dari Palestina sampai Indonesia

Sidang Paripurna DPR, skor 3 : 6. Bail out Century bermasalah.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 05/03/2010

3 dari 5 pimpinan Sidang Paripurna DPR yang mendengar laporan kerja pansus Century. Marzuki Alie terlihat kurang pengalaman menghadapi keganasan interupsi anggota DPR. Untung, endingnya bagus, sehingga orang tak terlalu mempersoalkannya kemudian.

2 hari menegangkan berakhir 23.30 malam. Grand final Pansus Century yang bernama Sidang Paripurna DPR ke-15. Hari pertama ( 2/3/2010 ) memalukan, dipicu Marzuki Alie ( ketua DPR dari fraksi Partai Demokrat ) yang amatiran memimpin sidang. Hujan interupsi dipasung oleh mikrofon sekjen DPR yang berdalih lebih dari 4 orang bicara, seluruh mike anggota dewan mati. Jelas Markus Ali tidak terima. Ia merangsek maju dan membanting botol plastik di meja Marzuki. Tahu rasa. Setiap anggota dewan yang mewakili sekitar 150.000 warga Indonesia , masak sih, untuk menyampaikan aspirasi rakyat yang diwakilinya dibatasi alat elektronik yang bernilai tak seberapa.  SEKJEN PECAT !!, teriak sejumlah anggota DPR, marah.

Marzuki bersikukuh mengikuti rapat Bamus ( Badan Musyawarah ) sebelumnya, bahwa agenda sidang hari itu hanya melantik wakil pimpinan DPR dari FPAN menggantikan mendiang Marwoto dan pembacaan laporan kerja Pansus Century yang mengajukan 2 opsi ( A atau C ) untuk dipilih anggota DPR sebagai keputusan Paripurna . Tanpa mendengar aspirasi anggota yang menanyakan apakah pengambilan keputusan bisa dilakukan hari itu juga ( masih jam 12.40 ) atau tidak, Marzuki tanpa menoleh ke kanan kiri ( menanyakan pada wakil pimpinan lain/ kolektif kolegial ) langsung menggetok palu. Jelas floor ( anggota DPR ) dan balkon ( peninjau, penonton, dan pers/ ‘fraksi ngesot’ ) gempar. AMBIL ALIH PIMPINAN !! Wakil ketua ambil alih pimpinan ! Ketua otoriter ! Sidang Paripurna lebih tinggi dari rapat Bamus ! ( menurut Tatib 221. Dalam Tatib 255 : dalam keadaan mendesak, agenda semula bisa dirubah selama sidang paripurna berlangsung jika disepakati mayoritas anggota. DPR hakikatnya adalah Paripurna, kata seorang pakar tata negara. Paripurna adalah yang tertinggi di DPR ).

“Karena mike anggota mati semua, ya terpaksa kami menggunakan mike pimpinan, kan ?” argumen seorang perangsek ketika diwawancara reporter MetroTV. Yang kasihan, Akbar Faisal dari Fraksi Partai Hanura. Single fighter ( wakil Hpeanura cuma satu di pansus ) di Pansus Century ini dipukul dan diusir dari ruang sidang. Maksud hati ingin membaca Tatib yang mungkin tak dipahami Marzuki, apa daya barisan sekuriti Senayan berseragam biru itu lebih kuat menarik dan mengeluarkannya ( mirip barisan polisi dan penyidik yang kehadirannya untuk ‘menekan’ majelis hakim PN Jaksel di sidang2 Antasari.  Atau barisan polisi huru hara dan bersenjata gas air mata di depan gerbang Gedung Parlemen yang siap memprovokasi dan merusak nama baik korps mahasiswa dan peserta aksi damai. Seorang anggota dewan rupanya merasakan hal yang sama. Ia meminta sekjen memundurkan barisan satpam itu.

Bapak2  &  ibu2,  polisi-lah yang perusuh, bukan mahasiswa.

( laporan pandangan mata, polisi-lah yang duluan menembakkan water canon/ meriam air  sebelum peserta aksi terpaksa membalasnya dengan lemparan batu yang mereka ambil dari marka jalan. 5 orang ditangkap dengan tuduhan merusak fasilitas umum. Kreatifnya mahasiswa, liciknya polisi pimpinan Kapolri Bambang/ dalang konspirasi pembunuhan Nasrudin  ). Polisi yang berpihak pada kepentingan rezim. Tidak netral mengayomi masyarakat, seperti slogan2 kosong yang diumbarnya. Tunggu azabnya nanti. Sehari sebelumnya, pada persiapan demo, seorang intel menyamar wartawan tertangkap peserta aksi. Saya usul pada mahasiswa Makasar yang terlibat bentrok dengan polisi dan masyarakat setelah sekretariat HMI diserang sejumlah oknum polisi. Kapolri Bambang dan antek-anteknya setelah memfitnah Antasari, sedang berupaya menfitnah mahasiswa pendemo sebagai perusuh, agar dibenci masyarakat dan gerakan moralnya tak didukung lagi. Saya baca komen2 di media cetak, sebagian sudah terpengaruh. Terutama mereka yang tidak tekun mengikuti perkembangan berita, tidak tekun mencari kebenaran suatu masalah,  suka pragmatis, main gampangnya. Termasuk sebagian polisi, yang diberi pentungan dan pistol, yang mewujud main kekerasan.

Mahasiswa Makasar, yang relatif meluap-luap semangatnya, mungkin bisa menyalurkan energinya, untuk lebih taktis bersiasat  agar masyarakat tahu bahwa perusuh/ penjahat sebenarnya adalah polisi2 menyimpang, bukan mahasiswa. Kapolda Sulsel yang akan diganti setelah seorang polisi dan sejumlah mahasiswa terluka di Makasar, ada di bawah komando Kapolri Bambang. Kapolri sepertihalnya SBY, akan menghalalkan segala cara, membunuh sekalipun, agar skandal konspirasi mereka tak terbongkar. Kita mesti ekstra hati2. Sekarang ini, mereka sedang berupaya tebar pesona ( mengalihkan perhatian penonton ) di kabupaten Aceh Besar. Seperti biasa, unjuk gigi memburu gerombolan teroris dengan Densus 88-nya. Tapi, jangan kecil hati. Dengan modal orasi dan aksi damai yang kreatif, mahasiswa juga tak kalah mempesona. Apalagi, kalau ditilik niat tulus di dada kalian ( dibanding niat terselubung polisi2 itu ). Jelas, kalian lebih top. Setuju ? ).

Penjilat2  di Cap Go Meh, kesiangan pasang bendera di 17 Agustusan

Gelagat rezim SBY mirip Soeharto. Mengira kestabilan politik ( rezimnya ) adalah segalanya demi pertumbuhan ( kesejahteraan orang2 di ring terdekatnya, termasuk yang semalam acung2 jempol menjilatnya di Kemayoran/ Perayaan Cap Go Meh. Terang saja, mereka senang. Cukup mencatut nama leluhur seperti Jhon Lie, dkk, yang berjasa untuk negara, lalu tampil seperti anak manis menutup tangan di depan SBY, plus sedikit fulus dan cincai2, mereka bisa mengeruk 1006,7 trilyun uang kami/ rakyat via skandal perbankan dan perusahaan2 fiktif. Apalagi CAFTA yang menguntungkan etnisnya dari daratan Tiongkok sana. O, mereka tahu benar kelemahan SBY yang suka dipuja puji. Mereka gosok dengan baik. Orang2 ini jika berani kembali ke Cina, tanpa ampau, sudah pasti dibuang ke laut. Di Indonesia, mereka bisa hidup semewah raja, bahkan di sel penjara. Masih bati (  untung ) ketika dibui setelah menjarah uang rakyat. Jadi, apa susahnya menjilat SBY dan mengecam kami ( aksi unjuk rasa ) ? Ya, tho ..?

Mereka tak perlu bocor kepalanya melawan 1600 polisi yang mengejar-ngejar dengan pentungan, perisai dan mobil2 water canon. ( Massa pro-SBY yang berunjuk rasa jam 10.00-13.00 tidak diintimidasi dengan perangkat polisi tsb. Water canon seolah menghilang entah kemana. Tapi anehnya setelah LSM Bendera datang, mahasiswa yang sedang berorasi disembur air water canon, padahal tak ada aksi pelemparan batu. Karena disembur, mahasiswa marah dan membalas. Seperti juga Marzuki di ruang sidang memilih-milih siapa yang diberi kesempatan bicara. Lily Wahid yang mengacungkan tangan sejak awal, tak diindahkannya sampai akhir. Lily dari PKB, seorang dari 9 inisiator hak angket membalasnya dengan memilih opsi C. Marzuki tidak netral, ia bukan pimpinan sidang, tapi anggota Demokrat yang memegang palu secara otoriter atau pemula. Tak punya pengalaman dan pengaruh. Pimpinan sidang adalah pengatur lalulintas bicara anggota DPR bukan presiden direktur. Kedudukan setara dengan anggota. Kalau Marzuki tak banyak belajar dari peristiwa kemarin, saya tak bisa bayangkan ketika ia dipilih menjadi Ketua Parlemen Asia beberapa waktu lalu. Semoga Indonesia, tak makin dipermalukannya  ).

Para penjilat bermata sipit ini, bahkan tak merasa perlu ikut kerja bakti atau ronda siskamling di lingkungannya. Uang di dompetnya yang tebal bisa menyelesaikannya. Bayar orang untuk menggantikannya. Atau pura2 terlelap setelah memasang pagar tinggi dan anjing galak di depan rumah. Seseorang harus menendang pintu kamar tidurnya agar ia memasang bendera merah putih pada 17 Agustus. Mereka mengeluh jika didiskriminasi, tapi go to hell jika mereka mendiskriminasi pekerja/ pelamar pribumi di toko atau perusahaannya. Ketika David Hartanto yang seetnis dengan mereka dibunuh di Singapura, mereka tak peduli ( mayoritas pribumi justru yang membela David ). Ketika Anggodo, Anggoro, Tjoko Tjandra, Artalyta, Syamsul Nursalim, Edi Tansil, Boedi Sampoerna, dll, merampok uang rakyat/ merugikan keuangan negara, para penjilat2 ini juga tenang2 saja. Tak tergerak untuk membantu penangkapannya, misalnya mengucilkan anggota keluarga untuk mengorek keterangan berharga. Menyudutkan atau menyadarkan koruptor/ penyuap agar kembali ke Indonesia, mempertanggungjawabkan perbuatan dan mengembalikan uang curian. Asal  bisnis sendiri tak terganggu, mereka leluasa beranak pinak seperti orang Israel  di tanah  Palestina dan etnis Cina Han di Xinjiang untuk sedikit demi sedikit merampas tanah muslim Uighur. Lainnya, EGP.

Loyalitas bangsat versus loyalitas kritis.

Dan para penjilat ini yang acaranya rajin didatangi SBY cs ( kebanyakan loyalitas bangsat yang membabi-buta, bukan loyalitas kritis yang berpihak pada kebenaran-Nya ). Kami yang mesti bocor kepalanya untuk sekedar mengawal anggota DPR untuk konsisten dengan pandangan akhir Pansus Century ( skor 6 : 3 ) cuma dilabeli perusuh ( oleh pengirim sms di media ), anak muda yang tak sabaran ( Andi Arief ), pengunjuk rasa yang anarkis dan kampungan ( 0817610xxx ) dan mahasiswa/ anggota GIB yang tidak  paham  ( nara sumber TVOne, ada pengamat ekonomi Aviliani di sana yang mendiamkan, dari ucapannya terkesan merasa lebih pintar dari para peserta aksi, juga beberapa penampilannya belakangan ini. Ada niatan menggantikan Sri, mungkin Bu ? ). Sutan Bhatoegana ( wakil ketua fraksi partai Demokrat     ) di acara Debat TVOne, bahkan menyarankan  ( menghardik ) mahasiswa tinggal di rumah saja, nonton teve kalau tak ingin kepalanya bocor !

Anggota Demokrat di parlemen memang payah, bisanya berpolitik dagang kerbau dan mengintimidasi mereka yang berbeda. Mem-BKO-kan anggota fraksi lain yang tak lagi sejalan. Pantas, anggota koalisi tak betah. Dan, lebih memilih mengamankan konstituennya di 2014 daripada mengkhianati rakyat. Si Poltak/ Ruhut Sitompul menyalahkan PKS sebagai pengkhianat dan menggunting dalam lipatan. Jika si botak ini suka istilah ini, saya pikir yang menjadi pengkhianat lebih dulu dan sebenarnya adalah partainya, Demokrat. Bail out yang penuh tipu muslihat, sejatinya, untuk menutupi perampokan uang negara dengan memanfaatkan situasi krisis 2008. Ada nasabah besar, Boedi Sampoerna, sohib/ donatur kampanye SBY sejak tahun 2004 yang harus diamankan duitnya sekitar 2 trilyun di Bank Century. Untuk itu, Nasrudin harus dibunuh, agar Antasari bisa dicopot dari jabatannya sebagai ketua KPK, sehingga tak ada yang berani memeriksa skandal  SBY.

Marsilam Simandjuntak, yang banyak omong tapi tidak tahu apa2 itu diutus SBY untuk nongkrongi rapat KSSK ( 20-21/11/2008 ) agar Sri Mulyani yang biasanya selalu teliti itu terpaksa mengikuti maunya bos besar/ SBY. Kapolri Bambang, Jaksa Agung Hendarman, Majelis Hakim PN Jaksel, para saksi pembunuhan Nasrudin, termasuk Rani Juliani, harus mengikuti seluruh skenario busuk ini. Kalau Si Poltak ini punya nyali sedikit saja untuk berbeda, ia akan diintimidasi atau bahkan disetrum seperti Williardi. Saya sangsi, si Poltak ini mau memotong lehernya ( seperti tantangannya pada lawan bicara di teve ) jika pendapatnya yang salah. Poltak cuma omdo. Penjilat, seperti tipikal sebagian orang Sumatera yang saya ceritakan kemarin.

Bu Sri  & Pak Boed bersaksilah untuk rakyat. Jangan mau diperalat SBY.

Saya harap Sri Mulyani tidak terpengaruh dengan pidato SBY semalam ( pukul 20.00 WIB pada 4/3/2010 ), yang seolah bertanggung jawab dan membelanya. SBY seperti Kapolri Bambang, manipulatif. Menggurui sekaligus menempatkan diri seolah korban agar mendapat simpati publik. Ingat, keluhan Bambang di RDP Komisi III DPR tempo hari, yang merasa terhina ketika ada yang mengatakan polisi seperti binatang. Ia memplintir komentar ketua MK, Mahfud MD, yang prihatin atas tindakan sejumlah polisi yang mau dikendalikan mafia hukum seperti Anggodo. SBY seperti bertanggungjawab, tapi sebetulnya ia tak melakukan apa2 selain menyelamatkan citranya sendiri. Pidato itu sudah sangat terlambat dan tak berguna/ berpengaruh karena 3 anggota koalisi sudah menyatakan sikap ( opsi C ).

Anda ( Sri ) dan Boediono, dia jorokkan ke DPR untuk menghadapi serangan bertubi anggota pansus seharian. Ia baru bersuara setelah pansus selesai. SBY berharap dengan pembelaan 30 menit itu, Sri dan Boediono masih mau membelanya selama belasan jam di hadapan penegak hukum/ KPK. Pasang badan/ tumbal untuk SBY. Di penjara 18 tahun penjara seperti Antasari, dan ditinggalkannya/ dilupakannya. Kalau berkata jujur, Jaksa Agung akan disuruhnya mengajukan banding dengan tuntutan hukuman mati, sampai  kalian berdua benar2 tak bersuara atau mati sekalian. Trust me. Orang2 ini egois dan keblinger kekuasaan. Kalian akan sia2 menggadaikan kebenaran demi membela skandal SBY. Allah takkan merestui perbuatan semacam ini.

Di depan senyum, di belakang nyetrum.

Ada kasus di Amerika, seorang pria membantai istri dan keluarga besarnya. Kenapa ? Karena ia ketahuan tak pernah bersekolah di kedokteran atau pun menjadi dokter rumah sakit. Ia pengangkut sampah medis di RS itu. Ia berbohong agar diterima keluarganya yang mempunyai standar tinggi. Ia berperilaku santun, suka menolong, humor untuk disukai orang. Agar mereka menepis kecurigaan. Ia terlalu baik. Belum ada yang sebaik dia. Begitu sempurnanya ia hidup dalam kebohongan, sampai ia percaya dengan kebohongannya sendiri. Jadi, ketika kedoknya terbongkar, ia histeris ( dalam hati ) takut kehilangan segalanya ( pengakuan ).  Dengan tega, ia menggorok orang2 yang menolaknya, dan berkata dengan suara dingin,”mereka pantas mendapatkan”. Dalam alam pikirnya,  ia merasa sudah melakukan hal besar dan sulit selama hidupnya untuk mereka. ( dalam pikiran orang normal, si alergi penolakan ini mengimitasi semua gerak gerik dokter dan orang supel yang pernah dilihatnya agar orang percaya tipu muslihatnya ).

Saya melihat wajah SBY mengeras ( ditolak paripurna DPR ). Di depan layar, ia terlihat santun dan menerima. At back stage, dia mencari siapa lagi yang bisa disetrum agar citranya kembali. Secara psikologis, SBY ingin unggul seperti mertuanya, Sarwo Edhi, di mata Ani Yudhoyono. Ketika pemakzulan kian terbuka, wajahnya akan makin sering mengeras, dan ia akan memperlihatkan karakter aslinya. Intimidasi ditebarkan ke para penentangnya. Ia hidup dalam pencitraan, bukan  realitas. Saat ini, SBY seperti ikan yang baru terlempar dari akuarium indahnya, menggelepar tanpa air.  Kita harus hati2 menghadapi pembalasan  yang tak terduga, menjelang kejatuhannya. Ia akan meng-acc  semua usul gila bawahan  yang ingin menjilatnya, sepanjang sakit hatinya terbalaskan. Akal sehatnya sudah tak jalan.

Fakta diputarbalikkan. Ia bilang jangan menfitnah, sementara ia sendiri tak peduli Antasari difitnah membunuh Nasrudin. Ia bilang jaga etika berkoalisi, sementara Demokrat mem-BKO-kan anggota koalisi lain. Di parlemen, setiap kedudukan anggota DPR adalah sama, tapi di mata Demokrat, fraksi lain adalah kacung yang harus mengikuti apapun mau si bos besar. Terjun ke neraka sekalipun, demi imbalan posisi 1-3 menteri di KIB II yang super gemuk lalu rontok di 2014. Kalau tidak, akan dicap pengkhianat oleh Ruhut, ditahan Tumpak/ KPK atau disetrum Kapolri. SBY bilang temuan pansus tidak bisa jadi alat bukti, tapi anehnya ia juga bilang aliran dana Century ke tim kampanye SBY tak terbukti di pansus. ( bingung ? rasanya pansus menyebut dugaan kuat, bukan bukti. Coba baca lagi ).

Akankah rekomendasi Paripurna DPR ini akan berakhir seperti Rekomendasi Tim 8 ? Masuk telinga kiri keluar telinga kanan ? Jika masuk tong sampah lagi, DPR sudah menyiapkan jurus pamungkas yang bernama Hak Menyatakan Pendapat. Setelah Paripurna, lalu masuk MK, berlanjut ke MPR. Goodbye SBY. Kalau Taufik Kiemas terus mengusulkan PDIP masuk koalisi, saya pikir dia lebih baik kena stroke kedua kalinya, dan tidak bisa bangun lagi. Untuk rakyat, kok coba2 … ( seperti iklan minyak kayu putih di teve ).

Mahasiswa rruar biasa ! Sepenggal demokrasi terabas kawat berduri.

Saya bayangkan, jika mahasiswa menurutinya omongan Bhatoegana/ Demokrat, maka DPR akan seperti DPR-DPR sebelumnya. 5 D. Datang, duduk, dengar, diam, duit. Kasak kusuk suap, intervensi asing, lobi2 jahat memainkan  produk DPR ( membuat undang2, anggaran negara, mengawasi kebijakan pemerintah ). Kekayaan alam kita leluasa dikuras agen asing, pejabat publik menghasilkan kebijakan yang menguntungkan kelompok tertentu, seperti bankir dan pengusaha hitam, presiden dan para pembantunya berfoya-foya dengan uang rakyat, dsb. Rakyat menjadi apatis pada pemilu karena kue pembangunan tak menetes kepadanya. Suaranya tak berarti.

Para penjilat pelan namun pasti menguasai sektor2 lain di luar ekonomi di mana selama ini mereka mendominasi. ( saya dengar tekad mereka mendominasi sektor lain ). Memanfaatkan dengan maksimal rasa frustasi presiden yang tak dipuji rakyat lagi. Di belakang, uang2 jarahan mereka mengalir ke Singapura dan Cina. Para oligarkh bermata sipit ini mencengkeram seerat lobi2 Yahudi di Gedung Putih, di Istana Negara. The next morning we wake up, kita jadi kacung Cina. Palestina jatuh ke tangan Israel, totally. Palestina adalah front terdepan, kepalan  terakhir, dari perang yang telah berlangsung ratusan tahun dengan  imperialis Barat.  Negeri muslim terbesar dengan sumber alam terkaya di dunia ini tak bisa berbuat apa2. Apa kata dunia ? Bagaimana pertanggung jawaban kita di hadapan Allah Swt ?

Saya yakin, korlap yang terbata-bata ( baru bisa  ) mengatakan, bahwa ia dan teman2 berjuang untuk memastikan fraksi2 konsisten dengan pandangannya itu jauh lebih berarti untuk bangsa ini ketimbang  Aviliani, anggota Demokrat, pengirim sms dan akademisi yang menganggap remeh perjuangan mereka. Lebih cerdas daripada SBY, Kapolri, Jaksa Agung, Majelis Hakim PN Jaksel yang menjungkirbalikkan tatanan hukum di negeri ini dengan dalih stabilitas politik dan pertumbuhan, meski harus menuntut mati Antasari, menelanjangi, memukuli, menyetrum kemaluan Williardi Wizar dan mendustai seluruh rakyat Indonesia. Kegilaan macam apa ini ? Apa mereka pikir, Allah Swt akan membiarkan negeri ini stabil dan sejahtera, jika kejahatan terkutuk semacam ini dibiarkan merajalela, tanpa ada orang yang berani maju ke depan menghentikannya ? Siapakah pemilik takdir di jagad raya ini ? Allah atau SBY ? Wake up, man !

Korlap yang terbata-bata dengan sepenggal pemahamannya yang sederhana tentang demokrasi, dengan segenggam nyali, berani maju ke depan ! Menembus barikade polisi dan kawat berduri. Orang ini rruar biasa ! Don’t you see ? Saya sendiri terkagum-kagum masih ada mahasiswa seperti ini. Lihatlah dengan mata batin untuk mengagumi keberanian moral mereka. Saya rasa Indonesia masih punya masa depan. Sebaliknya, orang yang sudah punya segalanya, tapi bisanya cuma mencibir, merasa lebih mulia dari peserta aksi, dan percaya saja dengan bius penampilan dan angin surga para penjilat, pejabat kemaruk dan akademisi bayaran, tempatnya bukan di sini. Ini bukan dunia yang mereka bentuk. Indonesia dibentuk oleh para founding father dan dikawal perjalanannya oleh para aktivis/ mahasiswa pada tiap tahapannya hingga menjadi sekarang ini.

Para pengecam demo, tinggal di Israel saja.

Para penjilat dan simpatisannya, sangat disarankan untuk tinggal di Israel saja. Kalian takkan diganggu demo di sana. Kalian cuma perlu beranak banyak dan bekerja seperti robot setelah didoktrin bahwa pemusnahan etnis lain adalah perintah nabi mereka. Gampang, kan ? Sesekali dilepas di wilayah teritori Palestina untuk membantai warga Palestina untuk menaikkan derajat mereka di tengah komunitas Israel. Jangan coba2 berbeda, kalau tak ingin masuk kamp penyiksaan dan tinggal nama setelah dimutilasi. Mau ?

Kalau tidak mau, kalian harus bersabar, jika kami sedang memperbaiki yang tak beres di negeri ini sebelum terlambat dan menjadi hil mustahil seperti di Israel. Kecuali Allah memusnahkan dan menggantinya dengan generasi baru yang lebih baik. Untuk mengerti perjuangan kami, kalian harus seperti kami, dimulai dengan tekun mencari kebenaran. Hari demi hari. Jam demi jam. Detik demi detik, sejak  bisa membaca dan menyerap informasi dari alam semesta ini. Serta, senantiasa mengasah batin dan ilmu. Dengan cara ini, tahu2 kami sudah menerjang kawat berduri, mendekap DPR untuk kembali ke khitahnya, menyuarakan aspirasi rakyat, bukan rezim penguasa. Agar anggota DPR memutuskan yang benar bagi rakyat.

Kalian ( para penjilat ), jangan cuma modal bacot ( menjelek-jelekkan kami ), tanpa kerja, mengharapkan semua akan baik2 saja untuk kalian dan anak istri kalian. Mengandalkan rezim SBY yang sudah deligimated akibat ulahnya sendiri ; membantu teman kalian bernama Boedi Sampoerna mendapatkan uangnya kembali di Bank Century. Dia dan kader2nya di Demokrat ngaku2  prestasi pemberantasan korupsi sebagai miliknya. Padahal, salah satu pemilik aslinya, Antasari, tega tanpa hati mereka jorokkan ke penjara dengan tuntutan hukuman mati, karena  mengendus bau RI-1 di skandal Century ( telpon Susno Duadji dengan pengacara Boedi ). Mereka juga tanpa malu berulang-ulang menyebut ; karena penyelamatan Century, Indonesia bisa keluar krisis, setelah prestasi Cina dan India. Oh, please. Kita relatif bisa keluar krisis 2008, karena ekspor kita hanya 30% dari GDP. Selebihnya, konsumsi domestik. Penyebab lain, sektor riil kita yang cukup tangguh setelah belajar dari krisis 1998, serangkaian strategi yang dikeluarkan Sri Mulyani dan departemen yang dipimpin dan direformasinya, juga kecerdikan Jusuf Kalla, wapres yang disingkirkan SBY di KIB 2, karena mengancam popularitasnya. Orang menjuluki keduanya, matahari  kembar.

Kalau Marsilam tak melototi Sri dan Boediono, keduanya bisa tenang menyerahkan Bank Century ke Bank Mandiri, yang saat itu dirutnya hadir sebagai nara sumber. Paling banter keluar 0,5 milyar rupiah. Nasabah besar aman, nasabah kecil juga senang. Tak ada gonjang ganjing Century yang memeras energi kita setahun ini. Antasari, Bibit, Chandra masih bersama memimpin KPK bersama 2 komisioner lainnya. Pemberantasan korupsi berjalan dengan kecepatan penuh, dan Indonesia kian dekat dengan kejayaannya. Isn’t that nice ?

(  yang kemarin coba merendahkan saya soal jurnalistik, tolong anda putar otak sedikit dan pahami apa yang namanya blog dan blogging. Saya yakin, andalah yang baca berita sepotong2. Anda penyiksa, ya ? ).

PKS sholat di masjid ! PKS jujur dan bersih.

Mengundang senyum jika orang menyebut Partai Keadilan Sejahtera dengan persepsinya masing2. Sebelumnya, seorang pakar mengibaratkan keputusan PKS  yang tak sejalan dengan Demokrat ; ‘kalau merampok jangan ajak2 kami, dong’. Ya, koalisi itu kemaslahatan. Kalau kemaksiatan, namanya persekongkolan. Komplotan. Tak perlu menuding, PKS pengkhianat, kalau Demokrat sendiri mengkhianati kebenaran yang disepakati. Jangan memplintir, seolah Demokrat yang benar. Kalau ingin masuk neraka sekarang, kalian masuki saja sendiri. Kami masih perlu memikirkan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Hari pertama Sidang Paripurna, seorang berteriak ,“PKS sholat di masjid !”. Ya, pasca ketok palu Marzuki yang seenak udel, para ketua fraksi menggiring anggotanya ke ruang2 rapat tersendiri. Untuk meredam emosi, menenangkan diri. 431 yang hadir dari 560 anggota dewan, setelah itu menjalani lobi2 hingga tengah malam. Andi Rahmat, anggota pansus Century dari FPKS, menjelaskan di Trijaya Network, kericuhan sejumlah anggota DPR pasca ketok palu kebanyakan dari anggota yang baru ( setahun ). Andi sendiri sudah 5 tahun di DPR plus intensif 60 hari di pansus. Jadi, sedikit banyak tahu dinamikanya. ( mungkin mereka yang baru tak menduga, sidang ditutup secepat itu dan dipimpin sekaku itu, padahal tekanan dari rakyat begitu kencang. Marzuki sendiri terlihat seperti terlalu dibebani oleh desakan partainya/ Demokrat. Jadi, nervous. Grogi.

Sejumlah analis memprediksi, jika DPR gagal mengakomodasi desakan rakyat akan terjadi chaos yang membahayakan kelangsungan negeri ini. Tekanan, intimidasi, juga dialami anggota partai2 pendukung koalisi. Sebagian teman sudah dimasukkan tahanan karena travel check Miranda Goeltom dan impor sapi fiktif. Lainnya, diancam hukuman pengemplang pajak. Terjadi tebang pilih. Demokrat, PKB dan PAN yang membela SBY tak disentuh. KPK mendapat tekanan. Ia tak lagi seindependen masa Antasari. DPR membalasnya dengan menolak perppu pengangkatan plt ketua KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean. Skor 1 : 1.

Tekanan juga datang dari rakyat dari arah gerbang/ peserta aksi. KAMI, GMHI, GIB, Serikat Pekerja Nasional, Forkot, dkk, hadir di sana. Banyak tarik menarik. Saya sendiri cukup tegang. Semua tertekan, gara2 skandal SBY. Sementara, dia sendiri sedang asyik masyuk dengan Mr.Po dengan Cap Go Mehnya. Oh, tidak juga. Ia terlihat tegang. Maklum, mobil dinasnya barusan dihajar suporter. Entah bola atau aksi. It’s just a beginning. Akan ada lebih banyak kesengsaraan ke depan, deligitimated ( tak dipercaya di parlemen ), pemerintahan dan di mata rakyat. Ini azab yang saya bicarakan kemarin. Ini belum apa2. Ke depan, dalam kehidupan ini, juga nanti di alam kubur dan akhirat akan berlipat-lipat. Anda ( SBY ) percaya sekarang ? Atau masih arogan ?  ( I can’t believe, you drag us this far ).

( Bagi para pembeo yang bernostalgia 60 % suara SBY dan mengancam-ancam perang saudara, kembalilah ke alam nyata. SBY sudah tak laku lagi. Suara saya dalam 60% itu sudah tak berarti. Banyak pemilih yang juga berbalik badan, ketika mereka dipaksa/ dihadapkan pada neraka. Gambaran di parlemen, 212 orang di pihaknya. 325 orang berseberangan dengannya. Paham ?  )

Hari kedua Sidang Paripurna ( 3/3/2010 ), dihadiri 457 anggota DPR. Marzuki berulah lagi. Buying time dengan bunga rampai interupsi sesi satu, 2, dst. Separoh anggota DPR bosan, keluar ruangan, mencari makan dan bersenda gurau. “Senyum salah, cemberut salah. Demokrasi di Indonesia, tidak ada yang benar”, kata Marzuki, menimpali bung Panda yang mempertanyakan ‘bunga rampai’ Marzuki yang mengosongkan ruangan sidang. ( Siapa lagi, siapa lagi ). Apa Marzuki tak dengar orang2  mempertanyakan, apa Demokrat tak salah kirim orang untuk memimpin DPR ? Instrospeksi diri daripada nyinyir begitu.

Akhirnya, tanpa menyelesaikan sesi, tahu2 pandangan fraksi2 dibacakan. Antara 5-10 menit. Puan Maharani dari fraksi PDIP merasa cukup dengan 3 menit. Jubir fraksi lain, cukup menyebut opsi C plus sebuah kalimat. Skor 5 : 2 : 2 antara menolak bail out ( PKS, Golkar, PDIP, Gerindra dan Hanura ) dan menerima bail out ( Demokrat, PKB ) dan tak jelas/ abstain ( PAN, P3 ). Setelah itu, sidang diskors untuk sholat dan makan siang, dengan janjian kumpul jam 15.00. Lewat pukul 3 sore, lobi2 masih alot, sidang tak kunjung dimulai. Tampak wajah letih Akbar Faisal disaksikan Adnan Buyung dan Kwik Kian Gie di studio MetroTV dari layar kaca. Saya nggak nyangka mengambil keputusan yang sebetulnya mudah, karena sudah disediakan 2 opsi, bisa seribet ini. 60 hari lebih, siang malam, kami di pansus melakukan penyelidikan, melibatkan banyak orang, banyak data, banyak tekanan, akhirnya dimentahkan seperti ini, kata Akbar . Wajahnya terlihat kecewa, frustasi. ( saya ingat Akbar ketika sesenggukan terharu dihadiahi badik oleh warga Makasar, dengan pesan untuk berani memperjuangkan kepentingan rakyat. Wajah itu, idealisme itu, memenangkan hati kami, bung Akbar. Tak ada yang sia2 dalam perjuangan membela kebenaran. Heaven knows. Keep up the good work !  Jika konsisten, ada dalam radar kami tahun 2014  ).

Adnan dan Kwik lalu menenangkan, mestinya anggota DPR bisa bersikap sebagai negarawan. Ingat, para founding father kita ketika membentuk republik ini. Pada sidang konstituante, ada opsi negara berlandaskan Pancasila atau syariat Islam bagi para pemeluknya. Dengan kebesaran jiwa, mereka mau mengalah sehingga Pancasila menjadi dasar negara kita. Kedua senior kita juga terheran-heran ada opsi gabungan A & C yang muncul dari lobi2. ( 2 opsi yang seperti minyak dan air ini tak bisa disatukan. A hanya mengejar kroco2.  C mengejar kakap juga. Kalau kroco kelasnya aparat penegak hukum, tak usah ada pansus. Kelasnya DPR adalah pejabat publik sekelas wapres dan presiden ). Mereka menyayangkan kerja bagus pansus diakhiri seperti itu di Paripurna. Padahal rakyat sudah mulai memperhatikan kerja dewan/ anggota DPR periode 2009-2014, khususnya di pansus Century  yang sudah mengawalinya dengan baik.

Kwik gembira, karena akhirnya DPR bisa mengadili kebijakan pemerintah yang salah/ terindikasi pidana. Uang negara/ rakyat bisa lebih aman/ tak disalahgunakan. Marzuki lalu dihadirkan setelah Akbar. Wajahnya pucat/ tegang. Ia hanya terdiam ketika Adnan dan Kwik merasa aneh dengan opsi gabungan A & C. Apa yang terjadi ? Kenapa pengambilan keputusan belum dimulai juga, sudah lewat Isya’. ( Saya juga sudah gregetan dengan ketua DPR karbitan ini. Urusan saya terbengkalai sejak 10 pagi, gara2  permintaan ‘bunga rampai’-nya ngerjain anggota dewan. Berharap yang lain bosan, pulang, lalu Demokrat yang hadir  100 % ( 148 orang ) menang, ya ? Mestinya, Selasa ( 2/3/2010 ) dengan 4 jam saja, sidang paripurna selesai, kalau Marzuki tidak bersikukuh 2 hari dan bertanya siapa lagi, siapa lagi .. Buying time dan lobi2  Demokrat di saat2 akhir tak berguna ). Lalu, Marzuki diingatkan soal sidang konstituante tahun 1945, belajarlah dari para pendahulu2 kita yang bijaksana.

Saya lihat Marzuki sepertinya ketat memegang jadwal sidang. Tapi ketika Demokrat membawa novum baru, tanpa menanyakan pada anggota dewan dan wakil2 ketua, Marzuki langsung menerima. Ia berpihak. Tak pantas jadi pimpinan sidang. Begitu juga, ketika muncul opsi gabungan A & C yang diusung Demokrat, PKB, P3 dan PAN, ia juga menerima sehingga waktu kian larut untuk melaksanakan 2 voting. Untung, 5 fraksi mayoritas yang solid sejak awal, ( meski dihantam ‘badai’ dari seluruh penjuru, mereka tak sampai ‘masuk angin’ )  memenangkan voting pertama dengan skor 294 : 246. Pada voting kedua skor 325 : 212 untuk kemenangan pemilih opsi C ( Fraksi PKS, Golkar, PDIP, Gerindra, Hanura ). Selama pengambilan voting itu celetukan terlontar untuk mempengaruhi anggota DPR, seperti ; “PKS  jujur dan bersih !”, “PAN langsung dapat 2 menteri !”, “Gerindra dapat menteri pertanian !”, “Menteri pertanian batal !”, “Hidup Prabowo !”, dsb.

Dan, yang paling menyenangkan, tentu ucapan rendah hati dari para pemilih opsi C, bahwa yang menang di sidang paripurna DPR adalah rakyat Indonesia. Anggota DPR sendiri senang jika DPR dipercaya rakyat. Anggota sidang paripurna itu lalu saling melapangkan dada rekan2-nya yang opsinya tidak terpilih. Pendapat boleh beda tetapi kita tetap satu. Bahkan, Marzuki yang ‘menggemaskan’ itu pun tak ketinggalan untuk dipuji, karena telah sabar melaksanakan sidang paripurna yang berlangsung maraton dengan hasil yang cukup membanggakan. Anggota DPR berterima kasih pada mahasiswa, aktivis, LSM, media, masyarakat anti korupsi dan jutaan rakyat Indonesia yang turut mengawal kerja pansus hingga sidang paripurna DPR. 5 pimpinan dewan berdiri menunjukkan kepemimpinan kolektif kolegial. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dikumandangkan bersama-sama untuk menutup sidang paripurna DPR. Jam menunjukkan 23.25. Hampir tengah malam.

Saya juga berterimakasih pada anggota dewan DPR RI 2009-2014 yang sudah memberi harapan pada rakyat Indonesia. Kalian ternyata bisa diandalkan. Setelah semua tekanan yang kalian alami, ternyata kalian masih sanggup berpihak pada rakyat. Rruar biasa. Chaos/ kekacauan yang ditakutkan karena mampet-nya parlemen, tak sampai terjadi. Cukup pemerintah/ SBY yang sementara ini budek. Rakyat masih beruntung, masih punya katalis uneg2-nya di Senayan. Tensi bisa diturunkan. Banyak persoalan ke depan. Saya lihat, lembaga Kepresidenan, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, masih sarat masalah ( yang berujung kacaunya penegakan  hukum dan dirampoknya uang rakyat ), karena terkooptasi oleh kepentingan istana yang bersekongkol dengan pengusaha ali baba/ oligarkh. Saat ini, hanya KPK ( pasca Tumpak yang dekat dengan kekuasaan berhenti ), Mahkamah Konstitusi dan DPR,  yang bisa diharapkan untuk menyelesaikan problem berat bangsa ini, terlebih setelah skandal Century terkuak. Saya, teman2 juga rakyat Indonesia yang peduli akan masa depan negeri ini, akan berusaha sekuat tenaga dengan seluruh kemampuan, turut mengawal penyelesaian kasus2 besar yang mendera kita selama ini. Terus berjuang. Tetap semangat !  Again, big thanks for you all ..

The Dream Team, anggota DPR yang mencuri perhatian.

NB :  rasanya saya perlu menyampaikan kesan saya pada beberapa anggota DPR yang mencuri perhatian saya. Seperti pesepakbola yang mendapat bola emas. The dream team, or  something like that. Maruarar Sirait, putra politisi senior Sabam Sirait. Saya terkesan dengan wibawanya ketika berargumen menundukkan Ruhut yang sering kebakaran jenggot di pansus, padahal pertanyaan tak mengarah padanya. Dengan tegas, logis dan gigih, Bang Ara mampu menghentikan ulah Ruhut. Sosok politisi muda yang tangguh terpantul dari sikap Ara saat itu. Saya juga terkesan ketika ketua nasabah Century mencak2 melampiaskan kejengkelannya pada manajemen bank Century dan LPS, saat  menyerahkan dokumen bercover merah pada Ara. Sirait muda ini bisa kalem dan memahami emosi koko yang tak segera menyambut jabat tangannya. Cool.

Akbar Faisal, politisi muda dari partainya pak Wiranto, Hanura ( Hati Nurani Rakyat ). Ia pun tak kalah gigih menghentikan ocehan Ruhut. Meski posturnya tak setegap Bang Ara, tapi  daya kritis dan ketekunannya mencari kebenaran patut dipuji. Idealis, terkadang melankolis, tapi mental jangan ditanya, sekuat baja ! Benar2 cerminan hati nurani. Andi Rahmat, politisi dari Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ). Salah satu yang paling muda, tapi pengetahuan dan analisisnya tak kalah dengan yang senior. Mendengarnya berbicara, seperti mendapat banyak informasi baru. Tercerahkan. Mantap.

Fachry Hamzah, rekan Andi di pansus, sama2 dari PKS, partai pilihan saya. Semula saya sempat mengeritiknya karena tanpa dasar meremehkan pendapat Danang, koordinator ICW yang sudah berbuat banyak menjadi watch dog bagi KPK hingga bisa menjadi lembaga seperti sekarang ini. Meski jago silat lidah, Fachry masih mendengar hatinya. Kalau istilah Mario Teguh, baja pilihan. Dalam merekrut orang untuk menjalankan perusahaan, pilihlah besi baja yang mudah dibentuk. Karena kita tak punya seluruh waktu untuk memperbaiki orang. Fachry, baja yang mudah dibentuk untuk kebaikan. Suaranya yang menggelegar, menunjukkan bahwa PKS yang santun, jujur dan bersih pun bisa galak dan garang, jika dihadapkan kepada kebatilan dan arogansi kekuasaan. PKS makin eksis dan terlihat publik. Seperti iklan produk kopi di teve ; dikira nggak laki. Pikir lagi.

Mahfudz Siddiq, politisi PKS, salah wakil ketua pansus Century. Pria muda yang santun dan berhati lembut, seperti Tifatul Sembiring. Mudah melunakkan hati orang. Tapi, tengok ketika ia menegur Ruhut yang mulai rasis ke Jusuf Kalla. Mahfudz bisa tegas dan menggetarkan nyali Ruhut. Saya juga senang melihatnya mau belajar pada Priyo Budi Santoso, wakil ketua DPR dari fraksi Partai Golkar. Ya, kita bisa belajar pada siapa saja. Ada orang baik di kelompok buruk. Ada orang jahat di kelompok baik. Nilai individu bukan dari kelompoknya, tapi niat, pemikiran, perkataan dan tindakan individu itu sendiri. Saya bandingkan Priyo dengan Marzuki ketika memimpin rapat. Priyo jelas jauh berada di atasnya. Terlihat saat memimpin rapat pemilihan ketua pansus. Anggota terlihat nyaman dan enjoy dipimpin rapat olehnya. Humor, serius tapi santai. Hasil pun bisa maksimal. Kepiawaian yang langka.

Anggota dewan satu ini sering muncul di televisi, bersanding dengan anggota PKS atau dikonfrotir dengan anggota Demokrat. Bahkan, menkeu Sri Mulyani pernah bersitegang dengannya. Saat Idrus Marham membacakan laporan Pansus di sidang paripurna  ‘mistery guest’ ini yang pertama interupsi. Yang sinis mengatakan, ini jeruk makan jeruk. Ia memang terkesan senang jadi pusat perhatian. Namun, seperti rekannya di pansus yang dihantam badai intimidasi, ia pun tetap teguh menolak bail out Century. Melihat semangatnya yang menggebu, kita harus ingat orang ini. Orang yang membuat kita menoleh ke Senayan. Siapa dia ? Ladies and gentlemen,.. Bambang Soesatyo.

Salah satu yang senior, Gayus Lumbuun, politisi dari PDIP, anggota Komisi III dan wakil ketua pansus Century. Saya sempat menyangsikan ketika ia adu urat leher dengan Ruhut dan O.C.Kaligis. Namun, tindakan walk out dari RDP DPR-Jaksa Agung, setelah pertanyaannya dicegat ketua Komisi III, Gayus menunjukkan kelasnya sebagai anggota dewan yang tak sudi disetir kekuasaan. Bagi wakil rakyat, keberpihakan pada rakyat adalah nomor satu. Baru kemudian, loyalitas pada partainya sepanjang tak bertentangan dengan kepentingan rakyat. Pandangan dan pengetahuannya tentang hukum memberi nilai tambah pada tugas2nya di DPR, sekaligus memperkaya wawasan anggota DPR lainnya.

Anas Urbaningrum, ketua DPP Partai Demokrat ini selalu kalem dan diplomatis. Bicaranya menyejukkan. Meski lawan bicara mencecar dan situasi genting, ia tetap terkendali. Saking cool-nya, sampai ia bergurau suatu kali akan lebih beriak/ emosi agar acara dialog yang menghadirkannya lebih menarik bagi pemirsa. Saya jarang menemukan orang seperti ini. Yang humble, santun, intelek tapi bicaranya diperhatikan dan perkataannya dipatuhi anak buah, bahkan sebawel Ruhut. Entah, karena pengaruh posisinya di Demokrat atau ada kualitas spesial dari kepribadiannya ? Saya curios, dimana ia mengasah kharisma itu ?

Lily Wahid, adik Gus Dur, anggota dewan dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa ( F-PKB ), salah satu inisiator hak angket Century. Saya terkesan akan keberaniannya berbeda dengan pandangan fraksinya. Teringat,  ia tak lelah mengacungkan tangan minta diberi kesempatan menyuarakan aspirasi rakyat. Meski tak pernah diberikan sampai akhir ( mungkin Marzuki kuatir perkataan Lily akan mempengaruhi pilihan anggota FPKB lainnya ), Lily tetap setia pada pilihannya membela rakyat. Uang rakyat sudah lenyap 300 trilyun, 700 trilyun, kini 6,7 trilyun. Apa kini masih tidak ada tindakan ? , sahut Lily ketika ditanya media. Ya, idealisme bukan milik kaum muda. Idealisme milik kaum ibu juga. Hidup rakyat !!

Nurul Arifin, anggota DPR dari Partai Golkar. Salah satu selebriti yang masuk Senayan ini membuktikan bahwa artis pun bisa berkiprah di DPR jika punya kepedulian dan perhatian yang besar pada rakyat. “Demokrat bilang suara rakyat adalah suara Tuhan. Saya katakan, suara Golkar adalah suara rakyat !”. Mantap. Rieke Dyah Pitaloka ( PDIP ) dan Tantowi Yahya ( Golkar ) juga berisi dan meyakinkan dalam menjalani perannya sebagai anggota dewan. Tak kalah dengan mereka yang berasal bidang2 lain.

“P3 kembali ke jalan yang benar. Opsi A cuma menangkap kroco-kroconya,” jelas A. Kurdi Mukri ( salah satu inisiator hak angket Century ) yang merintis pembelotan fraksi Partai Persatuan Pembangunan, yang memiliki 2 kursi menteri di KIB II. Secara mengejutkan, F-PPP yang sudah seperahu dengan Demokrat di voting pertama, pindah kapal ke opsi C di voting kedua. Biasanya, kaum bapak sesepuh menjaga jarak dengan anak muda. DPR sekarang yang didominasi kaum muda ( 70 % ) rupanya tak menjadi halangan baginya untuk berbaur. Sesepuh P3 ini bisa funky duduk berlima di anak tangga bersama Andi Rahmat, dkk. Semangat muda  Kurdi turut mewarnai dinamika sidang paripurna DPR.  Kita juga ingat sekjen PPP, Muhammad Romahurmuziy yang sering diundang televisi dengan pandangan2-nya yang mencerahkan permirsa. Hidup PPP !

Reporter MetroTV, pelobi sejati.

Special thanks to stasiun MetroTV  dan awaknya yang telah setia meliput sidang paripurna secara live, dengan menghadirkan nara sumber dan analisis yang bermutu. Apa yang terjadi ( terlihat ) di pansus selama 60 hari dan dalam sidang paripurna adalah babak baru dalam kehidupan berdemokrasi kita. Selama ini, saya mendambakan wakil rakyat yang pro-rakyat, komunikatif dan kompeten. Berkat pantauan Metro, sedikit demi sedikit gambaran wakil rakyat itu menjadi nyata. Saya lihat reporter2  Metro dalam mewawancara membawa semangat ( obsesi ) perubahan ke arah yang lebih baik, dalam hal ini kualitas anggota DPR kita. Mereka rupanya begitu menghayati hal ini ketika bertanya ( baca : melobi anggota dewan untuk memilih yang pro-rakyat ). Reporter Metro adalah pelobi sejati. So, thank you.

Opsi C yang terkenal itu.

Rapat Pari purna DPR RI akhirnya memutuskan bahwa kebijakan pemberian dana talangan terhadap Bank Century merupakan kebijakan menyimpang. Aparat penegak hukum diminta menindaklanjuti keputusan itu dengan memeriksa para penanggung jawab pengambil kebijakan tsb, termasuk mantan Gubernur BI Boediono dan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan ( KSSK ) Sri Mulyani. Opsi C intinya menyebutkan, telah terjadi penyalahgunaan wewenang oleh pihak otoritas moneter dan fiskal. Penyalahgunaan wewenang itu mengikutsertakan pemegang saham pengendali, pengurus dan manajemen Bank CIC dan Bank Century, serta debitur dan nasabah terkait sehingga terindikasi merugikan keuangan dan perekonomian negara.

Opsi C merekomendasikan institusi penegak hukum untuk melaksanakan proses hukum terhadap manajemen Bank Century yang diduga kuat telah melakukan tindak pidana tertentu. Sementara, opsi A menyebutkan bahwa kebijakan penyelamatan Bank Century merupakan kebijakan yang tepat. Ada pelanggaran, tetapi yang bertanggung jawab hanyalah pemilik Bank Century. ( PR, 4/3/2010  ).

Tagged with: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: