dari Palestina sampai Indonesia

Cirus yang vulgar ternyata doyan fulusnya Gayus.

Posted in indonesia, KPK by nurray on 06/04/2010

Denny Indrayana, staf presiden bidang hukum. Sebagian orang protes kenapa seorang staf bisa punya wewenang begitu besar ? Andi Arief, staf bidang bencana memang saya antipati, he's worst. Melihat SBY lamban dan tak bisa berbuat banyak, saya pikir untuk Denny, kita bisa buat perkecualian. Situasi sekarang menuntut orang baik di lingkar dalam istana berani melakukan terobosan dan bertindak. Denny, that's the guy.

Mas Achmad Santosa, mantan pimpinan KPK sementara. Bersama Denny, kini menjadi anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Keduanya berhasil membawa Gayus dari Singapura, kembali ke Indonesia. Melihat sosoknya, terpancar integritas yang mengundang respek. Maju terus, ganyang mafia, Mas !

Gonjang ganjing di negeri terwahid korupsinya, masuk sequel berikutnya. Markus kelas teri (  sudah bernilai 24,6 milyar ), Gayus Tambunan, dijorokkan ke tengah sorotan. Susno Duadji ( si whistle blower, yang baru ngeh tidak enaknya didzalimi, seperti ia lakukan dulu ke Antasari, Bibit, Chandra ), Satgas Anti Mafia Hukum, Tim Independen Mabes Polri, media, aktivis LSM, masyarakat anti korupsi dan seluruh rakyat Indonesia, tengah mempelototi  Gayus dengan seribu tanya di benak. Benang diurut darinya ke radius sekitarnya. Kalau satu Gayus bisa menjerat 6 tersangka (  pengusaha Andi Kosasih, pengacara Haposan Hutagalung, Komisaris Arafat, Ajun Komisaris Sri Sumartini, Lambertus dan Alif Kuncoro ) plus 2 jenderal polisi ( Brigjend Edmon Ilyas, Brigjend Raja Erizman ), maka berapa orang lagi yang akan terjaring jika 10 atasan Gayus ( sudah dinonaktifkan Menkeu Sri Mulyani ) juga diselidiki ? Setidaknya, ada 3 markus lagi di Mabes Polri yang belum tercokok, kata Susno. Wow.

Heii, di Kejagung, ada Cirus Sinaga, jaksa peneliti kasus Gayus yang tersorot, dan akan diteliti minggu ini. Pantas, Cirus begitu bersemangat mendiskreditkan Antasari dengan dakwaan picisannya. ( betul, kan, makin kasar seseorang, sebetulnya makin ketakutan dia. Ruhut Sitompul setipe dengannya. Coba PPATK lihat aliran rekening Cirus ). Cirus bukannya solider pada nasib jaksa Urip yang dipenjara 20 tahun, ia tengah ketakutan dicokok juga, jika Antasari masih jadi Ketua KPK yang tak pandang bulu. Istana tak bisa mengatur Antasari untuk tak menyentuh orang2 yang sudah cincai2 dengan SBY. Syamsul Djalal, mantan Jam Intel, juga meyakini ada markus di Kejaksaan Agung. Hendarman Supandji tahu. Tapi, ia tak bisa menyentuhnya, karena tangan2 kekuasaan yang menyuruhnya.Uang yang maha kuasa.

Si penyelundup minum kopi dengan presiden.

( Ingat cerita di Democrazy ep.28/3/2010 yang menghadirkan mantan Kapolri, Chairuddin Ismail, pakar komunikasi politik, Tjipta Lesmana, dan wartawan senior Budiarto Shambazy. Dulu, Kapolri Hoegeng yang jujur, mau melaporkan penyelundup mobil terbesar di Indonesia. Tak tahunya si penyelundup lagi minum kopi dengan presiden. Bukan si penyelundup yang ditangkap, tapi Hoegeng-nya yang dicopot. Keblinger, ya. Seperti juga SBY lebih memilih memvonis mati ketua KPK Antasari daripada mengecewakan Budi Sampoerna, pengusaha Tionghoa yang mendonasi kampanye SBY di Pilpres. Nama polisi rusak. Polisi bukan alat negara, tapi alat kekuasaan.

Kata Chairuddin, reformasi Polri sudah sejak 1999 dicanangkan. Soal kasus Gayus, jenderal tak mengurus kasus. Bosan. Ia bagian memikirkan kebijakan untuk memperbaiki kualitas penyidikan, misalnya. Kata Susno, reformasi di Polri tak jalan. Ketika orang mempertanyakan kenapa Susno baru mengangkat kasus Gayus setelah ia di luar Mabes, mantan Kabareskrim yang katanya sudah menyiapkan 3 brangkas peluru untuk menyerang balik Polri yang makin mengintimidasinya ( mengambil fasilitas dan mengorek kesalahannya ) mengatakan, di Mabes ia sudah melaporkan, tapi tidak dilanjuti. Di Mabes Polri, ada 5 orang yang menentukan sebuah keputusan ( termasuk menindaklanjuti kasus Gayus ) yaitu ; Kapolri, Wakapolri, Kabareskrim, Irwasum dan Kabag Intelkam. Jadi, ia tak bisa berbuat banyak, kalau yang lain tak setuju. Budiarto mengatakan ; lihat kebenaran dari isinya ( konteks kebenaran itu sendiri ), bukan siapa yang mengatakan.

5  pengambil keputusan di Mabes Polri. Why now ?

Henry Yosodiningrat, kuasa hukum Susno Duadji cuma mengatakan ‘nggak nyambung, nggak usah ditanggapi’ ketika Ruhut Sitompul mengejek Susno, kenapa baru sekarang Susno mempermasalahkan markus ? ( Today’s Dialogue – Tersangka Markus dari Level Bawah ). Saya geli, Ruhut lagi2 ngaku2 ; gara2 jasa pengacara seperti dia hingga akhirnya Bibit – Chandra bebas. Padahal, saya ingat betul Ruhut menyepelekan pengacara Bibit-Chandra di TVOne dengan mengatakan, KPK itu bukan miliknya pengacara Bibit-Chandra, seraya tertawa-tawa menimpa argumentasi pengacara Bibit-Chandra. Ruhut juga tak tahu malu mengklaim ‘jasa’-nya, pansus bisa baik sekarang, karena awalnya kacau dan dia yang memperbaiki. Dalam hati, kalau Ruhut tidak ada dari awal, bahkan tidak ada di DPR RI itu makin baik. Yah, tipikal sebagian orang Sumatera yang gemar mendompleng popularitas, ngaku2 prestasi orang lain tanpa urat malu, ada padanya.

( Saya harap Ruhut tidak diberi ‘panggung’ lagi, meski dimaksudkan untuk menggembosi citra Demokrat, demi kemunculan ormas Nasdem. Beberapa orang yang kritis mengerti siasat ini, tapi lebih banyak orang yang ( berpikir sederhana/ pragmatis/ kader baru ) akan menangkap, orang macam Ruhut ( yang nyaring bunyinya tapi tanpa substansi itu ) yang laku ditanggap. Yang seperti itu yang dipakai oleh teve, mendapat publikasi gratis. Mereka menggugunya. Memberi dukungan kepadanya jika sebuah keputusan akan diambil. Di komunitasnya, orang2 tak punya urat malu dan bebal ini mengira ia disukai. Kelakuannya tak berubah, karena merasa sudah diterima publik, merasa tak perlu memperbaiki diri. Dengan pede kelewatan dan suara lantang ( di Amazon ada suku yang bisa membunuh dengan kelantangan suaranya ) ia meningkahi argumentasi kebenaran sehingga tak terdengar oleh pemirsa, seperti ia lakukan pada pengacara Bibit – Chandra. Jadinya, pemirsa mendengar dan belajar yang salah. Padahal, kita butuh rakyat yang cerdas untuk mendukung kebijakan publik yang benar. Orang kita sangat visual, teve adalah buku pelajaran mereka.

Stage for good guys. Sadar SBY, sadar ..

Saya berpikir jika kita bisa memunculkan whistle blower di Mabes Polri ( Susno Duadji ) dan di Ditjen Pajak ( Gayus Tambunan ) untuk membantu mempercepat pembasmian korupsi di tubuh penegak hukum kita, kita mungkin perlu juga memunculkan orang baik di Demokrat, untuk membongkar para pembisik di lingkar RI-1, sehingga pertempuran melawan kebatilan, tidak terlalu berdarah-darah. Bisa cepat beres. Kita tahu semuanya terangkai, sejak Antasari tak sengaja menguping percakapan Susno dengan pengacara Budi Sampoerna, kasus bail out Century, sampai kasus Gayus hari ini.

Internal partai didorong untuk ikut membantu mengurai benang kusut di istana. Kita harus merangkul dan memberi ‘panggung’ pada orang2 berkualitas di Demokrat, supaya mereka tidak tertelan penjahat2 di partainya. Sebaliknya, bisa membuat insyaf SBY kalau dia masih punya hati nurani. SBY mungkin sekali waktu ingin berbalik ( pro-rakyat ), tapi peragu ini butuh orang2 benar untuk menguatkan hatinya. Kita harus merangkul sebanyak mungkin sumber kebaikan yang bisa kita raih, melihat skala dan masif-nya kasus yang digetarkan Gayus. Besar dan kompleks. Momentum Antasari, Bibit-Chandra, Anggodo, Century  tak ( belum ) sampai menggemingkan pemerintah dan lembaga penegak hukum kita.  Tak boleh disepelekan lagi. Kita harus powerfull kali ini. Sebuah pemikiran kenegarawanan, di atas kepentingan partai dan golongan. Kita berpikir untuk Indonesia.

Chevron, Newmont, dll, kena batunya. Who’s wrong ?

149 wajib pajak yang pernah diurus Gayus, diantaranya ; Chevron, Bumi Resources, Ford, Indocement, JVC, Excelcomindo Pratama, Kapuas, MC Dermott, Newmont, Nissan, Pertamina, Petronesa, Prudential Life, SMI, Sun Hyundai, Wijaya Karya, Indah Kiat Pulp. Apakah mereka semua bersalah ? 90 % kerugian negara dari kegiatan markus Gayus Tambunan. Sasmito Hadinagoro, sekjen asosiasi pembayar pajak, mengatakan, bisa jadi mereka tak bersalah. Tuntutan pajak dibikin sangat tinggi sehingga ada ruang untuk korupsi. ( Saya jadi ingat tes SIM yang dibikin sulit, supaya pemohon SIM menyogok penguji ).

Marzuki Alie pernah menjadi korban mafia pajak di jajaran Ditjen Pajak. Laporan 100 menurut ketua DPR yang berpengalaman mengelola keuangan perusahaan ini, lalu diperiksa petugas pajak jadi 1000. Terjadi negosiasi, si petugas minta dibayar 200, yang 100 buat si petugas. Si wajib pajak rugi. Modus kedua ; beban pajak 1000, ternyata bisa dibayar hanya 500 saja. Yang masuk kas negara 200, yang 300 masuk kantong petugas pajak dan atasannya. Namun, Marzuki tidak setuju gerakan boikot bayar pajak. Pajak adalah darahnya negara ( 70 % pemasukan negara dari pajak ). Reformasi di Ditjen Pajak tahun 2009 sudah memecat 500 pegawai. Sistem bagus, orang capable, tapi praktek tidak sehat, katanya.

Suara Publik PR ( 08176383xxx ) saat mengajukan keberatan atas PBB properti nonprofit program pemerintah, hasilnya nihil alias ditolak. Setelah diurus melalui oknum bisa berhasil, tapi syaratnya hasil pengurangan dibagi 2 antara markus dan wajib pajak. Ia merasa modus inilah yang dijalankan Gayus dengan wajib pajak kelas kakap, yang hasilnya sampai puluhan milyar. ( Hakim Pengadilan Pajak diisi pensiunan pegawai pajak, senior2-nya Gayus yang boleh jadi bermental markus juga. Pengadilan ini tidak tersentuh Komisi Yudisial, dll, sehingga bebas melenggang bertahun-tahun. Hasil pengadilan pajak mestinya dipublish ke publik, kata Darussalam, pengamat perpajakan. Agar leader tidak jadi dealer. Pemimpin tidak jadi penyedia jasa markus. Sebaiknya, sekarang, target penerimaan pajak bukan lagi tolok ukur penilaian, melainkan seberapa baik pelayanan pada wajib pajak ).

15 juta per bulan gaji Gayus/ Gol. III A. Jeoulus ?

Gayus adalah pegawai Golongan III A Direktorat Pajak Kementerian Keuangan. Setara dengan PNS lulusan baru. Gajinya 15 juta per bulan. Baru 2 tahun kerja di Ditjen Pajak, lulusan STAN tahun 2000 ini sudah punya 26, 2 milyar rupiah di tabungan. Bagian pengumpul berkas ini dipercaya mengurus pajak perseorangan dan perusahaan. Setelah 3 kali ‘bernyanyi’ di depan Satgas Anti Mafia Hukum, Gayus kabur ke Singapura, menginap di Meritus Mandiri Hotel.( Dari 55.000 orang kaya di Singapura, 1/3 –nya orang Indonesia. Dari 18 koruptor yang kabur dari Indonesia, 1/3-nya memilih Singapura ). Beruntung, Denny Indrayana dan Mas Achmad Santosa bertemu dengannya di Asian Food Court. Gayus ( 30 tahun ) yang kebingungan ( koruptor pemula, belum punya jaringan seperti 6 koruptor senior di Singapura, semacam Syamsul Nursalim, Joko Tjandra, Anggoro ), ketika diberitahu akan ditangkap polisi Singapura karena masuk Singapura dengan nama palsu dan paspornya diblokir, akhirnya memilih penjara Indonesia. Dengan pesawat Garuda, ketiganya bersama Kabareskrim Ito kembali ke Indonesia. Gayus ditahan di Mabes Polri, lalu dipindah ke Mako Brimo, Kelapa Dua.

( mirip ketika Bibit – Chandra mulai banyak menerima simpati massa, Mabes Polri tersudut media, lalu 2 pimpinan KPK itu dipindah ke Mako Brimob. Sepertinya, keduanya masih segan sehingga kasus Century tak banyak mengalami kemajuan di KPK. Tangan2 SBY masih kuat. DPR RI harus mulai menggulirkan Hak Mengemukakan Pendapat, biar MK yang menguji kebenarannya.  Penegak hukum yang lain saat ini belum bisa diandalkan. Iriawan yang masuk Tim Independen kasus Gayus, apakah Iriawan yang ‘menyandera’ Rani Juliani dengan sepasukan polisi ? Manggabareni yang menjadi Wakapolri, adalah polisi yang mempermak jasad Nasrudin agar sesuai dengan skenario penjebakan Antasari. Kapolri sudah membentuk 3 tim, yang juga memeriksa aliran dana ke rekening Susno agar mantan Kabareskrim itu tidak ‘menyanyi’ lagi. Kenapa orang2 yang sudah diketahui publik sebagai anggota konspirator penjebakan Antasari menjadi inner circle Kapolri dan anggota Tim Independen yang menyidik kasus Gayus ? Apa Kapolri mendapat upeti dari para markus ? Kantor markus bahkan berkantor di samping ruang Kapolri dan Wakapolri, kata Susno. It means something to you ? ).

Dari PN sampai MA ganjil. 24, 6 milyar baru kroco, belum biangnya.

Putusan bebas murni Gayus di PN Tangerang dipertanyakan banyak pihak. Pada awalnya, Gayus didakwa dengan 3 pasal berlapis, yaitu penggelapan, pencucian uang dan tindak pidana korupsi. Namun, di penuntutan, 2 pasal yakni pencucian uang dan Tipikor gugur. Jaksa Penuntut Umum ( JPU )  hanya menuntutnya dengan pasal penggelapan. Anehnya, Gayus pun terbebas dari tuntutan pasal penggelapan. Gayus bebas. JPU yang menangani kasus Gayus akhirnya diperiksa Jaksa Agung Muda Pengawasan ( Jamwas ). Mereka adalah Cirus Sinaga, Fadil Regan, Eka Kurnia, Ika Syafitri, dan seorang jaksa PN Tangerang, Nazran Azis. Ganjilnya, MA pun mengaku belum menemukan pelanggaran dari putusan hakim ( wah tangan kekuasaan sampai MA pula ). Perkara Gayus diketuai hakim M. Asnun dengan anggota Harran Tarigan dan Bambang Widitmoko.

Komite Pengawas Pajak ( KPP ), yang dianggotai Hikmahanto Juwana, mantan Dekan Fakultas Hukum ( FH ) Universitas Indonesia, meminta informasi terkait modus operasi penggelapan pajak yang dilakukan di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai agar celah atau titik rawan korupsi di 2 Ditjen itu bisa dibereskan atau ditutup, agar bersih dari para koruptor. KPP meminta masyarakat yang memiliki data/ informasi terkait penyimpangan di ke 2 Ditjen tsb agar menyampaikannya ke KPP.

Sri Mulyani meminta pegawai2 di 2 ditjen itu menyerahkan laporan kekayaan. Jika dtemukan kerugian negara dan unsur pidana korupsi, KPK bisa masuk. Jusuf Kalla meminta aliran dana Century diusut sampai ke tangan siapa ? Rizal Ramli, mantan menko perekonomian, meminta pemerintah menghentikan sementara ( moratorium ) di Kementerian Keuangan minimal satu tahun ke depan. Selama moratorium, pemerintah harus melakukan perbaikan sistem dan pengawasan agar tidak terjadi lagi penyimpangan dan makelar pajak. Perbaiki sistem, desain, kinerja dulu. Ia menyayangkan insentif sampai 8 kali lipat dari PNS lainnya ( digaji 2 juta/ bulan ) sudah diterapkan, padahal reformasi birokrasi yang dilakukan belum jelas perbaikannya. Substansi penerapan renumerasi dilakukan pada pegawai  secara perseorangan berdasarkan prestasinya, bukan secara keseluruhan.

Keputusan Menteri Keuangan no 164/MKM.03/2007 tentang Pemberian Tunjangan Kegiatan Tambahan Bagi Pegawai di Lingkungan Direktorat Pajak untuk menginisiasi masalah korupsi dengan asumsi lungsum gaji terlalu kecil. Grade pegawai terendah mendapat Rp.1,33 juta, grade tertinggi ( dirjen dan pejabat eselon satu ) menerima tunjangan Rp.32,54 – Rp.46,95 juta. Jadi, setiap tahunnya 4 trilyun lebih uang rakyat digelontorkan untuk Gayus dan atasannya. Katanya, renumerasi  diperlakukan untuk mencegah pegawai pindah ke swasta dan mau kerja keras mencapai target pajak. Tahun ini Rp.733,24 trilyun.Tahun 2001 Rp.577 trilyun. TNI ingin renumerasi di instansinya tidak dicabut, karena prajurit hidupnya sudah pas-pasan. Peringkat instansi paling akomodatif terhadap tindakan suap menurut survei Global Corruption Barometer yang dikeluarkan Transparency International akhir 2007 ; teratas Polri ( 48 %, artinya hampir separuh interaksi pelaku bisnis dengan Polri terjadi suap ), menyusul bea cukai ( 41 % ), imigrasi ( 34 % ), DLLAJ ( 33 % ), pemda ( 33 % ).

Kapolri, Jaksa Agung, Presiden diperiksa. PPATK  berani ?

Kalau saya, meminta PPATK untuk memeriksa rekening Bambang Hendarso Danuri, Jusuf Manggabarani, M.Iriawan, Edmon Ilyas, Raja Erizman, Susno Duadji, Hendarman Supandji, Cirus Sinaga, JPU kasus Antasari, majelis hakim PN Jakarta Selatan, Budiono, Sri Mulyani dan Susilo Bambang Yudhoyono ( plus  yayasan dan keluarganya ). Dengan data PPATK ( syukur2 mereka juga dihipnosis ), maka waktu kita takkan tersita oleh ketidakjujuran dan manuver2 busuk mereka. Antasari makin terbukti tak bersalah dan segera kembali memimpin KPK ( sebelum istana menyodorkan 5 pimpinan baru KPK, atau seorang akademisi jadi tak waras mengusulkan Susno memimpin KPK ). Nasrudin dan keluarganya, akan memperoleh keadilan ( Nasrudin dibunuh atas intruksi Kapolri Bambang, menuruti  SBY yang terganggu dengan prestasi Antasari, sekaligus terancam oleh kegigihannya. SBY disogok Boedi Sampoerna ). Hak Menyatakan Pendapat DPR akan mulus hingga ke Sidang MPR.

Tim 9, inisiator hak angket Century, Minggu ( 4/4/2010 ), menggalang dukungan dan pendapat dari sejumlah tokoh terkait rencana uji materi syarat menggunakan Hak Menyatakan Pendapat.  ICW menyarankan agar DPR tidak lagi menunggu KPK ( yang mengalami perlambatan ), tapi maju saja dengan hak tsb. Febri Diansyah mengatakan 75 % kasus korupsi yang ditangani Kejagung tidak jelas ( bebas, dihukum beberapa bulan saja ). Chairul Huda, penasehat ahli Polri, diingatkan tentang Tim Pemburu Koruptor yang sudah dibentuk sejak tahun 2004. Ada 20 kasus dengan 39 nama, tapi kabarnya tak jelas sampai sekarang.

Bravo Bang Buyung ! Mari  berantas korupsi sampai tuntas !

Adnan Buyung Nasution, jaminan integritas, konsistensi membela kebenaran dan berpikir dalam kerangka utuh ( nasional ). Kebenaran sebagian ( ada yang ditutupi ), lebih jahat dari kejahatan itu sendiri. Mabes Polri, Kejaksaan Agung dan kehakiman juga SBY getol menutupi ( memotong-motong ) kebenaran berkaitan dengan kasus Antasari, Bibit-Chandra, bail out Century, dan Gayus. Jahat sekali mereka ya, Bang ..

M. Assegaf diajak Buyung untuk bergabung menjadi kuasa hukum Gayus. Sebelumnya, Assegaf bersedia membela Susno, namun belum menandatangani surat kuasa hukum untuk mendampingi Susno. Ia kuatir terjadi konflik kepentingan. Dikatakannya, seluruh tim pembela Antasari akan maju membela Susno.

Adnan Buyung Nasution, menerima permintaan Gayus melalui istrinya, Milana Anggraeni, untuk menjadi kuasa hukum Gayus. Adnan menerima, karena Gayus dituduh perkara berat, sesuai dengan hak asasi dan martabatnya perlu dibela. Salah seorang pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ( YLBHI ) ini ingin membongkar jaringan korupsi di tanah air. Adnan masuk tahun 1957, jadi jaksa, karena benci korupsi. Setelah 53 tahun berkarya, Adnan masih bersemangat memberantas korupsi melalui bidang hukum yang amat dikuasainya. Bravo, Bang Buyung !

Buyung mengajak 2 advokat senior, Assegaf dan Hotma Sitompul, bersamanya. Keduanya juga kuasa hukumnya Antasari. Mungkin, mereka akan menemukan bahwa orang yang menjebak kliennya, juga bermain di kasus Gayus. Karena mereka tak mau  ditangkap  Antasari, mereka menjebak Antasari lebih dulu. Jika, bisa dibereskan, kasus Antasari juga bisa segera diselesaikan. Sekali kayuh, 2-3 pulau terlampaui. Buyung meminta Gayus jujur kepadanya, dan mengungkap semua informasi yang ia ketahui. Karena kebenaran yang sebagian ditutupi adalah lebih jahat dari kejahatan itu sendiri. Dibuka semuanya, agar porsinya masing2 ketahuan.

Di sisi lain, OC. Kaligis jadi kuasa hukum Andi Kosasih. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum akan  terus mengawal kasus Gayus agar cepat tuntas dan akurat, kata Denny Indrayana ( hati2 Iriawan, Den, ia bisa jadi mata2 untuk markus Polri  ). Satgas dibutuhkan untuk membuka sumbatan yang mungkin ada dalam proses hukum kelak. Masyarakat anti korupsi, media, LSM  akan mengawal kalian semua. Keep watching, guys ..

(  NB : Jika sudah sibuk begini ( Mabes Polri ‘kebakaran hebat’ oleh nyanyian Gayus dan Susno ), apa Kapolri Bambang masih sempat tebar pesona ( baca : mengalihkan perhatian masyarakat ) memburu teroris ?  Didramatisir, istilah Febri. Kemarin, di Afganistan ada pemimpin Taliban yang diamankan pasukan AS, padahal pemerintah Afganistan sudah bersepakat agar jangan mengusiknya sehubungan pemilu. Tapi, mana mau AS membiarkan Afganistan damai ? Sengaja direcoki agar konflik terus, sehingga mereka bisa terus memanen opium dan mencapai minyak Kaspia. Terorisme memang sengaja dipelihara tetap eksis di bumi para mujahidin, agar AS punya alasan tetap bercokol di situ. Seperti juga terorisme di Indonesia. Polri mencicilnya, sedikit demi, setiap kepepet/ terpuruk/ ketahuan belangnya. Kalau SBY masih mempertahankan Bambang Hendarso dan Hendarman Supandji, itu karena ketiganya simbiosa mutualisma. Bersama kita bisa ! (  baca : melayani kepentingan oligarkh  ).

Tagged with: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: