dari Palestina sampai Indonesia

AS kecanduan minyak, lumpur Lapindo, Anas ketum Demokrat, sekber bubar dan Antasari, the best candidate.

Posted in Amerika, indonesia, KPK by nurray on 03/06/2010

Anas Urbaningrum, terpilih menjadi ketua umum partai Demokrat, setelah bersaing dengan Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie yang didukung penuh oleh Cikeas. Pria santun kelahiran 1969 ini, kenapa sampai harus dihalangi menjadi pemenang ? Hubungannya dengan SBY baik2 saja, tapi dibelakangnya yang mengerikan, kata pengamat. Jaringan kuat yang dimiliki Anas, yang dulu memenangkan banyak suara untuk SBY. Buktinya, ketika Anas butuh suara itu, mantan ketua PB HMI ini mendapatkannya.

Where are the good guys ?

Pernahkan anda terfikir dan bertanya ? Where are the good guys ? Wise guy ? Mengapa hegemoni kekuasaan di dunia ini sampai ada di tangan2 orang jahat ? Bad guys rule the world. Isn’t that ashame ? Manusia ditugasi menjadi kafilah di bumi. Menjaga alam dan agama-Nya. Tapi itu tak ( belum ) terjadi di masa kita. Why ? Are we too weak ? Terlelap ? Atau terlena, dengan kenikmatan duniawi yang hanya sesaat ? Bukankah agama berkata, bila kita mencari akhirat, maka dunia pun kita peroleh ? Tapi kenapa orang2 pada ketakutan melepas harta bendanya, jabatan dan statusnya ( untuk sementara ), ketika kebenaran perlu dibela ? Begitu takutkah mereka dengan gunjingan sebagian orang di lingkungannya yang masih memuja harta ? Begitu kejamkah ( merendahkan ) sebagian masyarakat kita terhadap pembela kebenaran yang tak berharta ( atau dipenjara demi mempertahankan prinsip dan integritasnya ) ? Masih primitifkan warga kita dalam menilai orang ?

Tak setiap orang seberani anda, kata seseorang. Boikot produk zionis, apakah perlu keberanian ? Saya pikir hanya perlu kerelaan kita melepas kenyamanan untuk sementara. Atau berpikir lebih kreatif mencari atau menciptakan penggantinya. Nyawa tak sampai melayang melakukan ini. Mengutuk kebiadaban Israel akan lebih bermakna jika diikuti dengan aksi nyata memboikot produk zionis Israel dan Amerika, yang membiayai kebiadaban itu. MUI menyarankan para pengutuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza, that’s fine too. Anda bersedia ? Dalam skala negara, jangan jual minyak ke Amerika, Israel, negara2 pendukung invasi AS ke Irak dan Afganistan. Amerika dengan mayoritas rakyatnya yang masa bodoh dan boros ( jumlahnya 5 % tapi ‘meminum’ 25 % minyak dunia ) mesti diberi pelajaran. Seluruh Amerika, sponsor utama kekacauan di berbagai belahan bumi ini, cuma punya stok minyak untuk 2 minggu saja. Di balik topeng kedigdayaan mereka, sebagian mengatakan adidaya ekonomi, sebetulnya mereka sangat rapuh. Yah, mirip2 Cirrus Sinaga yang vulgar itu. Begitu garang dan kasarnya dia di ruang sidang, eh ternyata ia begitu, karena takut ketahuan kecipratan duitnya Gayus.

Amerika, si pecandu minyak, hanya bertahan 2 minggu.

Begitu depresinya Amerika ( karena kecanduan minyak ), sampai nekad merampok minyak dan sumber alam di luar negeri. Coba kalau para produsen minyak bisa kompak menghentikan ekspor ke Amerika cs. Kota2 mereka akan padam. Tombol2 dan kunci kontak pesawat pengangkut bom tak ditemukan para pilot karena gelap. Habis itu, tangki avtur-nya kosong lagi. It’s fun, right ? Belum lagi, 280 juta lebih rakyat mereka yang manja protes ke pemerintah, turun ke jalan2 menuntut macam2. Apa Obama, Netanyahu, antek serta anak buahnya sempat mengurusi para militan dan mbalelo di berbagai negara ? ( mereka, katanya, akan bikin gerakan serentak di banyak tempat untuk menyibukkan AS cs. Dari Afganistan sampai Papua. Dari Myanmar sampai Australia. Soal kekhalifahan, saya pikir kita mengajak dengan contoh simpatik dan kerelaan. Jika Indonesia maju, religius, kuat melindungi, siapa sih yang tak ingin nimbrung dan bersahabat dengan kita ? Agamamu bagimu. Agamaku bagiku. Soal hidayah, hanya Allah yang mampu ). Beranikah kalian ? ( eksportir minyak untuk memboikot ).

Kalian bayangkan, mesin perang Amerika dan Israel serta Uni Eropa pada ngadat kehabisan bahan bakar. Teronggok di jalan. Naik apa mereka ke tempat kita untuk menakut-nakuti ? Rudal, bom tandan ( juga fosfor, nuklir ) juga masih di gudang, karena pesawat pengangkutnya tak bisa terbang. Helikopter Israel kemarin takkan sampai ke kapal Mavi Marmara dan menewaskan 19 orang relawan kemanusiaan Gaza kalau tak ada BBM. Minyak dan produk zionis itu bargaining position kita. Mainkan dengan baik.

Pemikir melampaui jamannya. Gus Dur & Josh Tickell

Gitu aja kok repot ? Mendiang Gus Dur sering mengatakan ini. Semula saya terheran dengan pernyataan nyeleneh ini. Baru hari ini saya menemukan maknanya yang dalam. ( sebagian mengatakan pikiran presiden ke-4 Indonesia ini maju melebihi jamannya ). Betul, persoalan hari ini sebetulnya mudah solusinya. Yang membuat rumit dan complicated itu keraguan ( akan janji Allah, dan janji kemerdekaan kita ) dan nafsu hedonis manusia. Lumpur Lapindo Brantas yang sudah 4 tahun menyengsarakan warga Porong, Sidoarjo akan selesai persoalan ekonomi, sosial dan hukumnya kalau pemerintah mau pro-rakyat. Political will, istilah kerennya. Solusi menutup semburannya, menggunakan prinsip bejana berhubungan seperti yang kita pelajari waktu di sekolah. Bedanya, dalam tingkatan yang lebih rumit. Ada komunitas Drilling Engineering ( dari geologi ITB, UGM dan Trisakti, dll ) yang bisa ( bahkan bersedia di penjara kalau gagal menutup ) menghentikan semburan lumpur panas beracun tsb. Biayanya 1,3 trilyun. Cukup realistis, dibanding kerugian 45 trilyun tiap tahun yang selama ini diderita karena bencana alam buatan anak buahnya Aburizal Bakrie tsb.

( saya dengar di radio, Bakrie mengaku sudah mengeluarkan dana 7 trilyun untuk kasus Lapindo, dari penjualan saham2 beberapa perusahaannya, seperti Bumi Resources hingga tinggal 8,8 % yang dimilikinya. Menambah 1,3 trilyun lagi untuk menutup semburan, akan baik untuk pihaknya menunjukkan itikad baik pada masyarakat, menyelesaikan kasus ini. Jangan diplintir dan bermanuver lagi, rakyat tidak bodoh. Rakyat juga sudah capek. Anda tahu resikonya kalau rakyat menjadi gampang marah ? Tidak baik bagi bisnis anda. Anda juga tak perlu merendahkan martabat, diperalat SBY untuk menutupi skandalnya di Century. Bebas merdeka. Beri contoh yang baik pada anak cucu anda. Mana harga diri anda ? Lagipula, kapan lagi memberi kepercayaan pada anak2 muda Indonesia. Right, guys ? ).

How about Josh Tickell ? Anak muda dari Amerika ini sejak tahun 1998 mengolah 14 milyar liter minyak bekas menggoreng menjadi BBM. Dengan vegie van, bis energi hijau, Josh berkeliling menemui 10-20 ribu orang setiap tahun. Ia bicara dengan anak2 yang ditemuinya untuk memberi kesadaran hemat BBM. Ketika bicara dengan orang dewasa, mereka cenderung tidak peduli, tak berpikir. Gelap. Sedangkan, mata anak2 yang terlihat menyakini pencerahan darinya, Josh bisa bertahan dengan idealismenya. Keep going. “Kita harus bangun untuk meneruskan perang terhadap kecanduan minyak. Kalau tidak, untuk apa kita bangun ?!”, seru Josh lantang, penuh semangat. Orang2 seperti ini yang membuat saya masih memberi ruang pada Amerika. Juga, soal kedatangan Obama, demi harga diri seorang Josh, dan orang2 sepertinya.

Bencana alam buatan Lapindo. SBY mau berwisata dengan menghirup racun ?

Para ahli dalam dan luar negeri sepakat, kasus Lapindo karena salah pengeboran, ada serangkaian prosedur operasi pengeboran yang dilanggar sehingga mengakibatkan bencana sebesar itu. Saya teringat ucapan Sri Mulyani setelah mundur dari jabatannya sebagai Menkeu ; sebetulnya ketika masuk kabinet, menjadi pejabat negara, mereka tak melepas kegiatannya di bisnis. Melalui istrinya, anaknya, pamannya, keponakan, besannya, kerabatnya, om-nya, tante-nya dst bisnis itu terus berjalan. Kebijakan publik yang diputuskan setelah ditilik ternyata menguntungkan bisnis2 itu. Dan, orang2 itu mengirim wakilnya hadir pada rapat2 pengambilan keputusan. Jadi, ingat Marsilam Simandjuntak di kasus bail out Century dan bos Ramayana. Ingat juga, ketika Ical menjadi Menkesra, kasus Lapindo disulap menjadi bencana alam melalui corong2 media yang dikuasainya. 24 desa tenggelam, 250 hektar sawah dan 30 pabrik musnah, 14.000 warga menderita, lebih 30.000 orang terusir, tidakkan membuat Ical tergetar ?

SBY mengusulkan lokasi semburan Lapindo ( 180.000 titik sembur ) menjadi tempat wisata geologis. Ada 55.000 ppm hidro karbon, 10 juta m3 gas metana, 3 logam berat berbahaya, lumpur penyebab kanker, padi tak bisa tumbuh, air gatal, udara bikin mual dan batuk, bikin sakit dan banyak yang mati, di sana. Apa SBY mau ikut menghirup gas beracun dan amblas bersama tanah di sekitar lumpur ? Kalau tidak, jangan mengusulkan orang lain berwisata ke situ. Kapolri Bambang berulang kali mengatakan SBY menjadi sasaran tembak teroris. Nanti 17 Agustus-an. Anda bersimpati, seperti dulu SBY memainkannya di masa Megawati ? Rakyat jangan tertipu lagi. Nanti, kalau beneran, gimana ? Nee .. apa pedulinya kita ? Dia toh tak peduli kita. Go ahead, guys .. include Bambang Hendarso. Mabes Polri also. Mereka lebih mirip gerombolan kriminal berseragam polisi sekarang ).

Bos karbitan + karyawan sembrono = bencana nasional.

Sudah 4,3 trilyun dana APBN digelontorkan untuk menangani kecerobohan dinasti Bakrie. Perusahaan beranak pinak dengan gampang, riskan merekrut staf dan pimpinan yang tak kompeten. Karena si bos pemilik cenderung tak berkualitas, ia tak mampu mendeteksi karyawan berkualitas. Ogah kalah pintar dengan anak buah, jadi dipilih yang bodoh2 yang tak menyainginya ( biasanya yang akhirnya terpilih adalah penjilat, karena bawah sadar bos karbitan ini ingin dielus egonya dan kepercayaan dirinya rendah. Jadi, ingat SBY, ya ). Terjadilah yang namanya pengeboran seenak udel di Sidoarjo. Dan, lagi2 rakyat yang dibebani. Kemanakah gerangan para pelaku ceroboh itu ?

Mereka bilang bencana alam, tapi BNPB tak memiliki data. Aneh, kan ? BPLS tak berdaya ketika korban lumpur menagih sisa ganti rugi 80 % yang sudah terlambat dibayarkan ( dijanjikan dicicil 15 juta tiap bulan ). Ada 88 berkas yang belum menerima 20 % ganti rugi. 13 ribu lebih korban yang sudah menerima 20 %. Pemerintah seperti kasus Century kembali saling lempar tanggung jawab, menjadikan korban lumpur bola pingpong. Kompak tutup mulut. Perpres no.14 tahun 2007 cuma macan kertas. Terpikir juga, apa fungsinya pemerintahan sekarang ? Banyak persoalan pelit tak mampu dibereskan ( karena penjahatnya mereka sendiri ). Cuma bisa hadir di seremonial dan pidato saja. Useless.

Sekber koalisi, kapan bubar ?

Terjadilah ‘perkawinan’ sesama jenis antara SBY dan Aburizal Bakrie. Kartel politik. Dua orang ini saling menyandera satu sama lain. Awet rajet. SBY disandera perbuatannya menerima suap dari Budi Sampoerna dan mengamankan duit pengusaha Tionghoa itu di bank abal2 tsb. Kaki tangan SBY sampai perlu membunuh Nasrudin agar ketua KPK, Antasari dipenjara ( maunya Kapolri Bambang dihukum mati agar markus2 yang dipeliharanya/ memberi upeti padanya, tak terjamah hukum ) dan tak mengusiknya. Misbakhun ditahan agar nyali mitra koalisi mengkerut. Susno dikriminalisasi ( praperadilan penahanan dan usulan perlindungan di safe house BPSK ditolak, Susno diperpanjang penahanannya 40 hari ), supaya suara2 reformasi di kepolisian bungkam. Sekber/ sekgab dibentuk untuk mengikat mitra koalisi agar mendukung keputusan SBY, seegois dan seabsurd apa pun. Apakah Andi Rahmat, Fachry Hamzah, Bambang Soesatyo, Priyo Budi Santoso dkk, para anggota dewan pilihan, mau disetir mengikuti skenario tergres SBY cs ? Kita tunggu konsistensi keberpihakan mereka pada rakyat. Seberapa tebal urat nyali mereka ( juga urat malunya ). Mereka oportunis atau wakil rakyat sejati ? Keep watching, guys..

( Priyo, “.. kasus Century dipetieskan”, maksud anda cooling down/ diredakan dulu, bukan dibekukan/ ditutup kan ? Keseleo lidah, atau anda sedang memantulkan apa yang sedang diupayakan petinggi Golkar dan Demokrat di sekber ?Prof. DR. Jimly Asshiddiqie, SH, mantan ketua MK, di Today’s Dialogue MetroTV , 20/5/2010 mengatakan, rezim ekonomi mestinya nyambung dengan konstitusi. Kesejahteraan rakyat muaranya. Demokrasi ekonomi plus demokrasi politik, resultantenya sosial ekonomi. Ia juga mengatakan soal sekber jangan dicurigai dulu. Apa integritas orang2 di dalamnya bisa begitu saja dicampakkan untuk mengikuti apa maunya SBY ? Soal ini, hanya anda dkk yang bisa menjawab/ membuktikan ).

Parlemen dan presiden seranjang ? Kasar, ah ..

12 Mei 1998, 4 mahasiswa Trisakti di Grogol menuju Senayan, tewas. Tragedi ini memicu kerusuhan di seluruh daerah. 21 Mei 1998, presiden ke-2 RI, Soeharto, menyatakan berhenti. Kejahatan HAM, kejahatan KKN dan kejahatan tata negara telah diperbuatnya. Anda tak ingin tragedi semacam ini berulang, kan ? DPR jangan sampai mampet lagi menampung aspirasi rakyat. Evaluasi boleh dijalankan, tapi penyimpangan juga jangan dibenarkan. Pembuat kebijakan ( presiden ) dan pengontrol kebijakan ( DPR ) tak boleh satu kamar. Kasar, kata Taufik Kiemas yang sudah 25 tahun menjadi anggota DPR ( tumben, kali ini dia bisa bicara serius ). Jaman Soeharto tak sampai sekasar ini. 76,5 % suara bisa memutuskan segala-galanya, termasuk menghapus masa jabatan presiden. Itu kiamat buat negeri ini. Model presidensial kawin dengan parlemen adalah tirani. Dulu Soeharto dengan modus mengangkat.

Waktu reformasi tahun 1998, sebagian kewenangan presiden diangkut ke DPR, supaya presiden tidak menjadi tirani lagi. Sekarang dengan sekber, kewenangan itu seperti diambil lagi. Presiden tak berbakat pun, jika ada kesempatan di sekber bisa menjadi tirani. Di Asia Tenggara, hanya Filipina dan Indonesia yang memakai sistem presidensial. Lainnya, parlementer. Saya kuatir, senior2 kita yang meniru demokrasi di Amerika, akan berakhir dengan menyengsarakan banyak orang ( kota tenda warga Amerika yang di-PHK, invasi di negara2 muslim, merecoki urusan dalam negeri lain, dsb ). Apalagi, kalau DPR dan presiden seranjang. Anda bisa bayangkan power abused yang bisa terjadi ?

Cooling down ? SBY makin cuek, Mabes Polri makin menjadi-jadi.

Partai non pemerintah/ oposisi, bisa2 cuma formalitas, jadi penonton di pinggir arena penyalahgunaan kekuasaan. Konstitusi kita hancur lebur. Kasihan, Maruarar Sirait, dkk, yang telah bahu membahu bersama kalian mengawal Century/ kepentingan rakyat. Cek & balance. Penting menjaga stabilitas pemerintahan, tapi lebih penting lagi memperjuangkan kebijakan pro-rakyat. Lebih baik pemerintahan tidak stabil, daripada menjadi tirani. Ingat selalu, Allah selalu berpihak pada kebenaran. Tak ada yang meragukan dahsyatnya hukuman-Nya, pada yang ingkar. Presiden juga perlu diberi GBHN / Indonesian’s dreams, agar tak berjalan semau gue.

Sekarang momen kalian menjadikan DPR, kepercayaan rakyat. Kalian sudah memulainya dengan baik. Jangan kecewakan kami. Lihat apa yang terjadi selama cooling down ini. Mabes Polri makin sewenang-wenang menangkap, mengkriminalkan dan memenjarakan orang. SBY makin tak berperilaku seperti presiden yang semestinya menjaga penegakan hukum yang benar. Lebih baik untuk bangsa ini jika ia jadi warga biasa saja. Akan sangat berbahaya jika dengan kualitas serendah ini, ia terus di posisinya sekarang.Tantangan Indonesia kian rumit ke depan. Ia sudah menunjukkan tak bisa membela martabat Indonesia menghadapi klaim Malaysia, penyiksaan TKI dan pembunuhan warga kita di luar negeri, apalagi menghadapi arogansi Amerika dan Israel. Memegang janjinya pada Anggito Abimanyu, Nila dan janda veteran saja tidak bisa. Lalu, apa dong kerjanya ? ( selain mengadu dan pidato ). Kita perlu anak bangsa yang layak. ( good guy, please come out .. )

Susno yang sudah minta perlindungan Satgas Anti Mafia Hukum, DPR dan BPSK, malah ditahan dan diperpanjang penahanannya. Kasus mafia pajak dan markus yang dibongkar Susno kian lirih, nyaris tak terdengar. Celaka, kalau Indonesia sampai bangkrut gara2 para markus tak segera diciduk. Menyesal hingga ke liang kubur. Apa kalian sudah memperhitungkan ini ? Kasihani juga, para pengacara idealis dan LSM berdedikasi yang telah jungkir balik berjuang memperbaiki kondisi hukum, politik dan ekonomi yang carut marut di negeri ini. Jangan padamkan lilin semangat mereka. Indonesia membutuhkan mereka. You need them, too .. ( especially, after resign ).

Lanjutkan memantau kasus Century di KPK. Lanjutkan mengumpulkan tanda tangan Hak Mengemukakan Pendapat, ya .. Lebih cepat lebih baik. Bang Ara sudah didaulat korban lumpur untuk mengulirkan pansus Lapindo, pak Jusuf Kalla sudah berjanji menangani kasus Lapindo jika terpilih. Ical bisa kerjasama dengan komunitas Drilling Engineering ITB, UGM dan Trisakti menghentikan semburan lumpur. DPR bisa terus mengawal opsi C agar negara tidak kebobolan lagi. Lembaga hukum kita bisa dibenahi. Birokrasi bisa direformasi. Anggota dewan menjadi kesayangan rakyat. Masa depan bangsa terselamatkan. Isn’t that nice ?

Anas, dengan revolusi sunyi mengungguli Andi dan Marzuki. Quiet, please ..

Anas Urbaningrum terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat 2010-2015. Selamat, ya. Cikeas menjagokan Andi Mallarangeng dengan mengutus Edhi Baskoro. Kenapa ? Pendatang baru di Demokrat ini tidak punya jaringan sesolid Anas yang sewaktu-waktu bisa menjerat SBY atas dosa2nya. Harapan SBY, tentu, kepemimpinan Demokrat bisa diestafetkan ke anggota keluarganya, sehingga peluang bebas dari jerat hukum makin besar. ( mungkin SBY berharap setelah sesepuh Soeharto baru diusik, sehingga bisa berdalih stroke atau ingatan lemah ketika akan diadili. Cerita selanjutnya masuk kubur, langsung berurusan dengan malaikat kubur, mendapat siksa kubur yang berlipat-lipat, yang penting tidak dilihat keluarga dan rakyat Indonesia, batinnya. Citra .. oh, citra .. hingga dibawa ke alam kubur ). Tapi sayang, Andi kalah cerdik dengan Anas. Andi menghambur-hamburkan uang untuk iklan di media dan baliho. Anas cukup “Revolusi Sunyi”, merangkul ketua2 DPD se-Indonesia yang selama ini sudah ia jaga hubungan baiknya.

Cikeas mengutus Yahya Sacawirya, wakil ketua DPR untuk pindah dari kubu Anas ke kubu Andi. Belum cukup itu, Marzuki Alie menyusul belakangan diorbitkan juga sebagai kandidat ketum. ( Saya pikir sebelumnya suara Marzuki akan diserahkan ke Anas jika Andi memenangkan banyak suara, seperti yang dilakukan Hasyim Muzadi, saat pemilihan ketua PBNU beberapa waktu lalu. Melihat merengutnya Marzuki ketika kalah dari Anas, saya baru paham, Marzuki menuruti Cikeas daripada memilih yang benar. Kualitasnya hanya sekedar pion kekuasaan, bukan pemimpin kredibel. Jangan pilih mereka di pileg atau pilpres 2014. Andi dan Marzuki bisa jadi duri dalam daging dalam kepengurusan nanti, kalau orientasinya Cikeas. Integritasnya diragukan.

Di luar idealis, di dalam ideku atau ide bos.

Saat Andi di luar pemerintahan, menjadi narasumber MetroTV, ia seperti bisa menjadi harapan kita untuk ikut membenahi pemerintahan. Ternyata, setelah di dalam, menjadi asal bunyi dan serupa. Mengapa orang menjadi tak bisa diandalkan setelah ada di lingkungan istana ? Begitu pekatkan aroma penyimpangan di sana, hingga tak kuat mempertahankan prinsip hidup dan kebenaran ? Kenapa pemimpin yang seharusnya digugu dan terdepan dalam keberanian dan moral, menjadi sekedar corong markus istana dan pion Barat ? Hatinya menghitam, telinganya menuli, matanya membuta ketika disituasikan memihak pada rakyat ? Mereka digaji oleh rakyat, tapi memilih menelantarkan rakyat daripada jabatannya hilang. Saya tak tahu siapa yang lebih gila di sini, SBY cs atau sebagian rakyat yang membiarkan ? ( karena pertimbangan2 duniawi pula. Benar2 paham sekuler menemukan momentumnya ).

Anas unggul di putaran pertama, unggul pula di putaran kedua, padahal pemilih2 Andi diarahkan memilih Marzuki. Bisakah kita pahami kemenangan SBY dulu karena jaringan kuat yang memilih Anas sekarang ? SBY takkan menang di 2 pilpres kalau tak ada ‘gerilya pasukan’ Anas. Siapa pun yang menang, SBY tetap yang berkuasa, kata SBY. Oh, itu dia pengakuan sebenarnya dari sutradara gagal pemilihan ketum. Jadi, memang benar Andi, Yahya dan Marzuki diutus mengamankan kursi SBY bertahun-tahun kedepan. Apakah Anas mau dijadikan pion SBY ? Selalu menarik mengamati orang kuat dalam masa ‘pertumbuhan’-nya. Akankah ia kandas atau bertahan diterjang badai ? Kita lihat seberapa pandai Anas ‘menari’ ? Seberapa pantaskah ia menjadi RI-1 ? ( Gus Dur bisa terdepak dari PKB yang dibuatnya. Amien Rais bisa tak dihiraukan oleh ketum partai yang didirikannya. Muhaimin Iskandar dan Hatta Rajasa kini sekedar pion SBY. Saya rasa Anas juga tak perlu tunduk dengan kemauan SBY, apalagi sampai mengkhianati kepercayaan rakyat. Distrust terhadap SBY semakin besar, Anas tak perlu ikut berkubang dengannya di sana.

Agus grogi bersumpah, SBY enteng2 saja, kok.

Agus Martowardjoyo, pengganti Sri, grogi ketika mengucap sumpah,”.. bertanggungjawab terhadap bangsa dan negara. Setia pada UUD 1945 ..”. SBY meminta Agus mengulangi sumpah. Apa yang anda baca dari adegan tsb ? SBY mungkin menganggap Agus tak konsentrasi mengikuti sumpah. Rutinitas, formalitas tak bermakna. Orang yang bermain di area kulit memang biasa berpikir enteng. Semua demi sedap dipandang mata. Soal kesungguhan menepatinya pada Allah itu soal tersier. Agus yang menjaga benar integritasnya, dihargai luar negeri sebagai pemimpin unggul di sektor perbankan, tentu tak main2 dengan sumpahnya. Di depannya, ada bos yang menjerumuskan pendahulunya, Sri Mulyani yang sudah membela mati-matian SBY di DPR. SBY yang tak sudi pasang badan atas skandal Century, sedang meminta Agus bertanggungjawab pada rakyat atas perbuatan yang nanti diperintahkannya ? Bagaimana bisa ? Sementara, kasus Century, Lapindo, Anggodo, Ramayana, Antasari, markus2 di Mabes Polri semua ditutupi dan dibungkam dengan aneka modus. Menyedihkan melihat bangsa sebesar ini dibonsai oleh pemimpin tak cakap dan rajin berbohong seperti dirinya. Anda bisa merasakan kegalauan saya ?

Soal kepindahan Sri ke Bank Dunia di Washington, ICW mengatakan bukan karena prestasi profesional Sri, tapi karena Indonesia menjadi pengutang terbesar di World Bank ( lembaga zionis ) dalam paket perubahan iklim di masa Sri menjadi Menkeu. Wanita yang dijuluki ‘iron lady’ dari Indonesia ini ternyata bisa menitikkan air mata di depan podium saat perpisahan di Kementerian Keuangan. Menkeu tak boleh menangis, pak Agus, nanti rupiah bergoncang. Ini adalah ekspresi kelegaan. Saya adalah pemenang, karena saya menolak menggadaikan nurani. Saya tak perlu berpura-pura lagi. Pagi, siang, sore, malam, saya menjadi orang2 yang berbeda. Sampai anak saya bingung, saya sedang menjadi siapa saat ini, katanya. ( Lalu saya teringat Ani Yudhoyono, Boediono, Edhi Baskoro, orang2 di sekitar SBY, apa mereka juga sedang berpura-pura ? Tampil senyum, seolah tak terjadi apa2, meski Nasrudin sudah dibunuh, Antasari, Williardi dipenjara, Misbakhun, Susno ditahan demi seorang SBY, yang tak jelas jasanya bagi bangsa ini. Kehancuran tatanan hukum di negeri ini yang sudah pasti diperbuatnya. Bagaimana mereka bisa tersenyum dan bersandiwara di atas penderitaan orang yang bersusah payah menegakkan kebenaran ? Bagaimana orang tua SBY membesarkannya dulu ? Hingga bisa sebebal ini, sepengecut ini, seegois ini ? Triple standard, bahkan semau gue. Standar gue. Apakah anda juga bertanya-tanya ?

Ia tak seberani yang kita duga. Mercy, please ..

Hutang2 yang dikatakan ICW, saya sangat ingin berpikir, untuk memperbaiki hutan2 kita, untuk menutupi kekurangan APBN kita, something like that, supaya BBM tidak dinaikkan lagi seperti sekarang. Sepeda motor disarankan beralih ke pertamax, premium akan dinaikkan harganya. Transportasi massal ( monorel, kereta api, busway, dll ) yang mendorong penghematan energi didorong untuk dikembangkan. Kita tak bisa bernegosiasi dengan alam. Persediaan minyak dunia kurang dari 1000 milyar barrel. Puncak pemakaiannya tahun 2020 ( Ary Ginanjar menyebutnya Golden Age ), setelah itu terus menurun hingga habis. Di Ghawar, minyak dieksplorasi 4 milyar barrel per tahun. Itu baru satu tempat pengeboran. Belum tempat2 lainnya di seluruh dunia. Di dalam laut, di bawah hutan, di gurun pasir, di ngarai dan lembah2.

Saya tidak hidup masa Kartini. Saya belum pernah melihat ada menteri wanita dari bangsa ini yang bisa sefasih itu mengutip pasal dari peraturan sebanyak itu, relatif paham soal keuangan, tangguh menghadapi cecaran anggota dewan dan hujatan masyarakat. Setengah terpesona. Antasari dan Sri Mulyani, keduanya berkarakter. Betapa beruntungnya SBY dibantu 2 orang hebat ini. Sayang, ia memilih skandalnya. Betapa sia2nya .. )

Langit memiliki kehendaknya sendiri.

Lebih heroik, jika Sri mengaku terus terang siapa yang menyuruhnya memberi bail out Century. Sehingga orang2 tak bersalah tak terus dikorbankan. Kursi direktur pelaksana Bank Dunia tentu lebih nyaman ketimbang kursi pesakitan yang diduduki Antasari, atau sel pengap di Kelapa Dua, seperti yang didekami Susno. Sri memang garang di kabinet dan kementerian, tapi ia tak cukup berani menentang arus dan menjadi martir. Tak setiap orang berani. Akhirnya, saya hanya bisa menghibur diri dengan mengingat perkataan bijak filsuf Konghucu, “Langit memiliki kehendaknya sendiri”.

Setelah waktunya tiba, semua akan terjadi seperti rencana-Nya. Tak ada yang bisa memajukan atau memundurkan walau sedetik. Setelah semua usaha keras dan perjuangan gigih, Yang Maha Adil akan menurunkan hukumannya pada saat yang dikehendaki-Nya. Di dunia dan di akhirat. Jaga staminamu, kawan .. ( Selamat bertugas di Amerika, bu Sri. Jaga dan perjuangkan kepentingan bangsa Indonesia dengan seluruh daya, kemampuan dan nurani anda. Anda dan Antasari tetap jagoan saya. Mungkin akhir seperti ini, smooth landing, yang diberikan Allah atas doa anda, saya dan orang2 yang menyayangi anda. You’ll be back, your fans asked. By the way, thank you for listening your heart, this time. Be careful, and good luck ..! ).

Farhat Abbas, peselingkuh mengaku bersih. Yakin, bukan titipan koruptor ??

“Ayo, cari kehidupan !”, kata sepasang sejoli di keramaian Sin City, Las Vegas. Kota yang kasino2-nya beromzet 6 milyar USD lebih per tahun ini, paling rakus melahap energi. 4 mobil untuk 5 penduduk. Amerika adalah negara yang digambar dengan minyak bumi. Besi, kaca, semen, plastik, mobil, aspal, rumah, gedung, kota, insektisida, pupuk, pertanian intensif, semua dibuat dengan minyak. 11 liter minyak untuk membuat ponsel, 300 liter minyak untuk membuat komputer, 600 liter minyak untuk membuat mobil. Las Vegas, kota gemerlap yang hidup 24 jam sehari. Warganya menggunakan minyak bak air ledeng. Seperti tak ada habisnya. Ketika ditanya soal kelangkaan minyak bumi, yang membuat Amerika mengobrak-abrik Timur Tengah, mereka cuma tertawa.”Kami dengar begitu, tapi saya tak sepesimis anda. Ayo bersenang-senang !”

Begitulah gambaran sebagian besar orang Amerika. Mereka seperti hidup di dunianya sendiri. Jika mereka dilahirkan, atau dicampakkan ke Palestina, Irak dan Afganistan sebagai orang papa yang disiksa, mereka akan sadar, terdesak keadaan, untuk berhemat. Menjadi miskin, sangat sedikit ruang bagi kesalahan. Tak ada uang untuk melicinkan segala urusan. Sedikit kesalahan, orang bisa mati atau dipenjara. Terlempar ke jalanan, resiko sehari-hari. Menjadi kaya, sangat lebar ruang untuk berbuat sembrono dan khilaf. Orang2 kaya cenderung mementingkan diri sendiri. Asal perut sendiri dan keluarganya terisi, habis perkara. Masa bodoh orang dibantai untuk memenuhi gaya hidupnya yang mewah. Farhat Abbas, anak pengacara kondang, setali 3 uang. Ia sesumbar akan menonaktifkan Chandra dan Bibit jika terpilih sebagai pimpinan KPK. Aneh bin ajaib. Hati dan pemikirannya sehaluan dengan O.C. Kaligis, bandot gaek yang doyan fulus. Sama2 demen membela koruptor. Pantas saja.

Otak minim, nurani tekor, harta koruptor pemolesnya. Who ?

Suami Nia Daniati, yang pernah kepergok selingkuh, kawin siri dengan wanita yang lebih tua darinya, apa tidak pernah ngaca ? Tahun lalu, melamar jadi pengacaranya Antasari saja sudah ditolak. Kucing-kucingan dengan wartawan, setelah gagal. Melamar jadi pimpinan KPK, apalagi. Umurnya, baru 34 tahun, bo. Muda2 berbakat jadi pengacara hitam. Tidak semua kaum muda bernilai, ternyata. Ada yang meneruskan tradisi senior2-nya yang sesat. Regenerasi para dark sider. Seperti Kaligis, ia tentu perlu duit haramnya para koruptor untuk mempertahankan gaya hidupnya yang mewah. Kalau otaknya nyaris kosong, apalagi yang dibanggakan, kalau bukan harta, kan ? Wajah ngepas, pipi gembul, badan subur, selingkuh lagi. Kasihan Nia.

Dari mana tuh harta ? Orang2 berkarakter tak sudi dibela orang2 yang nuraninya blong dan isi kepalanya pas-pasan. Larinya tentu ke orang2 yang serupa dengannya. Iman tipis, duit tebal hasil menggarong uang rakyat. Kalau KPK tidak joss, bisa ia bikin mandul, kan populasi koruptor tak menipis. Para pengacara hitam, sponsornya, bisa terus ketiban rejeki haram. Ia kecipratan, cincai2. Di depan Nia, ia bisa pamer ( kompensasi keterpurukan dulu akibat kepergok selingkuh ), aku pimpinan KPK sekarang. He, he, he … keren ? Antasari, Bibit, Chandra masuk bui ? Ah, tauk ! Dihukum mati ? Ah, syukurin loe semua !

Uji materi usia pimpinan KPK, maksa deh …

Orang2 macam Farhat, yang hidup senang sejak lahir, tak pernah bisa menjangkau penderitaan orang miskin, terpinggirkan oleh negara. Kata2 miskin hanya numpang lewat. Hal absurd yang tak bernilai. Yang dipikirkannya, sebatas wanita cantik yang ditidurinya, kolam renang, rumah, mobil mewah dan anggukan iri para tetangga. Go to hell for others. Yang dipermasalahkan cuma praperadilan Bibit-Chandra, sementara missing link Ari Muladi-Yulianto ke Bibit-Chandra tak pernah sampai pikirannya. Otaknya tak menjangkau itu. Ia biasa dipermudah sejak kecil. Tak pernah dikondisikan berpikir keras untuk keluar dari masalah hidup. Apalagi menghadapi psikopat. Kan, ada duit bokap. Beres. Lagi pula, memang bukan itu maksud tujuannya. Yang penting, fulus tetap mengalir ke kantongnya. One way or another.

Farhat mengajukan uji materi batas usia pimpinan KPK ke MK. Aturannya 40 – 65 tahun. Farhat dan Kaligis praktis gugur. Tapi, presiden RI ada yang umurnya 35 tahun. Masak pimpinan KPK mesti 40 tahun ? Sebagian mengatakan, minimal 35 tahun, disamakan dengan presiden. Ini artinya Bambang Widjojanto, rekan Ahmad Rifai, pengacara Bibit-Chandra yang garang dan cerdik bisa masuk. Pengalaman 15 tahun di bidang hukum, meski lulusan sarjana ekonomi, keuangan, perbankan, akuntansi, dll, diperbolehkan. Teten Masduki, yang sarjana kimia, masuk. Pimpinan KPK harus berani, cerdas dan jujur, kata Gayus Lumbuun, anggota Komisi III DPR RI yang melamar ikut seleksi pimpinan KPK. Rheinald Kassali, anggota pansel menambah syaratnya dengan berkarakter, berintegritas tinggi. Orang yang banyak disukai, bisa jadi tak berkarakter. Orang berkarakter memegang teguh prinsip, sehingga punya musuh. Orang yang suka berkompromi, dicoret.

Antasari, the best candidate. Bring him here ..

Kenapa susah2 mencari, pak ? Antasari memenuhi syarat. Begitu berkarakternya beliau, sampai musuhnya setingkat RI-1, pejabat puncak di kepolisian, kejaksaan dan kehakiman. Semua diselidiki kasus korupsinya. Antasari sudah membuktikan keteguhan prinsipnya, sehingga tak mengecualikan siapa pun. Setiap warga Indonesia sama kedudukannya di hadapan hukum. Dari maling ayam sampai perampok uang negara, tak terkecuali. Karena keteguhan prinsipnya, Antasari difitnah membunuh Nasrudin, agar skandal RI-1 tidak ketahuan. Setelah Antasari melakukan tugasnya dengan gigih dan benar, kalian melupakannya ? Kalian percaya begitu saja ocehan Mabes Polri yang semau gue mengkriminalisasi dan menangkap orang. Apa jaminan pimpinan KPK yang baru tak bernasib seperti Antasari jika ia menjalankan amanah rakyat dan konstitusi ? Sebetulnya, kalian maunya apa ? Semua mesti jadi kebo dicocok hidungnya mengikuti kemana pun Si Bu Ya pergi ? Ini negara apaan sih ??

Saya tak pernah menyetujui pansel pimpinan KPK di bawah rezim SBY. Patrialis Akbar, Menkumham, ketua pansel ini terlihat tidak kredibel di banyak kesempatan, sangat kental pembelaannya pada apa pun yang dikatakan SBY. Meski ada pengacara sekelas Todung M.Lubis, tapi aroma kepentingan kubu SBY masih kental di sini. Jika, DPR menolaknya untuk 4 tahun, fine with me. Menolaknya sama sekali, even better. Tapi DPR tak bisa menolaknya, UU hanya boleh pilih satu di antara dua, kata Denny. Seperti juga SBY hanya diperbolehkan UU untuk membentuk panitia seleksi. Tak boleh menyodorkan kandidat pimpinan KPK. Tapi pengalaman empiris, SBY bisa memerintahkan Mabes Polri menghentikan penyidikan Boediono, menyuruh Sri Mulyani memutuskan bail out ke Bank Century, menyuruh hakim2 PN Jaksel memvonis Antasari 18 tahun penjara, mengiyakan Misbakhun ditahan, Susno ditangkap. Apa jaminan SBY tak merecoki persoalan lebih sepele seperti seleksi pimpinan KPK ? Apalagi SBY sudah diujung tanduk.

DPR sekarang dengan yang dulu, bedakan. Katanya, pengen wakil rakyat yang berkualitas.

DPR RI 2009-2014, jauh lebih baik dari DPR RI sebelumnya. Jangan skeptis dan memandang miring anggota parlemen yang 70 % diisi kaum muda. Mereka lebih baik daripada SBY yang menugasi kalian. Nada bicara kalian ( anggota pansel, nara sumber “Polemik” Trijaya FM ) mendiskreditkan anggota DPR sekarang. Coba, beri kepercayaan pada yang muda2. Segelintir yang kurang bermutu, jangan merendahkan penilaian kalian kepada mayoritas yang lumayan. Kalau suka pada kandidat pimpinan KPK, mereka ( anggota DPR ) akan minta 4 tahun. Kalau tidak suka, cukup satu tahun, kata kalian seraya tertawa. Itu tabiat anggota DPR sebelumnya. Bedakan antara DPR lama dengan DPR baru. Kalau ingin kualitas anggota dewan meningkat, jangan terus melabeli mereka dengan yang buruk2. Apalagi tidak sesuai kenyataan, hanya mereferensi anggota DPR yang sudah2. Be wiser, ok ?

Jadi ? Prioritas utama : Antasari dibebaskan, direhabilitasi nama baiknya, dikembalikan menjadi ketua KPK. Ini penting, untuk pelajaran publik, bahwa yang gigih berjuang dan teguh menegakkan kebenaran, tanpa pandang bulu, dihargai negara. Pilihan berikutnya, baru Teten Masduki, Todung M.Lubis ( kalau anggota pansel boleh mencalonkan diri ) atau Bambang Widjojanto ( kalau MK mengabulkan minimal 35 tahun batas pimpinan KPK ). Kaligis dan Farhat sudah pasti ke laut. Mimpi buruk apa semalam, 2 orang ini sampai nongol ? Indonesia much better without them.

( Jika tidak terpilih saya tetap akan membela para koruptor. Tidak ada larangan untuk itu, kata Farhat enteng pada Fessi Alwi menutup dialognya di MetroTV. See ? Sama sekali tak berkarakter. Coret saja dia, pak Rheinald ).


Iklan
Tagged with: , ,

Timwas Century, Komisi III DPR, KPK periksa Sri dan Boediono. Terhambat ?

Posted in indonesia, KPK by nurray on 03/05/2010

Bibit Samad Rianto, mantan Kapolda Jawa Timur yang kini menjadi pimpinan KPK. Ia tersandera dengan keputusan PN Jaksel yang mengabulkan gugatan praperadilan Anggodo yang membatalkan SKPP kasus kriminalisasinya bersama Chandra Hamzah. Maju tak gentar, pak Bibit ! Jika DPR siap 1 x 24 jam menggunakan Hak Menyatakan Pendapat di Paripurna, maka KPK bisa melesat maju menjalankan Rekomendasi Pansus Century. Punya peluru dahsyat & kartu truf membabat markus istana. Sikat juga si Marsilam. Pilih diperiksa di Gedung KPK atau besok SBY lengser, pak Boed ?

Tim Pengawas Rekomendasi Century akhirnya terbentuk, guys. Tim ini punya 3 tugas utama ;

  1. mengawasi pelaksanaan rekomendasi angket Pansus Century, agar pihak2 yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi perbankan segera ditindaklanjuti oleh yang berwenang.
  2. meneliti karut-marutnya aliran dana Century
  3. melakukan proses pemulihan aset

Kita pantau kerja mereka. Semoga hasilnya memenuhi harapan kita semua.

Nah, sementara masalah Century sedang dibahas oleh DPR dan KPK, tiba2 ada surat dari SBY terkait usulan pencabutan Perppu no.4/2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan ( JPSK ). Kalau surat itu sampai diterima DPR maka pejabat yang terkait skandal Century selama ini akan bebas dari jeratan hukum. Pimpinan DPR dan pimpinan fraksi DPR RI kembali terbebani dengan surat tsb ( upaya perlambatan kerja Timwas kayaknya. Ada aja ).

Senin malam ( 26/4/2010 ) di rumah Menteri UKM, Syarif Hasan, ada pertemuan partai koalisi Yudhoyono – Boediono. Mereka sepakat tidak menggunakan Hak Menyatakan Pendapat ( dulu ), tunggu proses Timwas. Hmm .. apa bisa kencang kerjanya, di saat kubu SBY sudah intimidasi ( tangkap ) sana sini ? Let’s see ..

Tim yang dipimpin secara bergilir oleh pimpinan DPR RI ( Priyo Budi Santoso, Marzuki Alie, Pramono Anung, Anis Matta, Taufik Kurniawan ) secara bergantian ini beranggotakan 30 orang, yaitu :

  1. Ignatius Mulyono ( F – Demokrat )
  2. Soetan Bathoegana ( F – Demokrat )
  3. Vera Febianthy ( F – Demokrat )
  4. Jafar Hafsah ( F – Demokrat )
  5. Achmad Ahsanul Qosasih ( F – Demokrat )
  6. Didi Irawadi S. ( F – Demokrat )
  7. Gede Pasek Suwardhika ( F – Demokrat )
  8. Anas Urbaningrum ( F – Demokrat )
  9. Ade Komarudin ( FP Golkar )
  10. Agun Gunanjar Sudarsa ( FP Golkar )
  11. Azis Syamsuddin ( FP Golkar )
  12. Idrus Marham ( FP Golkar )
  13. Melchias Marcus Mekeng ( FP Golkar )
  14. Bambang Soesatyo ( FP Golkar )
  15. Sidarto Danusubroto ( FPDIP )
  16. Hendrawan Supratikno ( F-PDIP )
  17. Gayus Lumbuun ( F-PDIP )
  18. Ganjar Pranowo ( F-PDIP )
  19. Trimedya Panjaitan ( F-PDIP )
  20. Andi Rahmat ( F-PKS )
  21. Mahfudz Siddiq ( F-PKS )
  22. Fahri Hamzah ( F-PKS )
  23. Asman Abnur ( F-PAN )
  24. Tjatur Sapto Edi ( F-PAN )
  25. Aditya Mufti Ariffin ( F- PPP )
  26. Epyardi Asda ( F-PPP )
  27. Imam Nahrawi ( F-PKB )
  28. Nur Yasan ( F-PKB )
  29. Soepriyatno ( FP – Gerindra )
  30. Akbar Faizal ( FP – Hanura )

KPK masukkan kubu lawan ke tahanan, dong ..

Priyo Budi Santoso, wakil ketua DPR RI yang juga salah satu pimpinan Timwas Century menyarankan teman2 membatalkan Hak Menyatakan Pendapat. Saya pikir kita perlu amunisi untuk menghadapi kubu SBY yang sudah mengendalikan Kapolri, Jaksa Agung dan  hakim2 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. M. Misbakhun, salah satu inisiator Hak Angket Century  sudah ditahan di Bareskrim dengan kasus LC yang semestinya perdata ( betapa SBY sigap menandatangani surat pemeriksaan politisi asal PKS tsb. Jumat masuk, Senin keluar, Selasa ditahan. Rekor Muri. Padahal permintaan pemeriksaan pejabat2 di rekomendasi Century sudah lebih dulu diajukan. Baru Kamis ( 29/4/2010 ) Sri Mulyani dan Boediono di periksa di kantornya, bukan di Gedung KPK, setelah surat pemeriksaan diajukan Jumat ( 23/4/2020 ). Apakah langsung ditahan seperti Misbakhun esok harinya ? Terlihat standar ganda di sini, guys..

Bibit dan Chandra terancam menjadi tersangka setelah SKPP mereka dibatalkan dalam praperadilan ajuan Anggodo, melalui kuasa hukumnya. Nunun Nurbaeti, pengeluar cek travel Miranda Goeltom sulit dihadirkan untuk diperiksa, memutus aliran tersangka di atasnya. Sementara 4 penerima travel dari kalangan DPR sudah ditahan. Iken Nasution, putra Adnan Buyung ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus impor sapi di Kementerian Sosial ). BKO. DPR, pengacara putih dan KPK diintimidasi. Mengapa kubu kita yang ingin menyelamatkan KPK dan memberantas korupsi malah dimakan orang sendiri ? Kenapa KPK tidak juga mendahulukan orang2 dari kubu lawan ?  Karena kasus Century-lah, Antasari dijebak dan Bibit-Chandra dikriminalisasi. Kubu kita yang mati2-an membela dan mengeluarkan mereka. Tapi, kubu kita yang mereka periksa dan tahan lebih dulu. Apakah hanya karena berkas sudah lebih dulu lengkap ? Prosedur standar ?

Jangan kalah start, set, manuver. Timing, timing ..

Jangan sampai kita kehabisan orang baik dan pengacara putih untuk membela orang sendiri, sementara menghadapi front lawan dengan anggota konspirasi begitu banyak, kita sudah tak punya orang tangguh lagi. Bisa keok. Saya harap KPK bisa melihat gambar lebih besar dan taktis, kali ini. Mengesampingkan data yang sengaja dipasok pihak lawan untuk menangkap dan memberangus keberanian orang2 kita, dan lebih ngotot melengkapi berkas personel kubu lawan. Perang psikologis. Masukkan juga orang Demokrat atau istana ke tahanan. Berimbang atau lebih banyak. Bukan mereka yang membela kalian, kemarin, sekarang dan nanti. Kami. Begitu banyak konspirasi, intervensi dan kebohongan saat ini, kita tak bisa jalan biasa. Banyak ranjau dan penjahat menghadang. Kita mesti melompat, menukik, zigzag dan cerdik agar tak terjungkal sebelum mencapai tujuan. Manuver, kalau perlu. Timing, timing ..

Waktu dimainkan dengan baik oleh lawan. Antasari dalam 8 jam dikenai 4 status, tanpa didampingi pengacara. Itu menyalahi hukum, tapi toh lawan jalan terus. Bibit-Chandra dalam hitungan jam digaruk masuk tahanan, meski tidak cukup bukti. Toh, lawan jalan terus. Malah memutar balikkan fakta seenak udel, seolah Bibit-Chandra wajib masuk pengadilan untuk membersihkan namanya. Tak masuk diakal. Semenit pun, Antasari dan Bibit-Chandra tak layak masuk tahanan. Mereka tak punya kasus. Tak bersalah.

Baru tingkat pengadilan negeri sudah makan waktu setahun ( Gayus Lumbuun, Ahmad Ali, Ahmad Yani dan Azis Syamsudin, tolong kalian melihat dengan perspektif lebih luas. Ada waktu yang harus dikejar di sini. Jika kalian pernah disidang di ruang penuh suap dan aparat korup, idealisme di ruang kuliah musykil dilaksanakan. Keluarlah dari menara gading. Rasakan penderitaan para pesakitan yang terdzalimi hingga menghabiskan umur, uang dan kebahagiaannya. Antasari, salah satunya ). Keburu bangkrut negeri ini kalau orang2 terbaik malah dipenjarakan orang2 jahat. Kekayaan alam kita kian terkuras, koruptor makin rakus dan perdagangan bebas ( CAFTA, dst ) makin merajalela .

Hak Menyatakan Pendapat peluru Timwas Century menjalankan pekerjaan.

SBY minta Boediono dihentikan penyidikannya ( intervensi ), tapi tentang kasus Bibit-Chandra, ia berpidato ke mana2 tak bisa intervensi. Suka2 dia siapa yang dijebloskan ke penjara. Siapa yang dihukum mati. Siapa yang bisa tertawa dengannya, menikmati uang rakyat. Dengan kenyataan ini, kita perlu peluru untuk memaksa lawan diperiksa dan dihukum sesuai kejahatannya. Peluru tajam sudah dimiliki lawan. Peluru kita, Hak Menyatakan Pendapat yang bisa digunakan dalam 1 x 24 jam. Kubu lawan terjungkal, kalau coba2 mengintimidasi dan menghambat pemeriksaan. Di mana pun di dunia, bahkan seorang ibu di rumah, perlu kekuatan untuk memaksa perbuatan baik dilakukan. 30 orang anggota Timwas, tanpa kekuatan, apalah artinya. Hari ini Misbakhun dikriminalisasi, besok siapa lagi ? Bisa2 habis anggota inisiator, pansus dan Timwas Century.

Oleh karena itu, Hak Menyatakan Pendapat sebaiknya terus digulirkan. Kumpulkan tanda tangan hingga mencapai kuorum. Sehingga tiap waktu bisa digunakan, saat keadaan genting memaksa. Overlap dengan kerja Timwas. Tik tok, tik tok, ingat timing lawan menggagalkan. Jika Timwas terhenti oleh manuver lawan, kita bisa jalankan plan B. Hentikan rezim fitnah dan konspirasi busuk, secepatnya. Jangan kalah set lagi. Jangan kalah start. Setelah Sidang Paripurna MPR, mungkin nanti ada Pjs presiden atau wapres. Atau keduanya. Jusuf Kalla atau Mahfud MD. Untuk melaksanakan pilpres lagi, kalau perlu ( kita masih punya anggaran satu putaran pilpres lagi, kan ? ). Pemimpin lembaga2 penegak hukum  diganti dengan yang bersih, kompeten dan berani untuk menuntaskan mega skandal dan kasus2 yang selama ini menjadi perhatian publik. Dengan begitu bangunan Indonesia, rakyat dan kekayaannya bisa diselamatkan.

(  saya baca di PR, 29/4/2010 ; Lily Chadijah Wahid, Bambang Soesatyo dan Akbar Faisal serta 16 warga mengajukan uji materi UU no.27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD pasal 184 ayat ( 4 ) ke Mahkamah Konstitusi, pada Rabu ( 28/4/2010 ). Maqdir Ismail, kuasa hukum pemohon, mengatakan, kuorum 3/4 itu telah melampaui. Bertentangan dengan UUD 1945 yang menentukan kuorum 2/3 . Pasal 184 ayat ( 4 ) berbunyi, ”Usul sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) menjadi hak menyatakan pendapat DPR apabila mendapat persetujuan dari Rapat Paripurna DPR yang dihadiri paling sedikit 3/4 dengan persetujuan paling sedikit 3/4 dari jumlah anggota DPR yang hadir.” Hak konstitusional anggota DPR terampas oleh pasal tsb. Jalan tol menuju pemakzulan mesti dipersiapkan jauh2 hari. Sehingga saat dipergunakan nanti, tak mendapat sandungan/ perlawanan yang berarti. Konsentrasi dan energi kita saat itu bisa fokus menangkis serangan lawan. Per 29/4/2010 sebanyak 106 anggota dewan sudah menandatangani ).

Setelah Antasari, Bibit-Chandra, lalu Misbakhun. Sandiwaranya Kapolri Bambang.

Kapolri Bambang Hendarso menyerahkan pada penyidik tentang permohonan penangguhan penahanan atas Mukhamad Misbakhun yang diajukan 33 anggota DPR.”Biarkan otoritas ini penuh kepada penyidik, kita serahkan sepenuhnya. Ini kan proses yang sedang dilaksanakan dalam pengembangan penyidikan. Jadi, soal permohonan penangguhan kita terima, tetapi tindak lanjutnya tunggu nanti dari penyidik itu sendiri,” kata Kapolri. Katanya ( 28/4/2010 ), penyidik menahan Misbakhun atas pertimbangan subyektif ; apakah tersangka pengajuan surat utang fiktif pada Bank Century itu melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi perbuatannya.

Jadi, nostalgia kasus Bibit-Chandra, ya ? Kriminalisasi. Habis dicecar DPR, Raja Erizman, sang markus yang dibiarkan Bambang bebas berkeliaran, sekeluar gedung langsung menggaruk Misbakhun ke tahanan. Kapolri Bambang setelah dicecar Komisi III DPR kemarin, sekeluar gedung langsung bersandiwara lagi. Penangguhan itu wewenang penyidik, sahutnya enteng. Waktu kasus Antasari, kita mengira Kapolri bersih, eh, ternyata dia pengatur penjebakan Antasari, dengan tim bentukan Kapolri ( menyelidiki telepon ancaman2  pada Antasari ) dan tim bayangan yang mengeksekusi Nasrudin. Habis ini mau ngomong apa lagi. Tidak ada rekayasa, tak ada rekayasa ? Menyedihkan sekali Mabes Polri dipimpin para jenderal yang fasih berbohong. Apa kata akhirat ? ( SBY bisa membuat para jenderal berbohong terus untuknya. Ditaruh di mana hatinya ? Apa kata anak istri ? Anak buah, apa kalian masih menganggapnya panutan ? Generasi saya harus bersiap menghadapi dampak ikutan akibat kebohongan massal ini. Teganya, dikau pemimpin  .. )

LC tak fiktif, dikriminalisasi. Lagu lama. Cak Bakhun marah, bos ..

Pengacara Misbakhun, Luhut Simanjuntak mengatakan, LC kliennya tidak fiktif karena terbukti dicairkan oleh Bank Century. Lagipula, sudah ada restrukturisasi kredit. Ini menunjukkan LC tidak fiktif. Kalau fiktif, ya tidak ada restrukturisasi. Pekan lalu, Misbakhun juga diperiksa penyidik Polri sebagai saksi untuk tersangka yang ditahan Polri. Misbakhun, pemilik dan pemegang saham mayoritas PT. Selalang Prima Internasional dan Dirutnya, Frenky Ongko, menjadi tersangka karena diduga memalsukan kontrak bisnis saat mengajukan LC ke Bank Century. Frenky telah ditahan Polri. Menurut penyidik, kontrak bisnis PT. Selalang dibuat setelah LC disetujui, padahal seharusnya kontrak dibuat sebelum LC disetujui. Kasus itu juga menyeret mantan Dirut Bank Century, Robert Tantular sebagai tersangka yang sudah divonis 5 tahun penjara dalam kasus perbankan lainnya.

Ratusan pendukung Misbakhun yang tergabung dalam Coalisi Anti Kriminalisasi Misbakhun ( Cak Bakhun ) menggelar poster, berorasi, melakukan istiqasah di dekat Gedung DPRD Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin ( 26/4/2010 ). Korlap Muallim menjelaskan, demonstrasi dilakukan untuk mendukung sepenuhnya Misbakhun melawan segala bentuk fitnah yang dituduhkan staf presiden, Andi Arief ( heran kok SBY bisa nemu dan nyimpen makhluk penjilat di dekatnya, ya. Apa sehaluan ? ). Cak Bakhun menuntut Polri profesional dan menghentikan kriminalisasi terhadap Misbakhun, serta menolak penahanannya karena selama ini Misbakhun sangat kooperatif.”Jika hal tsb terjadi maka kami akan mengerahkan massa yang lebih besar lagi, dan akan menduduki Polresta Pasuruan !”

(  wah, hati2 kalau rakyat sudah marah, bos. Dibohongi terus. Pernah berhitung kerusakannya, Kapolri ?  )

Pendapatan pajak bocor 50 %. Tak perlu hutang luar negeri kalau 70%  pajak amanah. Markus hutang luar negeri ?

Komisi Yudisial ( KY ) menyatakan, Ketua Majelis Hakim perkara Gayus Tambunan, Muhtadi Asnus diduga menerima uang Rp.50 juta ( kalau jujur 5 milyar ) dari Gayus atas putusan bebas perkara penggelapan. Uang diterima Muhtadi di rumah dinasnya, sehari menjelang pembacaan putusan bebas Gayus, kata ketua KY, Busyro Muqoddas ( 16/4/2010 ). Sebelumnya, Gayus divonis bebas oleh PN Tangerang Banten terkait kasus penggelapan uang pajak senilai Rp.370 juta. Dugaan suap muncul setelah setelah diketahui kasus aliran dana Rp.24,6 milyar ke rekening Gayus, tidak diajukan ke pengadilan karena dianggap uang milik pengusaha Andi Kosasih, yang juga menjadi tersangka dalam kasus Gayus. Seharusnya Gayus dikenai pasal pencucian uang, tindak pidana korupsi dan penggelapan. Namun, oleh jaksa hanya diajukan penggelapannya saja hingga akhirnya Gayus melenggang bebas dari kursi pesakitan ( PR, 17/4/2010 )

Melihat Misbakhun masih dikriminalisasi Mabes Polri, saya kok kurang yakin penyidikan Gayus bisa berlangsung fair dan profesional. Meski, Tim Independen Polri yang melakukan. Setelah Susno diperiksa marathon selama 3 hari kemarin, semuanya jadi senyap. Untuk kelancaran pemeriksaan, tidak diungkap ke publik, dalih mereka. Haryono Umar, wakil ketua KPK, pernah mengatakan hal serupa di “KPK Menjawab” ( radio Trijaya ), biarkan kami bekerja dengan tenang ( jangan ada kegaduhan demo dan tuntutan mahasiswa ). Setelah tak diusik, malah kubu SBY yang mengusiknya. SKPP Bibit-Chandra tiba2 kalah dipraperadilkan oleh Anggodo. Gimana, ya, nongkrongin KPK yang tidak mengganggu, tapi juga tidak diusik kubu SBY/Anggodo/koruptor ? Any idea ?

Kasus markus pajak perlu diselesaikan dengan tegas. Fuad Bawazir mengatakan, pendapatan pajak bocor hingga 50 %. Tahun 2008, hasil penarikan pajak mencapai 571,10 trilyun. Tahun 2009, menurun jadi 565,7 trilyun. Di koran, 08122484xxx menulis ; asumsi pajak yang masuk kas negara sekitar 30 %, dan sisanya sebesar 70 % yang seharusnya disetorkan ke kas negara, kata para ahli, malah masuk kantong markus pajak dan kantong wajib pajak melalui suap dan rekayasa. Dari 30 % pajak yang masuk ke kas negara ternyata bisa memenuhi 75 % kebutuhan APBN setiap tahun. Nah, bayangkan andai 100 % masuk kas negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. NKRI kuat. Begitu banyak akses untuk sejahtera ( betapa pemurahnya Allah ), dari pajak, harta karun di laut, dsb, tanpa kita harus berhutang ke luar negeri ( artinya ada mafia hutang luar negeri ). Jika tidak demikian, seperti yang kita alami hari ini, berarti ada yang salah di negeri ini. Tidakkah anda terketuk menyelamatkan kekayaan bangsa kita ?

Paulus Tumewu dari 1,37 trilyun cuma bayar 7,9 milyar. Markus lagi.

Heii .. ada Marsilam Simandjuntak lagi di kasus pajak Paulus Tumewu, bos Ramayana, yang menunggak pajak sekitar 399 milyar ditambah denda 400 % menjadi 1.37 trilyun. Tapi dengan surat sakti Menkeu ke Jaksa Agung, ia yang sudah di P21-kan bisa melenggang bebas dengan bayar 7,9 milyar. Menjaga independensi kejaksaan ? bullshit, kata saya. Aparat penegak hukum kita pada pintar ngecap, dan diamini para pengamat/ pakar hukum macam Ahmad Ali, dsb. Giliran untuk kepentingan kelompoknya sendiri semua rambu hukum dilabraknya. Suka2 gue. Indonesia, negara hukum ? Omong kosong.

Tengok yang terjadi kemarin ( 29/4/2010  ). Baru 2 jam diperiksa secara tertutup oleh KPK, Sri Mulyani dipanggil presiden untuk rapat kabinet. Boediono juga dari kantor wakil presiden diminta istana pindah ke wisma negara di kompleks kepresidenan, ketika diperiksa KPK. Agar bisa disadap komplotan istana, sehingga Sri dan Boediono bisa disetir. Mana yang boleh disampaikan, mana yang harus ditutupi. ( Tidak tahu, lupa atau tidak ingat, sahut Boediono, Hadi Purnomo atau Marsilam ). Berbeda dengan pemeriksaan yang pernah dilakukan KPK di luar gedung KPK, para pelaku kasus Century seharusnya dilakukan di gedung KPK, setelah disisir dari penyadap, kamera, mata2  atau apapun dari kubu lawan. Anda mestinya melihat skala megaskandal  kali ini yang merupakan pola perampokan uang rakyat yang terus berulang selama ini sampai Indonesia berhutang 1.619 trilyun !

( Taufik Kiemas mengatakan, tolong mengertilah kalau Boediono diperiksa tidak di gedung KPK. Dulu Soeharto juga diperiksa di kediamannya. Seingat saya, saat itu Soeharto sudah lengser dan separuh masa pemerintahnya cukup baik ( istilah Taufik ‘berjasa’ ). Meski, separuh akhir masa berikutnya meneladankan mega korupsi ( hingga Indonesia berpredikat negara terkorup ), yang sampai hari ini kita masih berkutat memberantasnya. Menurut hitungan akhirat, Soeharto bisa2 defisit amal. Apakah Boediono sudah lengser dan berjasa ? Silakan anda menilainya. Kita tahu, setelah pejabat lengser, masyarakat umumnya baru berani mengadu/ menuntut. Kalau begitu mari kita lengserkan ( paksa non aktif ) para pejabat korup ).

Marsilam Simandjuntak di istana, Sjahril Johan di Mabes Polri. Markus double impact.

Pelaku2 yang terendus sampai saat ini ; dari istana, dirigen markusnya bisa jadi Marsilam Simandjuntak ( orang yang banyak omong tapi tidak tahu apa2, kenapa ada di istana sejak masa Soeharto sampai sekarang ? Apa kegunaannya ? Ada yang pernah menyelidiki secara spesifik, apa pekerjaan Marsilam sesungguhnya di sana ? Selain melototi Sri dan Boediono di rapat bail out Century dan menyulap pajak Paulus jadi 7,9 milyar ? ). Dari Mabes Polri, kejaksaan dan kehakiman ada Sjahril Johan. Dari kalangan pengusaha suap, ada Anggodo, Anggoro, Budi Sampoerna, . Dari kalangan pengacara hitam, ada OC.Kaligis, Bonaran Situmeang.

Saya harap pemeriksaan selanjutnya di Gedung KPK. Mereka tidak mau ? Keluarkan peluru kita. Hak Menyatakan Pendapat. Mabes Polri menolak penangguhan penahanan Misbakhun ( kriminalisasi anggota dewan untuk mengintimidasi inisiator dan Timwas Century ). Kejaksaan Agung mengajukan banding vonis mati Antasari, sekaligus memainkan kartu banding SKPP Bibit-Chandra ke Pengadilan Tinggi. Hakim2 PN Jaksel menghukum 18 penjara Antasari dan memenangkan gugatan praperadilan Anggodo melalui Bonaran Situmeang. They’re serious, guys. Tidak pakai gigi 1 lagi. Sudah 3. Kita mesti gigi 4. Tidakkah kalian melihat orkestra konspirasi ini, guys ? Ambil alih permainan. Jangan kalah set.

Periksa Sri dan Boediono di Gedung KPK. Di zona kepresidenan banyak sadap dan setir !

Saya setuju dengan beberapa anggota Komisi III DPR yang kritis mempertanyakan tempat pemeriksaan Sri dan Boediono. Semua warga negara sama kedudukannya di hadapan hukum, katanya. It’s not ordinary crime, Sir. Raksasa ! Indonesia bisa bangkrut kalau modus perampokan uang negara terus dibiarkan, ditoleransi.  Alasan sibuk ? Mereka cuma menimbun hutang, kok. Juga menaikkan tarif listrik, dsb, untuk menambal uang hasil keringat kita yang masuk ke kantong markus istana. Sibuk apanya ? Dengar kata ketua sebuah asosiasi pengusaha ; Kita buat pemerintah yang ikut kita. Mari Pangestu, cuma nongol  kalau lagi  mengumumkan operasi pasar gula pasir, beras, dsb. Yang njelimet2 kita sendiri yang mikir dan mencari jalan keluarnya. Dari serangkaian izin, hanya satu yang tidak pakai pelicin. Dan para pengusaha masih harus menghadapi demo2 buruh dan para pengusaha Cina ( CAFTA ) yang sangat disokong pemerintahnya, dengan iklim usaha sangat bagus dan korupsi sangat kecil. Bisa gulung tikar, kalau kita yang ikut pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,3  ( bisa dimengerti ) karena ketangguhan sektor riil dari orang2 survival macam ini. ( lalu SBY dan kroninya berpidato kemana-mana, pertumbuhan ekonomi 4,3. Katakan tidak, pada korupsi ! Nyatut doang. Nyatanya, coruption hazzard ada di dikelompoknya. Terbesar lagi. Jadi, jangan terkecoh dengan excuse mereka, KPK. Hukum dan dukungan rakyat ada di tanganmu. Seret saja mereka ke Gedung KPK untuk mulai mempertanggungjawabkan perbuatannya. ( di akhirat lebih kejam, lho, jadi saya sarankan pada mereka untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaiknya, mencuci dosa2 mereka di dunia, sehingga di alam kubur tidak terlalu banyak yang mereka bawa. Terima hukuman dengan ikhlas, ya ). Andi Arief hanya sekrup kecil di mesin besar markus. Angkut juga, penjilat ini !

Ban gembos & telur busuk : intimidasi gaya rakyat. Serbu !

Kita juga jadi ngerti, kenapa SBY menolak menonaktifkan Sri dan Boediono. Bisa terjungkal dari kemarin2 SBY. Kita juga ngerti kenapa dengan suara 60,8 %  SBY masih merasa perlu menggandeng 5 partai dalam koalisi ( koalisi tidak nurut, Misbakhun disandera ). He knows, deep in his heart he’s guilty. Kemenangannya bermasalah, ada perbuatan licik ( korupsi ) yang dia tutupi agar bisa gol ke istana. Even, for the first time ( Budi Sampoerna sudah menyumbang kampanye SBY  tahun 2004 melebihi aturan KPU ). So, KPK ( didorong Timwas dan Komisi III ) periksa pelaku2 kasus Century di Gedung KPK, ya. Atau KPK keburu dibubarkan oleh markus2 istana kalau masih pakai gigi 1. Pilih mana ? Seperti simalakama, ya ? Jangan kesalip, ah !

Ayo, Pak Bibit, maju ! Susno bisa ngomong “demi bangsa negara nyawa pun saya korbankan”, anda pasti lebih cerdik dan lebih berani darinya. Tolong masyarakat yang tinggal di sekitar pelaku2 skandal Century termasuk SBY, Bambang Hendarso Danuri dan Hendarman Supandji, persulit gerak mereka dan keluarganya. Kempeskan ban, boleh. Lempar telur busuk, silakan ( upayakan tidak ketahuan ), dsb. Memangnya, hanya mereka saja yang bisa mengintimidasi. Kami juga bisa, coy !  Kita bikin mereka sangat ‘sibuk’ sampai tak sempat pidato ( omdo ), ‘tebar pesona’, mengalihkan perhatian dengan kasus2 baru ( Satgas menemukan 11 macam mafia yang akan diusut, terbayang berkas Century ada di “basemen” ke 12. Berapa lama kita harus menggali lagi ?  Keburu bukti2 hancur termakan tanah. 5 tahun saja jenazah sudah jadi tanah. Berkas BLBI sudah dihilangkan Kejaksaan Agung. Berkas Century harus kita jaga dan tuntaskan. Kita bukan keledai, kan ? Jangan lakukan kesalahan sama. Timing, timing ..

Isolasi ( dikucilkan ) dan dipermalukan untuk efek jera, kata Zulfikar Iskandar. Mari kita buat para koruptor jera. Serbu !!  ( secara gerilya, maksud saya, biar bingungnya mereka bertambah-tambah. Biar kapok menghadapi rakyat, empunya negeri ini. Rakyat kok dilawan. Yang bener aja ).

Ahmad Ali, pakar hukum dalam tempurung, ditemani textbook. Look the big picture !

Jangan selalu keputusan hakim dikaitkan dengan rekayasa, dipermasalahkan. Dinistakan. Kita perlu hukum. Ini negara hukum, prof.Dr.Ahmad Ali, pakar hukum. Hmm .. kemana saja, pak ? Ini negara kekuasaan. Jika SBY ingin Antasari dienyahkan dari KPK karena mengendus skandalnya di Bank Century, maka Antasari harus dihukum mati. Jika SBY ingin Boediono jadi wakil presiden karena sudah membantu mengamankan uang Budi Sampoerna, maka Mabes Polri diperintahkan untuk membatalkan penyidikannya pada mantan gubernur Bank Indonesia itu (  atas kasus bail out 6,7 trilyun Bank Century  ). Semua aparat penegak hukum mesti mengikuti ‘orkestra’ ini. Hakim PN Jaksel  ‘diintimidasi’ oleh ratusan polisi dan penyidik yang terus stand by dalam sidang2 Antasari Azhar agar hakim memutuskan Antasari bersalah, betapa fakta2 persidangan membuktikan Antasari tidak bersalah. PN Jaksel pula yang memenangkan gugatan praperadilan Anggodo atas SKPP kasus Bibit-Chandra. Padahal Anggodo sudah jadi tersangka di tahanan. Betapa canggihnya, Anggodo, kata Adhie Massardi, anggota GIB. Sudah mafhum, gembong narkoba pun masih bisa mengendalikan bisnisnya dari jeruji sel. Ada mafia hukum lagi ?

Jangan cuma makan textbook, prof. Anda bukan di ruang kuliah, atau di ruang hampa. Anda ada di negeri terkorup di Asia !  Yang aparat penegak hukumnya, sebagian mendewakan uang.  Anda jangan cuma mempermasalahkan setelah  P21  mesti ke pengadilan, banding lalu PK. Tidak bisa di SKPP ( di luar pengadilan ). Sejak awal Bibit-Chandra tak layak jadi tersangka. Missing link ;  Ari Muladi, lalu ocehan Anggodo, Ade Rahardja, bukti2 tiket parkir dan rekaman komunikasi yang direkayasa penyidik, sama sekali tak nyambung ke Bibit-Chandra. Anda mau dituduh memeras, gara2 ada orang ngaku2 disuruh anda meminta uang ke Anggodo ? Banyak calo dan penipu seperti ini di sekolah2, kantor2, dsb. Apa anda pernah mempermasalahkan ini ? Ini tidak benar. Batal demi hukum. Tak sedetik pun Bibit-Chandra boleh ditahan. Anda katak dalam tempurung, atau pengecut ?

Pengadilan independen ? Says who ?

Saya harap Gayus Lumbuun, Ahmad Yani dan Azis Syamsudin dari Komisi III DPR RI, juga mau berpikir lebih luas. Bigger picture. Bibit-Chandra ditahan karena mereka menyelidiki kasus Century ( minta BPK mengaudit Bank Century ), bukan penyalahgunaan wewenang, penyuapan atau pun pemerasan seperti yang berubah-ubah dituduhkan anggota  ‘orkestra’. Anggodo sampai menyebut-nyebut RI-1 dalam rekaman di Mahkamah Konstitusi ( baru jelas sekarang, SBY termasuk pentolan konspirasi ). Saya harap penyelidikan tertutup yang dilakukan Tim Independen atas Susno, tidak berakhir seperti pembacaan keputusan hakim PN Jaksel atas kasus Antasari. Tertipu, kita semua. Fakta persidangan dibacakan, ujung2-nya ‘serangan fajar’ yang diikuti. Pembacaan itu sudah kita ikuti dengan tekun, tiba2 logikanya melompat, terdakwa bersalah dan dihukum 18 tahun !  Antasari sampai tercengang. ( saya terjengkang ). Nah, lo.

Saya heran mereka berkata pengadilan mesti independen, Kejaksaan Agung tak boleh diintervensi, kepolisian tak boleh dicampuri ? Para pengunyah textbook itu apa paham, ketiga institusi itu selama ini hanya alat penguasa untuk mempertahankan kekuasaan ? SBY cs itu bisa leluasa membunuh Nasrudin tanpa hukuman dan melemparkan kesalahannya pada ketua KPK, Antasari, sampai divonis mati. Sementara kita mesti jungkir balik mengikuti textbook agar intitusi hukum independen ? Bisa kalah set, bapak2. Ular harus dilawan dengan ular ( syukur king kobra ). Bukan kelinci. Bisa ditelan bulat2. Habis kita. Bangkrut Indonesia. Ibarat catur, pikir hingga minimal langkah ke 7.

Busyro Maqoddas periksa Nugraha Setiadji, berani ?  50 juta atau 5 M juga ?

Setelah Sjahril jadi tersangka dan ditahan, dirigen orkestra dimulai lagi. Tidak dari Australia, tapi langsung dari ‘markas gerombolan si berat’. Kolaborasi Anggodo dan Sjahrir. Mendadak gugatan Anggodo atas pengeluaran SKPP Bibit-Chandra dikabulkan hakim tunggal Nugraha Setiadji di pra-peradilan PN Jaksel. ( Komisi Yudisial tolong periksa Nugraha juga rekan2-nya yang memberi vonis nyleneh pada Antasari, Wizar, dll. Busyro Maqoddas, Zainal Arifin, beranikah bapak2 menghadapi perpanjangan tangan RI-1 di PN Jaksel ?  Mungkin ada rupiah terlibat di sana seperti hakim PN Tangerang. Hakim2 kemaruk ini tak cukup hanya dicopot, harus dipidana juga biar kapok. Masak, anggota dewan yang terima cek  travel Miranda Goeltom dipenjara, sedang hakim yang seharusnya lebih bersih dari warga yang awam hukum, cuma dimutasi. Rasa keadilannya mana ?  Beri contoh, dong. Supaya hakim2 lain berpikir 1000 kali sebelum memutuskan yang nyeleneh2 juga. Supaya usaha pemberantasan korupsi tidak mandek di tengah jalan  ). Jika Bibit-Chandra sampai tersita waktunya, terseret-seret dalam permainan ( mafia ) pengadilan, siapa yang akan jaga gawang KPK menuntaskan kasus Century ? Orang2 SBY lagi ?  Saya sudah gregetan dengan orang ini. Kita diplintir terus. His game must be stop !

Lihat kasus Misbakhun yang dipermasalahkan LC-nya oleh Andi Arief, staf presiden bidang bencana ( nggak nyambung ya. Rupanya ada intel yang tergerak memanfaatkan bacotnya lalu memasok data ). Dari 10 perusahaan, hanya Selalang Prima yang diungkit. Oh, tidak, tidak, tidak, kata Andi seraya menggoyang telapak tangannya. Lho ? Tidak ada yang minta dia menerima hasil pansus Century, kok. Opsi C sudah diterima mayoritas anggota dewan, yang artinya mayoritas rakyat Indonesia. Kenapa dia ge-er seperti dimintai persetujuan ?  Nggak ada yang nganggap dia, kok . Metro TV juga nampangin wajahnya cuma jadi bahan tertawaan. Kok, orang ini kurang kerjaan ? Banyak bencana bertebaran di negeri ini, dia masih sempat-sempatnya tebang pilih cari nama Misbakhun dari laporan BPK yang setebal bantal bertumpuk-tumpuk. Lalu tebal muka mempertanyakan hasil pansus Century yang sudah dipelototi anggota pansus dan masyarakat selama 2 bulan. Merasa jadi pahlawan ( kesiangan ).

Andi Arief & pengecam demo, bukan rakyat Indonesia. Jangan ge-er.

O, kasihan masyarakat terkelabui oleh pansus, kata Andi. Apa dia kesambet petir lalu mendadak pintar ? Tunggu dulu. Pengalaman saya berurusan makhluk2 cekak ( manipulator/ penjilat ) macam Andi, adalah mereka memakai kaca mata kuda. Ada 100 hasil baik, dengan 1-2  waste ( kekurangan ), maka yang satu ini yang diblow-up menadirkan yang 99. Tapi anehnya hal yang sama tak berlaku untuk dirinya. Jika ia melakukan 100 perbuatan, ada 99 yang salah, maka ia menganggap dirinya benar dengan berbagai excuse. Lalu menuntut banyak dari yang satu itu ( dia sedang membusungkan dada sekarang, dan meminta imbalan besar ke biro markus di istana ). Ya, peribahasanya ; gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan tampak jelas. Kesalahan sendiri tak terpikir. Orang lain belum tentu salah, diungkit-ungkitnya sampai hancur.

( saya juga heran, kenapa Misbakhun yang ke Mabes Polri duluan, malah dijadikan tersangka ? Bukan diurus dulu pengaduannya ? Apa polisi tebang pilih seperti Andi ? Gini, kok, dibilang profesional dan independen ? Lalu kita disuruh Gayus, Ahmad, Aziz untuk tidak intervensi agar mereka independen. Tanpa kami pun, mereka sudah melacurkan diri diintervensi penguasa dan tidak independen, bung ! ).

Dengan pola  Andi mestinya dia juga mikir ; kalau  40 % orang tidak memilih SBY, apa bosnya Andi sah sebagai presiden ? ( meski banyak masalah soal DPT, perdebatan hasil perhitungan di KPU ). Andi mestinya konsisten. Hasil pansus Century pun sah ( opsi C ) dipilih 325 anggota dewan. Ada 212 yang tidak setuju opsi C, tapi  toh opsi C disahkan sebagai keputusan Paripurna DPR, untuk selanjutnya dibentuk Timwas menindaklanjuti rekomendasi tsb. Jadi, tidak pada tempatnya Andi mempertanyakan. No, no, no … ( who does he think he is )

( saya juga ingin  meluruskan pengecam demo yang mengeritik peserta aksi damai yang mengatasnamakan rakyat. Dia merasa tak ikutan, jadi jangan bawa2 nama rakyat. Bisa jadi ia ketiduran waktu pemilu, memilih tidur daripada nonton sidang2 pansus Century, mending ngerokok daripada beli koran dan baca reportase pembahasan Century di dalamnya, lalu suatu siang ia tak bisa ke warung rokok, gara2 kerumunan mahasiswa beraksi menuntut penuntasan kasus Century. Ia menggerutu jangan bawa nama rakyat, ngapaian ngurus Century ( benda apakah itu ? ), kenapa tidak memikirkan wong cilik seperti dirinya yang susah hidup, beras mahal ( padahal duitnya ia habiskan untuk beli rokok ). Apakah ia pantas menyebut dirinya rakyat Indonesia ? Ia lebih pantas jadi warga Israel yang nyasar ke Indonesia. Kehadirannya tak berguna di sini, hanya parasit yang jadi beban warga lainnya. Jika kami mengatasnamakan rakyat, parasit2 ini tidak masuk hitungan kami. Ia tak memantaskan diri sebagai rakyat Indonesia, kenapa kami harus menganggapnya rakyat Indonesia ? Jangan ge-er, ah. Tak ada yang minta pendapat dia. Andi Arief juga ).

To :  Akbar Faisal. Jangan tersipu dipuji, jangan ragu mengatai staf bencana. Hajar saja !

Pada topik kasus Misbakhun, Metro TV  mengadu argumentasi  Akbar Faisal dengan Andi Arief di ujung telpon ( videocall/ conference ). Saran saya pada Akbar ; jika menghadapi orang macam Andi, anda jangan terseret masuk ‘permainan’-nya. Ketika ia mengatakan, saya percaya anda tidak seperti anggota pansus yang lain, dalam hati ia sedang meremehkan anda dan memecah belah anda dengan rekan anda. Orang baik di mata orang jahat adalah mangsa empuk. Ia seolah memuji, padahal sebenarnya untuk menggiring anda melakukan hal yang manis, seperti tidak berkata kasar atau menyerang balik. Hasilnya, anda seperti rikuh mengatakan Andi staf bencana, seraya tersenyum-senyum. Sementara, ia leluasa menyerang teman2 anda, logika anda, hasil pansus dengan semena-mena.

Awal anda masuk frame teve atau ruangan, anda harus langsung menset di kepala anda, lawan bicara kita dari kubu anda atau kubu lawan ? Dark side or bright side ? Bad guy punya pola pikir berbeda dengan good guy. ( pengalaman saya, cara2 di Mario Teguh-Golden Ways hanya berlaku untuk orang normal, bukan penyiksa atau psikopat. Anda akan tergilas jika memakai cara2 biasa. Setan di orang normal masih 1-2. Setan di psikopat lebih dari 9. Ia menjadi tool sempurna bagi iblis untuk menghancurkan manusia sesuai sumpahnya pada Allah ). Anda mesti tahu reputasinya lebih dulu. Tingkat penyimpangannya. Dalam mata batin anda, Andi mestinya terbayang dengan 5-6 setan di sampingnya. Bonaran Situmeang 7. OC Kaligis 8 setan. Sehingga anda tak perlu berbelas kasihan pada mereka. Setan yang menggerakkan mereka, meniupkan ide2 yang tak manusiawi ( alias setanwi ).

Senyum dan pujian membesarkan penyiksa.

Melihat kekuatannya ( 6 setan ), anda jangan kalah start dengannya. Jika Andi nyerocos menutupi argumentasi anda, anda jangan kalah nyerocos menutupi suaranya. Apalagi saat itu anda yang ditanyai pewawancara, bukan Andi. Tak perlu bersikap manis pada Andi ( senyum meminta dukungan rakyat berikan pada orang baik, ketika anda sedang tidak berhadapan dengan orang jahat. Senyum korban  bikin pede orang jahat. Seperti perampok melihat wanita menyupir kendaraan.  Keberaniannya bertambah untuk merampas mobil itu. Jangan pula memujinya. Pujian di mata orang jahat dibaca sebagai pernyataan penghambaan korban kepadanya. Aneh kan ?

( makanya MTGW tidak jalan di sini ( kelas penjahat kakap ), tapi saya sangat mengapresiasi pengabdian Mario Teguh mendidik masyarakat. Civil society yang kuat bisa lahir dari tangan orang2 berdedikasi seperti beliau. Kebaikan akan mudah memunculkan keberanian. Hati segera terusik jika melakukan hal yang dilarang agama. Koruptor takkan punya ruang di masyarakat seperti ini.  ).

Si jahat langsung ngamuk jika si korban tidak menurutinya setelah ‘pernyataan’  itu. Itu sebabnya, calon korban disarankan langsung teriak jika diancam penjahat atau tutup telpon jika diintimidasi. Suaranya sudah menyedot dan membudakkan calon korban. Para penyiksa melatihnya suaranya sangat baik  sejak balita. Untuk survive, karena mereka tak punya ( ogah belajar )  ketrampilan lain. Ditambah 9 setan, maka hanya kematian dan campur tangan Allah yang bisa menghentikan mereka. Trust me ! Saya pernah melalui jalan ini ( menghadapi penyiksa ) sampai 7 kali. Kenapa Allah melakukan ini pada saya ? Tak lain agar saya bisa mengajari yang lain selamat melaluinya.

Banyak energi dan waktu bangsa ini terbuang meladeni orang macam Andi Arief, OC Kaligis, dst. Waktu lebih produktif kalau kita langsung menutup telpon ( tak berurusan dengan mereka, forever ). Di Afganistan, orang2 macam ini yang menjual saudaranya sendiri ke pasukan Amerika, hanya demi beberapa dolar. Bahkan, hanya remaja yang kebetulan mengantar air atau lewat di desa Taliban, mereka tega menyeret si remaja ke markas AS untuk ditukar dengan dolar itu. Si remaja kemudian disiksa, diperkosa, sampai memberi tahu pentolan Taliban yang ia tak tahu. Nurani mereka sudah mati. Ketika saatnya tiba, ( saya bermimpi diutus mempersiapkan itu ) jangan ada orang2 semacam ini lagi, yang menghambat gerak para pejuang kita. Full speed.  ( perlambatan kerja KPK pada kasus Century juga karena orang2 semacam ini. Kita tak ingin Indonesia, jadi seperti Thailand, Kirgistan, Irak atau  Afganistan karena mereka, kan ?  )

Kebaikan tak terbaca, jangan dibaiki. Dengkek ..

Orang2 semacam Andi tak mampu membaca kebaikan orang, apalagi membalas kebaikan. Referensi kebaikan tak ada di kepalanya. Masa kecil membentuknya menjadi alergi penolakan, egois, hanya memikirkan kelompok pembayarnya, manipulatif, orang lain harus kalah meski benar. Orang2 jahat langsung menggebrak ketika peluit start ditiup, sehingga korbannya tak sempat bicara menunjukkan kesalahan si jahat atau menuntut hak si baik. ( mirip kubu SBY sekarang, ya, dengan penahanan orang2 kita ).

Mestinya, anda langsung menyerang kelemahan, kekurangan dan ketidakpantasannya begitu dia mulai berbohong, bermain kata2 tak mengindahkan fakta, kebenaran. Buat ia down, tak berkutik, tertutup omongannya seperti anda lakukan pada Ruhut di ruang pansus tempo hari. Dari kedudukannya, tingkat nalarnya dan nuraninya, Andi tak selevel dengan anda. Anda jauh di atas. Orang2 ini berpikir parsial, asal dirinya selamat. Jika anda bicara etika, nilai2 itu tak membekas di benaknya, apalagi membuatnya bersikap seharusnya. Yang dipikirkan saat itu adalah menang. Bukan benar. Andi sudah terkelabui setan. Kita tak perlu terkelabui olehnya.

Ahmad Rifai, jangan kalah nyerocos  tutupi  ocehan OC. Kaligis.

Sekali lagi, juga untuk Ahmad Rifai  ( pengacara Bibit-Chandra ) dan Edi ( dosen UGM yang menulis praperadilan Bibit-Chandra di Kompas ). Begitu melihat orang yang bereputasi buruk ( dark side, sebagian orang bisa membaca orang jahat dari guratan di wajahnya ), saya sarankan anda langsung pasang kuda2 untuk menangkis, lalu serang balik. Karena orang2 ini tak terduga. Seni mereka bertahan hidup sejak balita adalah memanipulasi orang, dimulai dari orang2 di rumah. Jika itu bisa anda lakukan, audiens akan melihat anggota pansus ( dewan ) tangguh, memberi rasa aman ( dan percaya diri ) pada mahasiswa, masyarakat yang akan mengikuti jejak anda, menegakkan kebenaran. Sehingga pelemahan hasil pansus yang coba dirintis oleh Andi Arief akan gagal. Tak ada orang2 setelah dia yang mau menyia-nyiakan waktunya berbuat konyol seperti dia.

Si bandot tua ( OC.Kaligis ) jangan dipanggil profesor ( gelar ini untuk orang berilmu dan berintegritas tinggi, bukan sekedar lulus S3 tapi dengan kelakuan markus dan perangai preman pasar. Melihat omongan dan tingkat pemikirannya, bisa jadi ia penyontek ulung waktu di sekolah  ). Anda memposisikan dia di atas anda, jadinya ( sudut pandang penyiksa ). Ia tak lebih intimidator  yang nunjuk2 hidung orang yang sebenarnya ( kita tahu semua ) lebih bagus dari dia. Ia seperti Ruhut, tidak membahas substansi, tapi menyerang orang. Ketika harusnya adu argumentasi, ia cuma bisa ngomong ‘anda tak tahu masalah tapi bicara’ atau ‘anda jangan cuma di Yogya, nulis yang tidak anda tahu, datang ke Jakarta, lihat berkas dari jaksa sini. Apa sih media ? Jangan cuma menelan media’. Giliran Ahmad mematahkan Kaligis dengan tidak konsistennya berkas jaksa, si bandot yang tadinya nunjuk2 Ahmad dan audiens ( mahasiswa ) dengan berkas jaksa sebagai acuannya, mendadak ngoceh ‘hei salahkan jaksa yang tidak konsisten yang membuat ini, jangan saya dong, gimana sih, ini pengacara muda bla, bla, bla ..’ ( anak kecil banget, yang ketahuan bo’ongnya, akal bulusnya gagal , lalu ngomong ngawur, ngelantur, sikut sana sikut sini  ).

Tepuk tangan untuk orang dan argumentasi yang benar.

( dan saya sangat menyayangkan penonton yang bertepuk tangan meriah untuk si bandot. Kalian meninggikan posisinya lagi, membuat dia makin tak tahu diri. Pujian bagai bensin yang membakar kepongahan penyiksa. Lagi2, kita terpaksa membuang energi tak perlu untuk menghentikannya. Seperti lingkaran setan, ya. Audiens, bertepuklah pada orang dan argumentasi yang benar. Oke ? ). Media sebaiknya mem-blacklist orang macam Kaligis. Saya tidak melihat kontribusinya pada negara, kecuali kegaduhan melelahkan yang sering dibuatnya. Kita masih punya banyak persoalan penting yang membutuhkan argumentasi cerdas dari orang2 yang berdedikasi, amanah dan kompeten. Hadirkan mereka. Bukan gertak, sambal kecap dan intimidasi dari  preman kampungan. Kaligis mengecilkan media, you don’t let him away for this, do you ?

Banyak aparat penegak hukum yang berpikir seperti dia. Parsial  ( sehingga tidak melihat urgensinya kasus Century  dituntaskan dengan benar ). Ansyaad Mbai, KA Desk Anti Teror Menkopolhukam dalam Today’s Dialogue ( 9/3/2010 ) berkata pada Ali Mochtar Ngabalin begini,”Faktanya ada teroris di sini, orang kita sendiri yang harus diberantas. Jangan nyalahin Amerika di sono.” Pemahaman sepotong-potong. Ansyaad menutup mata telinga terhadap fakta pemerintah Amerika menyerahkan 12 juta USD pada pemerintahan SBY untuk kebijakan terorisme. Uang itu bisa dari memanen opium di Afganistan atau bisnis rezim zionis yang menggurita. Israel, berasal dari orang Yahudi yang diaspora dicangkokkan Inggris, dilanjutkan Amerika, ke tanah Palestina untuk bikin keributan di Timur Tengah. Osama bin Laden, warga Saudi Arabia, lulusan terbaik CIA yang dicangkokkan ke Afganistan untuk mengusir Uni Soviet.

Disuruh jaga Timor, disuruh lepas Timor. Emangnya, jongos ?

Saddam Husein bekas mitra Amerika untuk mengatasi Iran yang ogah dikendalikannya lagi. Operasi CIA menjungkalkan Soekarno dengan peristiwa G 30 S/PKI dan lubang buaya. Perintah Amerika pada Soeharto untuk mengambil kekuasaan di Timor Timur, lalu setelah pengaruh Blok Timur lenyap,  sekutunya, Australia diminta mengambil kembali dengan referendum. Kini dinamai Timor Leste, dengan minyak di Celah Timor jadi  jatah Australia.  Apa Ansyaad mengira terorisme terlepas dari ulah Amerika ? Padahal, dedengkot militan muslim itu alumni Afganistan, anak buah Osama. UNHCR dan IOM  diam2 menfasilitasi pengungsi2 yang lari ke Indonesia dengan senjata dan jaringan untuk melakukan teror di Indonesia. Kedutaan Australia di Jakarta ternyata pengebomannya dibiayai oleh bule Australia yang kerja di kedutaan tsb.

Apa Ansyaad senaif itu ? Atau ikut kecipratan duit dolar ? Anda bayangkan teroris hilang tumbuh berganti, dan kita menghabiskan umur menonton sandiwara yang berdarah peliharaan AS ? Pengalihan isu atau lapisan2 kasus ala Amerika untuk menutupi kebiadaban invasinya di Irak dan Afganistan. Sesuatu yang ditiru oleh SBY dan Mabes Polri atas kasus Century saat ini. Dengan pikiran pragmatis sependek ini, Ansyaad, Andi Arief, SBY, Mabes Polri, kejaksaan, pengadilan takkan menjangkau akibat dari perbuatannya. Kefasihan mereka bicara disebabkan tak  ( merasa perlu ) berpikir panjang. Semuanya terlontar saat itu. Asal menang. Asal bunyi. Giliran terjadi kerusuhan, kekacauan, kebangkrutan, mereka lepas tangan, kita juga para ulama yang harus maju memadamkan serta jungkir balik menyelesaikan. Jadi soal Andi ini, with or without him pansus dan rekomendasinya jalan terus. Go to hell about him. Anggap dia nggak ada waktu kita lewat. Matikan saja teve-nya kalau dia ngoceh lagi. Waktu kita lebih berharga untuk melakukan hal lainnya.

(  Bersih2 kamar mandi, terakhir kapan ? )