demi menyuarakan aspirasi mereka. Saya tergerak dengan usaha mahasiswa2 penuh tekad itu. Saya pikir, hanya pengungsi2 Afganistan yang berani melakukan. Ternyata, kalian juga. Semoga sudah dipikirkan, perasaan cemas anggota keluarga yang menyayangi kalian. Juga, istri kalian nanti, ya. Apakah berlubang ketika mereka mencium kalian nanti ? Lepas dari itu, saya salut dengan tekad kalian menyukseskan demo. You did it. We did it ! Again.

Boni Hargens, peneliti UI juga anggota Petisi 28, mengatakan, demo kemarin hanya salah satu dari serangkaian demo yang akan dilakukan untuk mengkritisi pemerintah agar kembali ke track yang benar. Banyaknya isu yang diusung, berarti banyak masalah mendera bangsa ini. Dengan pertumbuhan 4,5 % , mahasiswa juga rakyat kebanyakan takkan mendapat pekerjaan. Dunia usaha mengatakan, tanpa pemerintah pun, pertumbuhan ekonomi kita mencapai 4,5 %. Jadi, kalau presiden mengklaim pemerintahannya sukses, saya kira jika kita perlu tepuk tangan, sebagian besar ditujukan untuk JK dan Sri Mulyani, yang berhasil mereformasi Depkeu sehingga menguntungkan negara dari 600 triliun menjadi 1300 triliun. Pesawat kepresidenan ? Oh, please .. ( postpone )

Tagged with: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: